Review Laut Bercerita - Leila S. Chudori

Ketika membaca novel Laut Bercerita, saya seperti dibawa ke dalam pusaran ceritanya. Bagaimana tidak, sebagian besar latar tempat novel ini adalah daerah yang pernah saya tinggali, singgahi atau lewati. Terkhusus aksi Kamisan di depan Istana Negara, momen itu menerbitkan banyak tanya dalam kepala saya. Lalu saya pun belajar kembali, menilik sejarah yang menjadi latar waktu novel ini: Peristiwa sebelum dan sesudah Reformasi 1998. 

Review Laut Bercerita

Reformasi 1998 menjadi titik balik kritis, Indonesia mengalami transisi dari rezim otoriter Orde Baru menuju sistem politik yang (diharapkan) lebih demokratis. Salah satu yang paling disorot oleh novel ini adalah doktrin Dwifungsi ABRI yang melegitimasi peran miiter dalam ranah sipil, sosial dan politik yang pada akhirnya menjadi alat bagi rezim untuk membungkam kebebasan rakyat. Demokrasi yang terkekang saat itu harus dibayar nyawa para aktivis.

Tema sentral dalam novel ini adalah kemanusiaan dan perjuangan melawan ketidakadilan. Konfliknya terbagi menjadi dua garis besar: Perlawanan antara kelompok aktivis mahasiswa (Winatra dan Wiratama) terhadap rezim otoriter yang represif, serta pergulatan batin para tokoh yang kehilangan dan dihilangkan. Bagaimana mereka menghadapi rasa takut, penyiksaan, trauma dan rasa bersalah bahkan hanya untuk bertahan hidup dan mencari keadilan.

Tokoh Biru Laut adalah karakter utama yang teguh dan berpikir kritis. Ia mewakili suara yang terbungkam. Keberaniannya melawan bukan tanpa kekhawatiran, tetapi ia terus mengukuhkan idealismenya di tengah intimidasi serta penyiksaan fisik dan mental oleh aparat. Tokoh Asmara Jati mewakili sudut pandang keluarga korban, yang mengedepankan rasionalitas di tengah duka, pencarian, dan penantian yang tak berujung. Ia bertahan tabah di tengah keluarganya yang terus menghibur diri melalui ‘Ritual Makan Malam Hari Minggu’ tetapi sesungguhnya rapuh di dalam.  Tokoh Kinan mewakili kekuatan intelektual, ia perempuan cerdas dan mampu memimpin serta mengarahkan organisasi secara tegas dengan misi terukur. Tokoh-tokoh lainnya yang menjadi teman seperjuangan mereka juga memiliki idealisme sama kuatnya, serta keluarga masing-masing yang tak lelah memperjuangkan keberadaan orang-orang tercinta.

Review Laut Bercerita

Tentang ‘Ritual Makan Malam Hari Minggu’, ada metafora yang coba digaungkan, bahwa meskipun ada kursi kosong, harapan akan terus dipelihara. Meski hati remuk redam menunggu ketidakpastian nasib, selama masih bisa bercerita dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dihapal, mereka yang dihilangkan akan terasa hadir dan tidak benar-benar hilang.

Laut Bercerita bagi saya adalah genderang dalam jagat literasi, yang seakan menabuhkan kembali memori kolektif atas luka bangsa yang mulai padam gemanya. Menjadi semacam pengingat bahwa kasus pelanggaran HAM pada masa lalu bukanlah isu yang kedaluarsa, tetapi hutang moral bangsa yang harus dibayar lunas dengan keadilan merata. Negara harus belajar agar tidak terjatuh kembali pada pola-pola represif. Bagi generasi yang terus bertumbuh dan berganti, novel ini bisa menjadi jembatan pemahaman bahwa demokrasi perlu diperjuangkan  dan dijaga dengan nalar kritis. 

Satu catatan dari saya, yang jujur sangat saya sayangkan, adalah beberapa ‘adegan dewasa’ tokoh-tokoh utamanya yang notabene adalah mahasiswa. Novel ini sudah bagus dari segi tema, karakter, konflik dan penceritaannya tanpa harus memasukkan adegan tersebut. Jika dihilangkan tidak akan mengurangi esensi novelnya. Penambahan adegan tersebut hanya akan menimbulkan kesan bahwa kehidupan mahasiswa di Indonesia sudah sedemikian bebasnya. Padahal masih banyak juga mahasiswa yang memegang teguh prinsip, nilai, dan menjaga diri dari pergaulan bebas.

Review Laut Bercerita

Laut Bercerita tak hanya sekadar menjadi retorika politik, tetapi lebih dari itu, ia menjadi narasi perlawanan yang lantang. Novel ini secara tegas menampar kita untuk menolak lupa, bahwa ada luka-luka yang belum sembuh. Ketidakadilan masih merajalela. Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia seperti yang tercantum dalam dasar negara masih terasa jauh untuk diraih. Diperlukan perombakan sistem tata kelola negara besar-besaran untuk meluruskan kembali niat dan amanat Reformasi 1998. Dan seharusnya, nilai-nilai reformasi tersebut dapat beradaptasi dan bertransformasi mengikuti perkembangan demokrasi dan kemajuan zaman, serta bermetamorfosis menjadi perjuangan yang lebih kritis dan cerdas.

Pada kedalaman yang paling senyap sekalipun, semangat perlawanan harus tetap nyaring dan bergema.

Review Laut Bercerita

Judul Buku : Laut Bercerita
Pengarang       : Leila S. Chudori
Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN         : 9786024246945
Tebal         : 380 Halaman

You Might Also Like

No comments