Kamis, 23 Januari 2014

Mengabadikan Cinta Sejati



Kehilangan seseorang yang telah menjadi belahan jiwa adalah peristiwa tersulit yang dihadapi seorang manusia. Bahkan mungkin, itu adalah ketakutan terbesar bagi seorang wanita, ditinggalkan suami untuk selama-lamanya. Hal itu pula yang menimpa seorang Fira Basuki. Dalam waktu yang singkat, ia harus mengalami suka dan duka sekaligus.

Buku ini dibuka oleh ungkapan cinta Fira Basuki pada almarhum suaminya, Hafez, melalui tweet di akun twitternya. Pemimpin redaksi majalah Cosmopolitan Indonesia itu sebenarnya ragu untuk memulai menulis buku ini. Tapi karena cintanya yang begitu besar, akhirnya ia menulis juga. Ini adalah persembahan cinta, yang benar-benar ditulis dari hati.

Masa kecil Fira dan Hafez mendominasi bab-bab awal. Berlanjut pada kisah pertemuan mereka di tanggal 17 November 2010 pada ajang Cosmopolitan Star Search. Sebuah ajang pencarian bakat menyanyi, di mana Fira menjadi juri  dan Hafez menjadi pengiring gitar salah satu peserta, yang tak lain adalah Tantry, adiknya. Mereka sama-sama terpesona. Meskipun Hafez jauh lebih muda dari Fira, hal itu tidak mengurangi kesungguhannya untuk membina hubungan serius. Fira sendiri merasa mantap bahwa Hafez adalah orang yang tepat untuknya.

Setahun kemudian (25 November 2011) mereka menikah. Kebahagiaan itu bertambah ketika sebulan kemudian Fira Hamil. Tapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika janinnya berusia empat bulan, Hafez meregang nyawa akibat serangan Aneurisma saat berada di Jogja.

Saya harus bagaimana? Selain menerima, pasrah dan ikhlas. Saya memiliki pilihan untuk menerima atau tidak menerima. Di Jum’at, 16 Maret 2012, tertulis takdir Hafez untuk meninggalkan dunia fana. Tertulis takdir untuk saya memulai hidup di dunia fana, tanpanya. (Halaman 84)

Fira berduka. Hafez bukan hanya menjadi suami yang baik, tapi juga menjadi Ayah yang bertanggung jawab bagi Syaza, putri Fira yang kini beranjak remaja, dari pernikahan pertamanya. Hafez tidak akan pernah melihat anak-anaknya tumbuh, seperti keinginannya. Bahkan Kiad, putrinya yang lahir pada Agustus 2012 tak pernah merasakan dekap hangat Ayahnya.

Ternyata hidup saya bukan saya yang menulis. Ternyata, saya seorang penulis, tidak kuasa akan tulisan cerita hidup saya. Saya harus menyerah pada garis tangan hidup saya yang ditulis oleh sang Mahapenulis, Mahapujangga. (Halaman 98)

Lewat buku ini, Fira mengajak kita untuk memaknai kesabaran dan keikhlasan ketika menghadapi peristiwa kematian. Betapa ia bangga pernah menjadi orang yang paling dicintai oleh almarhum suaminya. Fira juga bertekad mengabadikan nama Hafez sebagai sebuah yayasan pondok di daerah Bekasi yang sekarang mulai dirintis pembangunannya. Ia harus kuat demi anak-anaknya.

Saya belajar sabar untuk menanti saat-saat yang kian membahagiakan. Saya ingin hidup hingga tua untuk melihat Syaza dan Kiad berhasil dan membanggakan. Saya harus hidup untuk mereka. Ini berarti saya harus menarik panjang lagi tali sabar saya hingga saat saya meninggal nanti, untuk bertemu Hafez. (Halaman 133)

Buku ini dilengkapi dengan CD yang berisi lagu Love You So Much. Liriknya ditulis oleh Tantry, sebagai bentuk sayangnya pada Fira dan Hafez. Selain itu, buku ini juga dilampiri lima buah cerpen dan memuat catatan dari sahabat-sahabat Fira dan Hafez, seperti Susan Bachtiar, Alvin Adam, Widi Mulia, Lukman Sardi, Ayu Dewi dan lain-lain. Mereka semua berharap Fira bisa survive menghadapi ujian itu. Dan Fira Basuki  telah mengabdikan diri, menulis dengan segenap jiwa dan perasaannya demi keabadian cinta sejatinya.
 
Wimar Witoelar, yang biografinya pernah ditulis oleh Fira memberikan komentarnya, “Barangkali itu kekuatan Fira Basuki sebagai penulis, yang hanya bisa saya ceritakan dari perpektif awam. Fira bisa menulis fiksi dengan kesan bahwa itu kehidupan nyata, dan Fira bisa menulis nonfiksi seakan-akan itu sebuah cerita. Bukan dalam arti kompromi dengan fakta, tapi dalam arti memberi warna dan sentuhan pada fakta nonfiksi. (Halaman 182) 


Judul Buku          : Fira dan Hafez
Penulis                 : Fira Basuki
Penerbit              : Grasindo
ISBN                      : 978-602-251-101-4
Tebal                     : 252 Halaman
Terbit                    : Juni 2013 (Cetakan pertama), September  2013 (Cetakan kedua)
 
Read More

Minggu, 19 Januari 2014

Betang, Antara Kenangan dan Harapan



“Sejauh apapun kau pergi, keluarga tetap menjadi rumah yang indah untuk kembali.”

Tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Danum untuk meninggalkan Betang. Rumah adat Kalimantan Tengah itu sangat berarti untuknya. Ada banyak kenangan yang terlipat rapi di dalamnya. Ada banyak nama yang terukir indah di setiap sudutnya. Senyum dan keceriaan penghuninya erat tertancap, sekokoh tiang-tiang penyangganya. 

Kai dan Ini, begitu Danum menyebut Kakek dan Neneknya. Dua orang yang sangat disayanginya. Mereka telah merawatnya dengan penuh kasih. Kematian sang Ibu dan kepergian sang Ayah bersama seorang kakak lelakinya menyisakan luka untuknya. Luka itu kian perih ketika suatu hari sang Kakak kembali karena sang Ayah masuk penjara. Dan luka itu sempurna menganga ketika sang Nenek juga menutup usia. Sebuah awal yang sulit. Tapi Arba, kakaknya, tumbuh menjadi seorang pelindung bagi Danum dan Kakeknya. Mereka hidup bertiga, saling melengkapi.

Hidup di lingkungan Betang yang dikelilingi oleh sungai, menumbuhkan kecintaan dayung pada diri Danum. Ia mewarisi bakat mendayung dari Kakek dan Neneknya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan Dehen, teman sepermainannya yang sama-sama menyukai dayung. Dayung mengakrabkan mereka. Dayung membentangkan sebuah harapan untuk masa depan.

Dan sejak saat itu, aku dan Dehen semakin menyukai dayung. Beberapa kali kami ikut dalam regu perahu naga di perayaan desa. Hingga suatu hari anak lelaki itu mengatakan padaku, “Kata Ayah kalau kita rajin berlatih, kita bisa jadi atlet dayung dunia.” 

Ya, Dehen benar-benar memperjuangkan mimpinya. Ia berhasil masuk Pelatda, menjadi seorang atlet dayung. Impian terbesarnya adalah masuk Pelatnas dan bisa mewakili Indonesia di kancah dayung Internasional. Keluarganyapun pindah ke Palangkaraya. Sementara Danum, berkali-kali gagal di Pelatda. Kekecewaannya tergenapi ketika satu demi satu rumah Betang ditinggalkan penghuninya.

Masa itu telah tertinggal jauh di belakang sana. Sementara aku pun masih saja berdiri di sini. Tidak pernah kemana-mana. Jangankan menjadi atlet dunia, untuk tingkat Pelatda saja aku selalu gagal. Benar seperti kata Arba,aku atlet jago kandang. 

Ketika surat panggilan untuk mengikuti seleksi masuk pusat Pelatda kembali menghampiri, Danum meragu. Tapi Arba ada di sampingnya, mendorong dan mendukungnya dengan tulus. Dan perjuangan itupun dimulai kembali. Ia berkomitmen untuk berprestasi, dengan disiplin dan berlatih keras. 

Olahraga dayung tidak terlihat sesantai saat mendayung dengan bersenang-senang. Karena dalam pertandingannya memerlukan tes ketahanan yang diselesaikan dalam kecepatan hingga 10 meter per detik.

Dan saat kemenangan hampir digenggamnya, ia dihadapkan pada sebuah tragedi. Mampukah ia bertahan? Ataukah ia memilih menyerah? Ia juga dicekam dilema. Pertemuan dengan Dehen, menyemai kembali bibit perasaannya yang tumbuh sejak lama. Sementara Sallie, pasangannya dalam tim dayung putri, juga menyimpan perasaan yang sama pada Dehen. Mampukah ia berfikir bijak, sementara ia harus tetap fokus pada dayung?

Tapi aku telah memilih jalan ini, yang kujalani dengan penuh cinta. Karena aku tahu, untuk sampai di sini bukan hal yang mudah.

Nilai motivasi dalam novel ini cukup kental. Quote-quote manis bertebaran di setiap babnya. Shabrina Ws juga menghadirkan setting yang apik dan detail mengenai tanah Borneo. Rumah Betang, Sungai Barito, Jukung sampai pesta Bapapai adalah nilai budaya yang berhasil dikombinasikan menjadi kisah menawan. Selain itu, tersirat pesan tentang konservasi lingkungan. Pohon ulin, aggrek hitam, anggrek pensil dan anggrek mutiara adalah tanaman-tanaman langka yang perlu dijaga kelestariannya.



Judul Buku      : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Pengarang       : Shabrina Ws
Penerbit           : Quanta (imprint PT. Elex Media Komputindo)
Tebal               : 175 Halaman
Terbit               : Oktober 2013
ISBN               : 978-602-02-2389-6
Harga              : Rp. 29.800,-


Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena