Minggu, 17 Februari 2013

Into the Wild, Berburu Kebebasan di Alam Liar



Dua tahun berkelana, tanpa telepon, tanpa kolam renang, tanpa hewan, tanpa rokok, kebebasan mutlak. Ekstremis, pengembara alam yang rumahnya ada di jalan. Kini, setelah dua tahun mengembara, tibalah petualangan akhir dan terhebat. Pertarungan puncak untuk membunuh kepalsuan yang ada dalam diri dan berjaya menyelesaikan revolusi spriritual. Tak  lagi harus diracuni peradaban, dia pergi dan berjalan sendirian ke wilayah untuk menjadi tersesat di alam buas. 
-Alexander Supertramp Mei, 1992-





Senekat-nekatnya seorang backpacker atau penjelajah alam, dia tidak akan menggunting lalu membuang semua kartu identitasnya dan membakar semua uangnya. Itu kedengaran sangat gila! Tapi itulah yang dilakukan oleh seorang Christopher McCandless, beberapa hari setelah kelulusannya dari Universitas Emory, Atlanta. Dia menolak semua fasilitas dari orang tuanya : uang, mobil, jaminan melanjutkan ke Harvard University dan semua kemewahan yang siap memanjakannya. Bahkan, dia menyumbangkan sisa tabungannya ke sebuah yayasan sosial. Dia hanya ingin bebas, setelah empat tahun merasa terkungkung oleh tuntutan pendidikan. Terlebih, dia ingin melepaskan semua tekanan dari orang tuanya yang dinilainya hidup dalam kepalsuan. Ayahnya, seorang genius kebanggaan NASA dan ibunya yang seorang wanita karier, sukses membuat hidup Chris dan adik perempuannya menjadi sepi dan terabaikan.


Chris mengukur diri dan semua hal di sekitarnya dengan nilai moral. Dia ingin merasakan seperti apa hidup yang sunyi, tapi menemukan teman seperti tokoh-tokoh buku yang dia sukai, dari penulis seperti Tolstoy, Jack London dan Thoreau. Dia bisa mengutip tulisan mereka sesuai situasi apapun dan dia sering melakukannya. Dan itulah yang terjadi. Dalam perjalanannya, dia banyak bertemu dengan orang-orang yang dengan mudah menjadi akrab dengannya, memahami dan memberikannya sekerat makna atas kata ‘keluarga'.



Film yang dirilis tahun 2007 ini terbagi menjadi lima chapter yang menggambarkan siklus hidup manusia itu sendiri. Dan siklus-siklus itu bisa tergambarkan hanya dari sebuah perjalanan. Perjalanan yang tidak biasa. Di dalamnya ada pengalaman tanpa batas, pencarian jati diri dan pemahaman spiritual. Karena perjalanan bukan sekedar pelarian diri dari sejarah, tekanan, hukum dan kewajiban yang mengesalkan. Inti jiwa manusia itu datang dari pengalaman baru.



Chapter pertama, My Own Birth (Kelahiranku sendiri), menggambarkan sebuah kebaruan. Ketika mulai melangkah, menghirup udara perjalanan, segala hal yang tertinggal di belakang seakan tak berarti. Ingin menjadi pribadi baru tanpa embel-embel masa lalu, Chrispun mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp. Nama yang aneh memang. Petualangannya dimulai dari Danau Mead, Arizona pada Juli 1990. Dia pergi, tanpa memberi tahu siapapun! Ia berjalan dan terus berjalan.  Agustus 1990, dia bertemu pasangan hippies, pengelana karet, Jan dan Raynie di Pacific Crest Trail, California Utara. Nasib Jan, seorang ibu yang sudah dua tahun terpisah dari anaknya tanpa berita, seakan memantul ke diri Alex.



Chapter kedua, Adolescence (keremajaan), menggambarkan perjalanan yang dinamis. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana keyakinan akan berkembang. Akan bangkit menghancurkan hal buruk dalam kenangan yang kelam atau akan bangkit, memetik pelajaran dari kesalahan. Begitulah perjalanan waktu, terlalu cepat untuk ditahan. Di Dakota Selatan (September 1990), dia bertemu dengan Wayne, yang mempekerjakannya di ladang gandum. Kepada Wayne, dia membagi mimpi, ingin  ke Alaska sendirian tanpa jam, peta, kapak atau apapun! Konyol sekali! Dia hanya ingin di luar, alam, gunung besar, sungai, langit dan perburuan. Meskipun orangnya sedikit brengsek, kelak nasehat-nasehat Wayne tentang Alaska memang ada benarnya. Bisa dikatakan sebuah firasat, entah baik atau buruk! Sayang, Alex memang sudah kadung nekat!



Petualangannya berlanjut ke sungai Colorado melintasi Grand Canyon yang terkenal itu. Dia mendayung dengan menggunakan kano kecil, meskipun tak mendapat izin pemerintah, dia tetap nekat. Dia berniat mendayung sampai Meksiko. Sebenarnya Alex sangat takut air, tapi dia harus melakukan dan menaklukkan rasa takut itu. Kelak, rasa takut Alex inilah yang akan menentukan nasib, akhir perjalanannya.



Chapter ketiga, Manhood (Kedewasaan). Setahun lebih tanpa kabar, kemarahan orang tua Alex berubah menjadi keputusasaan dan kesedihan. Hati mereka menjadi lembut karena kehilangan yang terpaksa. Naluri seorang ibu berbicara akan sebuah kehilangan yang besar. Di chapter ini, ada adegan di mana seorang Alex berhasil menembak seekor rusa hutan yang besar di Alaska, tapi terlambat mengulitinya, belatung hinggap di mana-mana. Ada semacam ketakutan yang berkecamuk dalam hatinya. Dia menangis, menyesal dan tidak menikmati seujung kukupun hasil buruannya. Dia hanya diam terpaku menyaksikan hewan buruannya dinikmati hewan-hewan lainnya. Dia menyebutnya sebagai tragedi besar dalam hidupnya. Kalau boleh saya simpulkan, bahwa dalam diri setiap manusia itu ada nafsu yang jika tidak dikendalikan, akan berbahaya bagi dirinya maupun orang-orang dan alam sekitarnya.



Chapter keempat, Family (Keluarga). Pertemuan kembali antara Alex dengan Jan dan Raynie pada Desember 1991, menyadarkan arti keluarga yang hilang baginya. Tapi dia tetap ingin ke Alaska. Berbagai persiapan fisik dilakukan seperti mendaki Salvation Mountain. Dalam sebuah adegan yang lain, ketika dia sudah hampir pulang dari Alaska, dia mulai berpikir tentang keluarga, tetangga dan berkemas pulang. Setidaknya, dia sudah merasakan kebebasan yang menjadi kebahagiaannya. Dia pernah terluka, tapi hidup bebas di alam liar telah menyembuhkannya. Tapi ternyata, air sungai meluap sedemikian besarnya, tidak seperti saat dia datang ke Alaska yang mudah diseberangi karena sebagian tertutup salju beku. Dia gagal menyeberang. Topi rajut yang pernah diberikan oleh Jan dan dia sampirkan di sebuah ranting pohon (mungkin digunakan sebagai petunjuk jalan ketika pulang) seakan hanya melambai muram dari seberang sungai. Cuaca menjadi buruk dan terjadi banjir besar. Diapun kembali ke bus ajaib, tempat tinggalnya selama di Alaska. Dia ketakutan dalam hujan dan kesepian. Dia menyebutnya sebagai malapetaka. Mampukah dia bertahan? Sampai batas apa?

 
Chapter akhir, Getting Of Wisdom (Mendapat Kebijaksanaan). Di Salton City, Alex bertemu dengan kakek Ron Franz yang kelak mengantarkannya sampai stasiun kereta ke Alaska pada 22 maret 1992 dan ingin mengadopsinya sebagai cucu. Tapi Alex bergeming dan berkata akan membahas itu sepulang dari Alaska. Oh, seandainya saja masih ada kesempatan itu, mungkin itu yang dipikirkan Alex ketika sedang ketakutan dan merasa terlambat menyadarinya suatu saat di Alaska. Saat di mana dia telah benar-benar terperangkap di alam buas.



 Kakek Ron adalah pensiunan militer yang menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi pengrajin kulit. Dia mengajarkan Alex menyamak kulit. Salah satunya ikat pinggang yang kemudian dia pahatkan gambar tempat-tempat yang sudah dia jelajah selama berkelana dua tahun itu. Kelak, ikat pinggang itu menjadi saksi bisu bahwa Alex pernah sangat berhemat untuk makanannya ketika di Alaska, terbukti dengan selalu bertambahnya lubang ikat pinggang karena semakin kecilnya ukuran perut. Selain itu, kakek Ron juga banyak memberikan pelajaran yang berharga akan hidup. Seperti, kebahagiaan hidup pada prinsipnya datang dari hubungan manusia. Tuhan menempatkannya di sekitar kita. Ada di segalanya. Dalam apapun yang bisa kita alami. orang hanya harus mengubah cara mereka melihat hal-hal itu. Bila kamu memaafkan, kamu menyayangi. Bila kamu menyayangi, cahaya Tuhan bersinar pada dirimu.

Sementara pada adegan lain di Alaska, Alex sudah hampir gila karena kelaparan. Untuk sesaat dia menemukan kembali tujuan hidupnya. Mampukah dia melewati hari yang dia sebut sebagai kondisi paling lemah? Satu per satu orang yang berharga dalam hidupnya melintas di benaknya. Bisakah dia berkumpul kembali dengan keluarganya?

Bravo, rasanya tidak berlebihan kalau saya menempatkan film ini sebagai salah satu film favorit sepanjang masa. Sebagai film yang bertema tentang perjalanan dan petualangan, akan banyak kita dapati pemandangan-pemandangan menarik selama film ini dari awal sampai akhir dengan kualitas gambar yang memuaskan. Kita serasa ikut berjalan-jalan ke gunung, hutan, sungai, padang rumput, menikmati dinginnya salju, melihat salju mencair atau merasakan adrenalin meningkat ketika melihat Alex berarung jeram tanpa helm! Pantaslah kalau film ini meraih penghargaan sebagai best picture dalam beberapa festival. 

Alur yang melompat-lompat sukses membuat saya penasaran, seru! Di awal film, ketika Alex tiba di Alaska pada musim dingin dan menemukan bus yang teronggok begitu saja di pedalaman Alaska membuat saya terus berpikir apa kira-kira yang akan dilakukan Alex sesudahnya. Tiba-tiba kita dilemparkan pada masa dua tahun sebelumnya, Ketika petualangan itu baru akan dimulai dan perjalanan-perjalanan sebelum tiba di Alaska yang semuanya menghadirkan benang merah yang saling bertautan.

Emille Hirsch yang memerankan tokoh Alex, berakting sangat cemerlang! Dia benar-benar all out dalam menghayati perannya. Tidak heran, di beberapa festival, dia menyabet penghargaan sebagai best actor. Akting kakek Ron yang diperankan oleh Hal Holbrook  juga mendapat ganjaran sebagai best supporting actor. Inilah bedanya dengan film Indonesia yang jarang menggunakan aktor yang benar-benar tua untuk peran yang memang berusia tua. Kerut di wajah hanya tipuan kosmetik belaka. Sementara di film ini, Hal mampu memerankan kakek Ron yang sesuai dengan usianya dengan pas. Dalam beberapa adegan, dia mendaki puncak berbatu. Saya kagum karena aktornya memang kakek beneran, bukan kakek tipuan. Hebatnya lagi, soundtrack film ini, yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder (vokalist Pearl Jam) juga menjadi best soundtrack

Tak hanya itu, Sean Penn, juga meraih penghargaan sebagai best director. Bahkan bisa dibilang, jasa mantan suami Madonna itu untuk film ini patut diacungi jempol. Karena selain menyutradarai, dia juga menjadi salah satu produser dan script writer. Tidah heran kalau Sean Penn berbakat menghasilkan film bagus, karena sebelum menjadi sutradara, dia sudah lama malang melintang sebagai aktor film. Kemunculannya pertama kali di layar kaca lewat beberapa episode serial Little House on the Prairie yang waktu itu disutradarai oleh ayahnya selama beberapa episode pula. Ternyata, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. 

Salut dengan kejeniusan Sean Penn menghadirkan dialog-dialog cerdas sepanjang film ini. Rasanya tidak ada dialog atau adegan yang tidak berguna sama sekali. Semuanya terasa penting. Quote-quote berharga juga berhamburan, disampaikan secara bergantian antara sudut pandang Alex dan Carine, adik perempuannya. Film yang diangkat berdasarkan buku yang ditulis oleh Jon Krakauer ini ternyata terinspirasi oleh kisah nyata. Jon Krakauer yang dikenal dekat dengan keluarga McCandless itu, menulis buku berdasarkan catatan perjalanan seorang Christoper Johnson McCandless. Di setiap tempat yang disinggahi, Chris selalu menulis. Dia juga suka membaca, di manapun.



Dan, bus ajaib di Alaska itulah yang menjadi saksi nafas terakhirnya. Dua minggu setelah kematiannya, pemburu rusa menemukan jasadnya. 19 september 1992,  adiknya, Carine terbang dengan abu jenazah kakaknya dari Alaska ke pantai timur dengan ranselnya. Chris yang saat itu berusia 24 tahun (12 Feb 1968 -18 agustus 1992) meregang nyawa akibat keracunan tanaman liar yang dia makan. Keracunan yang pada awalnya meyebabkan rasa kelaparan yang sangat, inhibisi pencernaan dan lumpuh itu berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Foto Chris dengan pose tersenyum duduk di depan bus ajaib ditemukan dalam tustelnya yang belum tercetak, sangat mirip dengan salah satu scene di filmnya. Bukti, kalau detail film ini sangat diperhatikan. Selain itu, juga ditemukan tulisan yang menjadi pembuka review ini (silahkan lihat ke atas kembali) di sebuah kayu yang dia pahat dengan pisau lipat di dalam bus ajaib. Sementara di sebuah kertas, dia juga menulis, “Hidupku telah bahagia dan terima kasih Tuhan. Selamat tinggal dan semoga Tuhan memberkati kalian.”-Christopher Johnson McCandless- (nama asli yang tidak pernah dia sebutkan dalam perjalanannya, akhirnya dia tuliskan juga). Pun dalam selipan bukunya, dia menulis, “Kebahagiaan hanya nyata bila dibagi.” Dan itu menjadi tulisan terakhirnya.

Sebelah atas: foto asli, Sebelah bawah: adegan dalam film


I said, it’s wonderful experiences, it’s wonderful life, it’s wonderful film. It’s recommended!




18 komentar:

  1. Good review ... pengen nonton :)

    BalasHapus
  2. kadang ketika manusia sudah sampai pada titik jenuh menikmati kemudahan kemoderan,mereka akan merindukan sosok purba yang serba dekat dengan alam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, seperti kata Lord Byron berikut ini ya.. :)

      Ada kesenangan dalam hutan tanpa jalan setapak
      Ada keceriaan di pantai yang sepi
      Ada masyarakat yang tidak saling mengganggu
      Di dekat laut yang dalam,
      Dan musik dalam raungannya
      Aku mencintai manusia
      Tapi lebih suka alam

      Hapus
  3. penasaran pingin nonton, kadang keindahan alam membuat kita jadi tenang dan nyaman sesaat untuk melupakan rutinitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan ditonton Lisa.. ada banyak keindahan alam yang membuat takjub di film ini :)

      Hapus
  4. Kadang keindahan yang terlihat didalamnya menjadi sebuah yang indah dilihat mata terlebih membuat hati ingin kesana hehe :)

    BalasHapus
  5. Eh, ada lho "orang gila" kek gini, saya baru2 baca lupa di mana ... ada sepasang suami istri yang hidup nyaris tanpa uang. Kalo dia dan istrinya gak pake uang, anak mereka yang masih bayi yang pake uang. Jadi, utk anak mereka pake semacam jaminan sosial gitu ... tapi di luar negeri, bukan di Indonesia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, orang luar negeri emang suka aneh2 ya mbak Niar..coba kalo orang Indonesia yang bikin 'sensasi' kyk gitu, bisa jadi omongan orang :D

      Hapus
    2. Keknya gak ada orang Indonesia betah hidup gak pakai uang deh hehehe

      Hapus
  6. dapet film ini udah lama tapi baru nnton td malem, dari temen yg hidupnya emang dialam jg..
    2.30 jam yang sangat padat, masih segar diingat ..
    abis nonton sih nyesel, kenapa itu ending nya harus begitu, sakit hati rasanya..
    tp pas mau tidur, teringat terus dan akhirnya gak jadi tidur, akhirnya jadi mendalami film itu..

    emang recommend bgt lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku juga gitu.. kepikiran kok endingnya harus gitu ya. Tapi justru itulah letak kesuksesan film ini. Mampu membuat penontonnya ngerasa 'ga rela' dengan endingnya :)

      Hapus
  7. film favorit dg endingnya "happines only real when shared" :)

    BalasHapus
  8. Sekitar 2tahun yg lalu aku pernah nonton filmnya meskipun di televisi .. aku pun sampai menangis di endingnya

    BalasHapus
  9. Sekitar 2tahun yg lalu aku pernah nonton filmnya meskipun di televisi .. aku pun sampai menangis di endingnya

    BalasHapus
  10. salam kenal mbak, saya menjadi ini film dan kisah sebagai panutan hidup karena kepalsuan hidup ... salam kebebasan

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena