Sunday, 11 October 2020

[Review] Karena Hidup Hanyalah Sebuah Persinggahan

Membaca buku ini, seolah membayangkan…

Menikmati senja di pinggir pantai, duduk bertiga bersama Mbak Lyta dan Mbak Brina. Menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kalian menyeduh kopi. Aku cukup dengan teh saja. Aku sudah menyerah dengan kopi.

Kita membicarakan tentang apa saja. Tentang senja, tentang pantai. Tentang kisah-kisah pada suatu masa. Tentang harapan-harapan. Tentang hal-hal yang menyenangkan. Juga tentang hal-hal yang kurang menyenangkan.

Kilas balik segala yang telah terjadi. Yang telah membawa kita semua, sampai ke detik ini.

 



Tentang perjalanan dan pengalaman

Kita semua adalah pengembara dalam belantara kehidupan. Perjalanan bukan tentang mencari, tapi bagaimana cara memulai. Bekal apa yang telah kita siapkan untuk menghadapi petualangan-petualangan hebat di depan mata. Jalan yang kita lalui tak selalu mulus, ada kalanya terjal merintangi. Dalam perjalanan, kesabaran akan terus diuji. Dari berbagai ujian yang menghadang, kita akan mengecap banyak pengalaman. Manis pahitnya mengayakan. Dari situ, kita belajar berbagai makna. Karena kita adalah pembelajar di sekolah kehidupan. Dan pengalaman adalah guru yang paling bijak.

Tentang keluarga

Sejauh apapun kita bertualang, keluarga adalah rumah terindah untuk kembali pulang. Adakah ruang yang utuh menerima kita apa adanya selain keluarga? Kita semua berawal dari keluarga, seperti pohon yang tinggi, ia bertumbuh dari akar. Jangan sampai kita memupuk kejayaan demi tepuk tangan orang, sementara keluarga justru merasa kehilangan kita. Keluarga adalah tiang-tiang kokoh yang selalu siap menyangga di setiap perjalanan kita, jadi jangan abaikan keberadaannya. Rengkuh dan rangkul keluarga dalam dekapan terhangat.

Tentang waktu

Setiap detik adalah kesempatan berjuang, untuk tiap kebaikan yang kita lakukan. Kita boleh melakukan perencanaan jangka panjang, tapi satu-satunya waktu yang kita miliki adalah sekarang. Karena minggu, bulan, tahun adalah gabungan hari-hari. Maka fokuslah pada hari ini. Setiap orang punya masa lalu, tetapi kita berdiri dan bernapas hari ini untuk masa depan. Kita tak bisa mengingkari. Bahwa kita adalah diri yang diantarkan oleh masa lalu. Tapi jangan lupa, kita juga adalah diri yang terus tumbuh dan bergerak ke arah yang lebih maju. Ya, kita hanya harus berterima kasih pada masa lalu yang telah memberikan banyak pembelajaran. Barangkali, senyum kita hari ini adalah hikmah dari tangis masa lalu.

Kita selalu punya kesempatan untuk terus memulai. Pagi adalah kesempatan kedua untuk hal-hal yang belum purna. Siang adalah kesempatan berjuang untuk hal-hal yang perlu kita sempurnakan. Dan senja menjadi jeda, untuk evaluasi diri sepanjang hari. Malam adalah hak bagi raga untuk istirahat.  Esoknya, kesempatan demi kesempatan akan hadir kembali, menunggu apakah kita akan mengambil atau mengabaikannya.

Tentang tumbuh

Tumbuh itu tentang proses, bukan perihal siapa yang lebih dulu, karena buah tak langsung manis dalam semalam. Jika biji yang kita semai belum mampu meninggi menjadi pohon, setidaknya ia tak tumbuh menjadi duri yang melukai. Semua yang profesional juga dibentuk oleh proses yang panjang. Tak ada bunga yang mekar sendiri, di balik keindahannya ada akar, batang dan daun yang tulus menguatkan. Jadi, tumbuh adalah tentang sesuatu yang terus diupayakan tanpa lelah.

Tentang ketundukan

Saat menapak perjalanan, ada kalanya kita sedih dan kecewa. Hal itu wajar. Yang tak wajar adalah ketika kita tak lagi percaya, bahwa Allah selalu punya rencana terbaik untuk hamba-hambaNya. Ada kalanya, kita juga bimbang ketika harus membuat keputusan. Padahal Allah telah ilhamkan dua jalan: keburukan dan kebaikan.

Sekali waktu, ada baiknya kita merenung sejenak perihal keberadaan kita. Jangan-jangan, selama ini kita hanya membangun kefanaan belaka. Saat aktivitas dunia kian mengepungmu. Pekerjaan dan kesibukan menggerogoti waktumu. Cobalah untuk berhenti dan merenungkan, apa yang sesungguhnya kamu cari. Karena hidup juga memerlukan spasi dan koma. Agar kau dapat rasakan keindahan dalam perjalanan hidup yang memberimu sejuta makna. Kebahagiaankah? Atau sekadar membangun ketenaran dan istana di dunia hingga kau lupa tujuan penciptaanmu sesungguhnya? Menjedalah sejenak! Tengoklah sekelilingmu! Sudahkah kau berbuat baik untuk orang lain? Atau justru yang kau lakukan adalah menindas orang lain demi sekadar menegakkan eksistensimu semata?

Jika kita menyadari bahwa Allah menciptakan manusia, sempurna sebagai dirinya, maka perihal tinggi rendah, besar kecil, itu hanyalah duniawi semata.

Tentang keteguhan

Ketangguhan tak lahir secara instan. Ia dibangun dari tempaan demi tempaan. Hidup adalah kesempatan berjuang. Dan berani mencoba akan memberimu dua kemungkinan: kegagalan atau keberhasilan. Lakukan yang terbaik, tak henti berdoa, tegak dan kuat. Jika pun kau gagal, kau telah mengambil hal wilayahmu, yaitu berusaha. Gagal kadang menyakitkan. Tapi bagi pejuang kehidupan, tak ada yang lebih menyakitkan daripada menyerah dan hancur pelan-pelan. Tak masalah kita menangis karena gagal, asal tak lupa bangkit dan kembali mencoba. Percayalah, kesuksesan tak selamanya diukur dengan materi, tapi sejauh mana kita memberi manfaat untuk orang lain.

Kita tak bisa sepenuhnya menghindari kesulitan. Tetapi menghadapi kesulitan, akan membuat kita semakin tangguh. Ketika kita terpuruk dan tak sanggup melakukan apapun, sesungguhnya kita masih punya doa, setiap saat, setiap detik.  

Tentang ketulusan

Katakan hal-hal baik, karena yang kau katakan akan memantul dalam dirimu. Dan berhati-hatilah dengan kata-kata, karena ia lebih dalam menggoreskan luka daripada pedang yang paling tajam. Jika hatimu luka oleh kata-kata manusia, kau bisa membalut dan menyembuhkannya dengan terus menyebut AsmaNya dan merenungi FirmanNya.

Pada akhirnya, kita tak akan mampu menggapai semuanya. Ada hal-hal yang harus rela kita lepaskan. Karena tidak semua hal kita perlukan. Apalagi menyangkut kefanaan. Semua akan selesai pada waktunya. Tak perlu memaksakan sesuatu. Ada saatnya, doa yang kita panjatkan tak melulu meminta apa yang belum kita punya, tetapi mensyukuri dan memohon berkah untuk hal-hal yang telah ada. Ini tentang penerimaan dan keikhlasan.

Tentang kemenangan

Saat kau sedang merayakan kemenangan, lawanmu pun sedang memetik hikmah kekalahan. Tak perlu berlebihan, rayakan sewajarnya. Ingatlah, bahwa pahlawan sejati, tak akan menodai perjuangannya dengan mencaci. Kadang kemenangan juga bukan tentang mengalahkan orang lain. Tapi mengalah adalah cara untuk memenangkan hati dan diri sendiri.

Tentang merelakan dan prasangka

Hapus air matamu, jangan terus menyesali apa yang tak menjadi takdirmu. Ada hal-hal yang bisa kita ubah, ada hal-hal yang tidak akan mungkin bisa kita ubah. Tak perlu memaksakan diri untuk bertahan jika tak mampu. Masing-masing kita punya kekuatan untuk bertahan dan terus melaju, tapi kita tahu kapan saatnya harus berhenti. Saat di persimpangan, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali memilih.

Dalam memandang permasalahan, kita tak bisa berpijak pada satu sudut pandang. Ada saatnya, kita harus melapangan hati melihat dari segala sisi. Kacamata bening saja bisa buram jika tak pernah dibersihkan, apalagi jika memandang dengan kacamata hitam. Semua akan tampak hitam, bahkan yang putih sekalipun. Jangan menghakimi sesuatu dari yang tampak saja. Karena yang terlihat hitam, belum tentu sekelam kenyataannya.

Kebaikan dan keburukan adalah ujian. Kesenangan dan kesedihan juga ujian. Allah berikan ujian sekaligus jawaban. Siapa yang semakin dekat denganNya, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

 

Saat menutup lembar terakhir buku ini, rasanya ada beberapa beban yang luruh sekaligus. Benar-benar sensasi yang menyenangkan dan menentramkan. Seolah-olah mengingatkan, ya begitulah hidup. Just let it flow. Hidup hanya sementara, hanya fana belaka. Ada yang harus benar-benar kita perjuangkan, yaitu meraih rahmatNya.

Karena hidup hanyalah sebuah persinggahan, hanya sebagian kecil dari sebuah perjalanan panjang dan tempat mengumpulkan bekal. Maka berjuanglah dan siapkan aksi terbaikmu. Untuk kehidupan yang benar-benar kekal, nantinya.

 

Two thumbs up. Terima kasih Mbak Lyta dan Mbak Brina, telah berbagi, dan berjuang menulis buku yang padat dan bernutrisi ini. Always proud, both of you…

Pasti ini adalah hasil perenungan panjang dari pengalaman-pengalaman berharga yang telah terlewati.

Rasanya, tiap lembarnya benar-benar dituliskan dengan hati. Saat membacanya, rasanya begitu dekat.

Jika di dalam novel, aku bisa menebak bagian mana yang masing-masing kalian tulis. Sungguh sulit, di buku ini aku hanya mengira-ngira. Meskipun di beberapa bagian, sepertinya aku yakin itu ditulis siapa. Tapi di beberapa bagian lain, aku sungguh sulit menebaknya. Sepertinya, kalian memang sudah melebur di buku ini. And it’s so sweet and enjoyable..

Menurutku, ini adalah buku yang bisa dibaca berulang-ulang saat diperlukan. Terutama, saat kita merasa ‘lelah’ menghadapi hari. Tak urut pun tak masalah. karena di tiap lembarnya, ada satu pembahasan, yang masing-masing diulas ringkas. Begitu ringan dan bermakna.

Yang jika kau baca sambil menikmati kopi atau teh, tahu-tahu cangkirmu sudah kosong.

Dan iya, semoga kita bisa menikmati senja bersama. Sambil menikmati kopi atau teh dan berbincang tentang segala hal, setelah pandemi ini menemukan muaranya.


Yang mau punya bukunya, bisa beli di sini.

#stopbukubajakan

 

 


Related Articles

4 comments:

  1. terima kasih reviewnya santiii.... jadi pingin duduk bertiga sama shabrina juga melewati senja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak Lyta. Kalo sama Mbak Brina, nt kita mendadak kalem ya

      Delete
  2. Menikmati senja di pinggir pantai, duduk bertiga bersama Mbak Lyta dan Mbak Brina. Kita membicarakan tentang apa saja. >> Aku bagian nguping, boleh? ��

    ReplyDelete

Popular Posts