Sabtu, 31 Agustus 2013

Litera-Tour

Sebagiannya berawal dari sini




Ah, tempat nongkrong favoritku itu, kini sudah berbenah
Sudah sedemikian cantik dan nyaman :)
Sebagian mimpi itu, kau yang meretasnya..
Takkan terlupa..

Sebagiannya lagi, telah menjelma nyata




Hmm, kuncup mimpi bersama itu
Sudah mulai bermekaran
Aku percaya, kau sudah berada di tangan yang tepat
Meski jarak kini merentang
Kau tetap menjadi cambuk semangat
Terima kasih pelangi..
Ini rumah kita
Tempat kita melabuhkan mimpi
Ini rumah kita
Tempat kita saling berbagi
Ini rumah kita
Lalu, ketika semuanya harus berubah ritme
Di sinilah aku sekarang berada
Jauh dari kalian
Tapi, tetap saja
Aku tak bisa jauh dari buku
Sesuatu yang mengakrabkan kita :)
Dan, kujelajah saja segala sesuatu yang mengingatkanku tentang kalian
Salah satunya ini:

Perpustakaan itu, yang hampir tiap hari kulalui..
Seakan melambai-lambaikan tangannya padaku



Gedung utama yang bersebelahan dengan Kemensos RI
Koleksi buku di sini terbilang lengkap,
jika dibanding dengan gedung perpustakaan yang ada di Jl. Merdeka Barat

Replika buku menyambut di pintu masuk


Pengunjung wajib mengisi buku tamu
 


Lalu menyimpan barang bawaan di locker yang tersedia

Alur selanjutnya adalah memilih buku yang akan kita pinjam (baca di tempat)
dengan sistem 'bon permintaan' yang akan diproses di lantai yang berbeda-beda
[Uda kayak belanja aja ya pakai bon segala..]

Perpusnas menggunakan sistem tertutup
Buku hanya dipinjamkan untuk anggota dan harus dibaca di tempat
Kalaupun dibawa keluar, itu hanya untuk difotocopy
Untuk non anggota hanya diperbolehkan membaca-baca majalah atau koran di lantai I
Buku-buku yang kita cari juga tidak hanya ada di satu tempat.
Jadi kalau ada beberapa buku yang mau kita pinjam, kemungkinan kita akan membacanya
di ruang dan lantai yang berbeda
Kita juga tidak bisa mengambil buku sesuka hati
Ada pustakawan yang melakukan kegiatan itu
Ah, jujur saja..
Aku merasa tidak nyaman dengan suasana formal seperti ini


Aku bisa memaklumi sistemnya
Namanya juga perpusnas
Pastilah koleksi bukunya sangat banyak
Jadi kalau tidak demikian
Kemungkinan banyak 'tangan-tangan usil'
Yang akan mencederai keberadaannya :)

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan
Jujur saja, aku lebih menyukai suasana yang ada di sini:

Lokasinya yang berada di pusat kota,
Menjadikannya bagaikan oase di tengah padang pasir
Tempatnya nyaman, kita bisa bebas memilih buku yang mau dibaca
Ditambah dengan keberadaan taman yang mengelilinginya
Sulur-sulur tanaman hijau itu benar-benar menyejukkan :)

Aku memang suka 'kebebasan'
Bebas dari rutinitas, menikmati weekend

Buku juga memberi kita kebebasan
Keleluasaan berekspresi
Luasnya pengetahuan itu
Terangkum dalam segenggam buku

Akhirnya, di manapun berada
Buku tetap menjadi sahabat terbaik

I Love Books.. So much :)




Read More

Minggu, 18 Agustus 2013

12 Inspirasi dalam 12 Menit




“Bayangkan, Jakarta. Kota yang sekarang tak terjangkau tangan kalian. Bayangkan ribuan orang dari kota itu bersorak-sorai untuk kalian. Bayangkan ribuan orang di stadion besar itu mengentak-entakkan kakinya meminta kalian tampil lagi. Pernahkan kalian membayangkan, kalian menjadi pahlawan bagi ribuan orang ini. Ribuan orang yang tak kalian kenal satu juga. Kemenangan kalian akan membuat mereka sadar, bahwa siapa saja bisa menjadi pahlawan.”
-Rene-

Novel difilmkan, itu sudah biasa. Tapi kalau skenario film dinovelkan, sepertinya itu masih jarang. Dan 12 Menit, berhasil menjadi salah satunya. Oka Aurora mampu mengadaptasi skenario film yang dituliskannya menjadi naskah novel. Sebuah novel yang terinspirasi dari tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, yang berhasil menjadi juara umum 10 kali sampai tahun 2011 di perhelatan GPMB (Grand Prix Marching Band). GPMB diadakan setiap tahun di akhir bulan Desember, diikuti oleh tim marching band ternama dari seluruh Indonesia. Tentu akan menjadi luar biasa, jika kemenangan itu diraih oleh sebuah tim yang berasal dari daerah. 12 Menit, kisah yang akan meyakinkan kita pada kekuatan mimpi dan keteguhan berusaha.

Rasanya tidak berlebihan jika 12 Menit dinobatkan sebagai novel inspiratif yang memukau. Jalinan cerita di dalamnya adalah gambaran tentang kehidupan yang ada di sekitar kita, rasanya begitu dekat. Oka menyajikannya dengan bahasa yang fresh, renyah dan mudah dipahami. Oka juga lihai menempatkan karakter sesuai tokohnya, tak terjebak dalam keakuannya sebagai pengarang. Banyaknya tokoh yang ia ciptakan sepertinya tidak menghambatnya dalam mengotak-ngotakkan sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Semua karakter mengalir begitu saja, mengikuti ke mana arah penyelesaian masalah dari masing-masing tokoh itu harus bermuara.

Sebagai novel inspiratif, tentu banyak nilai moral yang bisa kita petik di dalamnya. 12 Menit merangkumnya dalam jalinan cerita dan interaksi di antara tokoh-tokohnya. Menjadi pembelajaran yang berharga, mulai dari proses perjuangan meraih kemenangan itu. Suka duka, jatuh bangun, rintangan yang harus dihadapi sampai pada jalan setapak impian yang siap terbentang di hadapan. Dan inilah taburan inspirasi itu:

1.          Semangat.
Semangat adalah roh kehidupan yang menjiwai manusia. Semangat itu berasal dari diri sendiri. Nilai semangat dari novel ini diwakili oleh hampir seluruh tokohnya yang sangat variatif. Masing-masing mempunyai garis nasib yang berbeda. Masing-masing mempunyai semangat dalam menjalani hari dan lika-liku yang menyertainya.

2.          Perjuangan
Perjuangan adalah kerja keras tanpa kenal lelah dalam meraih sesuatu. Nilai perjuangan ini juga diwakili oleh hampir semua tokohnya. Masing-masing mempunyai impian. Masing-masing berusaha memberikan porsi usaha terbaik demi pencapaian impian itu.

3.          Disiplin
Mereka telah mengorbankan sebagian waktu yang dimiliki demi latihan itu. Ribuan jam telah mereka lewati hanya untuk 12 menit penentuan. Tanpa disiplin yang ketat, ketahanan dan keuletan, mustahil keberhasilan itu akan diraih. Kedisiplinan mengajarkan mereka untuk fokus pada tujuan utama. Menjadi pemenang, menjadi kebanggaan.

4.          Kebersamaan
Tanpa kerja sama yang baik antar anggotanya, sebuah tim marching band tidak akan terlihat kompak. Mereka bersatu padu menciptakan formasi terbaik yang bisa mereka persembahkan. Saat ada satu celah saja yang kosong, akan terlihat timpang dan tidak menarik. Kebersamaan itu dibutuhkan untuk melengkapi semuanya.

5.          Persahabatan
Interaksi antar sesama tokoh itu akhirnya menumbuhkan bibit persahabatan. Tanpa adanya jalinan rasa itu, mustahil akan diperoleh jiwa kebersamaan. Sesuatu yang memberi ‘nyawa’ pada permainan marching band mereka. Walau ada beberapa perbedaan status sosial, itu tak menjadi masalah dalam merajut persahabatan. 

6.          Kekeluargaan.
Kehadiran keluarga sangat berarti. Ketiadaannya seakan menghapus separuh asa dalam diri. Arti penting keluarga itu tercermin dalam interaksi antara Tara, oma, opa dan ibunya yang akhirnya luluh dan kembali dalam rengkuhan. Juga terlihat dalam permasalahan Elaine, ibu dan ayahnya, yang akhirnya menyadari bahwa keberhasilan anak adalah kebahagiaan orang tua. Tak ketinggalan, interaksi antara Lahang dan bapaknya juga menunjukkan bahwa dukungan keluarga sangatlah penting untuk penggapaian cita.

7.          Kesederhanaan
Ada nilai kebersahajaan yang dibangun oleh tokoh Lahang. Hidupnya yang sangat sederhana tidak menghalanginya untuk menyulam impiannya, untuk hidupnya yang lebih baik di masa mendatang. Meskipun banyak aral coba melintang, tapi keyakinannya terpatri kuat. Impian sederhana bagi banyak orang, tapi spektakuler bagi seorang Lahang. Impian ‘warisan’ almarhumah ibunya yang coba ia sambung. Ya, Bagi Lahang, Monas bukanlah sekadar tugu bersejarah yang wajib dikunjungi. Monas adalah perlambang. Lambang perubahan hidup. Jika ia bisa mencapai monas, ia punya kemungkinan lebih besar untuk mencapai tugu-tugu di kota lain. Atau mungkin juga di negara lain. Dan untuk mewujudkannya, Lahang harus berpacu dengan waktu yang ternyata tak bisa berkompromi dengan detak-detik nafas bapaknya. Sebagian isi novel yang akan mengaduk emosi dan menguras air mata pembaca ada di sini.

8.          Pantang menyerah
Elaine, tumbuh dengan tahu persis apa minatnya. Ia begitu mencintai musik. Biola sudah menjadi bagian kesehariannya. Kepindahan keluarganya ke Bontang mengharuskannya melepas kecintaannya itu. Tapi bukan berarti ia menyerah pada keadaan. Di Bontang, ia mengalihkan minatnya pada marching band, sesuatu yang masih berhubungan dengan musik. Dengan perjuangan yang tidak mudah, ia hampir berhasil menjadi field commander. Tiba-tiba ia dihadapkan pada dilema, pilihan antara mengikuti timnya maju ke GPMB atau mengharumkan nama sekolah dengan mengikuti olimpiade fisika. Keadaan semakin sulit, karena ia harus berhadapan dengan ayahnya yang tak pernah menyetujui kegiatan marching bandnya. Tapi, ia tak menyerah begitu saja. Ia punya kemauan kuat, yang akhirnya mengalahkan keraguannya. Dan ia telah menentukan keputusan yang tepat.

9.          Keterbatasan bukan halangan untuk maju dan berprestasi.
Tak mudah menjadi seorang Tara. Ia kehilangan hampir seluruh pendengarannya dalam sebuah kecelakaan, yang juga merenggut kehidupan ayahnya. Ia hanya tumbuh bersama oma dan opanya. Sementara ibunya ‘menjauh’ demi keegoisan mewujudkan impiannya sendiri. Marching band adalah solusi tepat untuk Tara. Setidaknya, itulah yang omanya pikirkan. Karena semakin sering Tara bergaul dengan banyak orang, ia akan semakin cepat mandiri. Dan Tara berhasil menukar keterbatasannya dengan berprestasi sebagai seorang pemain snare drum yang handal. Sesuatu yang mustahil, tapi nyatanya Tara mampu menaklukkan tantangan itu.

10.        Sikap percaya diri
Rene adalah gambaran dari kata ambisius, tegas dan keras kepala. Tapi justru itulah yang menumbuhkan kepercayaan dirinya. Sebagai lulusan fakultas Music Education and Human Learning, ia terbiasa latihan keras dan panjang. Ia berhasil menjadi anggota Phantom Regiment, sebuah corps kelas internasional. Mulai dari anggota snare, section leader hingga menjadi salah satu instruktur. Itu semuanya membentuknya menjadi seorang pelatih yang disiplin dan sedikit kaku. Tapi sisi baiknya, ia peduli dengan impian anak-anak asuhnya. Misinya sebagai pemimpin adalah membawa mereka dikenal seluruh Indonesia. Itu berarti harus menjadi yang terbaik. And she did her best. Ia berusaha keras menularkan semangat percaya dirinya, benih dari kemenangan itu.

11.        Keselarasan.
Komposisi yang selaras dalam permainan marching band adalah cermin keseimbangan dalam harmoni kehidupan. Jika semua nada pas dalam melodinya, akan tercipta kombinasi keindahan suara dalam keteraturan. Dan lagu kehidupanpun akan berdenting dengan syahdunya. Salut dengan kelihaian Oka, mampu menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan marching band dengan begitu rapi dan detail.

12.        Dreaming is believing.
Mimpi adalah awal dari segalanya. Percayalah pada mimpimu, lalu yakinkan hati untuk mewujudkannya. Beranilah bermimpi! Seperti pesan bapak Lahang pada putra semata wayangnya, “Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu hanyalah keberanian.”
 
Vincero! Dan kemenangan itupun membayang di pelupuk mata. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Bukti, bahwa prestasi bisa menjadi milik semua orang. Tak peduli siapapun atau dari manapun ia berasal. Sepanjang ia berusaha keras, kelak ia akan memetik buah manisnya. 

12 Menit adalah inspirasi untuk semua. 12 Menit adalah novel untuk segala usia. Nantikan juga kehadiran filmnya. Segera, siap menghentak bioskop di seluruh Indonesia!




Judul Buku         : 12 Menit
Pengarang          : Oka Aurora
Penerbit              : Noura Books
Tebal : xiv + 348 Halaman; 14x21 cm
Terbit                  : Mei 2013
ISBN                   : 9786027816336



    Tulisan ini diikutsertakan dalam  'Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit: Dreaming is believing!'



Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena