Sunday, 30 May 2021

Persahabatan Indonesia dan Palestina

“Are you Indonesian?”

“Yeah. And are you Pakistani?”

“No, I’m a Palestinian.”

And time went by ...

Indonesia untuk Palestina
 

Dear gadis Palestina..

Waktu itu aku salah mengenali asal-usulmu. Setelahnya kita tertawa, saling berjabat tangan dan menyusuri jalan Ibrahim Al Kahlil bersama. Lalu, aku melupakan namamu begitu saja.

Dear gadis Palestina..

Beberapa waktu ini, aku melihat negerimu kembali tercabik, untuk ke sekian kalinya. Lagi dan lagi. Tanah negerimu terus dicaplok, tempat tinggal warga kian menyusut, ruang gerak terbatas. Gedung-gedung kotamu luluh lantak diterjang kebiadaban. Penduduk dibantai dalam kesewenang-wenangan. Anak-anak negerimu yang tak berdosa kehilangan orang tua, sanak saudara, tempat tinggal, bahkan hidup mereka sendiri. Tragedi silih berganti, menyisakan trauma yang mungkin bekasnya tak kan pernah terhapus.

Monday, 17 May 2021

Satu Waktu untuk Dikenang

Once upon a time..

Sekitar satu dekade lalu, kami tergabung dalam sebuah grup kepenulisan yang begitu hebat. Betapa beruntungnya saya menjadi bagian irisan komunitas yang jadwalnya sungguh rapi, padat dan bergizi itu. Layaknya sekolah formal beneran. Ilmu bertebaran, canda tawa berhamburan. ‘Banting-membanting’ naskah menjadi menu harian. And it will be sorely missed.


Wednesday, 12 May 2021

Manisan Kolang Kaling dengan Pewarna Alami

Setelah seharian berpuasa, berbuka dengan es sirup ditambah manisan kolang kaling memang menyegarkan. Nyessss, dahaga tertuntaskan. Selain menyegarkan, kolang kaling juga menyehatkan tulang dan melancarkan pencernaan karena kandungan kalsium dan seratnya tinggi.
 
Sebagai penggemar kolang kaling, selama ramadan ini, hampir setiap hari saya mengonsumsinya. Saya pun berencana membuatnya lagi untuk hidangan lebaran.

 
I named it: Kolang Kaling Red Cherry
 

Thursday, 6 May 2021

Lailatul Qodar

Hikmah meliputi segala hal. Ia bisa hadir dari sesuatu yang baik, bisa pula dari sesuatu yang kurang baik.

Alkisah, Rasulullah pernah diberikan pengetahuan dari Allah mengenai kapan tepatnya Lailatul Qodar terjadi. Malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ketika segala kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Malam yang selalu dicari oleh para pereguk hikmah.

Namun kemudian, Rasulullah ditakdirkan bertemu dengan dua orang yang saling berdebat dan bertengkar. Lalu atas kuasa Allah, pengetahuan tentang tepatnya Lailatul Qodar itu pun terhapus. Ilmu berharga tercerabut melayang.

Sunday, 2 May 2021

Ramadan: Lembaga Pelatihan Terbesar

Ramadan, bulan mulia nan berkah. Bulan penuh ampunan. Bulan yang di dalamnya terdapat limpahan kebaikan. There’s a magical night, yang lebih baik dari seribu bulan.

Bulan, tatkala delapan pintu surga dibuka, tujuh pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.

(Maka, jika diri berperilaku kurang baik pada bulan ramadan, berarti penyebabnya bersumber dari dalam diri sendiri. Jangan hanya menyalahkan setan, yang notabene sudah diikat dan terkurung).

Ketika langkah dimampukan menjejak ramadan, maka sebaik-baik kita, adalah yang mampu memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baik usaha. Peluang untuk menempa diri terbentang luas. Allah telah anugerahkan sarana terbaik.


Sunday, 25 April 2021

Kesederhanaan yang Melangit

Ia hanya orang biasa. Rakyat jelata yang tak berharta. Tak rupawan. Dalam banyak hal, ia kekurangan. Namun, ia tak mengeluh tersebab keterbatasan itu.

Ia pernah dikucilkan, dianggap gila, karena berlari-lari naik turun bukit sambil memangggul domba. Namun ia tak bersedih untuk cemoohan itu.

Ia paham dan fokus pada tujuan yang dianggapnya benar. Tak lelah berusaha dengan segenap kemampuan yang terbatas. Ia tak perlu menunjukkan segala usahanya kepada orang-orang. Ia hanya mempersembahkan bakti tulusnya untuk seorang wanita yang pernah ia huni rahimnya. Hanya berharap, impian terakhir wanita yang menjadi jalan surganya itu terwujud dan terampuni dosa-dosanya yang tlah lalu. Supaya kelak, ia pun mendapat ridhonya.

Sungguh, ia sungguh berbakti. Bakti yang mengantarkannya pada ridho Allah.


Sunday, 28 March 2021

Resensi Membeli Ibu

 

Membeli Ibu, Menukar Lara dengan Selaksa Makna 

Novel ini berkisah tentang dua remaja dengan dinamika masalah yang tak biasa. Tentang Athifa, gadis empat belas tahun pengidap disleksia, yang pendiam dan kurang percaya diri karena disorientasi arah. Garis nasib membawanya tinggal di panti asuhan, terpisah dari keluarga dan sanak saudara. Dengan keterbatasan yang dimiliki, ia berjuang memperbaiki diri dan menyimpan harapan besar untuk ‘membeli’ ibu. Tentang Fairuz, remaja yang baru menamatkan masa putih abu-abunya. Masa yang seharusnya penuh keceriaan, tetapi justru berhadapan dengan kenyataan harus kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya dan meletakkan cita-citanya menjadi psikolog anak. 

Bagi Athifa, kehadiran ibu sangatlah berharga, tak terbeli. Dan bagi Fairuz, kemungkinan menjadi seorang ibu bagaikan peribahasa ‘jauh panggang dari api’. Karena itulah ada ‘sesuatu’ yang membuat dua tokoh ini saling terhubung secara batin. Tampaknya, pengarang sangat lihai melihat benang merah ini, alasan mengapa mereka harus dipertemukan dan saling memberi warna bagi satu sama lain.