Saturday, 30 January 2021

To Kill A Mockingbird, Antara Novel dan Film

Membaca To Kill A Mockingbird adalah pengalaman terlama saya menyelesaikan sebuah buku. Butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai pada halaman terakhir. Bukan, bukan karena novelnya tebal. Tapi karena berbagai alasan yang saya buat sendiri.

 


Saya mulai membacanya mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu. Dan saya mencatat progress-nya di Goodreads. Awalnya saya merasa, pembukaan novel terasa datar. Lalu saya meletakkan novelnya begitu saja. Sampai Goodreads mengingatkan saya bertahun kemudian kalau bacaan saya tak ada progress-nya sama sekali. Dan saya pun mengulang membaca kembali, dan hasilnya tak jauh berbeda. Saya berpikir, mungkin karena mood membaca saya sedang buruk-buruknya. Atau karena kesibukan lain. Masih, segudang alasan muncul.

Akhirnya saya banting stir untuk menonton filmnya. Dan ternyata, film yang dirilis tahun 1962 dengan visual yang masih hitam putih itu sukses memesona saya. Lalu saya pun bertekad untuk mulai membaca novelnya kembali. Tapi, lagi-lagi saya gagal menyelesaikannya. Bertahun kemudian, ketika membuka Goodreads, saya sedih melihat progress membaca yang tak pernah beranjak dari halaman-halaman awal.

Dua tahun terakhir, tiap awal tahun saya mengikuti tantangan 30 hari bercerita. Tapi untuk awal tahun ini saya absen dan menantang diri sendiri mengikuti Reading Challenge di Goodreads. Tidak muluk-muluk, saya hanya menargetkan membaca minimal 25 buku dalam setahun ini. Dan lagi-lagi, saya merasa sedih melihat To Kill A Mockingbird di halaman profil saya masih berstatus ‘currently reading’ selama hampir satu dekade! Saya benar-benar payah telah mengabaikannya. Saya pun memaksa diri sendiri, mengambil cuti dan mulai membacanya lagi dari awal. Dengan tekad yang kuat, ternyata hanya butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Pyuuh, lega betul ketika saya menutup halaman terakhirnya. Setelah itu saya juga menonton ulang filmnya. Bagi saya, nonton film jadul adalah rekreasi lintas generasi yang murah meriah dan menyenangkan.

Biasanya, saya kurang puas ketika menonton film dari novel yang telah saya baca. Saya selalu merasa ada yang bolong, detail pendukung cerita kurang, plot yang terlalu cepat meloncat atau pun latar yang tidak pas. Tapi untuk To Kill A Mockingbird, saya menyukai keduanya, baik novel maupun filmnya. Dua-duanya memesona saya dengan cara yang berbeda. Walaupun saya tetap harus mengakui, ada beberapa adegan yang terasa instan, tak selogis saat diceritakan di novel. Iya, tak ada yang sempurna ketika harus meringkas cerita sepanjang hampir 400 halaman menjadi tayangan berdurasi 2 jam.

Novel To  Kill A Mockingbird terbit pertama kali pada tahun 1960 dan memenangkan Pulitzer kategori fiksi setahun sesudahnya. Menyusul setahun kemudian dirilis filmya dan memenangkan banyak penghargaan bergengsi. Gregory Peck, yang memerankan tokoh Atticus Finch juga berhasil menyabet penghargaan sebagai aktor terbaik dalam Academy Awards dan Golden Globe Awards. Penulisnya sendiri, Harper Lee mendapatkan penghargaan Presidential Medal of Freedom pada tahun 2007 untuk kontibusinya dalam bidang kesusasteraan, karena novelnya ini.

Sampai kini dan nanti, baik novel maupun filmnya, rasanya masih relevan untuk dinikmati. Sebenarnya apa sih yang membuat To Kill A Mockingbird menjadi novel wajib baca sepanjang masa?

Menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang membuat To Kill A Mockingbird begitu istimewa:

Pertama, dituturkan melalui sudut pandang anak-anak yang masih begitu murni, sehingga lebih mudah masuk ke benak pembaca. Tokoh narator, Jean Louise ‘Scout’ Finch digambarkan sebagai anak perempuan 6 tahun dengan karakter tomboy. Scout merepresentasikan anak yang polos, penuh kasih sayang dan berpikiran kritis. (Di film, Mary Badham memerankan tokoh Scout yang suka mengenakan overall dan anti rok dengan sangat pas).

 


Kedua, di sepanjang novelnya tersisip banyak teknik ‘good parenting’. Atticus Finch, seorang pengacara yang juga single parent mendidik dua anaknya, Jem Finch dan Scout Finch, dengan cara yang sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Ia disiplin dan memperlakukan anaknya layaknya teman. Ia membuka diskusi untuk apa saja, bahkan hal-hal yang dianggap belum sesuai untuk usia anak-anak. Tapi dengan tetap menggunakan logika yang mudah dicerna oleh anak-anak.

 

 

Ketika Jem dan Scout begitu penasaran dan usil mengenai kehidupan Boo Radley, tetangganya yang tidak pernah keluar rumah dan bersosialisasi, Atticus akan mengatakan, “Apapun yang dilakukan Mr. Radley adalah urusannya. Kalau dia ingin keluar, dia akan keluar. Kalau dia ingin tinggal di dalam rumahnya sendiri, dia berhak tinggal di dalam tanpa diusik oleh anak-anak yang ingin tahu.”

Juga ketika Scout merasa marah dengan perilaku salah satu temannya yang menurutnya kurang beradab, Atticus dengan bijak mengatakan, “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang, sampai kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, sampai kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

(Kata-kata yang sangat ‘dewasa’ menurut saya. Bahkan orang dewasa pun mungkin tak banyak yang menyadari dan memaknai hakikatnya).

 

 
 

Ketiga, yang menurut saya adalah inti dari keseluruhan novel ini, adalah tentang kemanusiaan yang universal. Cerita dengan latar tahun 1930-an di Maycomb County, Alabama ini menyuarakan tentang keadilan, kesetaraan dan diskriminasi ras yang saat itu masih ‘hitam putih’.

Saat Atticus Finch memutuskan untuk membela seorang negro, kehidupan keluarganya berubah. Orang-orang kulit putih yang tidak mendukung keputusan itu menjulukinya sebagai pecinta nigger dan membencinya. Atticus merasa, sebagai seorang pengacara, di sepanjang hidupnya setidaknya mendapatkan satu kasus yang akan memengaruhinya secara pribadi.

Atticus percaya, bahwa manusia tak boleh saling menindas. Penindasan berasal dari orang-orang yang berprasangka buruk. Ketika orang-orang lemah tertindas, satu-satunya tempat untuk mendapatkan keadilan adalah ruang pengadilan. Semuanya berhak mendapat pembelaan, baik orang kulit putih maupun kulit hitam.

 

 

Asumsi jahat bahwa semua orang negro berbohong, tidak bermoral, berbahaya adalah ketidakbenaran. Dan kebenaran berlaku untuk semua manusia, tidak terbatas pada satu ras saja.

Tidak semua manusia diciptakan sederajat (dalam artian yang ingin diyakini oleh sebagian orang), seperti sebagian orang lebih pintar dari yang lain, ada yang memiliki lebih banyak kesempatan karena dilahirkan dengan itu, ada yang berpenghasilan lebih dari yang lain, sebagian perempuan membuat kue lebih enak daripada yang lain, ada yang dilahirkan dengan bakat jauh di luar cakupan normal sebagian besar manusia.

Ada satu hal yang menunjukkan semua manusia diciptakan sederajat, ada satu lembaga kemanusiaan yang membuat seorang pengemis sederajat dengan seorang Rockefeller, seorang bebal sederajat dengan Einstein, dan seorang tak berpendidikan sederajat dengan rektor universitas manapun. Lembaga itu adalah pengadilan. Pengadilan memiliki kecacatan sebagaimana lembaga manusia manapun. Tetapi pengadilan adalah penyetara besar. Dalam pengadilan, semua manusia diciptakan sederajat.

Penindasan karena prasangka akan membunuh manusia pelan-pelan. Membunuh yang bersalah tidak dibenarkan, apalagi yang tidak bersalah.

Yang selalu diajarkan Atticus dan membuat Jem dan Scout berpikiran luas dan terbuka, “Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena. Tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa. Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan.  Mereka tidak makan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita.”

Dan, To Kill A Mockingbird terasa sangat ‘hidup’ karena Harper Lee menuliskannya berdasarkan pengalaman masa kecilnya. Latar dan permasalahan yang ada adalah kenyataan yang terjadi saat itu. Ia juga melakukan riset yang tak sebentar sebelum menuliskannya.

 

 

Saya pun tak ragu menjajarkan novel ini sebagai buku favorit sepanjang masa, berdampingan dengan serial Little House-nya Laura Ingalls Wilder dan Story Girl-nya Lucy Maud Montgemary yang juga terinspirasi dari kisah masa kecil masing-masing.





Related Articles

1 comment:

  1. To Kill-to kill apa yang jago ngehost talkshow?
    To Kill Arwana ��

    Eh, bisa jadi ide cerpen/nopel tuh, kak. To Kill A Warna. Bikin gih ������

    A.R

    ReplyDelete