Sunday, 13 December 2020

Start-Up dan Cerita-Cerita Lainnya

Sudah sejak lama Santi dan Yanti nggak ngomongin drakor lagi. Sejak Scarlet Heart yang bikin baper berkepanjangan gegara hampir semua tokohnya terbunuh itu. Perang saudara yang berkepanjangan memang bikin sedih. Nyesek dan lelah nontonnya. Nggak mau lagi ah nonton yang tragis-tragis kayak gitu. Trus abis itu sok-sok nggak mau nonton drakor lagi. Tapi tetep aja, ujung-ujungnya kangen juga. Beehhhh...

 

 

Trus sekarang ada Start-Up. Gegara Yanti ngomongin terus nih drakor, hihihi, jadinya nonton juga. Biasanya ada Mbak Ade Anita juga, tapi kayaknya Mbak Ade lagi sibuk nge-canva. Trus biasanya juga ada Diah Cmut, tapi kayaknya lagi sibuk ngedit buku. Gapapa kok Mut, baru dapet episode satu saat penayangan uda selesai, jadi nontonnya lebih tenang. Meskipun spoiler everywhereee. Aku juga biasa gitu kok, nonton drakor saat uda nggak jadi trending lagi.  Dan tidak semua drakor harus kutonton. Menyesuaikan sikon aja. Ada yang nyerah saat baru nonton episode satu. Ada yang lanjut sampai ending.

Jujur, awal nonton drakor ini cuma karena judulnya, Start-Up. Mulai nontonnya pun pada saat uda mau selesai tayang. Bukan pula karena dibintangi siapa, bahkan baca sinopsisnya pun kurang lengkap. Hanya penasaran aja gimana Korea Selatan mengemas drama dengan tema ini. Tema yang rasanya begitu dekat dengan kehidupan kita sekarang, yang sedang marak bisnis-bisnis start-up sukses. Karena aplikasi-aplikasi yang memudahkan hidup kita. Industri kreatif yang banyak dipelopori oleh generasi milenial cerdas ini tumbuh berkembang pesat.

Start-Up uda selesai tayang dari sepekan yang lalu. Tapi masih banyak yang belum bisa move on. Buktinya meme-meme masih bertebaran. Tapi dunia maya sudah lumayan tenang, kalem setelah kelam beberapa saat karena sempat terjadi perpecahan, kubu-kubuan bak pilpres. Suksesnya drakor ini juga ditandai dengan berlimpahnya merchandise yang laris-manis. Mulai dari kaos merah CEO, kaos hitam MENTOR, kaos biru STAFF, kaos SANDBOX, gantungan kunci, mug, casing HP. Berkah nih bagi yang kreatif..

Btw, masalah trending, untungnya ini drakor ya, yang episodenya pendek. Yang waktunya selesai ya selesai. Coba kalo sinetron Indonesia. Bisa dipanjang-panjangin kayaknya, kan mumpung trending. Drakor mah nggak gitu.. Kita aja sesama penggemar drakor kalo ngomongin drakor yang bagus, kadang panjangnya melebihi durasi drakornya sendiri. Ups..

Santi dan Yanti juga gitu. Pandemi dan Start-Up membuat kita reuni, ngomongin drakor lagi, jiahaha. Ternyata kita belum bisa lepas dari drakor (nggak terasa ya hampir separuh hidup kita ditemenin drakor). Kita yang biasa sekubu, kali ini beda kubu.  Awalnya netral. Tapi makin mendekati ending kok Santi ikut-ikutan jadi timdosan dengan alasan segambreng dan Yanti jadi timjipyeong dengan alasan oleng. What, oleng? (Kapal oleng, Kapteeen!). bukan karena unsur S dan Y ya (halah apa sih). Tapi meskipun kita beda kubu, kita diskusinya adem dan damai sambil ketawa-ketawa kok ya, it’s just for fun.

Eh tapi nggak nyangka lho ya, kalo Start-Up ini jadi pengalaman terlucu saat nonton drakor, kayak semacam anti klimaks, mengobati pengalaman tragis saat nonton Scarlet Heart itu. Mungkin juga karena pandemi yang membuat banyak orang tak bisa kemana-mana dengan leluasa. Jadi orang-orang butuh hiburan kala di rumah aja. Jadilah energinya berlebih untuk bikin tim-tim dengan berbagai macam meme lucu itu. Kitanya ketawa ngakak aja liatnya. Cuma kurang asyiknya jadi spoiler everywhere. 


START-UP DAN KARAKTER-KARAKTERNYA*)

Kalau diperhatikan dengan cermat, sebenernya kita bisa belajar karakter secara komplit di drakor ini. Terutama karakter alias watak dasar klasik sesuai penemuan Hippocrates. Watak dan kepribadian masing-masing orang adalah bauran dari semuanya. Tapi ada yang paling dominan, yang mencerminkan ciri khas seseorang. Dan ini yang aku perhatiin di drama Start-Up. Nggak ada salahnya kan kita belajar. Kan inti nonton drakor atau apapun selain tujuan rekreasi adalah, ambil yang jernih buang yang keruh.

 

Soe Dal-Mi: Sanguinis

Dal Mi digambarkan sebagai seorang cewek yang ekstrovert, hangat, optimis, ceria, spontan, mandiri dan terang-terangan menyatakan emosinya. Pengalaman masa kecilnya memberinya motivasi untuk menjadi lebih baik. Dipecat dari tempat kerja tak membuatnya patah semangat. Justru ia tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru. Seorang sanguinis biasanya menyukai proyek-proyek baru, karena idenya berhamburan dan energinya melimpah.

Tapi karena Dal Mi putus kuliah, jadilah skill yang ia butuhkan kurang. Maka ia butuh beberapa teman yang memiliki skill mumpuni untuk mewujudkannya. Gagasan-gagasannya yang kreatif dan berwarna-warni membutuhkan sentuhan keterampilan yang pas. Dan ia menemukan Do San dengan Samsan Tech-nya. Dal Mi merasa sosok Do San yang genius akan mampu merealisasikan mimpi-mimpinya.

Dan gayung bersambut. Samsan Tech yang selama ini berjalan monoton, ternyata seperti mendapat suntikan energi segar dari Dal Mi yang antusias, memiliki kemampuan baik di panggung dan jago bernegosiasi. Dal Mi yang suka bicara, suka bercerita dan tahu perkembangan berita terkini sukses membuatnya terpilih menjadi CEO di SandBox, yang langsung menggandeng Samsan Tech tanpa ragu. Samsan Tech yang membosankan menjadi lebih ‘hidup’, karena pengaruh Dal Mi yang memberi warna dan keceriaan.

Karena energinya yang melimpah, kadang seorang sanguinis juga bertindak ceroboh. Terbukti saat Dal Mi tak membaca dengan cermat isi kontrak 2STO. Dan ia sangat bertanggung jawab untuk itu. Ia tahu itu adalah kesempatan yang baik bagi Do San untuk mengembangkan diri dan kemampuannya. Maka yang ia lakukan adalah merelakan melepas Do San.

Dan ia tak berhenti sampai di situ. Ia mengambil kesempatan apapun supaya tak tersingkir, meskipun harus bergabung dengan lawannya. Karena seorang sanguinis pantang untuk diam dan menyerah.

Seorang sanguinis tak ragu untuk menyentuh dan mudah memulai kontak fisik. Segala hal yang dilakukan Dal Mi, mengubah Do San yang serius menjadi lebih ‘cair’. Interaksi di antara mereka yang kepribadiannya sama-sama dikendalikan oleh emosi, berjalan dengan semestinya. Mereka saling belajar menerima perbedaan, menyesuaikan pola kepribadian masing-masing.

 

Nam Do-San: Melankolis

Do San digambarkan sebagai seorang cowok introvert, persuasif, sensitif, serius, tenang, pemalu, setia, penyendiri, pemikir yang hebat dan cenderung genius. Karakter yang membuat wajahnya cenderung datar tanpa ekspresi, karena sering menahan diri dan kurang percaya diri. Ia yang suka menganalisis, menyukai grafik-grafik sampai ke pemecahannya, adalah aset kuatnya untuk menjadi programmer hebat. Tapi karena ia tak jago bicara di depan publik dan lambat memulai, maka ia butuh seseorang untuk memotivasi dan mewujudkannya. Dan ia menemukan itu pada seorang Dal Mi.

Jika seorang sanguinis bicara, seorang melankolis berpikir, merencanakan dan menemukan. Seorang melankolis seperti Do San kadang suka mengabdi tanpa alasan. Tapi cukup bisa diandalkan karena tekun, konsisten dan introspektif. Ia tak banyak menuntut. Do San adalah pendengar yang baik untuk semua ide-ide Dal Mi. Ia menyelesaikan apa yang dimulai. Proyek Noon Gil dan sistem kemudi otomatis usulan Dal Mi, untuk beberapa alasan memang mustahil, tapi ia mempelajari pola-polanya sehingga bisa terwujud. Ia memastikan semua berjalan baik.

Kelemahan orang melankolis adalah kadang terlalu serius, suka pesimis, insecure, sulit melupakan dan mengungkapkan perasaannya. Ketika Dal Mi memutuskan hubungan dan menyarankan untuk tetap pergi ke Silicon Valley, ia tak mampu berkata-kata, tak menyela. Tapi di satu sisi, ia juga berpikir panjang, jika tak berangkat maka mereka harus mengganti rugi dua kali lipat nilai kontrak. Yang berarti akan berakibat buruk bagi semuanya. Dan ia konsisten tetap menyimpan uang hasil akuisisi untuk kemudian dipakai pada saat yang tepat.

Ketika kembali ke Korea, Do San telah belajar banyak. Untuk beberapa hal, ia telah berkembang, lebih ekspresif. Untuk seorang melankolis, ini adalah suatu peningkatan yang bagus. Dan untuk berbagai alasan dan pengalaman, Do San menjadi lebih yakin dan termotivasi. Ia bisa berdebat dengan Dal Mi dalam beberapa hal, dengan tetap mengedepankan logika dan fakta. Sesuatu yang kadang diabaikan oleh seorang sanguinis.

Sanguinis yang periang meningkatkan semangat sang melankolis. Melankolis yang terorganisir membuat sanguinis mendapat keutuhan. Meskipun pola emosi mereka sama-sama naik turun, tapi dengan perencanaan dan sensitivitas yang baik, sanguinis bisa mencegah kejatuhan melankolis, dan melankolis bisa mengatasi krisis sehari-hari sanguinis. 

 

Soe In-Jay: Koleris

In Jay digambarkan sebagai cewek yang pintar, percaya diri, konsisten, dinamis, kompetitif, berorientasi pada tujuan dan cepat mengambil keputusan. Ia juga cukup strong-willed, yakin dengan caranya sendiri akan meraih suskes. Ketika Morning Group memecatnya dari usaha yang telah dibesarkannya, ia tak patah semangat. Justru terpacu untuk lebih baik walaupun harus mulai dari bawah lagi. Ia tak malu ikut berkompetisi di Sandbox, tempat yang biasa ia menjadi narasumber kuliah tamu.

Seorang koleris sangat resourcefull, bertindak cepat dan efektif hampir dalam semua hal. Ia belajar cepat dan memancarkan keyakinan serta penguasaan. Terbukti dengan karyawan-karyawan lama yang percaya dan mengikutinya. Karena ia adalah leader yang realistis dan berani mengambil risiko.

Ia juga punya keyakinan untuk tetap teguh menghadapi ejekan. Ketika seseorang meragukan kemampuannya, ia berjuang untuk terus membuktikan. Ia mengincar, meraih dan berhasil. Baginya kritik adalah anak panah yang melesatkan ke tujuan. Ada keinginan untuk mengalahkan kekuatan yang lebih besar.

Koleris dan sanguinis sama-sama bisa berkomunikasi dengan baik. Mudah meyakinkan klien. Mudah bergaul. Itu pula yang akhirnya meyakinkan In jay untuk menerima Dal Mi, walaupun saat itu mereka adalah lawan. In Jay mampu melihat bahwa Dal Mi memiliki passion dan ambisi yang sama.

Bahwa orang koleris harus berusaha mengurangi intensitas tindakan mereka sampai tingkat sedang supaya orang-orang di sekitarnya tidak merasa terpinggirkan, maka In Jay berhasil melakukannya. Ia mulai menerima ide-ide Dal Mi, meskipun ia tetap melakukan hitung-hitungan risiko. In jay juga berhasil menurunkan kadar gengsinya kala dengan mantap membatalkan adopsinya.

Koleris dan sanguinis sama-sama berkembang karena tantangan. In jay dan Dal Mi membuktikan itu.

 

Han Ji-Pyeong: Phlegmatis

Ji Pyeong digambarkan sebagai cowok yang peaceful, stabil, seimbang, tenang, toleran dan sistematis. Sebagai seorang phlegmatis, emosinya terkendali, logis, tak suka memaksakan kehendak, dan menghindari konflik. Ia suka berkompromi dan cukup bisa memahami orang lain serta menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Ia jago mengendalikan diri (Yanti, hal-hal inikah yang membuatmu oleng? Hihihi)

Perbedaan dengan koleris yang memimpin sejak lahir, phlegmatis bisa jadi pemimpin karena belajar bertahap. Itu terbukti dengan perjuangan Ji Pyeong yang yatim piatu, remaja tanggung yang memulai hidup di luar panti asuhan. Ia berhasil menjadi direktur perusahaan modal usaha rintisan karena benar-benar belajar dari nol. Untuk seorang phlegmatis, ini adalah pencapaian yang fantastis. Ia bisa jadi mentor yang realistis bagi Samsan Tech. Memberi masukan sesuai dengan logika dan fakta. Ia seimbang melihat peluang dan risiko.

Salah satu kelemahan phlegmatis adalah, terkadang ia suka ragu-ragu. Dan itulah penyebab perasaannya tak kunjung terungkapkan. (Pletak, dilempar sendal sama timjipyeong). Karena ia sudah menimbang jika ia melakukan sesuatu, kemungkinan ada pihak lain yang akan tersakiti. Phlegmatis memang tercipta untuk mewujudkan kedamaian dunia, meskipun hatinya remuk redam, hihihi. Ia jago menyembunyikan segala bentuk emosi. Tapi percayalah, dengan kemampuannya yang hebat dalam berkompromi, seorang phlegmatis akan cepat bangkit. Dia akan disukai banyak orang karena membawa kerukunan dan keharmonisan. (Pukpuk timjipyeong).


Karakter lain yang begitu kuat di drakor ini adalah neneknya Dal Mi. Betapa orang baik dan penyayang, tanpa rasa curiga seperti neneknya Dal Mi itu sungguh langka. Langka bukan berarti tak ada kan? Bisa diusahakan untuk ada, karena darinyalah… semua cerita dan kuruwetan ini berawal, hihihi.. karena kebaikan dan kasih sayangnya.

Dan, karaker-karakter lain di drama ini sepertinya sudah sesuai dengan porsinya. Aku suka sekali dengan karakter bapak ibunya Do San yang logis dan lucu. Aku rasa hampir semua orang tua akan berlaku seperti itu ke anak-anaknya. Ada saatnya menekan, ada saatnya tidak percaya, ada saatnya sadar dan ada saatnya mendukung sepenuhnya.

Dan yang tak kalah menginspirasi adalah, persahabatan Samsan Tech yang solid antara Do San, Yong San dan Chul San. Mereka pernah berada di titik terendah bersama, berjuang bersama, maju bersama, saling memaafkan saat salah satu melukai lainnya. Dan saat sudah mencapai keberhasilan, mereka tetap down to earth dan menghargai masa lalu dengan suka dukanya.

Dan dari semuanya itu, setelah Start-Up berakhir, aku jadi salut dengan script writer-nya, Park Hye-Ryun. Yang ternyata, ia juga script writer untuk Pinocchio dan I Can Hear Your Voice (dua-duanya drakor yang kusuka).

Ia pasti telah belajar banyak tentang karakter, watak, kepribadian secara komprehensif dan memahami seluk-beluknya. Karakter-karakter yang ia ciptakan cukup konsisten dan manusiawi. Bagaimana ia berhasil mengombinasikan antara kekuatan dan kelemahan masing-masing karakter tersebut adalah kehebatannya.

Kekuatan dan kelemahan adalah satu paket. Adanya kekuatan untuk kita berjuang. Adanya kelemahan, supaya kita belajar memperbaikinya. Dunia tak kan ceria tanpa orang sanguinis. Dunia tak kan teratur tanpa orang melankolis. Dunia tak kan maju tanpa orang koleris. Dan dunia tak kan damai tanpa orang phlegmatis. Semua karakter itu saling melengkapi. Kebutuhan untuk saling mengenali masing-masing kekuatan dan kelemahan adalah upaya untuk saling menyesuaikan diri sehingga tercipta interaksi yang harmonis.

Kita adalah bauran dari watak dan kepribadian yang ada. Tapi semuanya itu tidak mutlak. Jika diibaratkan watak adalah tubuh, kepribadian adalah pakaian. Semuanya selalu bisa dipoles. Watak dan kepribadian-kepribadian yang berbaur akan menghasilkan individu-individu unik. Bahkan meskipun kembar, watak dan kepribadian bisa berbeda. Pahami watak dasar dulu, campuran-campurannya bisa dipelajari untuk diambil yang baik.

Drakor is just for fun. Ini masalah selera. Dalam drakor, rata-rata tak ada karakter jahat yang jahatnya ampun-ampunan. Tak ada karakter baik yang sempurna baik.  Dan tak ada season yang diperpanjang. Semua akan selesai pada waktunya. Tak memanfaatkan trending. Jadi enjoy aja menikmatinya.

Yang perlu kita cermati adalah, bagaimana Korea Selatan berhasil membuat drama-drama yang bagus. Ini semacam PR bagi para penulis skenario Indonesia tercinta. Apakah mampu menyamai Korea Selatan untuk menghasilkan cerita-cerita memikat dan berkesan dengan dialog berisi dan plot yang rapi. Dengan tambahan soundtrack memukau dan easy listening. Yang secara tak sadar kita senandungkan saat selesai nonton. (You are my sunshine, sunshine.. ehh)

Dan karena Korea Selatan memang unggul dalam bidang drama-dramaan ini..

Gelombang hallyu melanda hampir ke seluruh dunia. Untuk tingkat Asia, sepertinya belum ada yang mampu seperti Korea Selatan, yang drama-dramanya diekspor dan dinikmati negara-negara lainnya. Kedekatan kultur dan sejarah membuat drakor mudah dinikmati di Asia jika dibandingkan dengan opera sabun produk negara barat.

Drakor memang dibuat semenarik mungkin sebagai sarana membantu promosi negara, terutama industri pariwisata dan kebudayaan. Drakor fokus genre romance dan segala intriknya, dengan cerita dan latar yang indah. Supaya persepsi tentang Korea Selatan juga berbanding lurus. Jika mereka tak berusaha keras seperti itu, mana ada yang mau dan penasaran mengunjungi Korea Selatan, yang mana, negara tetangga sebelahnya selalu mengujicobakan nuklir?

Aktor dan aktris Korea Selatan menjadi idola baru yang berpengaruh. Digemari banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka di-design sedemikan rupa menjadi shining, shimmering, splendid. Tapi mereka juga kerja keras untuk itu, disiplinnya juara. Dan pemerintah pun memberi dukungan. Dan hasilnya, sektor industrinya pun turut maju. Terbukti kan dengan banyaknya produk Korea Selatan yang membanjiri Indonesia, bahkan seluruh dunia. Mereka menyerang seluruh dunia dengan K-Pop, fashion, kosmetik dan buku-buku. Bahkan sektor pariwisatanya pun memetik buah manis. Yang berimbas pada peningkatan devisa negara.

Korea Selatan memang pintar memanfaatkan potensi dan melihat situasi. Mereka menciptakan fantasi dan sense of belonging dari drama-drama yang ada.  Contohnya Nami Island yang banyak dikunjungi turis asing karena drama Winter Sonata.  Drama Korea mampu menggeser kedudukan drama Jepang yang marak di tahun 1990an. Awal 2000an Korea Selatan mulai mengambil alih. Bahkan film Parasite mampu menembus Hollywood dan berhasil memenangi kategori film dengan bahasa asing terbaik dalam Golden Globe Awards ke-77 tahun 2019. Itu bukti keberhasilan mereka. Produk-produk yang diiklankan dalam drama juga laris manis memikat penontonnya. Buktinya aku kepengin banget motion desk komputernya Do San di Sandbox yang bisa dipencet naik turun. Tunggu, apa ya mereknya, Desker bukan ya, ah ya, hihihi… pengin pakai banget.

 
Setelah Start-Up berakhir, tak ada yang kuinginkan selain meja ini
 

Luka lama akibat terhimpit jajahan Jepang dan perang saudara dengan Korea Utara, membuat Korea Selatan harus bangkit dan mencari identitas dirinya sendiri. Luka masa lalu yang justru bangkitkan semangat, paling tidak harus sejajar dengan bangsa penjajahnya. Dan Korea Selatan berhasil, tumbuh perlahan menjadi negara maju. Mungkin suatu saat pengaruhnya akan seperti China sebagai negara industri. Siapa tahu kan jika sukses itu terus konsisten, terakumulasi dan didukung pihak yang berkepentingan.

Dan kita tak mau ‘terjajah’ Korea setelah Jepang kan? (So, what we can do now?)

Oiya, dan budaya baca mereka juga maju lhooo... 

(Pletak! Woi, baca woi, jangan nonton drakor mulu…)

 

 

*) Referensi: Personality Plus (Florence Littaeur)

Untuk Hairi Yanti: Move on woiii.. Mari kita kembali ke jalan yang ‘benar’ :D

 
 
 
 
 

Related Articles

2 comments:

  1. Wkwkwkwk... suka Jipyeong karena dia anak baik. Hahaha... Mapan, matang, perhatian dan penyayang. Sekali tim Jipyeong tetap tim Jipyeong.


    Tapi Start Up ini bukan Drakor terbaik writer-nim nya sih mbak. Karena polanya nyaris sama dengan Dream High yang juga diperankan Suzy. Cuman salut sih gimana penulisnya menjadikan karakter second lead begitu kuat. Kan jadi oleng. Hahaha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiahaha, masiiih... :D
      Wooo, aku belum nonton Dream High.
      Kalo dibandingin Start-Up, aku lebih suka Pinocchio dan I Can Hear Your Voice sih, karena konfliknya lebih tajam dan setting profesinya lebih detail...

      Delete