Sunday, 11 July 2021

Belajar dari Jepang

Ohayoo gozai-masu…

Sekitar dua tahun lalu, saya pengin banget liburan ke Jepang. Belum kesampaian, dunia dilanda pandemi. Ya sudahlah. Mungkin semesta lagi pengin hibernasi juga dari polusi dan kesemrawutan. Semoga pandemi ini lekas berlalu. Kitanya juga harus taat protokol kesehatan, so we can heal the world!

Kalau ditanya kenapa Jepang? Jawabannya banyak. Salah satunya, karena negara empat musim. Imagine, every season has its own beauty colour.. It feels like heaven on earth.

 


Nah karena belum kesampaian, makanya liburannya dengan cara virtual deh. Salah satunya dengan mantengin NHK World-Japan. Thanks to Internet!

NHK World-Japan ini merupakan layanan internasional media penyiaran publik Jepang yang menjangkau khalayak global. Program-programnya independen, sarat edukasi dan menonjolkan budaya serta sosial masyarakat Jepang pada umumnya. Saya pun makin pengin menginjakkan kaki di Jepang.

Saya menyimpan harap, kelak TVRI juga melebarkan sayapnya ke dunia internasional, sebagai media promosi untuk mengenalkan budaya masyarakat Indonesia yang beragam sehingga sektor pariwisata pun mereguk manfaatnya. Tentu, setelah pembenahan-pembenahan intern dilakukan.

Dari sekian banyak program menarik yang ditawarkan NHK World-Japan, hampir saya menyukai semuanya. Namun, ada yang saya favoritkan. Boleh lah ya saya bagi sebanyak tiga besar, sebagai berikut:

Program Acara NHK World-Japan:

 

1. Cycle Around Japan

Ini adalah salah satu kategori acara traveling menjelajah seluruh Jepang, mulai dari Pulau Hokkaido di ujung utara sampai ke Okinawa -pulau terluar Jepang yang berbatasan dengan Taiwan-. Yang membuatnya unik, yap sesuai judulnya, keliling Jepang dengan bersepeda. Jadi reporter-reporternya mendulang manfaat plus-plus ya. Jalan-jalan iya, olahraga iya, merasakan lebih dekat dengan alam dan warga iya, mencicipi makanan khas lokal juga iya. Uniknya lagi, reporter-reporternya berasal dari luar Jepang atau warga negara asing yang sudah menetap di Jepang. Jadi kesan sebagai ‘stranger’ yang benar-benar mendapat pengalaman baru pun lebih terasa.

 


Saya menyukai setiap interaksi yang terjadi antara reporter-reporternya dengan warga lokal. Pada salah satu episode, sang reporter menanyai seorang anak SMA yang setiap weekend magang di sebuah restoran. Jawaban anak SMA itu membuat saya terkesan. Ia bilang bercita-cita menjadi seorang chef, jadi ia belajar membuat apa saja di restoran itu. Ia harus menjadi ahli, karenanya ia tak lelah belajar dan mencoba.

Saya membandingkan dengan diri saya sendiri, dulu waktu SMA saya gunakan waktu weekend buat apa?

 

2. Trails to Oishii Tokyo

Program ini sebelumnya bernama Trails to Tsukiji. Acara ini mengupas tuntas bahan-bahan makanan yang dijual di pasar Tsukiji, seperti seafood dan sayuran segar mulai dari proses pembibitan atau penanaman, pemasaran sampai pengolahan produknya. Pasar Tsukiji merupakan pasar bahan makanan segar terbesar di Jepang, bahkan konon juga se-Asia. Negeri matahari terbit ini sadar betul dengan potensi alamnya yang melimpah. Warga Jepang pun terkenal sangat menghargai makanan. Jadi mereka benar-benar mengutamakan kualitas bahan makanan.

 


Sejalan dengan perkembangan, program juga mengupas bahan-bahan makanan lain di luar pasar Tsukiji. Jadi jangkauannya meluas ke seluruh perfektur di Jepang, dengan keunikannya masing-masing.

Saran kalau mau nonton acara ini, jangan dalam keadaan lapar ya. Otomatis ngiler deh melihat olahan-olahan makanan yang serba segar dan kreatif itu. Biasanya kalau lagi malas makan, nonton acara ini kembali meningkatkan selera makan saya, hehehe.. Dari acara ini pula, akhirnya saya mupeng banget pengin nyobain masak olahan Hijiki, Kanpyo, Kombu, Myoga, Kanten, Fu, Soba dan Kobo.

Oiya, saya juga menyimpan kesan yang mengharukan pada beberapa episodenya. Ketika sang reporter ngobrol tentang passion dengan seorang petani, nelayan atau pengrajin di pedesaan. Rata-rata mereka melanjutkan usaha turun-temurun, dari generasi ke generasi tanpa putus. Meski Jepang merupakan negara maju, tetapi warganya masih menghargai sejarah yang panjang, termasuk juga pekerjaan nenek moyangnya. Godaan untuk bekerja di kota besar memang ada, tetapi kewajiban untuk melestarikan tradisi dan budaya begitu melekat kuat. Dan mereka bangga dengan itu.

Lalu saya pun melihat diri sendiri ke cermin, lagi!

 

3. Somewhere Street

Ini merupakan acara jalan-jalan juga, tetapi bukan hanya seputar Jepang saja. Namun, Jangkauannya meluas sampai Asia, Eropa, Australia dan Afrika. Bedanya dengan Cycle Around Japan, reporternya adalah orang Jepang sendiri. Dan rata-rata memang lokasinya di luar Jepang. Episode di dalam Jepang sendiri bisa dihitung dengan jari. Meskipun dengan konsep reporter tak tampak di layar, acara tetap berjalan dengan manis.

Uniknya program jalan-jalan ini adalah jalan-jalan dalam arti sesungguhnya alias jalan kaki. Jadi reporternya menyusuri gang-gang, jalanan kecil, jalanan besar dan berinteraksi dengan warga setempat.

 

 

Ketika saya butuh relaksasi, acara ini menjadi pilihan saya. Saya menyukai format acaranya yang slow, humble, dengan latar musik instumental yang menenangkan. Berbeda dengan acara-acara traveling lainnya yang cenderung heboh dan berisik. Sayangnya sekarang belum ada update lagi untuk program Somewhere Street.

Sebenarnya masih banyak acara menarik lainnya, tetapi belum semuanya saya tonton dengan khidmat.

Nah, berkaca dari acara-acara di NHK Word-Japan itu, ada beberapa poin pembelajaran yang saya catat. Ini tidak mutlak ya. Rata-rata dari yang terdeteksi.

Belajar hal-hal positif dari Jepang:

 

1. Jepang sangat menghargai kebersihan.

Bukan karena membuang sampah sembarangan dikenakan denda. Tetapi warga negara sampai ke pelosok desa menyadari pentingnya hidup bersih. Bahkan warga tak segan memungut sampah di jalanan demi menjaga keindahan lingkungan. Sampah dibuang dan didaur ulang dengan benar. Dan ini sudah menjadi budaya kolektif Jepang.

2. Jepang sangat menghargai alam.

Meskipun jepang merupakan negara maju dengan industrinya yang melimpah, tetapi sebagian besar wilayahnya berupa gunung-gunung. Mereka tidak merusak alam. Mereka mengolah alam dengan sarana dan bahan terbaik serta mengambil manfaat secukupnya.

3. Jepang sangat menghargai tradisi dan budaya.

Modernitas Jepang tidak melunturkan tradisi, budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada turun-temurun.  Ada nilai kesederhanaan yang terlihat dari rumah yang minim perabotan. Ada nilai kepatuhan ketika generasi demi generasi masih mewarisi keahlian para pendahulunya dan bertekad melestarikannya. Ini terkait dengan filosofi ‘Ikagai’ yang bermakna nilai kehidupan. Ketika dihadapkan dengan pilihan profesi misalnya. Empat prinsip ‘Ikigai’ benar-benar diterapkan, yaitu apa yang saya sukai, apa yang bisa saya lakukan dengan baik, apakah kemampuan saya layak mendapat bayaran dan apa yang dibutuhkan dunia dari saya?

4. Jepang unggul dalam sopan santun dan tata krama.

Ada sejumlah etika yang wajib dilakukan, seperti menyapa dan membungkukkan badan, mengucapkan maaf dan terima kasih, salam ketika keluar dari rumah atau pulang ke rumah, bahkan ketika akan memulai makan. Itadaki-masu…

5. Jepang cepat bangkit dari keterpurukan.

Sebagai negara kepulauan dengan topografi gunung-gunung, Jepang kerap dilanda gempa bumi, tsunami atau gunung meletus. TV publik Jepang tidak menyiarkan bencana-bencana itu dengan masif. Mereka mengambil tindakan nyata dengan cepat berbenah dan bangkit menata mental. Setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Sekutu tahun 1945, Jepang cepat bangkit, pulih dan perekonomiannya tumbuh pesat.

6. Jepang mengutamakan pendidikan.

Sebelum mengecap pendidikan formal, anak-anak di Jepang sudah diajarkan beberapa macam pelajaran, termasuk pelajaran moral di rumah. Kurikulum di Jepang sarat dengan pembelajaran kreatif. Pemerintah juga sangat memperhatikan pendidikan warganya. Masih ingat beberapa tahun lalu, ketika sebuah stasiun akan tutup tetapi urung dilakukan? Hanya karena ada satu pelajar yang naik kereta api dari stasiun itu untuk berangkat ke sekolahnya. Keputusan pemerintah saat itu membuat terharu, stasiun akan ditutup ketika satu pelajar itu sudah lulus. Mata saya berkaca-kaca membaca beritanya. Saya memosisikan diri jika pelajar itu adalah saya atau orang-orang yang saya kenal.

7. Jepang memiliki etos kerja yang tinggi.

Orang Jepang menerapkan filosofi ‘Kaizen’ yang berarti perbaikan berkesinambungan. Ketika mereka sudah menekuni satu bidang, mereka akan melakukannya dengan total dan melakukan inovasi-inovasi untuk mengembangkannya. Saya salut dengan seorang profesor yang sehari-hari langsung turun ke pantai demi meneliti rumput laut. Dan seorang profesor yang bergumul di padang pasir demi memperhatikan setiap inci pergerakan pasir oleh angin. padahal kedua profesor tersebut tak lagi muda. Juga seorang petani yang membuat greenhouse untuk membuat sejumlah penelitian tentang tanaman, sehingga memajukan pertanian dan warga setempat. Atau Hayao Miyazaki, animator handal Studio Ghibli yang tetap kreatif dan tekun meski sudah pensiun.

8. Jepang menganut pola makan seimbang.

Menu makan orang Jepang ditata dalam mangkuk-mangkuk kecil dengan beragam makanan musiman. Meskipun makanan Jepang terkenal enak, tetapi ternyata diolah dengan minim bumbu. Cita rasa yang enak tersebut didapat dari bahan makanan yang berkualitas sejak proses pembibitan atau penanaman sampai cara pengolahannya. Nutrisi yang terkandung dalam tiap bahan makanan benar-benar diperhatikan, seimbang antara karbohidrat, protein hewani dan nabati serta sedikit lemak. Tak heran jika angka obesitas rendah dan angka harapan hidup tinggi, yang berbanding lurus dengan tingkat produktivitas. Di salah satu buku yang saya baca (Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela), menu bekal makan ke sekolah pun harus memenuhi kebutuhan nutrisi. Kalau kata Totto-chan -menirukan Kepala Sekolahnya- harus ada sesuatu dari laut dan sesuatu dari darat.

 


Wah, pantas saja ya, dengan segala kebiasaan-kebiasaan baik yang membudaya secara kolektif itu, tak heran jika Jepang menjadi salah satu negara maju yang tetap terjaga identitas adat istiadatnya.

Jika seorang follower terkadang mengikuti kebiasaan panutannya, maka sah-sah saja kok jika hal-hal positif dari negara lain menjadi inspirasi berharga untuk memperbaiki diri dan negeri.

Ganbatte Kudasai… Sayoonara…

 

 

Related Articles

2 comments: