Minggu, 26 Juni 2011

Pergilah Trauma!



Aku menyukai senja. Langit terasa begitu megah ketika rona jingga memahkotainya. Aku mengagumi keindahan gugusan cakrawalanya, apalagi ketika berbaur dengan garis pantai yang tenang. Aku sering menghabiskan waktu untuk sekedar menikmati senja di pinggir pantai. Senja dan pantai, mereka selalu menghadirkan kesejukan dalam diriku. Tapi itu dulu.

Apakah kamu pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupanmu? Aku pernah mengalaminya. Aku menamakannya sebagai episode senja kelabu dalam hidupku. Senja yang muram, senja yang menghempaskan segalanya. Ah, kita hanya seorang manusia yang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dari detik sekarang.
Ketika itu, langit begitu pucat dan pias. Udara terasa dingin sampai menusuk ke dalam kalbu. Burung-burung camar yang biasa terbang dan bersendau di pinggir garis pantai ketika senja menyapapun, tak terlihat mengepakkan sayapnya. Sore itu kurasakan benar-benar lain dari biasanya. Entah, apa hanya perasaanku saja.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 17:10 WIB. Sore  itu aku bersiap menikmati senja dengan secangkir capuccino kesukaanku, ketika ku rasakan ada yang bergetar pada tempat ku berpijak. Seketika ku urungkan niatku, kembali ke dalam rumah. Beberapa detik selanjutnya getaran itu semakin besar dan kuat. Bumi memberontak murka. Gempa.. seumur hidup, baru sekali itu aku mengalaminya. Tiba-tiba semuanya berubah. Semuanya runtuh, luluh lantak tak bersisa. Tangis, pedih dan pilu memekik dimana-mana. Ditambah gerimis disertai angin yang menghentak, semakin menambah perihnya luka. Semuanya hancur, musnah, sirna.. begitupun dengan mimpi-mimpiku.
Apa yang kamu rasakan ketika kamu akan mengikat janji suci untuk selamanya dengan orang terkasih? Pasti membahagiakan bukan? Itu juga yang aku rasakan. Dan, apa yang kamu rasakan ketika mengetahui bahwa orang terkasih itu menjadi salah satu korban dari murkanya semesta itu? aku tidak mampu untuk melukiskannya! Yang kurasa, tiba-tiba semuanya menjadi hitam dan kelam. Duniaku seakan terhenti. Aku rapuh dan hampa.
Asa, mimpi, angan dan harapan pupus sudah. Segala hal yang telah kubangun dan kurencanakan terkubur bersama raganya. Sungguh, sulit sekali ketika harus menyaksikannya tertimbun reruntuhan bangunan. Aku tak kuasa membayangkan betapa panik, kalut dan takutnya dia saat itu. Yang ku ingat, sambungan telpon kami saat guncangan itu terjadi langsung terputus disertai teriakannya yang nyaring. Teriakan yang terasa begitu nyeri di telingaku, menusuk sampai jantungku. Dengan segenap kekuatan yang ada, ku mencoba menerima takdir itu. Ku iringi dia sampai peristirahatan terakhirnya.
Ku tak tahu harus bagaimana melanjutkan hidupku, ketika harus memulainya lagi dari titik nol. Aku merasa hidupku tiada artinya lagi. Selama hampir setahun aku barada dalam kondisi terburuk dan terpuruk. Tak ada senyum sama sekali di hari-hariku. Aku benar-benar kalah dengan keadaan. Aku trauma! Entahlah, aku tak tahu harus apa dan bagaimana.
Detik berlalu, hari terus berganti. Mentari pagi masih hangat menyapa jiwaku yang beku. Ingin ku menjemput kembali diriku yang dulu, sebelum tragedi itu. Aku yang selalu ceria, kemanakah diriku itu? Apakah aku akan menyiksa dan menutup diri, sampai kapan? Oh, doaku.. aku bisa segera menyudahi duka lara itu. Sebenarnya hati kecilku berkata, “Aku tidak mau menyerah!”
Akhirnya, aku hanya mempunyai dua pilihan. Terjebak dalam trauma panjang atau bangkit dari keterpurukan untuk melanjutkan hidup kembali. Ku yakinkan hati, ku teguhkan niat bahwa esok masih ada setitik cahaya yang kan menerangi jalan hidupku. Jika ku tak membuka mata, bagaimana aku tahu akan ada cahaya diluar sana yang siap menyambutku, menawarkan warna baru dunia padaku. Aku ingin kembali menikmati sepotong senja di tepi pantai, mendengar kicauan burung yang bersahutan dan berkejaran dengan ombak. Berharap episode kelam itu bisa terhapus waktu. Kenangan itu, biar menempati salah satu sudut hatiku. Sebuah kenangan tidak akan mungkin bisa terhapus, kita hanya butuh keikhlasan untuk merelakannya berlalu.
     Mungkin, aku sudah kehilangan dia. Tapi aku masih memiliki Dia yang Maha segala. Dia yang kan menunjukkan setapak jalan untukku menatap realita ke depan. Mengganti lara dengan tawa, bernyanyi bersama pelukan hangat sang fajar. Menyongsong harapan baru, menyulam asa dan merenda mimpi lagi! Semoga.. trauma senja kelam itu tergantikan dengan pesona indah pelangi yang kan mewarnai hari, kini, esok dan selanjutnya. Berharap, aku bisa menjemput kembali kebahagiaan itu!      (Inspired and Dedicated for Myfriend, Beib.. Don't give up, i know u can!)
Read More

Sabtu, 25 Juni 2011

Episode 'gagal'


 
Rerintihan embun tlah menjadi tetesan air
Indahnya mimpi sudah tiada arti
Karena cahaya bulan telah pudar
Berganti dengan sapaan hangat sang mentari
Percayalah.. masih akan ada pelangi
Di sudut cakrawala senja
Dan lihatlah gugusan bintang
Masih setia menghias langit malam

Ketika kita berada dalam kondisi yang bisa dibilang gagal, akan gagal atau hampir gagal, apapun itu (sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau kita rencanakan dari awal), biasanya kita jadi patah arang dan semangat. Kita mengeluh, menyesali dan merutuki diri sendiri. Dan lebih parahnya lagi kadang kita mencari-cari atau melimpahkan kesalahan pada orang lain. Padahal bisa jadi, kesalahan itu bukan berasal dari orang lain, tapi memang benar-benar dari dalam diri kita sendiri. Kita hanya butuh introspeksi diri secara jujur, apakah saya sudah melakukan semuanya dengan aksi terbaik saya? Atau saya hanya sekedar iseng sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang maksimal? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu seharusnya lebih mendominasi pikiran kita daripada sibuk mencari-cari ‘kambing hitam’ dari luar.
Kegagalan yang kita alami seharusnya bisa menjadi cambuk agar kita bisa lebih dan lebih baik lagi. Belajar dari kesalahan akan meminimalkan kesalahan yang sama di masa depan. Anggap saja, dengan kegagalan itu, kita sedang membangun sebuah pondasi yang kuat untuk pertahanan hati kita sehingga kita akan mampu berdiri tegak, kokoh dari hempasan angin yang siap menerpa di kemudian hari. Kegagalan memang terasa pahit di awalnya. Maka, lapangkanlah dada dan luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu. Hati adalah wadah dari berbagai macam perasaan. Jangan menjadikan hatimu seperti gelas yang bisa tumpah karena kelebihan muatan, tapi jadikanlah hatimu seperti telaga yang mampu menampung semua kepahitan itu dan siap merubahnya menjadi kesegaran bagi jiwa. Ikhlaskan saja semuanya!
Jangan pernah merasa memiliki sesuatu, maka kau tak akan pernah merasa kehilangan. Yakinlah, bahwa sesuatu yang sekarang ada pada diri kita, entah itu harta benda, pangkat, kedudukan, kecerdasan, kesehatan, ketampanan, kecantikan atau sederet ‘keberuntungan-keberuntungan’ lainnya.. itu semua hanya titipan Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil dari kita tanpa kita sadari. Kita tidak berhak untuk ‘mengikatnya’ apalagi menyombongkannya, karena rasanya akan lebih sakit saat kita harus (terpaksa) melepaskannya dari genggaman. Kita hanya manusia biasa yang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dari detik sekarang.
     Jangan surut langkah, kawan! masih banyak kesempatan di depan membentang. Sambutlah.. Raihlah dengan satu keyakinan, kita bisa!

 
Read More

Minggu, 19 Juni 2011

Sekelumit 'a Life Less Ordinary'


(Memoar seorang Baby Halder)

“Aku akan memberimu pekerjaan menulis dan membaca. Apa kamu sudah membuat kemajuan? Akan lebih baik untukmu kalau fokus pada hal itu. Jadi waktumu akan terpakai lebih baik. Suatu hari, ini akan berguna. Kamu tidak perlu melakukan hal lain, yang penting adalah fokus dalam kegiatan menulis dan membacamu. Tak perlu demikian gegabah. Sementara ini biarkan semua seperti adanya. Kemudian, berpikirlah bagaimana tulisanmu menimbulkan kegembiraan pada teman-temanku yang sudah membacanya.” (Nasehat Dr. Praboth Kumar kepada Baby Halder)

Kisah hidup seorang Baby Halder memang bisa dibilang ‘tidak biasa’. Dan saya malah menyebutnya sangat luar biasa! Sedari kecil ia sudah ditinggalkan oleh ibunya, pergi tanpa pamit entah kemana karena frustasi dengan kelakuan ayahnya yang ringan tangan dan jarang pulang ke rumah. Dia harus menjalani hidup dengan ketiga saudaranya tanpa kasih sayang seorang ibu dan harus menerima perlakuan ayahnya yang kasar setiap hari. Kalau saya bilang, ayahnya ini memiliki kepribadian ganda. Sekali waktu ia bisa sangat sayang dan peduli, sekali waktu ia bisa marah-marah, memaki dan memukul anak-anaknya. Keadaan menjadi semakin buruk saat ayahnya harus menikah lagi, dan ibu tirinya juga memperlakukannya tidak jauh lebih baik. Dan yang lebih mengenaskan lagi, Baby dipaksa menikah ketika usianya baru 13 tahun dengan seseorang yang tidak jelas. Masa dimana seharusnya dia habiskan untuk bermain dan belajar. Tapi dia tidak bisa berkelit dari kungkungan tradisi yang melingkupinya. Masa remajanya terenggut begitu saja.
Penderitaan Baby mencapai puncaknya ketika ia memiliki anak tak berapa lama setelah ia menikah dan mendapati bahwa kelakuan suaminya ternyata tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Ia kasar, tidak pedulian, suka memaki dan memukul. Tapi Baby berusaha tegar menjalani itu semua demi anaknya. Suaminya juga tidak memberi Baby dan anaknya nafkah yang layak. Hal itu terus berlanjut sampai Baby memiliki tiga orang anak. Dia bekerja kesana-kemari, apapun pekerjaan yang bisa ia lakukan, dari satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain. Dia ingin tetap memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya, meskipun tanpa belas kasih suaminyanya sendiri, ayah dari anak-anaknya yang seharusnya itu menjadi tanggung jawabnya.
Ditengah penderitaan batin dan fisik yang dia alami, Baby masih mencoba bertahan dengan keadaan itu. Tapi yang namanya manusia biasa, pasti punya titik kesabaran maksimal ketika dihadapkan pada keadaan yang memprihatinkan secara terus-menerus. Iapun lelah dan sampai pada keputusan bahwa ia harus bisa keluar dari situasi buruk itu. Dalam keadaan gundah, ia bersama ketiga anaknya pergi begitu saja meninggalkan suami dan kampung halamannya menuju ibu kota (New Delhi) untuk mengadu nasib. Sebuah perjalanan yang sulit, mengingat Baby belum pernah bepergian jauh sebelumnya.
Ternyata penderitaan Baby belum berhenti sampai disitu. Di New Delhi, ia harus berjalan dari satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain demi mendapatkan pekerjaan. Ketika ia sudah mendapatkan pekerjaan, kadang majikannya tidak memberikan gajinya. Belum lagi kalau majikannya berlaku kasar, membentak-bentak, memaki dan memukulnya. Tapi sekali lagi, Baby bisa bertahan dengan situasi sulit itu. Karena kerap mendapatkan perlakuan kasar seperti itu, maka Baby diam-diam berusaha mendapatkan pekerjaan di tempat lain.
Setelah beberapa lama bertahan pada situasi buruk itu, akhirnya garis nasib membawa Baby pada seorang majikan yang bernama Dr. Prabodh Kumar. Ia berbeda dengan majikan-majikan Baby sebelumnya. Ia baik hati, ramah dan memperbolehkan Baby dan ketiga anaknya untuk tinggal bersama di rumanhya. Bahkan  anak-anak Baby juga diperbolehkan sekolah. Suatu hari, ketika sedang membersihkan rak buku majikannya, Baby tidak sengaja membaca beberapa diantaranya. Lama-lama, hal itu secara tidak sadar menjadi kebiasaannya. Sampai suatu ketika, kebiasaan itu diketahui oleh majikannya. Marahkah majikannya? Ternyata tidak! Justru ia mendorong Baby untuk terus membaca, meskipun Baby merasa malu karena kadang ia kesulitan membaca dan memahami beberapa kata atau istilah asing (Baby hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah sampai kelas enam).
Suatu hari majikannya memberikan Baby buku tulis dan pena untuk menuliskan kisah hidupnya. Apapun boleh dituliskannya, sejak ia masih bisa mengingat.  Begitulah hari-hari Baby selanjutnya, disela-sela mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ia menyempatkan membaca dan menulis walaupun sedikit. Sedikit-sedikit, lama-lama, akhirnya tulisan itu membentuk suatu rangkaian kisah kehidupan.
Majikannya kemudian mengirimkan tulisan tersebut kepada temannya yang seorang editor. Sambutan positif diterima atas tulisan-tulisan Baby yang sederhana dan menyentuh.  Bahkan tulisan Baby dipuji menyerupai tulisan Anne Frank’s Diary. Anne Frank adalah seorang gadis jerman yang masih berusia 13 tahun saat ia menuliskan catatan hariannya. Ia mulai menulis dari bulan Juli tahun 1942 sampai Agustus 1944 di tempat persembunyian yang berada di bawah tanah. Catatan harian Anne Frank ini menjadi saksi bisu sejarah kesengsaraan kaum Yahudi atas keganasan Nazi di Jerman. Catatan harian itu telah diterbitkan dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa didunia, dan pernah menduduki posisi best seller.
Tulisan-tulisan Babypun dimuat di sebuah majalah di India, sebelum akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan seorang Baby sebelumnya, mengingat ia hanya seorang pembantu rumah tangga dan tidak pernah menamatkan sekolahnya.  Buku dengan judul Asli  ‘Aalo Aandhari’ yang berarti ‘Dari Gelap Kepada Terang’ itupun menduduki posisi best seller di India dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. And finally.. she’s not an ordinary people!
Perjalanan hidup seorang Baby Halder menyadarkan kita bahwa Allah telah menyiapkan rencana yang indah untuk kita, tergantung bagaimana kita menjemputnya. Apakah kita mudah menyerah pada nasib atau pantang menyerah, menjalani setiap kemungkinan dan kesempatan yang ada demi masa depan yang lebih baik? Ah, seharusnya kita lebih bersyukur, setidaknya kita memiliki kesempatan belajar yang lebih dan tidak berada dibawah tekanan. Tapi, apakah dengan kesempatan yang lebih itu, kita mampu mencontohnya? Kadang.. kesuksesan yang luar biasa itu akan diawali dengan kesulitan yang luar biasa pula! Semangat membaca dan menulis!!! :-)


Read More

Rabu, 15 Juni 2011

Hujan

Gelap merambat menyusur malam
Saat rintikmu basahi semesta
Dingin menusuk relung jiwa
Sejenak mengetukku 'tuk renungkan
Makna hadirmu...
Saat kurasa dahaga akan kasih
Kau guyur berjuta pesonamu
Yang menyejukkan...
Membuai anganku ke angkasa
Akan agung kuasaNya
Semilir sang bayu turut serta
Menambah penghayatan nilai
Yang buyarkan lamunku
Sadarkanku 'tuk memulai
Melangkah menjelang hari
Tinggalkan lembaran suram lalu
Hujan... Hanyutkan penatku!!!

Read More

Selasa, 14 Juni 2011

Namaku Membunuhku

Perkenalkan, Nama lengkapku Iria Dengkia Hasuta Fitnahia. Aku biasa dipanggil Iri. Aku adalah akar dari semua penyakit hati. Aku adalah sebab tercerabutnya semua amal, ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Aku tidak peduli dengan semua nilai-nilai itu. Aku bisa memperkeruh akhlak. Aku pintar memecah belah persaudaraan. Aku selalu merongrong siapa saja untuk memenuhi semua inginku. Laki-laki, perempuan, tua ataupun muda... semua tak akan pernah ku lepaskan dari jerat belengguku. Aku bersembunyi di sudut hati yang terdalam. Meskipun begitu, aku selalu siap dan siaga untuk menampakkan diri di dalam pandangan untuk kemudian kuteruskan dalam perkataan-perkataan yang setajam belati.

Aku mengalir bersama aliran darah dan berdetak beriringan dengan denyut nadi. Aku ahli merontokkan sendi-sendi keimanan. Aku akan menggiring manusia untuk jatuh ke jurang kehancuran, menenggelamkannya pada kehampaan dan menimbunnya dalam kegelapan. Aku akan selalu membisikkan ke tiap-tiap telinga untuk berhenti mendengar nasehat. Aku akan merayap ke tiap-tiap lisan untuk memuja lidah yang tak bertulang. Aku akan mengotori akal secara total. Aku akan bertaruh dengan apapun bagi siapa-siapa yang mencoba menghalangiku.

Hanya satu musuh bebuyutan yang paling aku takuti, yaitu SYUKUR! Jadi, apakah manusia-manusia bodoh itu akan terus memeliharaku? Sungguh, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa, hanya kesia-siaan belaka!

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena