Saturday, 20 March 2021

Resensi Kereta Malam Menuju Harlok

 

Kereta Malam Menuju Harlok dan Perjalanan Mengasah Kecerdasan Literasi

“Ada sebuah cerita tentang kereta yang khusus menjemput anak-anak yatim piatu di seluruh dunia. Kereta itu datang tidak terduga, menembus kabut gelap, mengambil energi dari gemuruh guntur dan cahaya kilat. Langit yang luas adalah batas perjalanannya. Harapan yang diterbangkan angin adalah awal perjalanannya.”

Tuut… Tuut…! Kereta itu mendekati Kulila, sebuah panti khusus anak difabel, yang penghuninya sedang bersedih karena pengasuh terakhirnya kabur, tepat pada malam takbiran. Kereta itu menjemput Tamir, salah satu dari sembilan anak panti Kulila yang masih terjaga dan membawanya ke Harlok, salah satu kota di langit.

Tamir menambah deretan anak-anak yang dipaksa bekerja sebagai penggali tambang batu seruni. Semua terasa bagaikan mimpi. Sesulit apapun kehidupan di Kulila, masih lebih sulit lagi hidup sebagai anak tambang di kota antah berantah di langit. Apakah Tamir mampu melewati penderitaan demi penderitaan yang menghampirinya dan melepaskan diri dari cengkeraman Vled, sang penguasa tambang? Apakah ada cara kembali ke Kulila untuk menikmati ubi rebus sambil menghidu aroma opor tetangga di hari raya Idul Fitri?

Saya memberi rating 4 bintang di Goodreads untuk Novel yang menjadi Juara II Kompetisi Menulis Indiva 2019 kategori Novel Anak ini. Indikator saya memberi empat bintang biasanya karena segala unsur pembangun novel dapat terpenuhi dengan baik sehingga membentuk jalinan cerita yang padu.

Novel yang menyasar untuk anak usia sekolah dasar ini, struktur ceritanya sedikit lebih kompleks, dimulai dari pembukaan, penjabaran beberapa konflik dan diakhiri penyelesaian. Alur yang digunakan adalah alur maju, sehingga memberi kesan logis pada anak. Diksinya efektif dan mudah dipahami. Tampaknya pengarang sangat cakap memadukan hal-hal tersebut dengan rapi.

 

KEUNGGULAN-KEUNGGULAN

Dari segi tema, novel ini mengambil tema yang sudah umum untuk novel anak, yaitu petualangan. Namun, pengarang menjadikannya unik karena latar yang digunakan. Pengarang mendeskripsikan latar tambang Harlok dengan apik. Dan itu yang tampak menonjol dari novel ini. Tokoh utama yang memiliki kepribadian kuat juga menjadi nilai plus. Dilengkapi pula dengan ilustrasi yang memukau, membantu anak memvisualkan imajinasinya.


Nilai plus yang lain, adalah amanat-amanat yang tersampaikan melalui cerita secara halus, jadi tak ada kesan menggurui. Taburan amanat penuh inspirasi tersebut antara lain:

 

1.       Menumbuhkan rasa kepedulian, saling menolong dan kebersamaan.

Hal ini dapat dilihat dari interaksi Tamir, Badur, Mo dan anak-anak tambang lainnya. Ketika batu seruni yang dihasilkan Tamir kurang, anak-anak lainnya rela berbagi demi mencukupi jumlah timbangan yang diwajibkan. Tersurat dalam salah satu dialognya, “Kita sama-sama sengsara, karena itu kita saling membantu. Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, keadaan akan bertambah sulit.” (halaman 97)

 


2.       Memupuk semangat kerja keras dan teguh pendirian.

Ini tercermin dari sikap Tamir yang berusaha sekuat tenaga mencari cara untuk melepaskan diri dari belenggu Vled, sang penguasa tambang yang otoriter. Ia pantang menyerah untuk bisa kembali ke Kulila. Ketika hari wawancara dengan Inspektur Jal, Tamir dengan cerdas memberi isyarat yang tersirat halus lewat gerak-geriknya. Meskipun ia sedikit takut, tetapi hatinya mengatakan harus melakukan usaha itu. Ia memanfaatkan kesempatan dengan cermat.

 

3.       Mengembangkan rasa empati.

Ini tampak dari adegan filmis ketika Tamir bertemu dengan singa kabut. Adanya ‘kontak batin’ bahwa mereka sama dalam beberapa hal. Masing-masing memiliki ‘radar’ untuk membaca penderitaan dan memahaminya. Seakan-akan, satu pihak bisa merasakan apa yang dirasakan pihak lainnya.

Sebagai pembaca, anak akan turut larut merasakan apa yang dirasakan tokohnya. Sebenarnya, dari ilustrasinya sendiri, jika dicermati sudah menghadirkan empati. Ada banyak tokoh novel anak, yang biasanya memiliki fisik sempurna. Tamir digambarkan sebagai anak yatim piatu yang hanya memiliki satu kaki. Jujur, saya sendiri sebenarnya membeli buku ini karena melihat ilustrasi sampulnya. Dalam benak saya langsung terbayang, bagaimana tokoh anak dengan satu kaki melewati hari-harinya. Adegan-adegan ketika Tamir berjalan tertatih-tatih, sungguh membuat hati trenyuh.

 

4.       Mendorong motivasi gemar membaca.

Digambarkan tokoh Tamir memiliki kebiasaan membaca. Membaca membantunya mengalihkan kesedihan ketika ditinggalkan pengasuh terakhir Kulila. Membaca memberinya harapan dan semangat.

Ketika membaca novel, anak akan mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh. Maka karakter tokoh memegang peranan penting dalam menghadirkan pengaruh itu. Dan novel ini berhasil menyajikan tokoh dengan karakter yang kuat dan khas. 


LITERASI DAN PENGEMBANGAN KARAKTER ANAK

Tentang kegemaran membaca ini, saya ingin menggarisbawahi. Sekaligus sebagai bentuk keprihatinan saya ketika menyimak arus informasi di internet yang makin hari kian tak terbendung. Sebagai orang dewasa, seharusnya kita mampu memberi teladan bijak untuk memilah-milah, sehingga anak memiliki daya saring atas informasi-informasi yang ada.

Secara sederhana, literasi dimaknai sebagai kemampuan membaca, menulis, berbicara dan berhitung. Namun, pengertian literasi selalu meluas mengikuti perkembangan zaman. Literasi juga bisa berarti kemampuan memahami informasi, teknologi dan media.

Generasi digital akrab dengan sajian gadget setiap hari dengan berbagai macam aplikasi dan muatannya. Menghindarinya sama sekali jelas tidak mungkin. Teknologi terus berkembang, yang tidak bisa mengikutinya akan tergilas pelan-pelan. Teknologi bagai dua sisi mata uang. Jika semua asupan informasi dan teknologi ditelan mentah-mentah, lama-lama akan menggerus perilaku natural anak.

Novel anak merupakan alternatif solusi untuk membantu mengembangkan karakter anak. Membaca novel menghadirkan theater of mind, yang akan menetap di pikiran lebih lama dibandingkan menyimak tontonan audio visual. Tokoh dengan karakter yang kuat, secara tidak langsung akan menjadi role model anak dalam berperilaku. Terutama dalam ranah kecerdasan kognitif. 

Ketika anak membaca cerita dengan fokus, sejumlah informasi akan ditangkap oleh indranya. Kemudian terjadi beberapa proses di alam berpikirnya, meliputi mengingat, menganalisis, memahami, menilai dan menalar sesuatu. Jika proses itu berkesinambungan, ia akan terbiasa menangkap gagasan dengan imajinasi dan emosinya. Dari situ, ia akan belajar memilah berbagai hal dan cara mengambil keputusan. Kemampuan berbahasa pun akan meningkat karena terbiasa dengan banyak kosakata. Sehingga akan meningkatkan komunikasi efektif. Pada akhirnya, ia akan mengimplementasikan nilai-nilai itu dalam bersikap dan berperilaku setiap hari. Ujung tombaknya adalah, tumbuh pribadi unik nan khas dengan visi baik yang akan terus meresap dan dibawa di sepanjang hidupnya.

Mengenai pencapaian visi mulia itu, maka dibutuhkan banyak pengarang novel anak yang peduli dengan nilai-nilai itu. Pengarang novel ini, Maya Lestari Gf dengan latar belakangnya sebagai pegiat literasi dan praktisi pendidikan mandiri (homeschooling) adalah aset dalam dunia literasi. Ia juga menjadi salah satu penggagas berdirinya Selingkar (Sekolah Literasi Sayang Keluarga), sebuah lembaga yang bergerak di bidang literasi, khususnya literasi anak, yang fokus pada pengembangan karakter. Selingkar fokus menyediakan bahan-bahan pengajaran yang membangkitkan kreativitas.

Kolaborasi yang sangat pas dengan Penerbit Indiva Media Kreasi yang jika diperhatikan, buku-buku terbitannya memang menyasar untuk pembentukan karakter. Penerbit dengan tagline Sahabat Keluarga ini konsisten dengan visinya sejak berdiri dan menghadirkan buku-buku yang memberi inspirasi dan motivasi.

 

CATATAN KEKURANGAN

Di antara segala kelebihan yang diusung, ada beberapa kekurangan dalam novel ini yang bersifat redaksional. Nobody is perfect. Maka karya yang dihasilkan manusia pun tak ada yang sempurna, menyisakan celah untuk dikritisi. Ada beberapa kekurangan yang bisa digunakan sebagai catatan membangun jika nanti novel ini cetak ulang, sebagai berikut:

1.   Ada 3 kalimat yang tercetak tanpa spasi, yaitu di halaman 35 (paragraf kelima), 37 (paragraf kedua) dan 38 (paragraf keenam). Ini sedikit mengurangi keasyikan membaca.

2.   Ada dua kali salah ketik nama. Yang pertama di halaman 64 yang menyebutkan, “Tidak. Dia bekerja jadi pengasuh Sora, anak Baz.” Mungkin maksudnya Sora ini adalah anak Vled, bukan anak Baz. Karena di paragraf sebelumnya tercantum nama anak Baz adalah Rupi. Dan itu terjawab di halaman 101 paragraf kedua dalam dialog, “Dia jadi pengasuh anak Vled.” Selanjutnya, saat adegan melarikan diri di halaman 130 yang menyebutkan, “Tangkap mereka!” Seru Baz. Mungkin maksudnya adalah, “Tangkap mereka!” Seru Vled. Karena yang menjadi bos dan memiliki kuasa untuk memerintah saat itu adalah Vled. Kesalahan penulisan nama ini akan memengaruhi persepsi dan membingungkan logika.

Kesalahan-kesalahan seperti itu, seharusnya bisa diminimalkan oleh peran editor. Di samping kekurangan-kekurangan tersebut, tak menampikkan bahwa novel ini sangat layak dibaca, dikoleksi dan diapresiasi.

 

LITERASI MENGASAH KECERDASAN ANAK

Pondasi dasar pendidikan karakter anak, selama ini dipercaya terbagi ke dalam tiga lembaga, yakni keluarga, sekolah dan komunitas. Maka buku bisa melebur ke dalam tiga ranah itu. Jika keluarga membiasakan membaca sejak usia dini, lalu sekolah menyediakan koleksi buku di perpustakaan yang memadai dan komunitas terus menggalakkan semangat berliterasi, maka efektivitas pembelajaran pun akan maksimal.

Jika buku-buku non fiksi seperti buku pelajaran, akan membantu mengolah logika berpikir, maka buku fiksi seperti novel anak akan membantu mengolah rasa dan menutrisi hati. Keduanya saling melengkapi. Ketika keduanya sama-sama diperhatikan, harapannya, intelegensi dan emosi anak akan dapat berkembang secara proporsional. Sehingga anak tumbuh dengan kepribadian yang khas dan kuat, dengan kemampuan literasi yang baik. Ketika anak memiliki kecerdasan literasi, ia telah menguasai ‘alat’ untuk memilah segala bentuk informasi yang akan menghindarkannya dari pengaruh negatif teknologi dan media.

 


Judul Buku       : Kereta Malam Menuju Harlok

Penulis             : Maya Lestari Gf

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Ukuran            : 14 x 20 cm

Tebal               : 144 hlm

Terbit              : Januari 2021

ISBN                 : 978-623-253-017-1

Harga              : Rp45.000,-


*) Buku bisa dibeli di sini: Toko Buku Indiva (lumayan, lagi ada diskon  lho)




Related Articles

10 comments:

  1. Waw, mantap resensinya! Khas tulisan mbak Santiku. Asyik bacanya.
    Ini novel asyik petualangan. Meski ada holes-nya. Tapi tetep menarik ceritanya.
    Resensinya keren beud sih! Poin-poin yang ga kepikiran sampai situ, ternyata Mbak Santi menuliskan detail. Keren, Mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, makasih Cemutku :D
      Iya, beberapa 'hole' dan kejanggalan yang ada termaklumkan ketika sampai pada endingnya..

      Delete
  2. Lengkap banget resensinya San.. jadi pinisirin pengen baca bukunyaa dehh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Tridi. Ayo serbu mumpung diskon. Murah bingit :D

      Delete
  3. Wah, udah lama nggak baca resensi Santi, tetap kerasa khas nya dan isinya juga keren, gak hanya mengulas cerita tapi juga literasi untuk anak. Good luck ya san....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Lyta.. Hehehe, blog ini terlalu lama hibernasi :D

      Delete
  4. Cakep banget Mbaaak. Aku juga sudah baca novelnya. Sungguh sangat menyentuh

    ReplyDelete
  5. Halo, Mbak Santi. Kebetulan saya sedang belajar menulis resensi buku dan menemukan blog ini. Tulisannya bagus bangeeettt. Saya baru tahu bahwa resensi buku bisa disajikan "seindah" ini. Pasti akan sering mampir ke sini. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mbak Langit, makasih, masih belajar juga ini, hehehe. Ya ampun, takjub banget dikunjungi Mbak Langit.. *suguhin teh n kue*
      Saya juga banyak belajar lho dari blognya Mbak Langit yang keren nan kece..:)

      Delete