Friday, 1 January 2021

The Life-Changing Magic of Tidying Up

Ketika saya menawarkan diri untuk membenahi salah satu kamar teman saya, seketika itu juga ia menolak mentah-mentah, “Tidak, jangan pernah kau bereskan kamarku. Di tanganmu, bisa-bisa sebagian barang-barangku akan berakhir di tempat sampah!”

The Life-Changing Magic of Tidying Up - Marie Kondo

Begitu katanya. Oooh, sesadis itukah kalau saya berbenah? Lalu saya kilas balik keseharian saya. Hal pertama yang saya lakukan ketika bangun tidur adalah merapikan sprei dan menggembungkan kembali bantal guling. Dan saya akan merapikan segalanya. Saya juga tidak bisa melihat barang tercecer di lantai. Saya harus menempatkannya di suatu wadah. Harus ada tempat untuk segala sesuatu. Pun ketika saya akan beranjak tidur, pandangan saya akan menyapu seluruh ruangan. Jika masih ada yang berantakan, maka tidur saya tak tenang. Mau tak mau, saya akan merapikan semuanya dulu, demi tidur yang nyenyak. Saya tak tahan melihat barang berantakan, membuat pusing. Saya juga banyak membuang barang-barang yang sepertinya tak akan pernah terpakai. Kadang, saya berpikir itu wajar-wajar saja. Tapi saya juga harus mengakui, kadang standar kerapian saya memang rada ekstrim. Bukan hanya rapi, tapi juga harus bersih dan kalau bisa wangi.

Lalu saya pikir, mungkin saya adalah orang tersadis kalau sudah menyangkut hal-hal berbenah.

Setelah membaca The Life-Changing Magic of Tidying Up, ternyata ada yang lebih sadis lagi:

Marie Kondo, yang ternyata sudah sangat sadis berbenah sejak dari bangku sekolah dasar. Yang menjadikannya ahli berbenah kelas dunia.

Dan kemudian, standar berbenah saya mungkin akan lebih sadis lagi.. :D

Metode KonMari-nya Marie Kondo sepertinya asyik untuk diterapkan.

Terbukti setelah selesai membaca bukunya, hal-hal yang ingin saya lakukan adalah membongkar lemari dan laci, mengeluarkan seluruh isinya dan mulai memilah-milah kembali mana yang masih bisa dipakai, mana yang harus rela dilepaskan. Ada barang-barang yang menurut saya tak apa-apa masih disimpan, tapi kata Marie Kondo harus dibuang tanpa ampun.

 

MULAILAH DENGAN MEMBUANG

Jika kita tak membuang, maka kita hanya menimbun. Dan tak akan pernah ada kerapian. Maka pikiran kita pun akan disibukkan dengan barang-barang. Bayangkan, dalam setahun ada berapa banyak barang yang kita beli?

Kita harus benar-benar berkomitmen untuk mengumpulkan semua barang, baik yang masih bisa dipakai, jarang dipakai, ataupun yang sudah tak terpakai. Kemudian identifikasi barang apa saja yang sudah memenuhi fungsinya. Lalu buanglah yang sudah tak memberikan manfaat atau tak memberikan rasa gembira lagi.

Tiap benda memiliki peranan sendiri-sendiri. Tidak semua pakaian perlu Anda kenakan sampai usang. Seperti halnya dengan orang. Tidak semua orang yang Anda temui dalam hidup lantas menjadi teman dekat Anda. Sebagian tidak akur dengan Anda atau mustahil Anda sukai. Namun orang-orang itu juga memberi Anda pelajaran berharga, yaitu mengenal orang seperti apa dan siapa saja yang Anda sukai sehingga Anda bisa lebih menghargai mereka.

Mengekspresikan rasa terima kasih dan mengucapkan selamat tinggal pada barang-barang yang manfaatnya sudah lewat adalah sejatinya proses untuk menelaah diri Anda sendiri, sebentuk perjalanan menuju kehidupan baru yang Anda dambakan.

 

URUTAN BERBENAH

Urutan dalam berbenah memengaruhi sukses atau tidaknya berbenah. Sortir sesuai kategori, bukan ruangan. Metode KonMari menempatkan pakaian (termasuk tas dan sepatu) di urutan paling atas. Disusul kemudian buku, kertas-kertas, pernak-pernik, dan yang terakhir adalah benda-benda yang bersifat sentimental.

PAKAIAN

Kalau kita mau jujur, mungkin ada beberapa pakaian di dalam lemari yang sudah jarang sekali dipakai. Bahkan mungkin kita lupa pernah memilikinya. Atau kita meletakkannya terlalu dalam di sudut lemari sehingga tak terjangkau tangan dan pandangan? Itulah daftar barang yang mungkin harus masuk kategori buang. Atau mungkin kita salah dalam melipat dan menyimpannya?


KonMari Folding Method
 

Melipat pakaian sejatinya adalah bentuk dialog dengan pakaian. Kita bisa menyelami perasaan masing-masing pakaian dan memutuskan apakah masih akan dipakai. Metode melipat KonMari lebih menitikberatkan pada penataan yang vertikal dan penyimpanan secara tegak di laci. Ini sudah bisa saya terapkan pada beberapa t-shirt dan kaos kaki. Memang lebih simpel dan memudahkan pencarian. Tapi saya belum bisa menerapkannya pada baju, rok, celana panjang atau pun gamis. Saya masih memakai aturan lipat dan tumpuk, yang berakibat tumpukan paling bawah jadi jarang digunakan. Saya akan berusaha memelajarinya pelan-pelan.

BUKU-BUKU

Sama ketika kita membereskan buku, cobalah bertanya ke diri sendiri, apakah buku yang kita simpan mendatangkan kegembiraan? Biasanya buku tidak dibuang karena ‘siapa tahu aku akan membacanya lagi kapan-kapan’. Dan ‘kapan-kapan’ itu tak pernah terjadi, karena banyak sekali daftar bacaan kita, sementara waktu yang dialokasikan terbatas. Sedikit sekali yang bisa kita baca ulang. Saya sendiri mengakui, susah untuk melepaskan buku-buku. Dan saya harus mulai belajar untuk melepaskannya jika tak ingin rak buku saya bertambah bebannya.

KERTAS-KERTAS

Selain buku, tak terasa ada banyak kertas yang memenuhi tempat tinggal kita. Untuk kertas, simpanlah di satu tempat. Jangan biarkan kertas-kertas itu bertebaran di seluruh area rumah. Aturan dasar kertas adalah, buanglah semuanya, kecuali yang bersifat sentimental. Dulu saya sering sekali mengumpulkan nota belanjaan, untuk mengetahui berapa pengeluaran saya per bulannya. Pada akhirnya saya hanya mengumpulkan sampah. Saya juga suka menyimpan garansi alat-alat elektronik beserta manual pemakaiannya. Nyatanya, saya tak pernah klaim garansi ataupun membaca manual pemakaian. Saya juga mengumpulkan materi-materi seminar atau workshop yang saya ikuti. Dalihnya, materi-materi itu bisa saya pelajari lagi di lain hari. Nyatanya saya tak pernah benar-benar membukanya kembali.

PERNAK-PERNIK

Simpanlah pernak-pernik yang benar-benar disukai, bukan karena ‘pengin aja’. Terlalu banyak orang yang hidupnya dikelilingi barang-barang tak perlu, hanya karena mereka ‘pengin aja’. Jujur, saya juga pernah begitu. Saya mengumpulkan banyak bros dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda. Tapi nyatanya yang saya pakai ya yang itu-itu saja. Lainnya hanya menjadi penghuni laci sekian lamanya. Saya juga gemar sekali mengumpulkan pembatas buku, gantungan kunci, tempelan kulkas dan pernak-pernik kecil lainnya. Yang teryata, tidak semuanya saya gunakan.

BARANG BERNILAI SENTIMENTAL

Masa lalu, seindah apapun itu, tak akan bisa dijalani kembali. Yang lebih penting adalah kegembiraan dan antusiasme yang kita rasakan di sini dan saat ini. Kenangan yang sungguh-sungguh berharga, takkan sirna sekalipun anda membuang barang-barang yang terkait dengan kenangan itu.

Dulu saya suka menulis diary dan menyimpannya. Beberapa sudah saya buang karena saat membacanya kembali saya merasa malu karena ada hal-hal norak. Tapi masih ada beberapa yang saya simpan sampai sekarang. Entah, saya belum tega untuk membuangnya. Mungkin saya akan berpikir ulang untuk segera membuangnya. Saya juga masih menyimpan toga wisuda dan kebaya, yang pastinya tak akan pernah saya gunakan lagi. Ini menjadi daftar PR saya selanjutnya untuk membuangnya.

Sebenarnya merelakan barang-barang sentimental serasa berdamai dengan masa lalu. Menyimpan sama saja dengan membebani. Sekali lagi, jika barang-barang tersebut tak menghadirkan kegembiraan, segeralah mengurangi tanpa berpikir panjang.

 

SPARKS OF JOY

Berbenah sejatinya adalah kegiatan yang mengasyikkan, karena menerbitkan kegembiraan pada akhirnya. Penting untuk menelaah apa-apa yang kita miliki sekarang dan mengenyahkan barang-barang berlebih. Kita bisa menguji diri, berapa lama bisa bertahan tanpa barang tersebut? Sampai kita bisa bilang, “Ah, rupanya yang kumiliki untuk hidup nyaman hanya sebatas beberapa saja. Cuma ini yang kuperlukan supaya bahagia. Aku tak butuh lebih banyak lagi.”

Jumlah yang pas berbeda pada tiap orang. Kenyataan bahwa Anda memiliki barang berlebih yang tidak tega Anda buang bukanlah bukti bahwa Anda merawat barang tersebut baik-baik. Justru sebaliknya. Dengan mengurangi volume barang hingga jumlahnya pas, sama artinya Anda telah merevitalisasi hubungan dengan barang-barang Anda. Perlakukan barang seolah ia benda hidup dengan memberinya tempat khusus, ia perlu istirahat juga saat tak terpakai dan ucapkan terima kasih saat kita harus melepasnya. Saat kita hormat pada satu barang, niscaya kita akan memperoleh kinerja yang baik dari barang tersebut.

Ketika kita tak lagi membeli barang melebihi kebutuhan, kita tak terjebak menimbun barang. Bahkan jika pun kita tak memiliki sesuatu yang kita bisa hidup tanpanya, itu lebih baik. Kehidupan menjadi jauh lebih enteng begitu kita tahu bahwa situasi masih bisa berjalan mulus sekalipun kita kekurangan sesuatu. Kita juga terbebaskan harus selalu berbenah secara total di sepanjang hidup kita. Sesederhana itu. Ternyata hanya dengan berbenah, hidup menjadi lebih bahagia dan berwarna. Berbenah juga membuat kita percaya diri akan kemampuan dalam mengambil keputusan.

Mari berbenah…

 

 

Catatan:

Membuang bisa berarti benar-benar dibuang karena tak layak pakai.
Bisa berarti disedekahkan bagi yang membutuhkan untuk yang pantas pakai.

 

 

 

Related Articles

4 comments:

  1. Ketika saya menawarkan diri untuk membenahi salah satu kamar teman saya >> Buka jasa benahin kamar, kak? Sini, tolong benahi kamarqu ����

    A.R

    ReplyDelete
    Replies
    1. Honor dihitung per jam yak, plus maksi, plus tiket konser!

      Delete
  2. ... saya merasa malu karena ada hal-hal norak >> Contoh hal-hal norak itu apa saja? Tolong jelaskan ��������


    A.R

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diiih, minta contoh, kayak ga pernah norak aja...

      Delete