Sunday, 26 September 2021

Review Esperanza Rising

 

Sinopsis Esperanza Rising:

Esperanza Ortega adalah anak perempuan seorang pemilik perkebunan luas di Meksiko. Dia terbiasa hidup bahagia, dimanja, penuh kemewahan dan kemudahan. Hingga kematian Papa menjungkirbalikkan dunianya.

Esperanza dan Mama harus menempuh perjalanan jauh ke Amerika Serikat. Terpisah dari neneknya, Abuelita. Memulai hidup baru yang berat. Menjadi pekerja kasar. Menempuh banyak kesulitan dan hambatan.

Namun, seperti pola di selimut Abuelita -gunung-gunung dan lembah-lembah- kehidupan selalu naik dan turun. Abuelita berjanji, Esperanza akan menemukan kembali kebahagiannya setelah menempuh banyak gunung dan lembah. Hingga dia bisa merasakan kembali irama denyut jantung lembah.

 

Review Esperanza Rising:

Membaca Esperanza Rising, hati saya menghangat dan buncah oleh harapan. Meski kadang ciut oleh beberapa kisah muram, tetapi aura positif menyelimuti setiap halamannya.

Terinspirasi oleh kisah nyata, Esperanza merupakan salah satu dari sekian juta orang yang harus menjadi imigran di Oklahoma dan terpaksa bekerja di perkebunan pada usia yang masih dini. Menjadi saksi hidup ketika tahun 1930-an terjadi banyak aksi protes di ladang-ladang perkebunan California dan terancam dideportasi selama masa yang disebut sebagai 'repatriasi sukarela'. Dan hingga generasi berganti, Esperanza menjadi bukti bahwa untuk bertahan hidup butuh perjuangan yang tak mudah. Meskipun mungkin hidup tak lebih baik dari sebelumnya, paling tidak pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dipunya. Tetapi kepedulian dan kasih sayang orang-orang terdekat. Yang semuanya itu adalah landasan untuk bangkit, menyongsong detak-detak kehidupan baru, bagaimana pun keadaannya.

Sebagai penyuka buku-buku klasik, saya memang lebih menyukai latar yang detail dan hidup, dengan konflik yang tak terlalu meledak-ledak, tetapi banyak makna yang bisa dicecap. Dan menurut saya, Esperanza Rising memiliki semua unsur itu.

Oiya, dan yang paling saya suka adalah pembuatan judul-judul setiap babnya yang menggunakan nama buah-buahan, dan bagaimana semua buah-buahan itu begitu terikat dengan setiap alur cerita. Menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup seorang Esperanza.

Ah, saya bisa merasakan ketika Esperanza harus sembunyi di gerobak jambu biji, mendambakan pepaya, memanen anggur, memisahkan tunas kentang atau harus membenci asparagus.

Dan sepertinya, saya tak akan keberatan jika harus membaca ulang kisah ini...


Judul Buku: Esperanza Rising

Penulis: Pam Muñoz Ryan

Penerbit: Atria


 




Related Articles

No comments:

Post a Comment