Saturday, 28 August 2021

Review Film: Your Name

Namamu dan Segala Kenangan yang Terlupakan

Apakah kamu pernah bermimpi yang terasa begitu nyata sampai merasuk ke hati? Apakah kamu pernah terbangun dari mimpi lalu merasa sedih dan spontan menangis? Bagaimana jika kamu terbangun dalam raga orang lain?

Apakah kamu percaya pada dunia paralel? Segala sesuatunya bersisian dan beririsan, tetapi tak kasat mata. Terperangkap dalam dimensi yang berbeda, tetapi ada satu benang penghubung, semacam ingatan atau kenangan.

Sumber Foto: www.wallpaperflare.com

Fenomena semacam itulah yang dialami oleh Mitsuha Miyamizu dan Taki Tachibana, dua tokoh utama dalam film Your Name.

Dikisahkan, Mitsuha, siswi sekolah menengah atas yang tinggal di desa Itomori, daerah pegunungan Hida mulai jenuh dengan hidupnya. Ia tinggal bersama adik perempuan dan neneknya yang masih memegang teguh tradisi. Ayahnya yang meninggalkan keluarga dan mengabaikan tradisi serta memilih masuk dunia politik dengan menjadi walikota, dinilai Mitsuha hidup dalam kepalsuan. Mitsuha sendiri, meskipun malu dengan teman-temannya, tetap menjalani tradisi keluarga turun-temurun menjaga Kuil Miyamizu. Dalam sebuah ritual membuat Kuchikami-zake (konon adalah sake terenak di dunia yang dibuat dengan cara mengunyah nasi, memuntahkannya kembali dan difermentasikan menjadi alkohol) untuk persembahan dewa-dewa, kejenuhan Mitsuha memuncak. Ia berharap menjadi anak lelaki yang hidup di Tokyo yang dinamis, tak terbelenggu tradisi.

Harapannya terkabulkan. Pagi harinya ia terbangun dalam raga Taki Tachibana, siswa sekolah menengah atas yang tinggal di kawasan urban Tokyo. Mitsuha merasa seperti bermimpi, tetapi terlalu realistik. Sementara Taki, ia juga terbangun dalam raga Mitsuha. Dengan tertukarnya raga itu, masing-masing menjadi pribadi aneh, jauh dari karakteristiknya. Dan pertukaran itu pun terjadi berkali-kali. Lama-lama mereka memahami kondisi. Mereka berkesimpulan, terjebak dalam mimpi aneh, yang pemicunya tidur dan penyebabnya misteri. Mereka juga sepakat menulis beberapa aturan untuk saling menjaga gaya hidup dan catatan dalam buku atau ponsel untuk membantu mengingat setiap kejadian. Mereka bekerja sama mengatasi kejadian langka dan misterius itu.

Dalam pertukaran raga itu pula terjadi simbiosis mutualisme. Mitsuha yang feminin dan kurang percaya diri, mendadak sedikit tomboy, tegas dan menjadi populer di sekolah. Dua teman dekatnya, Tessie dan Sayaka menyadari perubahan drastis itu. Sementara Taki yang cuek dan sering berantem, tiba-tiba menjadi manis dan sopan. Dua teman dekatnya, Tsukasa dan Shinta terheran-heran. Perubahan manis itu juga membuat Miki Okudera, senior cantik di restoran tempat kerja paruh waktu yang ditaksir Taki menjadi bersimpati. Mitsuha dalam diri Taki pun mengatur kencan antara Okudera dan Taki, tepat ketika Taki kembali ke raganya sendiri. Namun kencan itu berakhir gagal. Okudera merasa Taki memikirkan orang lain.

Ketika Taki ingin menceritakan tentang kencannya yang gagal, Mitsuha sedang berada di festival Itomori, yang diramalkan bertepatan dengan melintasnya komet Tiamat.  Garis-garis komet mengingatkan Mitsuha pada sesuatu yang tak dipahaminya. Di Tokyo pun, Taki bisa menyaksikan lintasan komet. Sejak saat itu, mereka tak pernah tertukar raga lagi. Mereka pun kebingungan dan saling mencari tahu. Seperti ada sesuatu yang hilang dan menuntut penjelasan.

Sumber Foto: www.wallpaperflare.com

Dengan ingatan acaknya, Taki berusaha menggambar sketsa pemandangan Itomori, seperti gunung, danau dan gerbang kuil. Didera penasaran, akhirnya Taki memutuskan untuk mencari Mitsuha. Ditemani Tsukasa dan Okudera, petualangan menyusuri desa-desa di pegunungan Hida perfektur Gifu itu pun dimulai. Ketika kelelahan mencari, mereka singgah di sebuah kedai ramen yang kebetulan pemiliknya mengenali sketsa yang digambar Taki, sebagai desa yang sudah hancur tiga tahun sebelumnya akibat tertabrak komet. Ketika benar-benar melihat desa yang hancur dengan danau yang menjadi kawah raksasa itu, segala catatan yang pernah ditulis Mitsuha di ponsel Taki pun ikut lenyap.

Dalam telusur pustaka, Taki menemukan bahwa Itomori dinyatakan sebagai desa yang musnah. Komet Tiamat yang mengorbit 1200 tahun sekali, 3 tahun sebelumnya melintas. Sebagian dari pecahan komet itu menjadi meteor yang meledakkan Itomori saat orang-orang berkumpul merayakan festival. Sepertiga penduduk meninggal dan tak seorang pun lagi tinggal di Itomori.

Masih berbekal penasaran dan keyakinan kuat, Taki melanjutkan pencarian. Berhasilkah ia memecahkan teka-teki Itomori yang hilang? Siapakah sebenarnya Mitsuha? Apakah masih ada kesempatan bertemu, ketika ruang dan waktu yang mereka jalani terpisah dimensi?

 

Kaya Kearifan Lokal

Dibalut dengan alur flashback, film ini sukses membuat saya penasaran dan terus berpikir pada setiap adegannya. Selain menggambarkan kota Tokyo yang modern dan dinamis, kearifan lokalnya pun tak kalah mendominasi. Nilai filosofi, hikayat dan sastra kuno begitu menjiwai, dengan porsi terbanyak diwakilkan oleh Hitoha Miyamizu, nenek Mitsuha. Yang sekaligus juga menjadi tokoh kunci, yang selangkah demi selangkah menjawab teka-teki tertukarnya raga Mitsuha dan Taki.

Sumber Foto: www.wallpaperflare.com

Dalam perjalananan meletakkan Kuchikami-zake ke Kakuriyo (dunia alam sana, tempat dewa-dewa), sebenarnya Hitoha menyadari bahwa Mitsuha sedang bermimpi dan tertukar raga dengan orang lain. Karena secara turun-temurun, ia dan ibu Mitsuha pun pernah mengalami kejadian serupa.

Hitoha membiarkan Musubi bekerja dengan caranya. Musubi adalah bahasa kuno yang mengadung banyak makna. Musubi adalah aliran waktu. Musubi adalah kekuatan dewa pengawal desa. Menghubungkan orang adalah Musubi.  Bahkan menenun benang adalah Musubi. Seribu tahun sejarah Itomori telah terukir dalam anyaman buatan keluarga Miyamizu. Saat menenun benang yang biasa dibuat di kuil Miyamizu, emosi perlahan-lahan mengalir antara manusia dan benang itu. Anyaman benang merupakan seni dewa dan perwujudan aliran waktu itu sendiri. Mereka saling berkumpul dan terwujud. Dari terurai lalu terhubung. Terkadang diulangi lagi, diurai lagi, lalu dihubungkan lagi.  Itulah hubungan atau musubi. Saat seseorang mengonsumsi sesuatu lalu jiwa mereka terhubung, itulah musubi. Karena itu permohonan dengan Kuchikami-zake dibuat agar dewa dan orang-orang terhubung.

Dan benang waktu itu akan terurai pada saat tasogare (atau kataware-doki dalam dialek Hida), yang berarti senja, kondisi saat bukan sore atau malam. Saat garis dunia menjadi samar dan mungkin bisa bertemu sesuatu yang bukan manusia.

Ketika Taki menemukan tempat dewa-dewa dan meminum Kuchikami-zake yang pernah dibuat Mitsuha, bertepatan dengan kataware-doki, aliran waktu itu pun terurai. Dan Taki bisa melihat masa sebelum dan sebelumnya lagi, hampir seluruh episode penting hidup Mitsuha. Musubi yang terhubung kembali.

Sumber Foto: www.wallpaperflare.com

Momen saat festival Itomori yang bertepatan dengan melintasnya komet Tiamat dapat dirasakan begitu jelas oleh Taki. Bagaimana Mitsuha bahu-membahu bersama Tessie dan Sayaka berusaha meyakinkan dan mengevakuasi warga sampai harus meledakkan gardu listrik. Namun, tak ada yang bisa memprediksi datangnya bencana dengan tepat. Momen yang meninggalkan tanda tanya besar dalam diri Taki. Karena ada beberapa hal yang kemudian dilupakannya, termasuk nama Mitsuha. Padahal masing-masing pernah berjanji untuk saling mengingat dan menuliskan nama.

Pada akhirnya, ada banyak orang yang kehilangan orang atau tempat yang dicintainya. Ada yang memilih berjuang dan percaya bahwa suatu hari nanti mereka akan menemukan sesuatu. Meskipun sesuatu yang diperjuangkan masih samar, mereka akan terus mencari. Apalagi, jika itu kenangan berharga yang ingin terus diingat.

 

Kerja Tim yang Hebat

Selain kaya akan kearifan lokal, film ini juga menghadirkan banyak keunggulan, hasil kerja keras tim yang solid dan hebat. Makoto Shinkai -sutradara sekaligus penulis- menarasikannya sebagai: A splendid crystallization of the talents of many people. Film adalah sesuatu yang melampaui kemampuan individual.

Animasi yang Indah dan Memukau

Film ini digarap selama kurang lebih dua tahun. Selama menggarap film, Makoto Shinkai juga menulis novelnya dengan konsep light novel. Namun, novelnya rilis sebulan lebih dulu dari filmya. Novel menjadi impresi personal seorang Makoto Shinkai. Sementara film, dikerjakan bersama banyak orang. Genki Kawamura bertindak sebagai produser. Perancangan tokoh dikerjakan oleh Masayoshi Tanaka. Sutradara Animasi digawangi oleh Masashi Ando.

Story board yang padat dan story telling yang kuat menghadirkan elemen grafis yang begitu rinci. Ekspresi tokoh dan gerakan objek begitu halus. Latar tempat baik cityscape Tokyo maupun suasana pedesaan Itomori digambarkan dengan apik, detail dan menawan. Kualitas animasi begitu bening, indah dan terasa hidup.

Peranan para pengisi suara juga tak bisa disepelekan begitu saja. Warna suara Ryunosuke Kamiki yang membawakan tokoh Taki dan Mone Kamishirasi yang membawakan tokoh Mitsuha terasa pas dan menjiwai, membuat tokoh menjadi lebih hidup.

Kolaborasi solid itu membawa Your Name kepada banyak penghargaan hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Di antaranya adalah Nikkan Sports Film Award ke-29, Makoto Shinkai berhasil menjadi Sutradara Terbaik. Dalam Seiyu Awards ke-11, Ryunosuke Kamiki dan Mone Kamishirasi dinobatkan menjadi Aktor dan Aktris Terbaik. Dalam LAFCA Awards 2016, Your Name meraih predikat Film Animasi Terbaik.  Dan dalam Best Team of The Year 2016, Tim Your Name berhasil menyabet Special Distinction Prize.

Powerfull Soundtrack

Dalam novel, ada begitu banyak ruang untuk mengeksplorasi narasi dan deskripsi. Sementara dalam film, karena keterbatasan durasi, maka dialog harus dibuat seefektif mungkin. Jika ada plot yang berlubang, maka soundtrack bisa menjadi pelengkapnya. Dan pilihan Makoto Shinkai menggandeng grup band rock Radwimps sangatlah tepat. Yojiro Noda, vokalis utama band ini menggubah lagu-lagu dengan lirik yang bertenaga, melengkapi monolog, dialog dan ekspresi tokoh-tokohnya.

Soundtrack juga membuat film terasa lebih hidup. Lagu Zenzenzense dan Yume Tōrō yang dinamis, cocok menggambarkan suasana Tokyo dengan kehidupan yang serba cepat. Lagu Sparkle dan Nandemonaiya yang lebih easy listening juga tepat menggambarkan suasana pedesaan atau ketika masing-masing tokoh merasa melankolis.

Tak kalah dari film, soundtrack-nya pun meraih sukses. Baru sebulan rilis, albumnya terjual 350 ribu kopi. Lagu Zenzenzence banyak disuka dan menjadi juara kedua untuk kategori Best Theme Song di Newtype Anime Awards 2016.

Sumber Foto: www.wallpaperflare.com

Your Name adalah film animasi dengan tema universal yang bisa dinikmati segala usia. Meskipun sarat dengan kisah muram, tetapi ada selipan-selipan humor segar yang membuat film berjalan dinamis. Selain film, Your Name juga dikemas menjadi novel remaja, novel anak, cerpen, manga, buku panduan dan majalah. Menjadikannya sebagai karya seni yang lengkap. Bisa dibilang, Your Name adalah karya masterpiece seorang Makoto Shinkai hingga saat ini.

Dengan segala kesuksesan yang diraihnya, tak heran jika Your Name meraih pendapatan terbesar kedua di Jepang setelah film Spirited Away. Lalu Makoto Shinkai pun mendapat julukan ‘The Next Hayao Miyazaki’. Menurut saya, baik Hayao Miyazaki maupun Makoto Shinkai sama-sama menggambarkan otaku yang tekun dan bertalenta. Namun masing-masing memiliki ciri khas pada setiap karyanya.

Menurut informasi dari produsernya, Your Name akan diadaptasi oleh Paramount Pictures menjadi live action film dengan mengambil latar Amerika. Lalu saya berpikir, jika latar dan karakter berubah, maka nilai kearifan lokalnya pun akan bergeser. Namun, saya tetap penasaran dan menunggu hasilnya, apakah akan sespektakuler film animasinya?

Jadi, apakah kamu sudah nonton film Your Name?

 

Sumber Foto: CoMix Wave Films

 

Judul Film                            : Your Name (Kimi no Na wa)

Tahun Rilis                           : 2016

Genre                                   : Drama, Fantasi

Durasi                                  : 107 Menit

Produksi                              : CoMix Wave Films

Sutradara dan Penulis          : Makoto Shinkai

Produser                              : Genki Kawamura

Perancangan Tokoh              : Masayoshi Tanaka

Pengisi Suara                       : Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Masami Nagasawa

 

 

Related Articles

6 comments:

  1. Ya ampuuun, ini novelnya favorit Fathia, katanya ngetop filmnya

    ReplyDelete
  2. Good luck, Mbak Santi. Nice review 👍

    ReplyDelete
  3. Waaahhh, penasaraaannnn. Mengusung ide yang cukup sering diangkat, pertukaran raga, tapi dinamika peristiwa dan perjalanan hidup tokoh utamanya membuat kisah ini berbeda.

    Semoga komet tiamat tidak melintas di sekitar sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, ada unsur pembedanya ya. Balutan folklore-nya itu yang bikin bagus. Hayuk ditonton :D

      Konon komet Tiamat itu hanyalah fiksi..

      Delete