Senin, 14 November 2011

Yang Terpatri Di Hati




Menulislah.. Maka kau akan abadi..

Alhamdulillah.. beberapa bulan lalu berhasil melengkapi koleksi seri Little house, setelah bertahun-tahun berpetualang kesana-kemari mencarinya. Mulai dari Gramedia, toko-toko buku kecil sampai kios-kios loakan buku bekas dan hasilnya nihil. Koleksi saya diawali dari seri terakhir (yang ditulis oleh Laura Ingalls Wilder)  yaitu seri ke delapan. Kenapa seri terakhir yang ditulis oleh Laura Sendiri? Karena seri yang ke sembilan sampai ke sebelas ditulis oleh sahabat Laura berdasarkan catatan-catatan hariannya saja. Buku cetakan tahun 1983 (cetakan ketiga) ini saya dapatkan dengan susah-payah, pakai acara rayu-merayu pemilik sebuah persewaan buku. Karena letaknya berada di rak terbawah dan sudah terlihat kumal, buku ini sepertinya jarang dipinjam orang, karena itulah saya berhasil merayu pemiliknya untuk rela melepaskan koleksinya itu. Dan setelah tarik ulur yang sedemikian sengit (halah) akhirnya saya mendapatkannya. 

Seri pertama sampai keenam berhasil saya dapatkan di Gramedia beberapa bulan lalu karena ada cetakan baru di tahun 2011 ini dengan tampilan yang lebih fresh. Nama penerbitnyapun beda (dari  BPK Gunung Mulia menjadi Libri) meskipun dengan alamat yang sama. Sedangkan buku ketujuh saya dapatkan gratis dari seorang teman, malah lebih langka lagi yaitu cetakan tahun 1981. Maka lengkaplah koleksi saya.. tapi belum menutup kemungkinan berhenti mencari seri-seri lanjutannya (harapannya sih bisa mendapat gratisan lagi, hehe..) Hayo..hayo, siapa yang rela menghibahkan koleksinya buat saiah? ^_^

Laura Ingalls Wilder yang dikenal sebagai gadis pioneer favorit Amerika serikat ini lahir di tahun 1876 di sebuah rumah kecil dari balok kayu di pinggir daerah Rimba Besar, Wisconsin. Ia menghabiskan masa kecil sampai remajanya dengan berpetualang bersama keluarganya melintasi padang rumput, hutan dan pegunungan mulai dari wilayah Wisconsin, Kansas, Minnesota dan berakhir di Dakota Selatan. Ia berhasil menuliskan pengalamannya ke dalam novel-novelnya yang menjadi salah satu karya sastra terbaik di Amerika dan dunia. Ia adalah saksi dari pertumbuhan Amerika serikat yang sedang berkembang menjadi negara maju. Tulisannya sarat dengan pesan tentang kerja keras, ketekunan, keberanian, tolong-menolong dan jiwa petualangan. Buku yang tak pernah lekang tergerus jaman sebagai Character Building stories ini telah membuat saya jatuh cinta pada membaca dan menulis.

Maka, saya tidak heran kalau sekarang Amerika tumbuh menjadi bangsa yang maju jauh meninggalkan negara-negara lain, karena di tahun 1800-an saja masyarakatnya sudah disiplin, suka bekerja keras dan mementingkan pendidikan. Kebiasaan membaca dan menulis sudah diajarkan sedini mungkin oleh keluarga masing-masing sebelum mengeyam pendidikan formal di sekolah. Bayangkan, Indonesia di tahun itu.. Hmm, seperti apa ya? Yang pasti belum merdeka, terjajah, masih berbentuk kerajaan-kerajaan kecil karena belum berdaulat dan banyak yang masih buta huruf. Sementara jauh di Amerika sana.. masyarakatnya sudah berkembang, mengenal ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta terbuka terhadap perubahan. Dan Laura Ingalls Wilder menjadi salah satu pribadi yang cerdas yang berhasil membuktikan bahwa dengan menulis, kita akan abadi.. sebuah karya akan berumur lebih panjang dari empunya. Ketika waktu terus berlalu, jaman berganti.. sebuah karya akan turut menembus batas ruang dan waktu itu, menjadi sesuatu yang berharga dan senantiasa dikenang sepanjang sejarah.

Ups, ternyata novel ini pernah dibuat serial tivi juga lho dan menjadi tontonan favorit pada masanya. Tapi jujur, saya benar-benar tidak tahu. Baru tahu setelah mengenal internet dengan segala kelebihannya yang kadang membuat saya berdecak kagum terheran-heran. Waktu itu saya sedang berselancar dengan mesin Google untuk mendapatkan gambar-gambar asli little house ini agar imajinasi saya saat membacanya bisa mendekati nyata. Dan dengan tekhnologi yang lebih canggih lagi dari Google Earth, kita juga bisa ‘berkunjung’ langsung, berpesawat ria, terbang dan mendarat, dan yang pasti kita akan dimanjakan dengan ‘panoramio’nya yang membuat segalanya seakan-akan nyata di depan mata. Jadilah saya mengoleksi foto dan videonya juga.

Saya sering membayangkan, bisa menembus batas ruang dan waktu itu.. bermain-main, berlari-lari dengan kaki telanjang di padang rumput, memetik bunga-bunga liar dan buah plum, memanen gandum dan oats serta mencium bau harum tanah padang rumput (berlebihan sekali ya saya). Ini bisa terjadi karena Laura benar-benar lihai mengolah kata untuk mendeskripsikan tempat sehingga saat membacanya, saya seolah-olah hanyut berada di dalamnya dan merasakan sensasi empat musim padang rumput saat itu.

Dan.. inilah buku-buku unik, langka, abadi dan berhasil mencuri hati saya itu :



  1. Rumah Kecil di Rimba Besar (Little House in the Big Woods)
Di kedalaman rimba besar Wisconsin inilah Laura lahir. Ia tinggal di sebuah pondok kecil yang terbuat dari balok kayu bersama Pa, Ma, kakaknya Mary dan adik bayinya Carrie. Hari-hari mereka begitu ceria. Pa selalu berburu dan memasang perangkap hewan-hewan liar untuk persediaan makan mereka, sementara ma menggaraminya, membuat keju dan kue. Laura dan Marypun selalu rajin membantu Pa dan Ma. Sepanjang malam dingin, angin bertiup sepi.. tapi Pa selalu memainkan biolanya dan bernyanyi, sehingga suasana rumah menjadi hangat. Mereka masih memiliki kakek, nenek dan keluarga besar yang tinggal jauh di dalam rimba besar. Hanya sesekali waktu saja mereka bertemu. Dan ketika rimba besar sudah mulai ramai oleh kedatangan warga baru, mereka sekeluarga memutuskan untuk pindah.


  1. Rumah Kecil di Padang Rumput (Litte House on the Prairie)
Pa menjual rumah kecil mereka di Rimba Besar dan membuat sebuah gerobak beratap kain terpal. Dari daerah Wisconsin, mereka berkelana menembus Iowa dan Missouri, masuk ke suatu wilayah Indian, di negara bagian Kansas. Di sini, Pa membangun sebuah rumah kecil di padang rumput. Mereka memulai hidup baru di wilayah asing dengan beratapkan langit tak terbatas. Kesulitan demi kesulitanpun menghadang mereka. Mulai dari sekelompok serigala yang suaranya memekakkan telinga setiap malam, kedatangan orang Indian yang sangat dibenci Ma, sampai ujian terberat mereka yaitu padang rumput terbakar. Ketika suatu hari terdengar kabar bahwa pemerintah akan mengirim tentara untuk mengusir semua pemukim di daerah Indian, atas nama ‘harga diri’ merekapun memutuskan untuk pergi, meninggalkan rumah kecil dan ladang yang mereka bangun dengan susah payah begitu saja.


  1. Anak Tani (Farmer Boy)
Ini tentang Almanzo Wilder, seseorang yang kelak menjadi suami Laura. Ia tumbuh di suatu daerah pertanian besar di Malone, negara bagian New York. Hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan dari melatih anak sapi, mencukur biri-biri, menggebuk gandum, sampai mengangkut kayu. Almanzo kecil belum bisa membuat keputusan sendiri ketika ditanya oleh ayahnya apakah ia mau bekerja di bengkel di kota. Jiwanya yang telah menyatu pada lahan pertanian dan ternak akan menentukan langkah yang akan diambilnya saat ia sudah mulai beranjak dewasa.


  1. Di Tepi Sungai Plum (On the Banks of Plum Creek)
Petualanganpun berlanjut. Ditemani Jack, si anjing setia, gerobak kuda keluarga Ingalls mulai menempuh perjalanan jauh kembali, meninggalkan rumah kecil mereka di daerah Indian, Kansas. Pada  lembah berbukit, di tepi Sungai Plum di daerah Minnesota, mereka membangun rumah kecil setelah sebelumnya hanya tinggal di rumah di bawah tanah selama satu musim dingin. Di daerah ini Laura mulai bersekolah dan bertemu dengan Nellie Oleson. Di daerah ini pula, berbagai kesulitan menguji, seperti badai salju dan hama belalang yang memakan habis ladang gandum mereka.


  1. Di Pantai Danau Perak (By the Shores of Silver Lake)
Kehidupan di tepi Sungai Plum terasa semakin sulit ketika keluarga Ingalls terserang demam tinggi (kecuali Pa dan laura), termasuk Grace, adik bayi mereka. Bahkan karena demam itu, mary menjadi Buta. Maka tak ada pilihan lain untuk melanjutkan petualangan ke daerah barat. Itulah cita-cita Pa dan Laura, karena derap pembangunan di daerah barat dirasa akan memberikan penghidupan yang lebih baik. Tapi, Ma ingin agar anak-anaknya bersekolah kembali, maka sudah waktunya mereka untuk mencari tanah untuk menetap.  Sementara Pa mencari tanah garapan untuk didaftarkan kepada pemerintah, mereka tinggal sebuah rumah kecil di pinggiran Danau Perak. Dan mereka menjadi saksi pembangunan jalur rel ketera api untuk pertama kalinya di daerah itu.


  1. Musim Dingin yang Panjang (The Long Winter)
Sebelum membangun rumah di tanah garapan sendiri, Pa membangun sebuah bangunan di Kota.  Rumah mereka di tanah garapan masih terlalu kecil dan belum aman ditempati ketika musim dingin menjelang. Beruntung sekali bahwa Pa sudah membangun sebuah bangunan di kota, sehingga bisa mereka tempati selama musim dingin. Musim dingin waktu itu sangatlah panjang. Sebelumnya, mereka tidak pernah mengalami musim dingin yang lama, selama hampir kurang lebih tujuh bulan. Badai salju berhari-hari, hawa dingin menusuk dan persediaan makanan yang menipis adalah ujian yang harus mereka lewati. Bersama warga lain, mereka bertarung melawan musim dingin dan badai. Ketika kereta api yang membawa bahan-bahan makanan tidak kunjung datang dan penduduk terancam kelaparan, Almanzo Wilder yang juga tinggal di kota itu bersama kakaknya, berani mempertaruhkan nyawa menembus badai salju demi sejumlah gandum. Di kota ini pula, Laura kembali bersekolah dan mulai berfikir untuk mengajar agar bisa membantu Mary untuk masuk perguruan tinggi khusus orang buta. Semangat itulah yang membuat Laura rajin masuk sekolah, meskipun sebenarnya ia tidak ingin menjadi seorang pengajar. Di sekolah itu pula, ia kembali bertemu dengan Nellie Oleson yang keluarganya juga sudah pindah ke daerah itu.


  1. Kota Kecil di Padang Rumput (Little Town on the Prairie)
Musim dingin yang panjang dan keras pada tahun 1880-1881 itu akhirnya berlalu. Kelompok kecil rumah-rumah para pemukim disitu telah menjadi kota yang tumbuh pesat, De Smet, Dakota Selatan.  Di sana diadakan perayaan Hari Kemerdekaan Empat Juli. Laura juga sudah pergi menghadiri suatu malam sosial. Dan, Nellie Oleson semakin menjadi gangguan bagi Laura. Yang paling membahagiakan, akhirnya Mary berhasil masuk perguruan tinggi untuk orang buta, di daerah Iowa. Laura dan Almanzopun jadi sering bertemu dan saling bertukar kartu nama. Laura yang menginjak usia lima belas tahun, menerima ijazah untuk mengajar di sekolah. Sementara itu, Pa berusaha menyelesaikan pembangunan rumah kecil mereka di tanah garapan sendiri agar bisa segera ditempati.


  1. Tahun-Tahun Bahagia (These Happy Golden Years)
Laura yang belum genap berusia enam belas tahun, untuk pertama kalinya mengajar di sekolah. Sekolahnya adalah bangunan reot di atas tanah garapan yang sudah ditinggalkan penggarapnya. Walaupun rindu karena harus berpisah dengan keluarganya, Laura tetap bertekad untuk menyelesaikan masa mengajarnya, agar bisa membantu Pa untuk terus membiayai Mary di perguruan tinggi. Pada masa liburan, barulah ia melihat bagaimana kemajuan keadaan Mary. Dan pada masa ini pula, ia bergembira menikmati kereta luncur dan kereta bugi, belajar menyanyi serta membantu Almanzo menjinakkan kuda-kudanya. Tahun berikutnya Laura mengajar di sebuah sekolah yang baru. Ia dan Almanzo bertunangan. Dan pada musim semi berikutnya, mereka menikah lalu pindah ke tanah garapan mereka sendiri.


Di jaman yang telah silam terlupa
Saat kabut mulai menyentuh bumi
Muncul dari mimpi bahagia
Lembut di hati, cinta bernyanyi
Dan di keremangan cahaya api
Lagu itu menyatu di mimpi

Hanya sebuah lagu senja kala
Saat bumi diliputi bayang-bayang
Walau hati pedih dan hari sengsara
Di senja datanglah lagu cinta
Lagu kerinduan

Sampai kini lagu itu abadi
Menggema merdu selalu di hati
Walau usia datang menjelang
Terdengar selalu di rembang petang
Terdengar terus sampai akhir jaman
Lagu cinta termanis berkesan
  



 
Ini tentang bacaan yang terpatri begitu kuat di hati saya, kalau kamu?


8 komentar:

  1. Karya yang legendaris yak... tp aku belum baca satu pun huhu

    BalasHapus
  2. Sama kayak mbak Ela, satu pun belum ada yang aku baca. Payah yah aku :(
    nanti kalo ketemu santi, aku mau minjem aaaah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, jadi ngayal ketemu mbak Eky di Bangkok :D

      Hapus
  3. Nice post!
    Saya sedang mengumpulkan seri Laura ini. Semoga bisa lengkap. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat berburu mbak Andiena,moga berhasil :)

      Hapus
  4. waaah saya baca buku ini pertama kali waktu kelas 2 SD... untuk mengumpulkan seri lengkap memang butuh perjuangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, imut sekali kelas 2 SD.. waktu itu saya bacanya masih majalah BOBO :D

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena