Kamis, 12 September 2013

Notasi, Catatan Kelam Sejarah



Ada yang terserak dari masa lalu. Sebuah kisah di tengah hingar-bingar politik saat itu. Ini tentang cinta yang manis namun perih. Kisah yang terjadi di kampus terbesar di Jogjakarta, yang dilatarbelakakangi masa sebelum dan sesudah reformasi 1998.

Krisis moneter yang terjadi pada pertengahan 1997, menyebabkan harga kebutuhan melambung. Daya beli masyarakat berkurang, rakyat menderita. Mahasiswa, yang menganggap dirinya sebagai golongan terdidik dan terpelajar merasa harus menyuarakan pendapatnya. Mereka menuntut adanya perubahan. Mereka bersumpah, berjuang bersama rakyat. Mereka  menyebutnya sumpah mahasiswa.

Kami, mahasiswa Indonesia, bersumpah, bertanah air yang satu; tanah air tanpa penindasan.
Kami, mahasiswa Indonesia, bersumpah, berbangsa yang satu; bangsa yang penuh keadilan.
Kami, mahasiswa Indonesia, bersumpah, berbahasa satu; bahasa tanpa kebohongan.

Itu hanya penyaduran ulang dari Sumpah Pemuda tahun 1928. Hanya baris-baris sederhana. Namun pada waktu itu, semua orang membutuhkan sesuatu untuk diteriakkan. Meneriakkan apa saja yang bisa mewakili perasaan mereka. Yang bisa menumpahkan kebebasan bersuara yang telah begitu lama ditekan sebelumnya. (Halaman 194)

Ya, kebebasan bersuara itulah yang sepertinya musnah ditebas kekejaman rezim pemerintahan, yang selama puluhan tahun dikuasai oleh satu partai ‘itu-itu’ saja. Hal itu pula yang melatarbelakangi beberapa anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada. Nino, salah satunya. Ia memiliki alasan kuat mengapa harus menghidupkan kembali radio Jawara FM, kebanggaan mereka. Mereka sadar, keberadaan radio yang mengudara tanpa izin dari Departemen Perhubungan Republik Indonesia adalah pelanggaran. Tapi keadaan memaksa mereka untuk tetap bersuara. Bagi mereka radio adalah sarana efektif untuk menyambung lidah rakyat.

Di sanalah ia bertemu dengan Nalia, mahasiswi kedokteran gigi yang kebetulan ingin menggunakan jasa radio untuk promo festival yang akan  mereka selenggarakan. Dua fakultas yang tidak pernah akur, tapi nyatanya membuat dua insan penghuninya justru saling jatuh cinta. Dan di festival itulah, segala kekacauan itu berawal.

Itulah masa-masa orde baru yang paling gelap setelah tahta kekuasaannya yang berpuluh-puluh tahun. Kekuatan-kekuatan telah bertukar menjadi kebencian. Generasi yang tumbuh besar pada dekade terakhir rezim ini kian terkumpul membentuk kekuatan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Perlawanan dari pasukan militer pun semakin keras. (Halaman 211)

Kekacauan di malam festival itu menyisakan suasana mencekam di hari-hari selanjutnya. Ketika isu nasional tentang krisis ekonomi yang berbuntut krisis kepemimpinan semakin mengemuka, gerakan mahasiswa di berbagai daerahpun semakin mencuat. Nino dan Nalia menjadi bagian dari aksi demonstrasi besar-besaran itu. Rakyat berteriak, bangsa terluka. Insiden kekerasan terjadi antara rakyat, mahasiswa dan aparat keamanan. Mahasiswa dianggap sebagai biang kerusuhan. Pelanggaran HAM terjadi di mana-mana. Karena sebuah alasan masa lalu, Nino dijemput paksa orang tuanya, mengamankannya dari segala kemungkinan tuntutan. Dan dua orang yang saling jatuh cinta itupun terpisah. Selama kurun waktu tertentu, Nalia hanya menerima surat-surat Nino yang berisi perkembangan reformasi. Sampai segalanya berubah, masa telah berganti. Tapi satu janji yang telah mereka sepakati, membuat mereka tidak bisa saling melupakan.

Suatu hari, mereka memang kembali. Tapi, masih adakah celah untuk mereka memungut kembali sepercik kenangan itu? Pada akhirnya, cinta memang tak selalu berpihak pada perasaan. Meskipun perasaan mereka tidak berubah, tapi keadaan zaman tidak lagi sama. Kenyataan masa kini menuntut mereka untuk membuat keputusan yang dilematik.

Hanya saja, bukan lagi aku yang tempat pulang baginya. Jalur hidup kami pernah bersimpangan, dahulu, tapi tidak lagi. Kini masing-masing jalur itu tampak melaju dalam kecepatan yang lebih stabil, meski menuju ke arah yang berbeda. Masa lalu sempat terlihat indah, namun kami tahu, kami tidak lagi hidup di sana. (Halaman 288)

Dituturkan melalui sudut pandang seorang Nalia, novel ini akan membawa kita ke dalam suasana reformasi kala itu. Tidak mudah membuat setting peristiwa sejarah, dibutuhkan studi literatur yang cukup banyak untuk mendukung argumen yang disampaikan, meski karya fiksi sekalipun. Dan Morra, berhasil menyajikannya dengan apik dan detail. Meskipun ada beberapa kata yang tercetak tanpa spasi, novel ini tetap asyik dinikmati.
*******




  

Judul Buku       : Notasi                                                                                               
Pengarang       : Morra Quatro
Penerbit          : Gagas Media
Tebal               : vi + 294 Halaman, 13 x 19 cm
ISBN                 : 979-780-635-9



Alhamdulillah, dimuat di 'Koran Jakarta' kemarin ( 11 September 2013)






2 komentar:

  1. Keren San resensinya, waktu baca novel ini aq merinding n ada bagian yg bikin mau nangis, baca resensi ini merinding lagi, ketahuan banget yak termasuk angkatan jaman itu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, waktu itu aku es em pe mbak.. pas maen ke Jakarta kaget, suasananya ga enak banget.. banyak gedung tinggal puing2 abis dijarah dan dibakar..

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena