Sunday, 2 May 2021

Ramadan: Lembaga Pelatihan Terbesar

Ramadan, bulan mulia nan berkah. Bulan penuh ampunan. Bulan yang di dalamnya terdapat limpahan kebaikan. There’s a magical night, yang lebih baik dari seribu bulan.

Bulan, tatkala delapan pintu surga dibuka, tujuh pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.

(Maka, jika diri berperilaku kurang baik pada bulan ramadan, berarti penyebabnya bersumber dari dalam diri sendiri. Jangan hanya menyalahkan setan, yang notabene sudah diikat dan terkurung).

Ketika langkah dimampukan menjejak ramadan, maka sebaik-baik kita, adalah yang mampu memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baik usaha. Peluang untuk menempa diri terbentang luas. Allah telah anugerahkan sarana terbaik.


 

Inilah ramadan, lembaga pelatihan terbesar di muka bumi.

Program-program yang dicanangkan ramadan begitu istimewa. Di dalamnya terdapat banyak sub-sub program yang terstruktur sempurna, untuk kita cecap ilmu-ilmunya secara menyeluruh:

 

Puasa

Ramadan dan puasa adalah satu kesatuan yang melekat, tak terpisahkan. Puasa merupakan inti dari ramadan. Ada penempaan jasmani dan rohani di dalamnya. Puasa adalah seni untuk:

- Melatih disiplin

Siklus yang teratur dari sahur sampai berbuka adalah media untuk membiasakan disiplin diri. Rangkaian kegiatan dan ibadah di dalamnya pun terasa padat dan berarti. Tak ada waktu sia-sia jika jeli memanfaatkan setiap detik untuk melakukan hal-hal berguna. Kewajiban melakukan tarawih menyempurnakan proses penempaan disiplin ini.

- Melatih pengendalian diri

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga untuk melatih mengontrol emosi diri. Saat kita mampu mengendalikan emosi dalam diri, secara tidak langsung, kecerdasan intrapersonal dan interpersonal turut terlatih. Emosi yang terkendali juga merupakan akar dari rasa ikhlas. Puasa juga melatih empati, ketika kita menjajarkan diri dengan saudara-saudara kita yang masih kesulitan mendapatkan makanan.

- Menyehatkan badan

Puasa memberi jeda untuk organ-organ tubuh yang terus bekerja selama sebelas bulan. Maka puasa adalah media detoksifikasi yang ampuh menawarkan zat-zat tak berguna. Puasa menjadi semacam ‘me time’-nya organ pencernaan. Jika selama berpuasa, siklus makan teratur dikombinasikan dengan menu yang seimbang, setelahnya akan terasa manfaatnya. Badan menjadi lebih segar dan bugar.

Puasa begitu spesial. Puasa membersihkan dosa-dosa masa lalu. Jika ibadah lainnya, ukuran pahalanya telah tertakar. Maka pahala puasa tak bisa disandingkan dengan ibadah lainnya, karena langsung diganjar oleh Allah.

 

Membaca Al Quran

Al Quran akan menjadi penolong bagi pembacanya kelak di yaumul hisab, saat tak ada lagi satu pun makhluk bisa saling menolong. Jadi betapa meruginya jika kita melewatkan satu hari tanpa membacanya.

(Sementara sehari-hari, kita mampu untuk melakukan hal sia-sia lainnya. Ini adalah sentilan diri).

Membaca Quran adalah tentang membiasakan diri. Bukan perkara sulit saat kita sudah menjadikannya kebutuhan. Dan ramadan adalah momen yang tepat untuk berakrab-akrab dengan Quran. Karena ramadan adalah bulan turunnya Quran, maka bagi siapa yang membacanya, pahalanya akan dilipatgandakan.

Dan, betapa Allah maha pemurah perihal membaca Quran ini. Perumpamaan orang yang membaca Quran:

- Mahir membaca

Orang yang mahir membaca Quran diumpamakan seperti buah utrujah, yang rasanya manis dan aromanya wangi. Bonus bagi yang mahir membaca dan mengamalkannya, akan duduk bersama para malaikat.

- Tidak membaca Quran, tetapi mengamalkannya

Orang yang tidak membaca Quran, tetapi sehari-hari mengamalkan isinya, diumpamakan seperti buah kurma. Rasanya manis, tetapi tidak ada aroma wanginya.

- Membaca Quran terbata-bata

Orang yang masih kesulitan dan terbata-bata dalam membaca Quran, tetapi berusaha mempelajari dan membacanya, maka pahalanya dua kali lipat. 

Jadi bagaimana bisa kita mengacuhkan Quran, saat ada lapis-lapis keberkahan di dalamnya? No Excuse, ada banyak keringanan yang diberikan. Sungguh merugi, saat kita tak menyediakan waktu khusus untuknya.

Tentang membaca Quran tanpa tahu artinya

Alkisah, seorang murid diperintahan oleh gurunya mengambil air ke sungai dengan menggunakan bejana bocor. Setiap hari sang murid menuruti perintah sang guru. Namun, ia tak pernah berhasil mengumpulkan air, karena air selalu mencuat keluar lubang yang bocor, tak tersisa. Sampai suatu hari ia bertanya kepada sang guru, apa maksud semua itu. Sang guru dengan bijak memberitahunya, mungkin ia tak akan pernah berhasil mengumpulkan air, tetapi bejana yang ia gunakan selalu terkena air setiap hari dan menjadi bersih.

Maka, ketika hati setiap hari dibasuh lantunan Quran, ia pun akan menjadi bersih dan murni. Menjadi bonus, saat mampu memahami makna dan mengamalkannya, level bejana bocor pun akan naik menjadi bejana utuh yang mampu terisi air segar. Air segar itu adalah ilmu pengetahuan.

Tak ada yang sia-sia, karena janji Allah pasti. berlelah-lelah dalam beribadah itu sangat disukai Allah.

 

Zakat

Zakat dan sedekah adalah sarana penyucian rezeki dan harta. Hakikat berbagi untuk sesama adalah pelajaran yang bisa diambil. Lagi, rasa ikhlas dan empati kembali diasah, berulang-ulang. Maka puasa dan zakat seperti dua tonggak yang saling menguatkan.

Jika toleransi dan saling menolong antar sesama membudaya, pilar ukuwah islamiah itu pun akan menguat. Dan harmoni kehidupan pun akan berdenting indah.

Banyak sekali sarana untuk menyalurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf di sekitar kita. Salah satunya adalah yayasan Empowering Indonesia Foundation yang siap menyalurkan bantuan langsung kepada yang membutuhkan. Program-programnya berjalan dengan amanah, Insyaallah.

 

Sejatinya ramadan adalah struktur pembelajaran yang komprehensif, menyangkut perbaikan knowledge, skill dan attitude. Dari ramadan ke ramadan seharusnya kinerja iman dan takwa meningkat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk pengembangan diri yang terus-menerus. Sebuah jaminan kompetensi akhlak.

A Continuous improvement…

Sesudah ramadan, jarak kita dengan setan sejauh sebulan. Jauh sekali. Menyambut hari kemenangan bukan perkara bebas dari belenggu kewajiban beribadah, tetapi seharusnya pelatihan sebulan penuh itu bisa diimplementasikan pada hari-hari setelahnya, sampai bertemu dengan ramadan kembali. Tidak ada alasan setan kembali menggoda. Sebenarnya dorongan nafsu dari dalam diri yang harus dikendalikan.

Berkaca dari para sahabat nabi. Sampai enam bulan sesudah ramadan, mereka selalu berdoa dan berharap ibadah dan amalan mereka selama ramadan diterima Allah. Padahal, siapa yang meragukan kualitas dan kuantitas ibadah dan amalan para sahabat nabi? Lalu bagaimana dengan ibadah dan amalan kita yang hanya standar-standar saja? Pun, Enam bulan menuju ramadan, para sahabat nabi akan gencar berdoa dan berharap kepada Allah untuk disampaikan lagi ke ramadan berikutnya. Dengan sebenar-benar pengharapan.

Ramadan begitu dicintai. Ramadan begitu indah. Ramadan sungguh berlimpah makna. Betapa beruntungnya saat kita dapat mencicipi berkahnya.

Semoga Allah menganugerahkan kita dengan banyak ramadan. Aamiin

And, be a better person every single day, every ramadan…

 

 

 

Related Articles

No comments:

Post a comment