Sunday, 28 March 2021

Resensi Membeli Ibu

 

Membeli Ibu, Menukar Lara dengan Selaksa Makna 

Novel ini berkisah tentang dua remaja dengan dinamika masalah yang tak biasa. Tentang Athifa, gadis empat belas tahun pengidap disleksia, yang pendiam dan kurang percaya diri karena disorientasi arah. Garis nasib membawanya tinggal di panti asuhan, terpisah dari keluarga dan sanak saudara. Dengan keterbatasan yang dimiliki, ia berjuang memperbaiki diri dan menyimpan harapan besar untuk ‘membeli’ ibu. Tentang Fairuz, remaja yang baru menamatkan masa putih abu-abunya. Masa yang seharusnya penuh keceriaan, tetapi justru berhadapan dengan kenyataan harus kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya dan meletakkan cita-citanya menjadi psikolog anak. 

Bagi Athifa, kehadiran ibu sangatlah berharga, tak terbeli. Dan bagi Fairuz, kemungkinan menjadi seorang ibu bagaikan peribahasa ‘jauh panggang dari api’. Karena itulah ada ‘sesuatu’ yang membuat dua tokoh ini saling terhubung secara batin. Tampaknya, pengarang sangat lihai melihat benang merah ini, alasan mengapa mereka harus dipertemukan dan saling memberi warna bagi satu sama lain.


Novel yang berhasil menyabet Juara I Lomba Menulis Indiva 2020 Kategori Novel Remaja ini juga mengambil latar yang tak biasa, yaitu kota kecil Tanjung Pinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Sebagian besar, novel-novel remaja yang ada berlatar kota besar dengan lika-liku kisah cinta merah jambunya. Menjadi semakin berbeda dengan novel remaja pada umumnya karena tema yang diangkat pengarang cenderung rada ‘berat’ untuk ukuran remaja, yaitu tentang perjuangan para wanita menghadapi ujian hidup masing-masing, dikombinasikan dengan isu sosial mengenai Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang mendapat perlakuan tidak adil di luar negeri. Namun, tema yang rada ‘berat’ ini berhasil dikurangi kadarnya karena pengarang mengemas cerita dengan tetap memasukkan unsur-unsur cerita khas remaja pada beberapa babnya. 

Dua tokoh utamanya, Athifa dan Fairuz adalah remaja dengan karakter yang humanis, jauh dari kata sempurna. Mereka sama-sama memiliki ketakutan dan keresahan menghadapi masa depan karena beban psikis akibat sakit yang diderita. Tokoh-tokoh lainnya yang turut memberi warna, rata-rata juga wanita yang dituntut untuk mandiri dan tidak menyerah atas nasib.

Alur novel ini bergerak maju, yang dituturkan dengan sudut pandang orang pertama, berganti-gantian antara Athifa, Fairuz dan sesekali diselipi ‘kehadiran’ ibu Athifa melalui surat-suratnya. Surat-surat yang mengawali segala konflik dalam diri Athifa. Sebagian besar konflik yang ada memang berkutat pada konflik batin dua tokoh utamanya. Sementara, konflik eksternal, seperti konflik keluarga, kehidupan di panti asuhan dan sosial budaya merupakan penguat dan alasan dari konflik internal tersebut. Selalu ada penjelasan atau latar belakang mengenai suatu masalah. Jadi, nyaris tak ada plot yang berlubang.

Karena menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca seolah-olah dapat melebur dan hanyut menyelami pikiran tokoh-tokohnya dengan maksimal. Tokoh terasa lebih nyata, sehingga ‘penyusupan’ amanat cerita terasa soft and smooth. Ini merupakan salah satu kepiawaian pengarang, yang secara total melebur ke dalam cerita. 

Saya salut dengan Riawani Elyta yang konsisten dengan idealismenya. Pengalaman membaca puluhan karyanya semakin mengukuhkan stempel yang selama ini saya sematkan pada novel-novelnya, sebagai novel yang santun dan cerdas. Hal itu terlihat dalam setiap tuturan kata dalam narasi, deskripsi maupun dialognya. Ada semacam batasan koridor yang selalu dipatuhi. Dan satu hal yang pasti, elemen Ketuhanan dan nilai-nilai kebenaran tak pernah luput ia sisipkan, yang secara bernas menjiwai novel-novelnya. Maka saya tak ragu menyebut, Membeli Ibu adalah novel remaja inspiratif sarat makna.

Amanat adalah jiwanya fiksi. Tanpa membawa amanat yang jelas, fiksi akan terasa kering. Sebagai novel remaja inspiratif, banyak sekali hikmah yang bisa dipetik secara eksplisit maupun implisit di novel ini. Amanat kebaikan secara eksplisit dapat dilihat dari pesan-pesan ibu Athifa di dalam surat-suratnya, seperti “… Jadilah anak yang berhati lembut dan selalu ingin menolong orang lain. …” (hlm.232).

Sementara, pesan-pesan implisit tersebar dalam dialog maupun narasi yang menggambarkan pemikiran-pemikiran tokohnya, di antaranya:

Pertama, mengajarkan tentang keikhlasan dan penerimaan. Tokoh Fairuz mengajarkan sikap ikhlas melepas miliknya yang berharga. Operasi miom yang sekaligus mengangkat rahimnya memberinya risiko tidak bisa melanjutkan keturunan. Ketika cowok yang mendekatinya tiba-tiba ghosting, tak membuatnya gundah terlalu lama, karena sudah terbiasa meyakinkan diri untuk ikhlas apapun yang terjadi. Ikhlas juga suatu hal yang dipelajari oleh Athifa. Tak mudah bagi Athifa untuk menerima bahwa segala usaha yang dilakukan demi keselamatan ibunya, belum menemukan titik terang. Ia belajar melepaskan sesuatu yang selama ini ia jaga dengan sepenuh jiwa -celengan ayamnya- untuk tambahan ‘membeli ibu’. Ketika jiwa terbiasa ikhlas, akan menumbuhkan sebuah penerimaan yang indah.

Kedua, apapun yang terjadi, jangan pernah menyesali takdir. Ada hal-hal yang bisa diubah, ada hal-hal yang tak kuasa untuk diubah. Saat hati ikhlas yang berujung penerimaan, ada satu hal baik menanti di ujung jalan. Segala lara yang menimpa Athifa, membuatnya tegar, pantang menyerah dan terwujud mimpi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Terkadang, takdir memang unik. Sesuatu yang pernah membuat kita begitu cemas, ternyata kelak mengantarkan kita pada hidup yang lebih baik.” (hlm.236).

Ketiga, membaca dan menyalin pelajaran secara rutin ternyata mampu mengatasi kesulitan belajar, seperti yang dialami oleh Athifa. Dengan usahanya yang tak kenal lelah, ia berhasil mengentaskan salah satu kelemahannya, yang kemudian mengantarkannya pada prestasi.

Keempat, membaca menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Jamila, tetangga Fairuz anak putus sekolah yang awalnya susah diajak membaca. Dalam prosesnya, Jem, begitu panggilannya, akhirnya mau membaca, dimulai dengan buku-buku resep dan mempraktikannya. Jem mampu membantu memperbaiki ekonomi keluarga dengan berjualan aneka kue. Resep didapat dari buku-buku di Taman Baca Masyarakat (TBM) Sakinah yang dikelola Fairuz. TBM mampu berperan dalam pemberdayaan masyarakat sekitar, dalam hal ini mengoptimalkan potensi wanita.

Ketika para wanita mampu mandiri dan ada lapangan kerja yang ia kreasikan sendiri, ia tak perlu menanggung risiko meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah, dengan menjadi TKW misalnya. Ada banyak potensi yang bisa digali jika diusahakan. Salah satu pancing untuk memunculkan potensi itu adalah dengan membaca buku-buku yang menambah keterampilan dan wawasan. 

Riawani Elyta yang juga merupakan Ketua TBM Kepri ini berhasil membidik amanat tentang literasi dengan cermat. Risiko rendahnya pendidikan yang berimbas pada sempitnya mendapat lahan pekerjaan yang layak bagi wanita sepertinya menjadi isu yang belum sepenuhnya menemukan solusi. Terbukti dengan masih tingginya angka TKW Indonesia di luar negeri. Seakan-akan wanita terpaksa menjadi korban keadaan atas hidup yang penuh tuntutan.

Untuk pemilihan judul, jika dibandingkan dengan novel-novel Riawani Elyta sebelumnya yang terbit di Indiva Media Kreasi -Tarapuccino, Persona Non Grata dan The Secret of Room 403- memang terkesan kurang eye catching. Namun, judul Membeli Ibu cukup untuk menerbitkan rasa penasaran di benak calon pembaca. Jika ketiga novel yang saya sebutkan di atas banyak terdapat unsur suspense, di novel Membeli ibu, unsur yang sama tidak begitu kental, hanya mewarnai bagian-bagian akhirnya. Saya suka dengan penyelesaian yang realistis di akhir novelnya. Dari segi editorial, novel ini nyaris bersih dari typo. Saya hanya menemukan dua kata tidak baku di narasinya, yaitu parno dan zuriat.



 
 

Karena menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian, identifikasi karakter Athifa dan Fairuz menjadi mirip. Hampir tidak ada perbedaan ketika tokohnya mengungkapkan pandangannya, terutama di bagian narasinya. Namun hal tersebut tersamarkan ketika sampai pada bagian dialognya. Karena muatan lokalitasnya, beberapa dialog bagian Fairuz ada selipan bahasa daerahnya. Mungkin untuk bagian dialog Athifa juga bisa ditambahkan dengan sedikit logat Sunda, mengingat yang bersangkutan pindahan dari Sukabumi. Dengan demikian, masing-masing karakter ada ciri khasnya.

Membincang mengenai segmentasi, untuk remaja saat ini adalah Generasi Z, sesuai dengan label di sampul novel ini. Generasi Z merupakan generasi digital yang selalu terhubung dengan internet dan terbiasa mengakses informasi dengan cepat dan mudah. Berdasarkan riset kecil-kecilan yang pernah saya lakukan dengan mewawancarai beberapa Generasi Z, rata-rata terbiasa membaca novel di platform online dibandingkan buku cetak. Meskipun ada beberapa yang kering makna, tetapi belakangan beberapa novel di platform online juga menunjukkan perkembangan konten yang lebih baik karena naskah-naskah yang masuk juga melewati seleksi tim kurator. Ini merupakan tantangan untuk eksistensi novel cetak.

Ketika masanya tiba, saya berharap Penerbit Indiva Media Kreasi tidak lupa untuk menyertakan novel ini ke dalam perpustakaan-perpustakaan online seperti i-Pusnas, i-Jak dan lain-lain. Supaya cakupan pembaca lebih banyak lagi, terutama jika membidik Generasi Z yang jarang membaca buku cetak. Agar nilai inspirasi dan selaksa makna yang diusung novel ini dapat dicecap merata, manual dan digital.

 

Judul Buku       : Membeli Ibu

Pengarang       : Riawani Elyta

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Ukuran            : 13 x 19 cm

Tebal               : 240 hlm

Terbit              : Maret 2021

ISBN                 : 978-623-253-033-1

Harga              : Rp60.000,- (Pra Pesan)







Related Articles

4 comments:

  1. Yeee akhirnya terbit juga reviewnya, jadi penasaran diriku Kak karena belum baca
    pantaslah ya jadi juara 1, karena kisahnya apik dan penuh pesan

    ReplyDelete
  2. Terimakasih ulasannya, Mbak. Masih menunggu buku pesanan dari penulisnya nyampe.

    ReplyDelete