Saturday, 22 August 2020

Senyum Dalam Sebungkus Jeruk

Pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota, aku melihat adanya ketergesa-gesaan dalam semua aktivitas. Semua orang terlihat sibuk. Di jalan raya, halte, terminal, stasiun, bandara dan gedung-gedung perkantoran. Semua orang berjalan dengan sigap dan gesit, seakan-akan urusan mereka harus dibereskan secepat mungkin. Tak bisa menunggu nanti-nanti. Sejenak terlintas dalam benakku, jika aku ditakdirkan singgah lama untuk mencari penghidupan di sini, apakah ritmeku berjalan akan seperti mereka?

Hari pertama bekerja di kawasan pusat Jakarta, aku merasa de javu. Kakiku berjalan sangat cepat. Aku merasa diburu waktu. Perjalanan ke kantor menggunakan bus umum dengan jarak kurang lebih 25 KM itu ternyata sangat melelahkan. Waktu tempuh yang seharusnya bisa dilalui dalam 30 menit, tapi ternyata bisa molor menjadi 1,5 jam. Itu sangat di luar ekspektasi. Banyak sekali waktu terbuang percuma di jalan. Sementara tuntutan kantor tidak boleh datang terlambat.

Jadilah aktivitas sehari-hari bagaikan lingkaran kebosanan yang tak berujung. Bangun tidur sebelum subuh. Beberes segala sesuatunya walau dengan mata masih terkantuk-kantuk. Saat adzan subuh berkumandang, hanya tinggal sholat saja, kemudian siap berangkat. Berbaur dengan jalanan ibu kota di awal hari yang masih gelap pun, ternyata tak semulus yang dibayangkan. Semrawut dan macet di mana-mana. Di situlah kesabaran diuji. Pun begitu pulang kantor, tak jauh berbeda dengan suasana pagi. Berdesak-desakan dalam bus umum yang berbaur dengan berbagai macam aroma, tak bisa dielakkan. Bayangan sudah melepaskan lelah di rumah sebelum magrib, sepertinya hanya menjadi wacana semata. Nyatanya saat tiba di rumah, bahkan anggota keluarga yang lain sudah beranjak tidur. Keesokan harinya, ritme itu akan berulang lagi dan lagi. Saat itu aku baru percaya, stres sangat riskan melanda para pencari nafkah di Jakarta.

Terkadang, rasa penat dan bosan begitu kuat mencengkeram. Keluhan demi keluhan berhamburan. Sampai hal-hal yang terjadi di sekitar tak diperhatikan lagi. Fokus lebih ke egosentris. Bodo amat lah dengan hal-hal lain di dunia luar sana. Orang-orang itu juga tak peduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya. Jadilah konsep individualis tertanam kuat. Toleransi terpasung. Siapa yang kuat dengan ritme ini, ia bertahan. Yang tidak mampu menyesuaikan diri, ya terpaksa menyerah. Seakan-akan kota ini bak rimba raya. Sisi kemanusiaan sedikit demi sedikit tergerus.

Sampai sebuah ‘tamparan’ mendarat…


Setiap pagi, begitu turun dari bus, aku masih harus berjalan kaki kurang lebih 500meter untuk sampai kantor. Melalui trotoar kampus fakultas kedokteran ternama, ada banyak pedagang asongan menggelar lapak dagangannya. Salah satunya seorang bapak paruh baya yang berjualan buah jeruk dalam keranjang kecil. Yang kalau tidak salah ingat, sejak pertama aku mulai kerja, bapak penjual jeruk itu sudah berjualan di sana. Tiap turun dari bus, pemandangan bapak penjual jeruk itulah yang menjadi penglihatan pertamaku. Pun ketika pulang kantor, saat menunggu bus, pemandangan bapak penjual jeruk itu juga yang tersaji. Dan kalau diperhatikan jeruk dagangannya tidak berkurang banyak, dari awal pagi sampai menjelang petang. Hampir selalu begitu, selama berbulan-bulan. Dari situ, aku mulai terketuk dan menyelipkan sedikit niat untuk membeli jeruknya kapan-kapan. 

 

Dan sedikit niat baik itu pun menjelma tindakan nyata. (Tak apa, kadang kita hanya butuh sedkit, termasuk niat. Jika terwujud, anugerah melakukan kebaikan telah kita genggam tanpa disadari).

Saat benar-benar akan membeli, air muka bapak penjual jeruk itu sungguh di luar dugaan. Sehari-hari yang kulihat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Saat itu, rona wajahnya berbinar-binar bahagia. Senyumnya mengembang riang. Sambil menawarkan dagangannya yang sudah ia kemas dalam plastik-plastik kecil yang masing-masing berisi 3 buah jeruk, ia mulai bercerita. Bahwa sejak pagi, jeruknya belum ada yang terjual. Ia hanya mendapat sedikit keuntungan dari berjualan jeruk. Jika sedang beruntung, ia bisa membawa uang 20 ribu ke rumah dan akan langsung diberikan kepada sang istri untuk mencukupi kebutuhan harian. Jika kurang beruntung, pendapatannya hanya cukup untuk menaiki bajaj pulang pergi berjualan. Dan jika tidak beruntung, jeruknya tak laku dan harus dikembalikan kepada pemilik jeruk. Artinya, ia merugi karena harus mengeluarkan biaya transport sendiri. Ya, ia hanya menjajakan dagangan orang yang memiliki modal. Dan pendapatannya adalah bagi hasil dari keuntungan penjualan yang tak seberapa.

Dan, mata ini berkaca-kaca saat mendengarnya. Seketika aku merasakan ada yang menampar. Seberapa banyak perjuangan yang telah kulakukan sampai aku merasa begitu kelelahan? Bukankah aku bekerja dalam lingkungan kantor yang nyaman dan digaji tiap bulannya? Apakah tidak malu mengeluh, sementara ada orang-orang di luar sana yang berjibaku mengais rezeki, tapi pulang petang dengan hasil nihil? Ada yang berakrab-akrab dengan debu jalanan demi sesuap nasi. Ada yang bahkan untuk beristirahat saja, hanya beralaskan kardus bekas. Atas dasar apa, aku menganggap bahwa hidup sedemikan sulitnya?

Petang itu, di bus yang berdesak-desakan, aku mencicipi jeruk yang kubeli. Dari 3 buah jeruk, sebuahnya asam, dua lainnya manis. Hidup juga begitu, kadang asam kadang manis. Dalam hidup, kita tak selalu beruntung, ada kalanya buntung. Kadang kita hanya perlu menerimanya. Lalu kembali berikhtiar lagi dan lagi, tanpa bosan. Karena di tiap asam dan manisnya hidup, terdapat nutrisi berbeda yang bermanfaat bagi jiwa.

Kini, trotoar fakultas kedokteran ternama itu sudah dilebarkan dan dilengkapi dengan fasilitas ramah disabilitas. Bunga-bunga kecil ditanam di sepanjang pinggirannya. Kursi-kursi disediakan di berbagai titik untuk sekadar istirahat bagi pemakai jalan. Pedagang asongan dan kaki lima dilarang berjualan. Tiap melaluinya, dalam hati diam-diam berdoa, untuk bapak penjual jeruk yang pernah berjualan di titik itu. Semoga Allah murahkan rezeki dan mudahkan hidupnya. Di mana pun ia kini berjualan, semoga keberuntungan menyertainya. Terima kasih ya Pak, pernah menjadi penegur saat jiwa ini gemar sekali mengeluh. Terima kasih untuk asam manis jeruknya, berharap nutrisinya mengalir terus ke lubuk jiwa.

Dan bahwa bahagia itu sederhana. Menerbitkan senyum pada orang-orang sekitar, saat kita sendiri pun sulit melakukannya.

***

Related Articles

No comments:

Post a comment

Popular Posts