Sabtu, 03 Desember 2011

[Resensi Film] The Day After Tomorrow


Ini adalah salah satu film favorit saya yang bergenre fiksi ilmiah... :D

Di akhir tahun 90-an, isu pemanasan global semakin mengemuka. Peningkatan temperatur suhu rata-rata di atmosfir, lautan dan daratan menjadi masalah yang berpotensi mengancam kelangsungan kehidupan makhluk bumi. Menurut Intergovernmental Panel and Climate Change (IPCC) yang merupakan sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara, pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu sebesar 0,6 - 0,7 derajat Celcius (1 derajat Fahrenheit) sejak tahun 1861. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,4 - 5,8 derajat Celcius (2,5 - 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100. Bahkan untuk wilayah Asia, peningkatan temperatur rata-rata lebih tinggi sampai mencapai 10 kali lipat.

Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui  seperti minyak bumi, bartubara dan gas alam. Hasil pembakaran dari bahan-bahan bakar tersebut menghasilkan karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfir bumi. Jika atmosfir dipenuhi oleh gas-gas itu, ia menjadi semacam penghantar panas yang lebih banyak dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Padahal, atmosfir merupakan lapisan udara yang melindungi bumi dari teriknya matahari. 

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat dan akan mencairkan banyak es di kutub terutama sekitar Greenland yang selanjutnya akan lebih memperbanyak volume air di laut. Berdasarkan temuan ilmuwan yang tergabung dalam IPCC, tinggi permukaan laut di seluruh dunia telah bertambah 10-25 cm selama abad ke-20. Dan disinyalir, ini akan terus meningkat 9-88 cm lagi pada abad ke-21. Bisa dibayangkan jika lelehan es tersebut mengalir ke laut lepas, bukan tidak mungkin kalau pulau-pulau kecil di dunia akan lenyap dari peta bumi. Selain itu, dampak lain yang tak kalah mengerikanpun sudah mulai tampak akhir-akhir ini, seperti terjadinya cuaca ekstrim yang ditandai dengan badai tropis (seperti El Nino, La Nina dan Katrina), curah hujan yang tinggi serta mewabahnya penyakit tropis seperti demam berdarah dan malaria.

Mengingat dampak dari pemanasan global yang sedemikian meresahkan, banyak cara ditempuh untuk ‘menyadarkan’ masyarakat. Mulai dari ajang yang bergengsi seperti diadakannya konferensi-konferensi internasional yang menyoroti masalah lingkungan hidup, penyebaran pamflet-pamflet akan bahaya pemanasan global, reboisasi hutan, penghijauan kota sampai ke ranah film yang dirasa sangat dekat dengan masyarakat. Ini diharapkan lebih mampu menyentuh nurani. Salah satunya adalah The Day After Tomorrow.. Film besutan sutradara Roland Emmerich ini cukup berhasil menyedot perhatian dunia, terbukti dengan peringkatnya yang menempati urutan ke 45 dunia dan meraup keuntungan sebesar US $542,771,772.

Jack Hall (Denis Quaid) adalah seorang Paleoclimatologist yang sedang melakukan penelitian di Benua Antartika bersama temannya Frank (Jay O. Sanders) dan Jason (Dash Mihok). Mereka melakukan pengeboran untuk mengambil sampel inti es di Larsen Ice Shelf. Saat sedang mengebor, terjadi retakan besar yang seolah-olah membelah benua itu. Jack menyajikan temuannya pada Konferensi Pemanasan Global Perserikatan Bangsa-Bangsa di New Delhi, India. Di sana hadir banyak diplomat, termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat, (Kenneth Welsh) yang tidak yakin pada teori Jack.

Keprihatinan Jack juga dirasakan Profesor Terry Rapson (Ian Holm) dari Pusat Penelitian Iklim di Hedland, Skotlandia. Di sana Rapson menemukan dua pelampung di Atlantik Utara yang menunjukkan penurunan suhu air secara besar. Rapson menyimpulkan bahwa mencairnya es di kutub telah mengganggu arus Atlantik Utara. Dia menelpon Jack dan memberitahu apa yang terjadi. Jack percaya bahwa peristiwa yang pernah ia ramalkan akan terjadi, tapi tidak dalam waktu yang sangat dekat. Kemudian Jack dan kedua temannya membangun model prakiraan cuaca bersama Janet Tokada (Tamlyn Tomita) dari NASA.

Sementara itu, di seluruh dunia telah terjadi cuaca ekstrem secara massal. Di Chiyoda, Jepang terjadi hujan es batu sebesar bola baseball dan kota Los Angeles telah hancur oleh serangkaian angin topan. Presiden Amerika Serikat (Perry King) mengumumkan kepada FAA untuk menghentikan lalu lintas udara di Amerika Serikat disebabkan oleh cuaca buruk yang sangat parah. Sementara itu, tiga Helikopter RAF masuk ke mata badai superstorm yang menyebabkan bahan bakar serta awaknya membeku dan mereka jatuh seketika. Ini disebabkan oleh turunnya suhu di bawah -150 °F (-101,1 °C) dan ini merupakan awal dari Pembekuan Global.

Anak Jack, Sam Hall (Jake Gyllenhaal) berada di New York City untuk sebuah kompetisi akademik dengan teman-temannya, Brian dan Laura (Arjay Smith dan Emmy Rossum). Selama kompetisi, cuaca menjadi semakin buruk dengan angin kencang dan hujan deras. Sam menelepon ayahnya bahwa ia akan pulang dengan kereta bawah tanah. Tapi Sam baru tahu bahwa Grand Central Station telah ditutup. Saat akan mengungsi di Perpustakaan Umum New York, suatu gelombang air pasang setinggi setengah Patung Liberty menerjang Manhattan. Sam dan teman-temannyanya selamat setelah berhasil masuk ke Perpustakaan itu.

Sam menelpon ayahnya bahwa ia baik-baik saja dan ayahnya memperingatkan untuk tidak keluar dari gedung itu karena badai diprediksi akan semakin parah. Sementara itu para korban selamat harus mengungsi ke Selatan. Sam mencoba memperingatkan, tapi mereka tidak percaya. Hanya beberapa orang saja yang mempercayainya. Sebagian dari mereka nekat menembus badai salju dan membeku di tengah perjalanan. Di perbatasan Meksiko banyak korban yang selamat masuk secara paksa dan ilegal. Jackpun akhirnya pergi ke Manhattan untuk menyelamatkan Sam, ditemani oleh Frank dan Jason. Sebuah perjalanan berat ditengah badai menyusuri Samudera Atlantik yang telah beku oleh salju. Di tengah perjalanan, Frank terjatuh di atap kaca sebuah pusat perbelanjaan. Jack dan Jason mencoba menyelamatkan, tapi Frank mengorbankan dirinya dengan memotong tali yang mengikat tubuhnya.

Sam dan kelompok kecilnya mencoba menghangatkan diri dengan membakar semua buku yang ada di perpustakaan dan mengambil makanan dari mesin penjual otomatis. Laura menderita keracunan darah sehingga Sam dan  Brian harus mencari insulin di sebuah kapal kargo Rusia yang terbawa oleh air pasang. Saat berhasil mendapat makanan dan obat, mata badai superstorm melewati New York dan seluruh kota membeku dengan cepat. Merekapun tiba diperpustakaan dengan cepat dan berusaha menghangatkan diri dengan membakar buku lagi.

Jack dan Jason yang bersembunyi kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di perpustakaan yang telah tertimbun oleh salju. Mereka menemukan Sam, teman-temannya dan beberapa kelompok orang hidup dan selamat. Presiden memerintahkan pencarian pada tim penyelamat untuk mencari korban lain, yang telah diberitahukan sebelumnya oleh Sam. Akhirnya merekapun berhasil dievakuasi ke Selatan. Film diakhiri dengan adegan dua orang astronot yang memandang bumi dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, yang menunjukkan mayoritas belahan bumi utara telah tertutup es.

Seru dan menegangkan! Saya hampir tidak bisa menemukan ‘cacat’ dari film ini. keseluruhannya hanya menyisakan kekaguman yang luar biasa. Berbagai spesial efek berhasil ditampilkan dengan sempurna. Seperti banjir besar yang tiba-tiba menenggelamkan semua bagian kota, salju yang penuh menimbun kota, samudera yang beku menyeluruh,  sampai adegan ketika Jack tiba-tiba melihat badai, dengan sigap dan cekatan ia melemparkan semua peralatan dan mendorong temannya masuk ke sebuah gedung dan menutup pintu pada saat yang pas. Perfecto! Dan (sepertinya) hanya di film ini, anda bisa menyaksikan patung Liberty hampir seluruhnya tertutup salju.

Film ini memberikan contoh dan pelajaran kepada kita untuk lebih mewaspadai efek pemanasan global. Mungkin dampak yang akan terjadi pada masa yang akan datang tidak seekstrim di film ini. Tapi setidaknya sekarang kita sudah ‘diperlihatkan’ secara bertahap dan perlahan-lahan berbagai fenomena alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahwa kita sebagai manusia yang hidup dari alam, sudah sepantasnyalah kita bersahabat dengannya, menjaga ekosistemnya agar tetap seimbang, bukan malah berbuat kerusakan dengan menggali habis sumbernya. Kemana kita akan pergi kalau bumi sudah tidak sudi menampung lagi? Dan karena alampun bisa murka.. So remember, what you give, you’ll get back!


Judul Film : The Day After Tomorrow
Sutradara : Roland Emmerich
Produser : Roland Emmerich & Mark Gordon
Pemeran : Dennis Quaid, Jake Gyllenhaal, Emmy Rossum, Sela Ward, Ian Holm
Rilis : Mei 2004
Durasi : 124 Menit
Distributor : 20th Century Fox



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena