Saturday, 24 October 2020

Ibrahim Al Kahlil Street




Menapaki kembali jalan ini, sekeping ingatan tentangmu melintas. 

Malam itu, kita sama-sama menawar Qur'an saku di sebuah toko buku depan Masjidil Haram. Waktu itu, kita saling tersenyum saat harga yang kita tawarkan melalui perantara kalkulator memunculkan angka sama. Dan kita sama-sama tertawa saat penawaran itu ditolak oleh empunya toko. Kita pun tak gentar, masih berusaha rayu-merayu, bujuk-membujuk, tapi ternyata tak membuahkan hasil. Lalu kita sama-sama keluar, menyusuri jalan Ibrahim Al Kahlil untuk mencari toko buku yang lain.

Dalam suasana lalu lalang jamaah, kita bercanda. Kukatakan, itu malam terakhirku di Mekkah karena esoknya rombongan kami akan menuju Madinah. Kau sarankan padaku untuk mencari Qur'an saku serupa di Madinah, karena konon lebih terjangkau. Mungkin karena percetakan Qur'an terbesar ada di sana. Aku menyetujuinya. Dan kau tetap gigih menyusuri jalan demi menemukan toko buku. Aku tahu tak ada toko buku lagi sepanjang jalan di depan, sejauh mata memandang. Aku sudah menjelajah siang sebelumnya. Aku pun menyarankan, sudahi saja petualangan itu. Malam sudah terlalu larut untuk seorang gadis sepertimu berjalan sendirian di antara kerumunan orang-orang tak dikenal. Toh, esoknya kau masih bisa melanjutkan untuk menjelajah kembali. Kau pun mengiyakan. Dan aku lega.

Di persimpangan itu, kita berjabat erat, saling mendoakan dalam kebaikan. Maafkan, aku luput mengenalimu sebagai orang Pakistan, padahal kau tepat mengenaliku sebagai orang Indonesia. Ah ya, aku memang sulit membedakan paras warga Timur Tengah pada umumnya. Sesulit orang Timur Tengah membedakan paras Indonesia dan Malaysia. Hanya bisa tebak-tebak bergembira. 

Kau berbalik jalan ke arah penginapanmu yang terletak tepat di depan pintu utama Masjidil Haram. Aku pun melanjutkan berjalan ke arah penginapanku yang tinggal beberapa meter lagi. Semilir angin merayap dingin, tapi ada secercah hangat yang menyusup pelan-pelan. Berharap, ada waktu untuk kita kembali bersua.

Dear gadis Palestina.. Ah, bahkan aku melupakan namamu. Yang kuingat, bahwa ejaan namamu sungguh sulit kulafalkan dengan lidah Indonesiaku. Kau tahu, sebenarnya malam itu aku masih ingin bertanya lebih banyak. Tentang negerimu. Tentang mimpi-mimpimu. Tentang apa saja. Tapi kita harus berdamai dengan waktu bukan?

Dear gadis Palestina.. Apa kabarmu hari ini? Konon, toleransi telah terpasung di sana. Hak-hak perdamaian telah terabaikan. Sungguh, pilu nian hati ini mendengarnya. 

Dalam diam, ada sejumput harap. Kau dan negerimu akan baik-baik saja. Dalam diam, teriring doa yang sama saat Nabi Yakub memohon keberkahan atas negerimu. 

Ah, entah sampai batas apa konflik itu akan menemukan muaranya. Satu yang pasti, kami tak pernah menepikanmu. Selalu ada doa terapal, karena kita bersaudara. Selalu ada harap terlintas, nanti, suatu hari nanti. Kita bisa berjalan dan tertawa bersama lagi. Mungkin tak di jalan Ibrahim Al Kahlil. Bisa jadi kita sama-sama menyusuri jalan di depan Masjidil Aqsa. Dua jalan yang sama-sama pernah dijejak oleh Nabi Ibrahim pada masanya. Lalu kita bertukar cerita dan terhanyut mengagumi sejarah negerimu yang mulia. Siapa tahu kan?

Monday, 19 October 2020

Klappertaart Huize

Bogor bagi Jakarta itu, bagaikan oasis di tengah padang pasir. Rasanya sangat nyaman menikmati akhir pekan di kota hujan itu. Ya, meskipun sekarang macetnya tidak beda jauh dengan Jakarta, tapi paling tidak suasana adem masih terasa. Di beberapa sudut, masih banyak pepohonan hijau nan rindang. Lumayan lah ya buat 'mendinginkan' mata dan pikiran. Kulinernya? Mmm, tak perlu diragukan lagi. Banyak banget variasinya. Asinan sayur, asinan buah, roti unyil, aneka masakan sunda dan berbagai makanan yang dikemas kekinian, memang menggoda selera. Serasa surga bagi penyuka kuliner.

Salah satu kuliner yang sebisa mungkin tak terlewatkan oleh saya ketika main ke Bogor adalah Klappertaart Huize. Pertama kali mengenal klappertaart tuh sebenarnya bertahun-tahun yang lalu. Saat salah satu teman komunitas BAW (Mbak Marisa Agustina) membuka usaha 'Klappertaariza'. Mbak Risa sering banget posting foto-foto klappertaart yang terlihat yummy dan menggiurkan. Tapi apalah daya, Mbak Risa berdomisili di Makassar, jauh amat mau mencicipinya. Lalu mulai deh, menjelajah ke mana-mana demi menuruti rasa penasaran akan klappertaart ini. Dan hasilnya, nihil! Di daerah saya, tak ada satu pun usaha kuliner yang menjualnya.
 
Awal tinggal di Jakarta, tiap akhir pekan saya dan teman-teman suka menjadwalkan untuk kemana aja. Secara kebetulan, waktu itu kita rame-rame main ke Kebun Raya Bogor dan menjelajah kuliner di sekitarnya. Dan mata saya langsung mengerling gembira begitu menemukan plang 'Klappertaart Huize & Resto'. Tanpa basa-basi lagi, langsung semangat empat lima memasukinya.
 
Dan saya langsung menyukai sejak pertama kali mencicipinya. Kue khas Manado yang merupakan warisan kolonial Belanda ini ternyata sangat lembut dan yummy. Perpaduan tepung terigu, kelapa muda, susu, mentega dan telurnya sangat pas. Manisnya  tidak eneg. Tekstur lembutnya langsung lumer di lidah.
 


Klappertaart huize tersedia dalam berbagai macam varian dan rasa seperti: original, keju, strawberry, blueberry, pandan, talas, chocochip, oreo, tape dan durian. Semuanya enak, tapi favorit saya tetep yang original. Harga bervariasi menyesuaikan ukuran dan rasa. Dan sampai sekarang, saya belum menemukan klappertaart lain yang rasanya sebanding dengan klappertaart huize ini, menurut versi lidah saya.

Sunday, 11 October 2020

[Review] Karena Hidup Hanyalah Sebuah Persinggahan

Membaca buku ini, seolah membayangkan…

Menikmati senja di pinggir pantai, duduk bertiga bersama Mbak Lyta dan Mbak Brina. Menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kalian menyeduh kopi. Aku cukup dengan teh saja. Aku sudah menyerah dengan kopi.

Kita membicarakan tentang apa saja. Tentang senja, tentang pantai. Tentang kisah-kisah pada suatu masa. Tentang harapan-harapan. Tentang hal-hal yang menyenangkan. Juga tentang hal-hal yang kurang menyenangkan.

Kilas balik segala yang telah terjadi. Yang telah membawa kita semua, sampai ke detik ini.

 


Saturday, 3 October 2020

Kasih Tak Sampai


Indah, terasa indah

Bila kita terbuai dalam alunan cinta

Sedapat mungkin terciptakan rasa

Keinginan saling memiliki

Namun bila itu semua

Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta

Tak semudah seperti yang pernah terbayang

Menyatukan perasaan kita

 

Aku mengagumimu. Diam-diam aku berharap kau akan selalu ada untukku, dalam segala suasana. Aku ingin, saat aku membutuhkanmu, kau menyambutku. Ya, aku ingin kita sedekat itu. Berbagi apa saja, sampai ke hal-hal yang remeh. Kala hujan turun di pagi yang gigil, aku ingin kau ceritakan padaku tentang hal-hal sederhana tapi bermakna, hingga suasana hangat tercipta. Kala senja menyapa, aku ingin kau tuturkan padaku tentang kisah-kisah indah, hingga kita menutup hari dengan gembira. Kita bisa saling menertawakan. Kita bisa saling menguatkan. Sesederhana itu.

Aku menyukai karaktermu. Aku menyukai falsafah hidupmu. Bahkan, aku sangat menyukai aromamu. Kau tahu, ketika bersamamu, aku selalu menghidu wangimu perlahan-lahan dengan mata terpejam dan senyum bahagia. Harummu, mampu membawa anganku melayang, menuju suasana penuh kedamaian.

Tetaplah menjadi bintang di langit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini

Agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua

 

Tapi menyukaimu ternyata tak sesederhana itu. Ada hal-hal yang sebenarnya tak ku mengerti. Seperti, mempertaruhkan segala sesuatunya. Kadang aku tak terlalu memedulikan itu. Dan ya, aku tahu ini hanya akan jadi sebatas impian. Impian yang buyar ketika pagi membuka mata. Sebesar apapun aku mengharapkanmu, kau seakan tak teraih. Sepanjang apapun aku memperjuangkanmu, sia-sia menanti di ujung jalannya. Aku mengerti, rasa ini sepertinya tak berbalas.

Friday, 25 September 2020

Memburu Senja di Pantai Marina

Ada kala, saat sudah lelah dengan rutinitas yang mengepung hari-hari, kau butuh menepi sejenak. Agar pikiranmu kembali jernih. Agar jiwamu kembali bersih. Kau bisa menyingkirkan sebentar segala tumpukan kewajiban itu.

Kau bisa melakukan apapun yang kau sukai. Menikmati senja di pinggir pantai misalnya.


Mmm, jangan, jangan kau bandingkan dengan senja di pantai pulau-pulau yang masih alami itu. Pasti tidak akan lebih unggul. Hanya saja, suasana senja di manapun, asal dinikmati dengan rileks, damai akan hadir menenteramkan jiwa.


Jakarta punya Marina. Yang sekarang sudah berbenah dengan cantik. Tak kalah pesonanya dengan pantai di kota-kota besar lain. Sebagai warga, kita dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas publik yang makin lengkap. Kawasan Ancol makin asri dan berseri. Sebagai penikmat, jangan alpa dari kewajiban menjaga kebersihannya.

Thursday, 17 September 2020

Pandemi Mengoyak Nurani

Sungguh, pandemi ini telah mengoyak hati banyak orang.

Andai kita berada di posisi mereka. Yang telah kehilangan keluarga dan sahabat tanpa diduga. Yang harus menjalani isolasi sepi dibayangi resah gelisah tiap detiknya. Yang harus dikucilkan seakan-akan setiap inci gerakan tubuhnya mampu menyemburkan virus jahat nan kejam. Yang mau tak mau harus berdiri di garis paling depan tanpa punya pilihan mundur ke belakang, mempertaruhkan hidup.

Pandemi ini nyata. Dan ada banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya. Mungkin kita tak percaya, karena hanya melihat dari kejauhan. Ada yang harus menjalani swab sampai empat belas kali baru dinyatakan negatif. Padahal teori awalnya, hanya butuh waktu dua minggu untuk kembali ‘bersih’. Bisa kau bayangkan, satu setengah bulan kesehatan fisik dan mentalmu terganggu karena kekhawatiran berlebihan? Ada yang terinfeksi lagi, untuk kedua kalinya, setelah tiga bulan dinyatakan sembuh. Padahal secara teori, seharusnya antibodi sudah terbentuk. Mungkinkah virus sudah bermutasi? Lalu apa kabar dengan vaksin, jika antibodi tak ada? Dan rentetan pertanyaan lainnya yang menuntut jawaban pasti. Sayangnya, belum ada yang pasti.

Andai kita sedikit saja mampu berempati dan menahan ego diri. Kadang, kita tak sadar..

Perilaku kita yang tak disiplin telah melukai sahabat-sahabat kita yang berjuang di garda terdepan.

Padahal, mereka adalah tumpuan kita dalam berjuang melawan pandemi ini.

Mari kita bantu mereka sepenuh hati, dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jangan lengah dan bosan; memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Himbauan itu ada di mana-mana, terpampang dengan jelas. Kita hanya harus menjalankannya dengan tertib. Bukan malah abai, cuek dan jemawa merasa diri aman. Tapi tak sadar justru menciptakan klaster penyebaran baru.

Sesederhana itu meringankan tugas mereka.

Supaya, tak ada lagi perjuangan yang sia-sia.

Supaya, kurva itu pelan-pelan melandai.

Dan hari-hari kita kembali damai.


Update kasus per 16 September 2020

Monday, 14 September 2020

Menemukan Surga Literasi di Perpusnas

Cinta kan membawamu kembali di sini …

Sepenggal lagu itu tampaknya pas mewakili kondisiku belakangan ini.

Terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, bisa membuatmu jenuh dan kehilangan passion pada hal-hal yang kau sukai. Awalnya aku tak terlalu percaya dengan kalimat itu. Setelah mengalaminya sendiri, baru lah kepala ini mengangguk-angguk seraya mulut bergumam, “Oooh, hmmm …”

Pernah jadi pasukan pendamba weekend? Cek tiap Jumat sore, apakah senyummu lebar? Jika iya, kau termasuk! Yang nulis ini, pastilah salah satunya. Weekend berarti me-time. Kau bebas melakukan apa saja sesukamu. Bisa kabur sejenak dari rutinitas memang menyenangkan.

Me-time-ku dulu seringnya ngemall. Iya, tipikal pekerja ibu kota banget. Katanya sih, ngemall bisa ngurangi stres. Tapi menurutku, stres itu hanya berputar-putar saja, saat stres yang sama akan kau dapati ketika melongok isi rekeningmu ambyar akibat kebiasaan ngemall.

Pernah suatu kali nganterin temen ngemall. Lihat sendal jepit harganya sejuta sungguh bikin melongo. Lihat tas selempang harganya lima juta bikin mengkeret. Lihat gaun seharga sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan juta beneran bikin shock. Iya, tinggal nambah seribu perak genap sudah seratus juta. Manusia bodoh mana yang rela membelinya? Bukankah itu barang tak bernilai investasi dan cepat usang? Iya sih, seorang Kate Middleton, wedding dress-nya harganya miliaran. But she’s a prince’s wife, who will be the future queen of UK.

Ah, harga barang branded yang kadang tak masuk akal itu pernah membuatku sangat marah. Iya, aku marah pada dunia karena tak mampu membelinya ketidaklogisan harga dan nilai guna barangnya. Aku bayangkan, uang segitu bisa buat makan bertahun-tahun. Kalau di kampung, sudah bisa membeli sepetak sawah. Bahkan, kau bisa umroh empat kali! It’s greater value

Kemarahan tak beralasan itu lama-lama membuatku bosan ngemall dengan sendirinya, tanpa paksaan, sadar diri …😀

Dan aku mulai melirik rak buku kembali. Merapikan dan membersihkannya dari debu. Mempertanyakan kembali passion-ku yang dulu katanya ‘I love reading so much’.

Akhir-akhir ini, aku sering bertanya dalam hati, ke mana perginya energi yang dulu dalam dua hari saja mampu menamatkan bacaan setebal 600-an halaman? Aku merasa energi itu sudah terjun bebas, saat baru membaca dua halaman saja langsung terkantuk-kantuk.

Aku lupa tepatnya kapan mulai senang membaca. Yang kuingat, saat masih berseragam putih merah, pernah ditunjuk ibu guru untuk mengikuti lomba menulis tentang lingkungan mewakili sekolah. Sepertinya berawal dari situ, aku mulai banyak membaca buku. And I took pleasure in it.

Setiap ada kesempatan, aku usahakan untuk membaca, apa saja. Persewaan buku rajin disambangi. Perpustakaan daerah pun menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi, paling tidak sebulan sekali. Kala itu sering membayangkan, jika perpustakaan daerah saja koleksi bukunya sangat wow, apalagi perpustakaan nasional. 

 
Pintu masuk Perpusnas 

 
Dan, saat tinggal di Jakarta, mengunjungi Perpusnas adalah salah satu wishlist.

Wishlist yang banyak terdistraksi oleh keasyikan ngemall. Dan gadget. Juga medsos.

Sampai aku merasa kekuatan cinta menarikku kembali.

Popular Posts