Pada abad ke-19, lanskap sosial dan politik Amerika Serikat didominasi oleh institusi perbudakan yang mengakar kuat. Perbudakan bukan hanya sekadar praktik ekonomi marjinal, tetapi fondasi yang menopang struktur ekonomi, sosial, dan politik bangsa, terutama negara-negara bagian Selatan yang sangat bergantung pada tenaga kerja budak untuk perkebunan kapas dan tembakau. Pada periode yang mendekati masa penulisan esai Thoreau ini, yakni tahun 1840, jumlah budak mencapai 14% dari total populasi Amerika Serikat.
Pemikiran Thoreau tentang ketidakpatuhan sipil dan perlawanan terhadap ketidakadilan bukan muncul begitu saja, tetapi terbentuk melalui interaksi dinamis dengan kondisi sosial politik yang bergejolak. Massachusetts, tempat tinggal Thoreau saat itu merupakan negara bagian yang memainkan peran penting dalam aktivitas abolisionis, yaitu sebuah gerakan yang memperjuangkan penghapusan praktik, institusi, atau hukum tertentu, terutama perbudakan atau hukuman mati.
Gerakan antiperbudakan terus meningkat dan menumbuhkan kesadaran moral dan politik masyarakat. Di tengah gelombang aktivisme ini, Thoreau mematangkan filosofinya. Dalam Civil Disobedience, Thoreau membahas secara luas mengenai perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik. Pemikirannya menjadi kerangka kerja bagi gerakan abolisionis untuk menantang norma hukum dan kemasyarakatan.
Thoreau menekankan bahwa kita harus menjadi manusia terlebih dahulu sebelum menjadi warga negara. Jika sebuah hukum mengharuskan kita menjadi agen ketidakadilan bagi orang lain, maka hukum tersebut wajib dilanggar. Thoreau juga menjelaskan bahwa mayoritas tidak selalu benar. Mayoritas menang karena fisik yang lebih kuat, bukan karena mereka memiliki kebenaran moral. Sementara keputusan harus didasarkan pada hati nurani, bukan jumlah suara terbanyak.
Thoreau membuat slogan ‘Pemerintahan yang Terbaik adalah yang Paling Sedikit Memerintah.” Ia percaya bahwa pemerintah seharusnya hanyalah alat yang digunakan rakyat. Namun, pemerintah seringkali menjadi penghambat kreativitas dan integritas individu. Yang menarik, Thoreau berharap ada suatu masa ketika manusia sudah cukup disiplin sehingga pemerintah tidak lagi diperlukan.
Yang paling relevan dengan pelaksanaan demokrasi zaman sekarang adalah pemikiran Thoreau tentang memberikan suara (voting) dalam pemilu. Baginya, memberikan suara dalam pemilu seperti berjudi dengan moralitas. Jika kita melihat ketidakadilan, kita memiliki kewajiban untuk menarik dukungan dari pemerintah yang bersangkutan, misalnya dengan berhenti membayar pajak.
Thoreau tidak terlalu percaya pada gerakan massa atau organisasi besar. Ia percaya bahwa perubahan sejati dimulai ketika satu orang saja berani mengambil sikap dengan risiko dipenjara. Baginya, penjara adalah tempat yang lebih terhormat bagi orang jujur di bawah pemerintahan yang tidak adil.
Pemikiran-pemikiran yang masih terasa sangat relevan dengan masa sekarang!
Thoreau tidak hanya berteori dalam esainya, tetapi terlibat aktif dalam upaya gerakan abolisionis dan berpartisipasi langsung di Underground Railroad, yang memberikan bantuan pada individu-individu yang diperbudak dan berjuang mencari kebebasan. Hal ini menjadikan Civil Disobedience bukan sekadar teks filosofi abstrak, tetapi manifestasi dari perlawanan konkret terhadap tirani perbudakan. Thoreau menjadi jembatan antara hati nurani individu dan gerakan sosial kolektif, memberikan legitimasi moral bagi siapa saja yang memilih melanggar hukum manusia demi mematuhi hukum keadilan yang lebih tinggi.



No comments