Friday, 15 January 2021

Sebuah Elegi

Saat itu, tiga pekan sebelum pandemi. Di Baitul Ihsan. Kami sangat bersuka cita. Kami sangat bersemangat menujumu, ingin mereguk sepercik ilmu darimu. Tak mampu terlukiskan bagaimana bahagianya kami menjadi deretan makmummu. Mendengarmu melantunkan ayat-ayat Quran yang sungguh fasih kau lafalkan. Lalu kami duduk bersama-sama, membaur, begitu khusyuk menyimak. Ketika kami begitu terlena dengan kesibukan dunia fana, majelis itu laksana oasis yang mengguyurkan kesegaran, pada jiwa-jiwa kami yang kerontang.

Kau begitu memahami karakteristik kami. Yang tak ingin melakukan hal-hal sulit. Yang maunya mengerjakan yang mudah-mudah saja. Dan ya, itu adalah sebuah pendekatan bagus untuk kami yang tak terlahir di negeri para nabi. Kau mengerti, bahwa kami perlu belajar selangkah demi selangkah, sedikit demi sedikit untuk sampai pada tahap ihsan. Maka, kau ajarkan kami mengenai amalan-amalan ringan berpahala besar. Seperti yang pernah kau tuliskan dalam bukumu.

Friday, 1 January 2021

The Life-Changing Magic of Tidying Up

Ketika saya menawarkan diri untuk membenahi salah satu kamar teman saya, seketika itu juga ia menolak mentah-mentah, “Tidak, jangan pernah kau bereskan kamarku. Di tanganmu, bisa-bisa sebagian barang-barangku akan berakhir di tempat sampah!”

The Life-Changing Magic of Tidying Up - Marie Kondo

Begitu katanya. Oooh, sesadis itukah kalau saya berbenah? Lalu saya kilas balik keseharian saya. Hal pertama yang saya lakukan ketika bangun tidur adalah merapikan sprei dan menggembungkan kembali bantal guling. Dan saya akan merapikan segalanya. Saya juga tidak bisa melihat barang tercecer di lantai. Saya harus menempatkannya di suatu wadah. Harus ada tempat untuk segala sesuatu. Pun ketika saya akan beranjak tidur, pandangan saya akan menyapu seluruh ruangan. Jika masih ada yang berantakan, maka tidur saya tak tenang. Mau tak mau, saya akan merapikan semuanya dulu, demi tidur yang nyenyak. Saya tak tahan melihat barang berantakan, membuat pusing. Saya juga banyak membuang barang-barang yang sepertinya tak akan pernah terpakai. Kadang, saya berpikir itu wajar-wajar saja. Tapi saya juga harus mengakui, kadang standar kerapian saya memang rada ekstrim. Bukan hanya rapi, tapi juga harus bersih dan kalau bisa wangi.

Sunday, 27 December 2020

Cikini, dari Ujung ke Ujung

Sunday to do list: Do nothing and chill Jogging, feel the fresh air and capture everything.

Menyusuri Cikini yang kini sudah berbenah rapi.

Salah satu kawasan yang direvitalisasi menjadi tempat Kegiatan Strategis Daerah dan akan digunakan sebagai koridor kegiatan seni budaya.

Cikini semakin cantik dengan tetap mempertahankan bangunan-bangunan bersejarahnya.

Mari memotret...


Workroom: Coffee Shop dengan konsep ruang kerja

Saturday, 26 December 2020

Terima Kasih



2020 akan segera berlalu. Terasa begitu singkat. Januari, Februari, pandemi, dan tiba-tiba saja sudah Desember. Penghujung tahun. Sejatinya hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan dan tahun-tahun pun juga begitu. Berlalu dengan cepat, tanpa kita sadari. Hanya kumpulan angka-angka yang luruh satu-satu. Seperti halnya hakikat manusia itu sendiri.

2020 mungkin terasa berat karena pandemi ini. Sesuatu yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ada banyak rencana yang tertunda, bahkan batal. Ruang gerak pun terbatas. Perhitungan meleset, jumlah kasus belum juga turun, vaksin pun belum paten. Di penghujung tahun, kita harus terima kenyataan, pandemi belum berlalu. Kita masih harus berusaha keras.

Sunday, 13 December 2020

Start-Up dan Cerita-Cerita Lainnya

Sudah sejak lama Santi dan Yanti nggak ngomongin drakor lagi. Sejak Scarlet Heart yang bikin baper berkepanjangan gegara hampir semua tokohnya terbunuh itu. Perang saudara yang berkepanjangan memang bikin sedih. Nyesek dan lelah nontonnya. Nggak mau lagi ah nonton yang tragis-tragis kayak gitu. Trus abis itu sok-sok nggak mau nonton drakor lagi. Tapi tetep aja, ujung-ujungnya kangen juga. Beehhhh...

 

 

Trus sekarang ada Start-Up. Gegara Yanti ngomongin terus nih drakor, hihihi, jadinya nonton juga. Biasanya ada Mbak Ade Anita juga, tapi kayaknya Mbak Ade lagi sibuk nge-canva. Trus biasanya juga ada Diah Cmut, tapi kayaknya lagi sibuk ngedit buku. Gapapa kok Mut, baru dapet episode satu saat penayangan uda selesai, jadi nontonnya lebih tenang. Meskipun spoiler everywhereee. Aku juga biasa gitu kok, nonton drakor saat uda nggak jadi trending lagi.  Dan tidak semua drakor harus kutonton. Menyesuaikan sikon aja. Ada yang nyerah saat baru nonton episode satu. Ada yang lanjut sampai ending.

Sunday, 6 December 2020

A Man Called Ove

 

[Review] A Man Called Ove: Novel atau Film?   

 

Sebelumnya, kuberi tahu dulu ya. Ove mungkin bukan tipe lelaki menyenangkan. Untuk kebanyakan orang, ia sangatlah menyebalkan.

Tapi jika kau tertarik untuk mengenal karakternya, kau akan menemukan sisi menyenangkannya.

Iya, kau bisa memilih mengenalnya lewat novel atau film. Bebas.. atau malah mau mencoba dua-duanya? Silahkan..

Novel A Man Called Ove ditulis oleh Fredrik Backman, seorang Jurnalis dan Blogger Swedia pada tahun 2012 dengan judul asli En Man Som Heter Ove. Kemudian pada tahun 2013 dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Novel versi bahasa inggrisnya mampu meraih New York Times Best Seller List sesudah 18 bulan diterbitkan. Adaptasi filmya dirilis pada Desember 2015, yang ditulis dan disutradarai oleh Hannes Holm. Pemilihan Rolf Lassgard yang memerankan tokoh Ove sangat pas, mirip sekali dengan ilustrasi sampul novelnya. Bahar Pars yang keturunan Iran juga pas sekali memerankan tokoh Parvaneh.


Monday, 30 November 2020

Bahagia dengan Hidup Minimalis

Saya pernah membeli satu set parutan serbaguna. Awalnya saya pikir akan berguna untuk macam-macam. Bisa untuk parutan wortel, labu, keju dan lain-lain. Yang penting beli saja dulu, mumpung ada dan murah. Pada kenyataannya, saya jarang menggunakannya. Ketika beberes rumah, saya baru menyadari sudah memiliki sebuah parutan, oleh-oleh dari saudara. Bertahun Kemudian, saya belanja dan melihat parutan keju lucu dengan warna kesukaan. Saya pun tertarik membelinya. Payah, saya lupa sudah memiliki satu set parutan plus oleh-oleh dari saudara itu. Jadilah parutan saya numpuk. (Masaknya? Boro-boro!)

Pernah juga suatu hari saya beberes lemari dan menemukan ada beberapa baju dan jilbab yang bahkan belum pernah dipakai. Dan saya sudah membeli yang baru lagi. Akibatnya lemari overload. Ini juga pernah terjadi pada buku-buku. Pada saat ada bookfair, kadang saya kalap membeli banyak buku. Padahal masih ada buku-buku yang belum dibaca, bahkan masih ada yang tersegel rapi. Ini benar-benar payah. Jika saya tidak mengubah hal-hal ini, akan terjadi penumpukan barang berlebihan dan berefek pemborosan.


Suatu hari, saya juga beberes email. Membersihkan berkas-berkas supaya memori tidak kepenuhan. Dan saya pun sadar, ternyata ada banyaaak sekali pesan-pesan yang belum sempat terbaca. Pusing dengan banyaknya pesan itu (kebanyakan dari media sosial dan situs belanja online), saya pun membuat email baru agar lebih nyaman di mata dan pikiran. Agar tak tercampur aduk dengan pekerjaan. Ini juga terjadi pada flashdisk. Ketika saya merapikan berkas-berkas kantor, ternyata isi flasdisk saya begitu membingungkan saking banyaknya data. Selanjutnya, saya membeli flasdisk baru untuk menyelamatkan kepala saya dari kepuyengan. Jadilah saya punya lebih dari sepuluh flashdisk (ini ternyata tak mengurangi puyeng). Tambah puyeng lagi ketika harus menghapus foto-foto di ponsel karena memori yang sudah kritis. Dan ternyata butuh waktu yang tidak sebentar hanya untuk membersihkan isi ponsel. (Saya lebih memilih membersihkan rumput di kebun belakang rumah)

Dari situ, saya berpikir bahwa segala sesuatu yang berlebihan justru akan membebani. Konsep hidup sederhana yang selalu dipegang selama ini bisa ambyar, jika ‘godaan-godaan’ itu tak ditangani dengan bijak.

Saya pun bertekad untuk meminimalkan segalanya. I have to do minimalist, things and thinks!