Sunday, 6 December 2020

A Man Called Ove

 

[Review] A Man Called Ove: Novel atau Film?   

 

Sebelumnya, kuberi tahu dulu ya. Ove mungkin bukan tipe lelaki menyenangkan. Untuk kebanyakan orang, ia sangatlah menyebalkan.

Tapi jika kau tertarik untuk mengenal karakternya, kau akan menemukan sisi menyenangkannya.

Iya, kau bisa memilih mengenalnya lewat novel atau film. Bebas.. atau malah mau mencoba dua-duanya? Silahkan..

Novel A Man Called Ove ditulis oleh Fredrik Backman, seorang Jurnalis dan Blogger Swedia pada tahun 2012 dengan judul asli En Man Som Heter Ove. Kemudian pada tahun 2013 dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Novel versi bahasa inggrisnya mampu meraih New York Times Best Seller List sesudah 18 bulan diterbitkan. Adaptasi filmya dirilis pada Desember 2015, yang ditulis dan disutradarai oleh Hannes Holm. Pemilihan Rolf Lassgard yang memerankan tokoh Ove sangat pas, mirip sekali dengan ilustrasi sampul novelnya. Bahar Pars yang keturunan Iran juga pas sekali memerankan tokoh Parvaneh.


Jika kau seorang yang gemar membaca dan suka mencari makna di dalamnya, kusarankan untuk menonton filmnya dulu sebelum membaca novelnya. Kenapa? Jika kau membaca novelnya dulu baru menonton filmnya, percayalah, kau akan sedikit kecewa. Ada banyak detail, alasan bersikap, penggarapan latar yang kurang tervisualkan dengan pas, serta dialog-dialog manis yang banyak terlewatkan. Media audio visual memang terbatas durasi, sehingga banyak plot yang kadang meloncat begitu cepat. Theater of mind saat kau membaca buku, tak akan kau dapatkan secara utuh di film. Book is still the best.. Tapi, perluasan media dari novel ke film tetap diperlukan jika menyasar target bukan pembaca murni.

Baiklah, sini, kuperkenalkan kau dengan Ove..

Ove bisa digambarkan lewat tiga kata: Saab, kebenaran dan Sonja.

Tentang Saab

Hampir di sepanjang hidupnya, Ove ditemani Saab. Ia sangat menggemari mobil produk Swedia itu. Setiap tiga tahun sekali, ia memperbarui Saab, supaya tak mengeluarkan hal-hal yang tak perlu saat Saab butuh perbaikan. Saking terobsesinya dengan Saab, persahabatannya dengan Rune yang selalu mengendarai Volvo retak. Aneh memang, tapi begitulah. Mereka selalu bersaing Saab baru-Volvo baru selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya Rune membeli BMW, yang menyebabkan komunikasi mereka terputus sama sekali. Iya, sudah kuberi tahu dari awal kan. Ove memang bukan lelaki menyenangkan. Sampai hal remeh seperti itu diributkan, padahal dengan sahabat sekaligus tetangga sebelahnya. Tapi, Ove punya alasan untuk itu.

Mungkin, Saab juga adalah salah satu cara Ove untuk mengenang ayahnya. Ayahnya mewariskan Saab, yang didapatnya dari kerja keras dan kejujurannya. Jika ada satu hal yang diinginkan Ove setelah ayahnya tiada, ia hanya ingin menjadi seperti ayahnya. Ove dan ayahnya sama. Mereka adalah tipe orang yang tidak mengadukan perbuatan orang lain. Kerja keras dan kejujuran pun menjadi identitas Ove di sepanjang hidupnya.

Tentang kebenaran

Di mata orang lain, Ove dan ayahnya sama. mereka adalah orang yang bicara tidak terlalu banyak, maka berarti tak pernah bicara omong kosong. Ove meyakini keadilan, kesetaraan dan dunia yang menganggap kebenaran adalah kebenaran. Bukan karena ia ingin mendapat medali, diploma atau tepukan di panggung. Tetapi hanya karena memang begitulah seharusnya. Ove sangat pemarah, tapi itu membuatnya sering menyuarakan ketidakadilan-ketidakadilan yang menimpa diri dan lingkungannya. Pemerintah yang abai pada beberapa kebijakan tak membuat Ove lelah untuk tetap bertahan pada prinsipnya.

Ove juga menyukai keteraturan yang membuatnya menjadi Ketua Asosiasi Warga. Iya, Ove memang bukan tetangga yang menyenangkan, yang memberi senyum saat ada yang lewat di depan mata. Tapi setiap hari ia melakukan inspeksi lingkungan. Memastikan semua ada di tempatnya. Ia memang konservatif dan sulit mengakui kemajuan zaman jika hal itu tak seimbang dengan manfaatnya. Tapi ia bisa berargumen kuat untuk itu.  Dan ia bisa memperbaiki segala yang ada di rumah dan lingkungannya. Bahkan sekrup-sekrup di pintu akan ia pastikan terpasang dengan benar.

Tentang Sonja

Ove hitam-putih. Sonja berwarna-warni. Sonja adalah seluruh warna yang dimiliki Ove. Sonja adalah dunia Ove. Sonja siang, Ove malam. Sonja menyukai benda-benda abstrak seperti musik, buku dan kata-kata aneh. Ove adalah lelaki yang dipenuhi seluruhnya oleh benda-benda nyata. Saab, perkakas-perkakas dan hal-hal yang harus diperbaiki setiap hari. Mereka saling melengkapi.

Sonja pernah berkata pada Ove bahwa ada masa untuk segalanya, dan setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Ove hanya tahu, masa ketika Sonja tiada, ia tak lagi punya warna. Ia hanya merasa hidup saat Sonja ada. Segala yang ia perjuangkan untuk Sonja dengan mimpi-mimpinya adalah bukti, bahwa ia sangat bertanggung jawab. Ia tidak semenyebalkan seperti yang orang-orang pikirkan.

Bahwa semua jalan yang kau tempuh dalam hidupmu, salah satu atau cara lain akan ‘menuntun’ pada apa yang telah ditakdirkan untukmu. Dan segala hal yang dijalani Ove, pada akhirnya membawanya pada warna-warni kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kehadiran tetangga baru yang menurutnya menyebalkan, pertengkaran-pertengkaran lamanya, perbedaan pendapat yang ada, memberikan seberkas cahaya yang membiaskan warna Ove yang sebenarnya. Warna yang selama ini dirindukan Ove, yang menjalani hampir sepanjang hidupnya dengan luka. Warna yang akhirnya membuatnya begitu disayangi.

Membaca Ove, saya kadang kesal, kadang tersenyum. Juga menangis di akhir lembarnya. Ini sungguh tak terduga.

Dunia butuh seseorang seperti Ove untuk tetap teratur. Dunia butuh seseorang seperti Ove yang menghargai setiap kenangan. Dan Ove telah mengabdikan diri pada dunia dengan cara terbaiknya.

Jadi, sudah ada sedikit gambaran kan tentang Ove?








Related Articles

No comments:

Post a Comment