Sunday, 14 March 2021

Menyusuri Kota Tua

Bagi saya, menyusuri Kota Tua berarti menyusuri sekeping kenangan pada suatu masa. Dulu, saat belum menjadi warga ibu kota, saya selalu membayangkan bisa jalan-jalan di kawasan yang juga disebut sebagai Batavia Lama ini. Beruntung, saya punya banyak sahabat baik yang tinggal di ibu kota, yang bersedia membawa saya menyambangi Kota Tua, sesudah kami menghadiri suatu acara. Makasih ya Yusi dan Mbak Dhani, yang tak kenal lelah membawa saya berkeliling dari ujung ke ujung sampai gempor kaki waktu itu. Plus mencicipi kerak telor juga ya kalau nggak salah.. Masih teringat betapa wownya keriwehan waktu itu. Bergonta-ganti moda transportasi, antara bajaj dan transjakarta. Berpacu dengan jam tiket kereta, memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, menjelajah apa yang bisa dijelajah di sekitar stasiun.. (ah, jadi merindukan masa-masa itu).
 
Kini, setelah menjadi warga ibu kota, saya malah jaraaang sekali menyambangi Kota Tua. Ya begitulah. Segala sesuatu yang dekat kadang malah tak menjadi prioritas untuk didatangi. Segala yang jauh terasa begitu indah untuk dikunjungi. Sebetulnya ada beberapa hal yang membuat malas ke Kota Tua. Salah satunya adalah karena kesemrawutan jalannya. Tiap akhir pekan rasanya warga tumplek blek menikmati segala hiburan di sana. Kesan elegan Kota Tua lenyap, berganti keramaian khas pasar malam. Ketika butuh suasana rileks, Kota Tua otomatis tercoret dari daftar tempat yang ingin disambangi.

Sebulanan yang lalu, Dishub DKI meresmikan Kota Tua sebagai kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone (LEZ), yang berlaku di Jalan Pintu Besar Utara-Jalan Kali Besar sisi selatan-Jalan Kunir sisi selatan-Jalan Kemukus-Jalan Ketumbar-Jalan Lada. Kebijakan itu diterapkan 24 jam. Dengan adanya LEZ, kawasan pejalan kaki pun diperluas. Nantinya direncanakan hanya TransJakarta, sepeda dan pejalan kaki yang boleh melintas. Jujur, saya seneeeng banget mendengarnya. Saya berharap, ke depannya, Kota Tua menjadi tertib, bersih dan tingkat polusi minimal. Sehingga pengunjungnya merasa nyaman.
 
Dan, bangunan-bangunan lama warisan sejarah pun dapat terjaga keindahannya...

di Jalan Pintu Besar Utara-Jalan Kalibesar sisi selatan-Jalan Kunir sisi selatan-Jalan Kemukus-Jalan Ketumbar-Jalan Lada.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kebijakan Kawasan Rendah Emisi di Kota Tua Berlaku Mulai 8 Februari 2021", Klik untuk baca: https://megapolitan.kompas.com/read/2021/02/04/19151511/kebijakan-kawasan-rendah-emisi-di-kota-tua-berlaku-mulai-8-februari-2021.
Penulis : Rosiana Haryanti
Editor : Irfan Maullana

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Kali Krukut di kawasan Kali Besar yang telah direvitalisasi pada tahun 2018, terlihat bersih dan cantik dengan aneka tamanam hias di sepanjang pinggirannya . Mungkinkah Kali Ciliwung akan direvitalisasi juga? Mari berkhayal sejenak...


Trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki dan ramah disabilitas. Dilengkapi juga dengan parkir sepeda



Toko Merah dibangun pada tahun 1730, berganti-ganti fungsi dari kediaman gubernur, asrama akademi angkatan laut, toko dan perkantoran. Saat ini telah direstorasi menjadi gedung serbaguna, untuk konferensi atau pameran 



De Javasche Bank yang dibangun pada tahun 1828, yang kemudian berubah menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953. Lalu menjadi Museum Bank Indonesia pada tahun 2009 (foto tampak belakang) 



'Main Field'-nya Kota Tua yang dikelilingi oleh banyak bangunan bersejarah, seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Cafe Batavia, Gedung Arsip Nasional dan lain-lainnya




Area luar Kota Tua yang banyak didominasi oleh restoran dan toko souvenir



Stasiun Jakarta Kota yang dibangun tahun 1887 ini dulunya bernama Batavia Zuid. Saat ini ditetapkan sebagai cagar budaya


Menurut saya, bangunan-bangunan lama yang masih dibiarkan seperti bentuk aslinya itu sangatlah anggun. Tetap terlihat megah dan berkelas di antara bangunan-bangunan modern. 
 
Dan juga, sebagai media pengingat, bahwa sebelum ada kita, telah ada banyak peradaban yang bergulir silih berganti. Ada masa lalu, masa kini dan masa nanti...





Related Articles

No comments:

Post a Comment