Selasa, 18 Juni 2013

Menjemput Kenangan di Bumi Lorosa’e



Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar nama Timor Leste? Disintegrasi, referendum atau pelanggaran HAM? 23 tahun berada dalam pangkuan ibu pertiwi, ternyata tidaklah cukup bagi PBB untuk mengakui bahwa Lorosa’e termasuk wilayah NKRI. Selama kurun waktu itu, konflik tak pernah surut merongrong daerah bekas jajahan Portugis itu. Pemerintah Indonesiapun banyak mendapat kecaman dan tekanan dari dunia internasional. Berbagai kebijakan diambil. Salah satunya, mengadakan jajak pendapat, menentukan nasib rakyat Timor timur apakah akan tetap bergabung dengan NKRI atau memilih merdeka. Hasilnya, jajak pendapat yang digelar tanggal 30 Agustus 2009 itu dimenangkan oleh pihak pro kemerdekaan. Lebih dari 78% rakyat Timor timur memilih menutup sejarah bersama NKRI. Masalahnya, pasca jajak pendapat, banyak pihak yang kecewa. Lalu terjadi tindakan kekerasan, teror, intimidasi yang berbuntut pada pelanggaran HAM. Akibat peristiwa itu, banyak orang mengungsi ke wilayah perbatasan yang lebih aman.


Sekelumit perjalanan sejarah yang menggoreskan luka bagi bangsa Indonesia maupun Timor Leste itulah yang mengilhami penulisan novel ini. Dikisahkan, Marsela dan Juanito, dua anak yang tumbuh bersama di lingkungan perkebunan kopi di Kabupaten Ermera. Marsela yang tinggal bersama ayahnya, cukup berbahagia mendapat limpahan kasih sayang keluarga Juanito, tetangga sebelahnya. Kebersamaan masa kecil sampai masa remaja yang ceria itu, telah menumbuhkan benih kasih di antara mereka. Mereka memelihara dua anjing, Lon dan Royo. Ketika Marsela lulus SMA, Juanito berniat mempersuntingnya. Tekad yang menggenapkan keinginan Juanito untuk selalu menjaga Marsela. Tapi sayang, rencana indah itu tertunda sampai batas waktu yang belum pasti.

Pilihan berbeda, itulah yang mendasarinya. Ayah Marsela yang pro integrasi memilih meninggalkan Timor timur pasca referendum yang menyisakan kekacauan itu. Karena Marsela menghormati ayahnya, dia mengikuti ke manapun akan mengungsi. Itu berarti, dia juga harus meninggalkan Juanito, sederet kenangan dan secuil harapan indah yang belum sempat terwujud. Mereka mengungsi ke Atambua.

Beberapa tahun sesudahnya, kesedihan Marsela berlipat. Di Atambua, ayahnya menghembuskan nafas terakhir setelah lama menanggung sakit. Dia menjadi sebatang kara. Hanya Lon yang selalu ada di sampingnya. Manjadi saksi semua kesedihan dan kepedihannya. Terkadang, hewanpun mempunyai empati. Dia bisa ikut sedih saat tuannya sedih. Komunikasi dengan Juanitopun tak pernah terjalin. Dalam kesendirian, bukan berarti tidak bisa menemukan seorang yang tulus untuk berbagi. Di pengungsian, Marsela bersahabat dengan Yoanika dan Randu. Yoanika, teman senasib yang sama-sama bekerja sebagai pemecah batu di sungai Talau. Randu, seorang sopir truk pengangkut batu yang belakangan memerhatikan Marsela. Randu sudah akrab dengan ayah Marsela ketika masih hidup. Alasan itu menyebabkan Randu ingin menjaga Marsela, yang terkesan menutup diri. Argumen yang hampir sama dengan yang pernah digaungkan Juanito dalam hatinya, dulu.

Randu menyodorkan harapan pada hidup Marsela yang hampa. Dia selaksa hujan yang mencurahkan kesegaran pada tamanan yang hampir kering. Tapi apakah Marsela bisa menerima semua kebaikan Randu? Sementara dalam hatinya, kenangan akan Juanito, aroma kopi dan tanah kelahirannya masih bertalu-talu. Marsela ingin pulang, memastikan bahwa masih ada kisah yang belum sepenuhnya usai. Lalu, apakah Juanito masih sosok yang sama ketika musim dan sejarah telah berganti? Ya, sepuluh tahun telah mengubah banyak hal. Perjalanan ke tanah kelahiran, membuka mata Marsela. Dia harus memutuskan, pada siapa akan melabuhkan hati. 

Setting yang unik. Mungkin inilah salah satu kelebihan novel yang menjadi pemenang ketiga lomba penulisan romance Qanita ini.  Tak banyak pengarang yang melirik Timor Leste atau Atambua sebagai setting ceritanya. Tapi Shabrina Ws mampu meracik dan menyajikannya menjadi sebuah kisah yang manis. Ini seperti angin segar bagi dunia novel remaja yang belakangan digempur oleh cerita dengan setting negeri ginseng. Lebih unik lagi, di setiap tulisannya, Shabrina Ws kerap menyelipkan tokoh hewan. Lagi-lagi, tak banyak pengarang di Indonesia yang konsisten berada di jalur fabel. Dan di novel ini, meskipun tidak terlalu kental, prolog dan epilognya menggunakan sudut pandang seekor anjing. Sungguh terasa menyentuh.


Kadang, hikmah kebijaksanaan bisa kita ambil dari sesuatu yang sederhana. Karakter tokoh yang hampir semuanya protagonis mengajarkan pada kita bahwa dalam keadaan terburuk sekalipun, kita harus tetap berfikir jernih. Karena nyaris tanpa tokoh antagonis, konflik yang berjalan cenderung datar. Hanya fokus pada konflik batin si tokoh utama. Setting yang begitu detail ada di bagian-bagian akhir, membuka wawasan tentang keadaan Timor Leste sesudah merdeka. Satu alasan kenapa novel ini layak dibaca, karena bahasanya yang santun dan lembut. Novel santun seperti inilah yang sekiranya harus dibaca oleh para remaja, sebagai bekal pemahaman dalam memandang dunianya.

Meskipun fiktif, sebuah novel cukup untuk merepresentasikan suatu keadaan. Kisah Marsela, Juanito dan keluarganya mungkin hanya selembar kecil dari setumpuk kisah pengungsi dan korban pelanggaran HAM. Di luar sana, mungkin masih banyak yang menyimpan elegi serupa. Kini, Timor Leste sudah mencatat sejarahnya sendiri sebagai bangsa yang merdeka. Kita hanya perlu bergandengan tangan, bersama-sama menjadi negara tetangga yang saling mendukung ke arah perbaikan. Karena kaitan perjalanan sejarah yang panjang, tentu ikatan emosi antar dua negara juga tidak mudah dihapus begitu saja. Di sini ataupun di sana, kampung halaman akan tetap dicinta. Di manapun kaki berpijak, ketika sebuah memori sudah menguasai raga, dia akan berbalik untuk mencari jalan pulang. Kembali pada kenangan.[]



Judul Buku      : Always be in Your Heart, Pulang ke Hatimu
Pengarang       : Shabrina Ws
Penerbit           : Qanita
Tebal               : 236 Halaman
Terbit               : Februari 2013
ISBN               : 9786029225778


2 komentar:

  1. Hehe, sami-sami Mbak Brin :)
    Heran, kolom bales komen di atas itu kok ga berfungsi yak.. dasar template baru..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena