Tuesday, 30 August 2022

Review Wild Symphony

Really amazed, Dan Brown wrote a children book!


Awalnya saya agak-agak terpana ketika tahu Dan Brown menulis buku cerita anak. Yang pertama terlintas adalah, apakah bukunya akan dipenuhi dengan kode-kode rahasia dan petualangan mengejutkan macam The Da Vinci Code?


Simfoni musik hewan-hewan. Iya, seperti itulah temanya.

Dan Brown sendiri mengaku bahwa ia adalah seorang penulis musik sebelum menjadi penulis cerita. Menurutnya, musik adalah tempatnya berlindung semasa kanak-kanak. Musik membuatnya tenang saat merasa tegang, menjadi sahabat karib ketika sendiri, membantu menyatakan kegembiraan, serta membangkitkan kreativitas dan imajinasi.

Dalam Wild Symphony, si Tikus Musikus akan menjadi pemandu memasuki petualangan menyusuri rimba, kolam, pepohonan, padang luas, dan dalam lautan. Di sepanjang jalannya, si Tikus Musikus menyelipkan petunjuk. Suatu permainan rahasia! Nah kan, percayalah, Dan Brown memang penuh dengan teka-teki! 


Overall, ceritanya bagus dan efektif. Ilustrasi yang dipercayakan kepada Susan Batori pun indah dan menyatu dengan cerita. Ada selipan motivasi pada tiap karakter tokoh ceritanya yang sambung-menyambung. Penulisannya memadukan antara prosa liris dan puisi naratif. Mungkin lebih mendekati verse novel.

Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun bisa menikmati buku ini. Untuk anak-anak, mungkin akan lebih baik lagi jika sambil didampingi orang yang lebih dewasa, mengingat ada beberapa kalimat yang 'nyastra'. Jadi, bisa sambil diskusi mengenai kosakata dan motivasi pengembangan diri. Atau, bisa jadi anak-anak zaman sekarang pun telah memahami banyak kosakata. Bacaan-bacaan bagus nan melimpah pada zaman digital tentu menjadi pendukungnya. 


Selain cerita dan ilustrasi yang bagus, buku terjemahan akan lebih menarik jika diterjemahkan dengaan cermat. Dan buku ini sudah ada di tangan penerjemah yang tepat. Salut untuk Djokolelono yang menerjemahkan buku ini dengan jeli, memadupadankan beberapa pilihan kata yang bersinonim. Membuat cerita melebur secara estetika bahasa. Di tangan penerjemah yang tepat, muatan sastra sebuah karya lebih terasa.

Memang tak diragukan lagi, mengingat kiprah Djokolelono sebagai penulis buku anak sejak akhir tahun 1970-an sampai dengan sekarang. Selain itu, ia juga dikenal sebagai penerjemah buku cerita anak klasik sepanjang masa seperti seri Mallory Towers karya Enid Blyton, seri Little House karya Laura Ingalls Wilder dan Petualangan Tom Sawyer karya Mark Twain. Bisa dikatakan Djokolelono memang sangat mumpuni di bidangnya. Saya sendiri kadang merasa tak sadar, bahwa masa kecil saya telah disuguhi cerita-cerita hasil terjemahan Djokolelono.

Untuk seri Little House karya Laura Ingalls Wilder, saya pernah membuat ulasannya di sini: Little House - Laura Ingalls Wilder



Buku ini terasa semakin unik karena dilengkapi dengan aplikasi musik Wild Symphony yang QR-nya bisa ditemukan di halaman terakhir. Untuk mendengarkan sampel orkestranya yang harmonis, menyenangkan dan penuh semangat, kamu bisa mengunjungi situs: https://wildsymphony.com/

Lalu saya berpikir, betapa indahnya jika buku ini nantinya dialihwahanakan menjadi film. Tentu tidak akan kalah dengan film-film kartun Disney.

Lalu saya berpikir lagi, kenapa Dan Brown bisa sedemikian kerennya ya?  Hmm, karena, entah buku dewasa, entah buku anak-anak, semua ia karyakan dengan totalitas.


Judul Buku                  : Wild Symphony       

Pengarang                   : Dan Brown

Ilustrator                     : Susan Batori

Penerjemah                  : Djokolelono

Penerbit                       : Mizan

ISBN                           : 978-602-441-235-7





Related Articles

1 comment:

  1. Kalau buku ini demikian hebat dalam bahasa Indonesia, berarti penerjemahnya memang ajaib luar biasa. Dari beberapa foto, terbaca pak djoko berhasil menjaga rima narasi sekaligus tetap mudah dipahami. Keren.

    ReplyDelete