Rabu, 25 September 2013

BELAJAR SABAR DARI PAHITNYA UJIAN



Sebagian masyarakat Indonesia masih memercayai klenik. Hal ini juga masih berlaku pada sebagian besar masyarakat di daerah pedalaman Sumatera Selatan. Mereka meyakini jika ada bola api yang membumbung di atas atap rumah seseorang, maka orang tersebut dipastikan melakukan praktik santet.  Jika bola api tersebut menggelinding tak tentu arah, siapa saja yang tersinggahi akan mendapat nasib buruk. Salah satunya adalah kematian. Mereka lalai, bahwa itu termasuk perbuatan syirik yang sangat dimurkai oleh Allah.

Kematian adalah salah satu takdir yang pasti datangnya pada seseorang, tapi hanya Allah Swt saja yang tahu waktu kedatangannya. Tidak ada seseorangpun di dunia ini yang bisa mempercepat atau memperlambat kematian. (Halaman 195)

Solasfiana, nama gadis itu. Ia, ibu dan dua orang adiknya diusir dari dusun Sukarami karena dituduh melakukan santet. Sungguh, fitnah yang sangat keji untuk mereka. Belum usai duka mereka karena kematian Aslam (sang ayah) dan Nek Nang Bayumi (sang kakek) yang tidak jauh jaraknya. Praduga itu ditambah lagi dengan kematian seorang tetangga. Sementara rezeki anak-anak yatim itu kian bertambah tiap hari. Warga dusun mengamuk. Mereka menganggap kematian yang beruntun menimpa warga dusun sebagai tumbal atas limpahan rezeki itu. Bahkan keluarga besar yang diharapkan bisa melindungi, ternyata malah turut memojokkan mereka.

Wak Hasni seakan tidak peduli dengan derai air mata Mak Pinah. Dia juga tidak menggubris sama sekali teguran dan protes Mak Pinah. Prasangka yang bersemayam di dalam dadanya, yang dahulu meretas tumbuh sebagai tunas kecil yang tidak berdaya di dalam hatinya, kini telah merimbun menyerupai pohon besar yang memiliki akar yang amat kuat. (Halaman 212)

Dengan hati hancur, mereka pergi tanpa arah dan tujuan. Meninggalkan dusun berarti menebas seluruh mimpi dan harapan yang telah mereka bangun bersama sejak kematian sang ayah. Bagi Solasfiana sendiri, terusir dari dusun berarti terenggut kebahagiaan masa remajanya yang mulai mekar oleh perasaan cinta. Ada satu nama yang harus ia relakan untuk dikubur bersama tragedi itu.

Bahkan daun yang pasrah dan tidak memiliki tujuan ketika gugur dari tangkai pohon, hanya akan berakhir dipermainkan angin sebelum akhirnya tergilas oleh injakan kaki manusia. (Halaman 320)

Namun mereka tak kehilangan jati diri. Mereka tidak ingin berakhir sia-sia seperti daun jatuh yang akhirnya lapuk tak berbekas. Berbekal keyakinan untuk hidup yang lebih baik, mereka terus berjalan. Harapan mereka, bisa memulai hidup baru di tanah baru dengan semangat baru, tanpa mengharap belas kasihan orang lain. Tawaran seorang dermawan yang ingin memberi tumpangan sementara untuk mereka, tidak serta-merta mereka terima begitu saja. Mereka hanya memilih sebuah kandang kambing yang tak terpakai lagi untuk ditempati. Di sanalah mereka memulai, kembali merajut impian yang terserak. Tapi, kesulitan tak berhenti sampai di situ. Ada banyak ujian, yang hikmahnya semakin memperkaya kualitas hidup mereka.

Kuasa Allahlah yang membuat kita tergerak untuk mengambil keputusan menunggu atau bertindak. Apa alasan Allah hingga menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu itu? Hanya Allah yang tahu. Pasti ada sesuatu yang dalam perhitungan Allah lebih baik jika kita diberikan takdir seperti itu. (Halaman 382)

Pulang ke kampung halaman menjadi sesuatu yang dirindukan. Menyusuri kembali jejak yang telah jauh tertinggal, membuat Solasfiana terkenang akan satu nama yang tetap ia simpan rapi di dalam hatinya. Masihkah perasaan itu menempati ruang yang sama ketika insan-insan pendampanya telah berada pada dimensi yang berbeda? Pohon bungur di tepian sungai Musi itu menjadi saksinya.

Lewat novel ini, kita bisa menyelami kehidupan masyarakat Sumatera Selatan yang masih tinggal di rumah-rumah panggung. Aroma kultur terasa begitu kental mewarnainya. Cerita yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini akan mengajarkan pada kita tentang arti bersyukur dan bersabar. Sebuah ujian akan menghantarkan kita pada kehidupan yang lebih baik.







 Judul Buku          : Yang Tersimpan di Sudut Hati
Pengarang          : Ade Anita
Penerbit              : Quanta (imprint Elex Media Komputindo)
Tebal                     : xiii + 440 Halaman
ISBN                      : 9786020221120
Terbit                    : September 2013
Harga                    : Rp. 54.800,-

*) Alhamdulillah, dimuat di Koran Jakarta kemarin (edisi 24 September 2013)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena