Thursday, 17 September 2020

Pandemi Mengoyak Nurani

Sungguh, pandemi ini telah mengoyak hati banyak orang.

Andai kita berada di posisi mereka. Yang telah kehilangan keluarga dan sahabat tanpa diduga. Yang harus menjalani isolasi sepi dibayangi resah gelisah tiap detiknya. Yang harus dikucilkan seakan-akan setiap inci gerakan tubuhnya mampu menyemburkan virus jahat nan kejam. Yang mau tak mau harus berdiri di garis paling depan tanpa punya pilihan mundur ke belakang, mempertaruhkan hidup.

Pandemi ini nyata. Dan ada banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya. Mungkin kita tak percaya, karena hanya melihat dari kejauhan. Ada yang harus menjalani swab sampai empat belas kali baru dinyatakan negatif. Padahal teori awalnya, hanya butuh waktu dua minggu untuk kembali ‘bersih’. Bisa kau bayangkan, satu setengah bulan kesehatan fisik dan mentalmu terganggu karena kekhawatiran berlebihan? Ada yang terinfeksi lagi, untuk kedua kalinya, setelah tiga bulan dinyatakan sembuh. Padahal secara teori, seharusnya antibodi sudah terbentuk. Mungkinkah virus sudah bermutasi? Lalu apa kabar dengan vaksin, jika antibodi tak ada? Dan rentetan pertanyaan lainnya yang menuntut jawaban pasti. Sayangnya, belum ada yang pasti.

Andai kita sedikit saja mampu berempati dan menahan ego diri. Kadang, kita tak sadar..

Perilaku kita yang tak disiplin telah melukai sahabat-sahabat kita yang berjuang di garda terdepan.

Padahal, mereka adalah tumpuan kita dalam berjuang melawan pandemi ini.

Mari kita bantu mereka sepenuh hati, dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jangan lengah dan bosan; memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Himbauan itu ada di mana-mana, terpampang dengan jelas. Kita hanya harus menjalankannya dengan tertib. Bukan malah abai, cuek dan jemawa merasa diri aman. Tapi tak sadar justru menciptakan klaster penyebaran baru.

Sesederhana itu meringankan tugas mereka.

Supaya, tak ada lagi perjuangan yang sia-sia.

Supaya, kurva itu pelan-pelan melandai.

Dan hari-hari kita kembali damai.


Update kasus per 16 September 2020

Monday, 14 September 2020

Menemukan Surga Literasi di Perpusnas

Cinta kan membawamu kembali di sini …

Sepenggal lagu itu tampaknya pas mewakili kondisiku belakangan ini.

Terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, bisa membuatmu jenuh dan kehilangan passion pada hal-hal yang kau sukai. Awalnya aku tak terlalu percaya dengan kalimat itu. Setelah mengalaminya sendiri, baru lah kepala ini mengangguk-angguk seraya mulut bergumam, “Oooh, hmmm …”

Pernah jadi pasukan pendamba weekend? Cek tiap Jumat sore, apakah senyummu lebar? Jika iya, kau termasuk! Yang nulis ini, pastilah salah satunya. Weekend berarti me-time. Kau bebas melakukan apa saja sesukamu. Bisa kabur sejenak dari rutinitas memang menyenangkan.

Me-time-ku dulu seringnya ngemall. Iya, tipikal pekerja ibu kota banget. Katanya sih, ngemall bisa ngurangi stres. Tapi menurutku, stres itu hanya berputar-putar saja, saat stres yang sama akan kau dapati ketika melongok isi rekeningmu ambyar akibat kebiasaan ngemall.

Pernah suatu kali nganterin temen ngemall. Lihat sendal jepit harganya sejuta sungguh bikin melongo. Lihat tas selempang harganya lima juta bikin mengkeret. Lihat gaun seharga sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan juta beneran bikin shock. Iya, tinggal nambah seribu perak genap sudah seratus juta. Manusia bodoh mana yang rela membelinya? Bukankah itu barang tak bernilai investasi dan cepat usang? Iya sih, seorang Kate Middleton, wedding dress-nya harganya miliaran. But she’s a prince’s wife, who will be the future queen of UK.

Ah, harga barang branded yang kadang tak masuk akal itu pernah membuatku sangat marah. Iya, aku marah pada dunia karena tak mampu membelinya ketidaklogisan harga dan nilai guna barangnya. Aku bayangkan, uang segitu bisa buat makan bertahun-tahun. Kalau di kampung, sudah bisa membeli sepetak sawah. Bahkan, kau bisa umroh empat kali! It’s greater value

Kemarahan tak beralasan itu lama-lama membuatku bosan ngemall dengan sendirinya, tanpa paksaan, sadar diri …😀

Dan aku mulai melirik rak buku kembali. Merapikan dan membersihkannya dari debu. Mempertanyakan kembali passion-ku yang dulu katanya ‘I love reading so much’.

Akhir-akhir ini, aku sering bertanya dalam hati, ke mana perginya energi yang dulu dalam dua hari saja mampu menamatkan bacaan setebal 600-an halaman? Aku merasa energi itu sudah terjun bebas, saat baru membaca dua halaman saja langsung terkantuk-kantuk.

Aku lupa tepatnya kapan mulai senang membaca. Yang kuingat, saat masih berseragam putih merah, pernah ditunjuk ibu guru untuk mengikuti lomba menulis tentang lingkungan mewakili sekolah. Sepertinya berawal dari situ, aku mulai banyak membaca buku. And I took pleasure in it.

Setiap ada kesempatan, aku usahakan untuk membaca, apa saja. Persewaan buku rajin disambangi. Perpustakaan daerah pun menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi, paling tidak sebulan sekali. Kala itu sering membayangkan, jika perpustakaan daerah saja koleksi bukunya sangat wow, apalagi perpustakaan nasional. 

 
Pintu masuk Perpusnas 

 
Dan, saat tinggal di Jakarta, mengunjungi Perpusnas adalah salah satu wishlist.

Wishlist yang banyak terdistraksi oleh keasyikan ngemall. Dan gadget. Juga medsos.

Sampai aku merasa kekuatan cinta menarikku kembali.

Sunday, 6 September 2020

Karakter-Karakter Mengagumkan

Dia, seorang guru besar, pimpinan fakultas di universitas ternama. Sehari-hari, dia menggunakan kereta untuk pulang pergi ke kampusnya. Dia memilih untuk tak mempunyai kendaraan roda empat, padahal sangat mampu membelinya. Alasannya begitu menakjubkan, hanya tak ingin menambah macet ibu kota. Dia memilih untuk menjadi sederhana.

Dia, seorang direktur rumah sakit ternama. Karena rumahnya jauh, dia memutuskan indekos di kawasan sekitar kantornya. Sehari-hari, dia berjalan kaki ke kantornya. Penampilannya bersahaja, tak neko-neko. Jika mau, dia bisa saja tinggal di apartemen mahal dan bergaya mewah. Tapi dia memilih untuk menjadi sederhana.

Menyaksikan itu, muka ini tertunduk malu ...

Ada orang-orang yang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Ada orang-orang yang bertahan dengan prinsipnya. Di tengah ingar-bingar kehidupan yang digempur paham hedonisme dan konsumerisme, memilih menjadi sederhana itu tak mudah. Ada kalanya lingkungan memengaruhi pikiran dan menuntut macam-macam. Hanya orang-orang dengan pendirian teguh, mampu berjalan melawan arus.

Merenungkan kisah pada suatu masa ...

Tentang manusia paling mulia yang bergelar Al Amin, yang kesehariannya sangatlah bersahaja. Tak pernah berlebih-lebihan. Suatu hari dalam hidupnya, beliau pernah mengikatkan bebatuan pada perutnya demi menahan lapar. Beliau adalah pemimpin negara, tapi rela menjahit sendiri bajunya yang robek. Beliau menggunakan hartanya untuk kepentingan dakwah.

Kesahajaannya pun meneladani dan menginspirasi sahabat-sahabatnya ...

Adalah sahabat yang paling beliau cintai. Lelaki santun dan lembut hati yang bergelar Ash-Shiddiq itu, harus berjualan dulu di pasar untuk memenuhi permintaan istrinya yang hanya ingin makan manisan. Ia gemar membelanjakan hartanya untuk memerdekakan budak-budak teraniaya. Bukan untuk kepentingan pribadinya. Hanya untuk mengharap ridho-Nya.

Adapun sahabat beliau yang bergelar Al Faruq, pernah tawaf mengelilingi Ka’bah dengan menggunakan kain yang terdapat dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan benang merah. Lelaki tangguh dan pemberani itu setiap hari menanyakan kepada jamaahnya, apakah ada yang membutuhkan sesuatu dan berkeliling pasar untuk memastikan keadaan ekonomi rakyatnya.

Lalu, sahabatnya yang mendapat julukan Dzunnurain, seringnya makan hanya dengan cuka dan minyak, tapi gemar memberikan makanan lezat kepada rakyatnya. Ia kaya raya, tetapi mengikhlaskan seluruh hartanya untuk dibelanjakan di jalan jihad.

Dan, sahabatnya yang dijuluki Abu At-Turab, dalam keadaan dingin memakai selendang lusuh yang sudah usang. Ia lebih menyukai pakaian sederhana dengan harga murah dan makan makanan kasar. Ia pernah punya tikar yang digunakan untuk tidur di malam hari, lalu di siang harinya digunakan untuk tempat makan. Ia lebih memilih menyedekahkan dirham kepada fakir miskin daripada menyimpannya.

Para khulafaurrasyidin itu memang juara dalam mencontoh kezuhudan dan kedermawanan sang manusia terbaik. Mereka mempunyai harta, kekuasaan dan wewenang. Tapi lebih memilih menggunakan seperlunya, tanpa dilebih-lebihkan. Mereka memiliki prinsip yang tak tergoyahkan. Dan itu tak mengurangi harkat dan martabatnya, justru derajatnya ditinggikan dan dimuliakan oleh-Nya.

Dalam keseharian, ada keadaan yang akhirnya mengharuskan kita untuk memilih. Pilihan-pilihan itu kadang berbenturan dengan kemampuan. Seharusnya kita bisa menakar diri, saat memutuskan perlu tidaknya memiliki sesuatu. Jika merasa tak mampu ya buat apa dipaksakan? Bukankah hanya akan membenani pundak ke depannya? Pun jika kita sebenarnya mampu, tapi tak terlalu membutuhkan, ya tidak ada salahnya menahan diri. Kita bisa mengalokasikannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Menuruti keinginan duniawi itu tak akan ada habisnya. Diperbudak keinginan, laksana minum air laut yang justru tak tuntaskan dahaga. Merasa cukup dengan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah adalah jalan membuka pintu ketenteraman. Kekurangan yang ada pada diri tak menjadi persoalan saat kita mampu bersyukur di segala kondisi.

Memilih menjadi sederhana dan apa adanya adalah salah satu bentuk qanaah yang membawa kepada pengasahan kepekaan sosial, yang tumbuhkan kebahagiaan hakiki.

Bahwa tak ada yang abadi, semua fana, semua hanya titipan. Dan, bukankah kita harus mempertanggungjawabkan semua hal di hadapan Sang Maha Segala, suatu saat nanti?

 

 

 

Saturday, 29 August 2020

Ragusa, Es Krim Rasa Sejarah

 
When I'm stressed, I eat ice cream, chocolate or sweets. 
Do you know why? 
Because, 'stressed' spelled backward is 'desserts' 
(Anonym)
 

Es krim selalu mengingatkan kenangan masa kecil saya. Saat masih berseragam putih merah, saya dan teman-teman sangat menggemari jajanan es krim yang dibungkus roti tawar. Kami selalu antri berebutan mengerumuni abang penjualnya saat pulang sekolah. Bisa kamu bayangkan kan, siang-siang saat matahari sedang terik-teriknya, pulang sekolah ketika sedang lapar-laparnya. Menikmati roti tawar yang lembut berpadu dengan manis-dinginnya es krim, mmm, nikmat nian.

Kini, ada kalanya saya ingin melepaskan lelah setelah seharian bekerja dengan bersantai sejenak sambil menikmati es krim. Iya, sepertinya es krim memang kesukaan semua orang. Dari anak-anak sampai orang dewasa, rasanya susah untuk menolak kelezatan es krim.

Es krim di zaman sekarang sangat bervariasi dan bisa ditemukan di mana-mana. Tapi saya justru merasa, nilai spesialnya menjadi berkurang.

Sampai saya menemukan es krim yang unik. Ragusa Es Italia.

Terletak di kawasan Gambir, tepatnya di belakang Masjid Istiqlal, toko es krim ini selalu terlihat ramai. Ada yang menggilitik saya, kenapa ya namanya Ragusa Es Italia? Apakah pendirinya orang Italia?

Yup, that's right. Menurut ceritanya, Ragusa didirikan oleh dua bersaudara asal Italia bernama Luigi Ragusa dan Vinzenzo Ragusa. Ragusa juga merupakan nama sebuah kota dan provinsi di Pulau Sisilia, Italia Selatan. Awalnya, pada tahun 1930-an, dua bersaudara Ragusa pergi ke Batavia untuk belajar menjahit. Tapi malah banting stir menjadi pembuat es krim. Alasannya sederhana, karena ingin memanfaatkan susu segar yang banyak mereka terima dari kenalannya, seorang wanita Eropa pemilik peternakan sapi.

You see, kadang hal-hal yang kita tekuni malah bukan sesuatu yang kita pelajari pada awalnya. Bisa jadi, kita mahir di satu bidang yang tak kita bayangkan sebelumnya.

Okay, lanjut ke es krim.

Ragusa Es Italia ini berbeda dengan bermacam es krim yang beredar di pasaran. Teksturnya lembut dan ringan, karena menggunakan bahan susu sapi segar, tanpa butter milk. Manisnya tak begitu pekat, pas di lidah. Dan kelebihannya lagi, tak menggunakan bahan pengawet. Jadi, always fresh everyday. Harganya pun cukup terjangkau (antara Rp15.000 - Rp35.000).

Pilihan menu cukup variatif dengan tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Kesukaan saya adalah spaghetti ice cream karena keunikan tampilan dan variasi topping-nya.


Spaghetti Ice Cream

Untuk regular flavored, ada pilihan rasa mocca, vanilla, chocolate dan strawberry

Untuk premium flavored, ada pilihan durian Medan, nougat dan mint raisin.
 
Untuk mix flavored, ada pilihan coupe de maison dan special mix.

Untuk fancy flavored, ada pilihan chocolate sundae, tutti frutti, cassata sicilliana, banana split dan spaghetti ice cream.


Cassata Sicilliana


Menikmati es krim Ragusa bisa dengan berbagai cara. Boleh dinikmati di tempat, take away atau sambil bersantai di sepanjang sungai di depannya yang kini  telah ada fasilitas city walk lengkap dengan kursi-kursinya.

Saya sendiri suka menikmati di tokonya langsung. Duduk di kursi-kursi rotan zaman dulu, mengamati interior toko yang masih belum berubah sejak berdirinya. Kemudian fokus mencicipi es krim pelan-pelan, sampai lumer di mulut, sambil membayangkan keriangan masa kanak-kanak dulu ketika berebut antri es krim dan puas menikmatinya di siang yang terik kala itu.

Dan tahu-tahu, es krimnya habis tak tersisa..

Tapi kenangan akan tersisa, lekat selalu, dan tetap semanis es krim.

Bagi yang penasaran mencicipi es krim yang telah ada sejak Indonesia belum merdeka ini, bisa langsung cus ke Jl. Veteran I No. 10, Gambir, Jakarta Pusat. Buka setiap hari lho...

Dan selamat menjelajah cita rasa sejarah.


Awalnya Ragusa bersaudara menjual es krim di Pasar Gambir (Jakarta Fair) di tahun 1932
  
 
 
Cafe tetap Ragusa Es Italia yang berdiri sejak tahun 1947






Saturday, 22 August 2020

Senyum Dalam Sebungkus Jeruk

Pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota, aku melihat adanya ketergesa-gesaan dalam semua aktivitas. Semua orang terlihat sibuk. Di jalan raya, halte, terminal, stasiun, bandara dan gedung-gedung perkantoran. Semua orang berjalan dengan sigap dan gesit, seakan-akan urusan mereka harus dibereskan secepat mungkin. Tak bisa menunggu nanti-nanti. Sejenak terlintas dalam benakku, jika aku ditakdirkan singgah lama untuk mencari penghidupan di sini, apakah ritmeku berjalan akan seperti mereka?

Hari pertama bekerja di kawasan pusat Jakarta, aku merasa de javu. Kakiku berjalan sangat cepat. Aku merasa diburu waktu. Perjalanan ke kantor menggunakan bus umum dengan jarak kurang lebih 25 KM itu ternyata sangat melelahkan. Waktu tempuh yang seharusnya bisa dilalui dalam 30 menit, tapi ternyata bisa molor menjadi 1,5 jam. Itu sangat di luar ekspektasi. Banyak sekali waktu terbuang percuma di jalan. Sementara tuntutan kantor tidak boleh datang terlambat.

Jadilah aktivitas sehari-hari bagaikan lingkaran kebosanan yang tak berujung. Bangun tidur sebelum subuh. Beberes segala sesuatunya walau dengan mata masih terkantuk-kantuk. Saat adzan subuh berkumandang, hanya tinggal sholat saja, kemudian siap berangkat. Berbaur dengan jalanan ibu kota di awal hari yang masih gelap pun, ternyata tak semulus yang dibayangkan. Semrawut dan macet di mana-mana. Di situlah kesabaran diuji. Pun begitu pulang kantor, tak jauh berbeda dengan suasana pagi. Berdesak-desakan dalam bus umum yang berbaur dengan berbagai macam aroma, tak bisa dielakkan. Bayangan sudah melepaskan lelah di rumah sebelum magrib, sepertinya hanya menjadi wacana semata. Nyatanya saat tiba di rumah, bahkan anggota keluarga yang lain sudah beranjak tidur. Keesokan harinya, ritme itu akan berulang lagi dan lagi. Saat itu aku baru percaya, stres sangat riskan melanda para pencari nafkah di Jakarta.

Terkadang, rasa penat dan bosan begitu kuat mencengkeram. Keluhan demi keluhan berhamburan. Sampai hal-hal yang terjadi di sekitar tak diperhatikan lagi. Fokus lebih ke egosentris. Bodo amat lah dengan hal-hal lain di dunia luar sana. Orang-orang itu juga tak peduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya. Jadilah konsep individualis tertanam kuat. Toleransi terpasung. Siapa yang kuat dengan ritme ini, ia bertahan. Yang tidak mampu menyesuaikan diri, ya terpaksa menyerah. Seakan-akan kota ini bak rimba raya. Sisi kemanusiaan sedikit demi sedikit tergerus.

Sampai sebuah ‘tamparan’ mendarat…


Setiap pagi, begitu turun dari bus, aku masih harus berjalan kaki kurang lebih 500meter untuk sampai kantor. Melalui trotoar kampus fakultas kedokteran ternama, ada banyak pedagang asongan menggelar lapak dagangannya. Salah satunya seorang bapak paruh baya yang berjualan buah jeruk dalam keranjang kecil. Yang kalau tidak salah ingat, sejak pertama aku mulai kerja, bapak penjual jeruk itu sudah berjualan di sana. Tiap turun dari bus, pemandangan bapak penjual jeruk itulah yang menjadi penglihatan pertamaku. Pun ketika pulang kantor, saat menunggu bus, pemandangan bapak penjual jeruk itu juga yang tersaji. Dan kalau diperhatikan jeruk dagangannya tidak berkurang banyak, dari awal pagi sampai menjelang petang. Hampir selalu begitu, selama berbulan-bulan. Dari situ, aku mulai terketuk dan menyelipkan sedikit niat untuk membeli jeruknya kapan-kapan. 

Sunday, 2 August 2020

Film-Film Studio Ghibli (Bagian 2)

Hai-hai, jumpa lagi. Kita lanjutin yuk ngobrolin film-film Studio Ghibli. Dalam postingan sebelumnya, saya sudah mengulas pendek 12 film Studio Ghibli. Gimana, apakah kalian sudah nonton semua? Film terakhir yang diulas adalah My Neighbors the Yamadas yang diproduksi tahun 1995. Sekarang mari kita ulas film selanjutnya, yang kebetulan diproduksi setelah milenium baru, periode 2000-an.. Let’s check it out:

 

13.       Spirited Away (2001)

Film yang mendapat banyak penghargaan ini ditulis dan disutradarai oleh Hayao Miyazaki. Menceritakan tentang gadis 10 tahun bernama Chihiro dan orang tuanya yang pindah ke rumah barunya, tapi melalui jalan yang salah dan akhirnya membawa mereka terjebak di dunia Kami (dunia roh). Orang tuanya berubah menjadi babi setelah makan di sebuah restoran kosong tapi berlimpah makanan.

Saturday, 1 August 2020

Film-Film Studio Ghibli (Bagian 1)


Kalau ditanya, apakah saya suka nonton film? Suka banget! Kecuali film horor tapi ya (kayaknya hidup saya sudah cukup 'horor'). Salah satu jenis film yang saya sukai adalah animasi Jepang. Kalo ditanya yang paling favorit, pastinya film-film produksi Studio Ghibli. Saya lupa film pertama yang saya tonton apa. Yang saya ingat, saya langsung jatuh cinta dengan visualisasi, karakter tokoh dan pesan-pesan moralnya. Lalu saya pun niat banget nonton semua filmnya. Indikator saya memfavoritkan film itu adalah, saya tonton, saya suka, saya simpan, untuk kemudian ditonton ulang kapan-kapan. Dan ini terjadi pada film-film Studio Ghibli. Bahkan, instrumental soundtrack-nya pun tak bosan-bosan saya dengarkan.

Studio Ghibli didirikan pada 15 Juni 1985 oleh Hayao Miyazaki dan Isao Takahata yang bertindak sebagai sutradara, serta Toshio Suzuki sebagai produsernya. Sejarah nama Ghibli, diserap dari kata ‘Qibli’ yang secara etimologis berasal dari kata ‘Qibla’ (Libia-Arab), yang berarti angin gurun yang panas. Harapannya, Studio Ghibli bisa meniupkan angin segar dalam industri film animasi. Dan benar adanya, Studio Ghibli mencatat sejarah manis, film-filmnya sangat disukai dan banyak mendapatkan penghargaan. Bahkan di Jepang sana, sampai dibangun museumnya lho di tahun 2001. (mupeeeng ke sanaaa :D)

Popular Posts