Monday, 29 November 2021

Seseorang yang Menyesali Perkataannya

 

Suatu hari, saya mendapatkan pesan dari seorang teman. Isinya permintaan maaf. Saya sendiri tidak ingat dia pernah berbuat salah apa. Rasanya, teman saya yang satu itu belum pernah sekalipun berbuat salah terhadap saya.

Dia menulis, "Biasanya kalo saya banyak omong, ada banyak kata-kata yang saya sesali."

Pada detik membaca pesannya itu, saya terdiam. Saya serasa dihadapkan pada sebuah cermin besar.

Setiap hari, entah berapa banyak kata-kata keluar dari mulut kita. Semakin banyak kita berinteraksi dengan orang-orang, semakin banyak kata-kata yang terucap.

Namun, in the end of the day, ternyata cuma sedikit dari kita yang melakukan refleksi diri.

Apakah kata-kata yang kita ucapkan ke orang-orang pada hari itu sudah merupakan ucapan yang semestinya?

Jangan-jangan, tanpa kita sadari, kata-kata yang kita lontarkan terasa setajam silet pada beberapa orang.

Mungkin, ada beberapa orang yang biasa-biasa saja menanggapinya. Cuek. Masuk ke telinga kiri, tanpa diproses di hati, lalu keluar begitu saja lewat telinga kanan.

Tetapi, kan tidak semua orang begitu. Ada begitu banyak karakter di dunia ini, dengan segala kombinasinya.

Kita tidak pernah tahu. Seseorang yang sedang kita ajak bicara, apakah sedang dalam kondisi prima untuk menerima berbagai kata-kata. Bisa jadi, dia sedang dihadapkan pada beberapa masalah yang otomatis memengaruhi penerimaannya terhadap kata-kata. Kita tidak pernah benar-benar tahu kapasitas hati seseorang.

Ya, memang, ada begitu banyak orang-orang yang sensitif, tanpa kita harus tahu apa alasannya. Everyone has its own problem.

Jika kita peka, kita bisa mengkondisikan diri pada berbagai posisi, dengan segala sudut pandangnya.

Simpelnya gini, tentu kita ingin orang-orang berkata baik kepada kita. Nah harus adil dari dua sisi dong. Kita juga harus mikir, jika kita melontarkan kata-kata, apakah sekiranya nanti akan menyinggung atau menyakiti lawan bicara? Seharusnya kita berkata-kata dan memperlakukan orang lain seperti sebagaimana layaknya kita ingin diperlakukan.

Look before you leap. Think before you speak.

Supaya tidak ada yang merasa tersinggung atau tersakiti.

Berkatalah secukupnya saja, sewajarnya saja. Ada kalanya, kita juga perlu diam sejenak dan belajar memproses informasi sebelum mengungkapkannya.

Dan kita pun tidak harus menyesali kata-kata yang tidak perlu.

Karena, kita tidak akan pernah bisa menarik kembali kata-kata yang terlanjur terucap. Apalagi jika kata-kata itu kemudian menjelma luka di hati seseorang. Yang terkadang, permintaan maaf saja belum cukup untuk menebusnya.


-sebuah renungan untuk evaluasi diri-

 



Related Articles

1 comment: