Sunday, 25 April 2021

Kesederhanaan yang Melangit

Ia hanya orang biasa. Rakyat jelata yang tak berharta. Tak rupawan. Dalam banyak hal, ia kekurangan. Namun, ia tak mengeluh tersebab keterbatasan itu.

Ia pernah dikucilkan, dianggap gila, karena berlari-lari naik turun bukit sambil memangggul domba. Namun ia tak bersedih untuk cemoohan itu.

Ia paham dan fokus pada tujuan yang dianggapnya benar. Tak lelah berusaha dengan segenap kemampuan yang terbatas. Ia tak perlu menunjukkan segala usahanya kepada orang-orang. Ia hanya mempersembahkan bakti tulusnya untuk seorang wanita yang pernah ia huni rahimnya. Hanya berharap, impian terakhir wanita yang menjadi jalan surganya itu terwujud dan terampuni dosa-dosanya yang tlah lalu. Supaya kelak, ia pun mendapat ridhonya.

Sungguh, ia sungguh berbakti. Bakti yang mengantarkannya pada ridho Allah.


 

Tak perlu menjelaskan pada orang-orang yang memberinya label gila. Mereka akan bungkam dengan sendirinya tatkala mengetahui ada apa di balik semua perjuangan itu.

Zuhud dan tawadhunya melintas batas ruang dan waktu. Rasulullah, tak pernah melihatnya, tetapi mendengar tentangnya dan menyampaikan salam. Lalu mengabarkan kepada para sahabat untuk menghormati sosok itu. 

Ia begitu dicintai dan dihormati tanpa syarat. Bahkan saat jarak membentang. Para sahabat tak lelah mencari, hanya untuk memohon berkah dari doanya yang diijabah.

Ia menolak kemewahan tatkala kesempatan itu menghampirinya. Ia memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri yang apa adanya, dengan segala keterbatasannya. Ia teguh memegang prinsip-prinsipnya.

Ia tak diperbincangkan di bumi. Penduduk bumi hanya menganggapnya angin lalu. Namun, namanya harum di langit. Ia tak tersohor di bumi, tetapi begitu termahsyur di langit.

Ia tak pernah berharap tepuk tangan manusia, tak teperdaya ingar bingar dunia. Ia tidak suka menyibukkan diri dengan manusia. Ia memilih menepi, yang membuat hatinya melembut, dalam kezuhudan dan ketawadhuan.

Betapa langka pada zaman ini, orang seperti Uwais Al Qarni.


Sebuah muhasabah diri.

 

 

 

Related Articles

No comments:

Post a comment