Wednesday, 29 June 2022

Review The Book of Ikigai

Ikigai, Filosofi Jepang untuk Hidup Lebih Bahagia

Suatu hari, saya melihat tayangan NHK berjudul “Lessons from Granny Mochi”. Berkisah tentang seorang nenek berusia 95 tahun yang masih terlihat sehat dan bugar. Hampir setiap hari, ia bersepeda ke hutan untuk mencari daun bambu. Ia memetik dengan teliti, mencuci dan membilas tiap helai daunnya dengan saksama. Ia juga memelihara kebun, menanam kacang merah, mengolah mochi dan mengemasnya sendiri. Mochinya yang dititipkan ke supermarket-supermarket sangat laris dan digemari banyak orang. Karena pertimbangan usia, anaknya memintanya berhenti melakukan segala kegiatan itu, tapi ia bergeming dan bertekad akan melakukannya sepanjang usianya. Ia tidak bisa berhenti melakukan apa yang telah ia rintis dan tekuni puluhan tahun. Setiap detail aktivitasnya begitu ia nikmati dengan gembira.

 

Ada rasa haru, bangga dan kagum ketika melihat tayangan itu. Rasa yang sama ketika saya membaca kisah-kisah dalam buku The Book of Ikigai karya Ken Mogi yang sudah cetak ulang berkali-kali di Indonesia ini.

Sebut saja, Jiro Ono, 91 tahun, pemilik restoran sushi yang selalu mencari bahan-bahan terbaik untuk sushinya. Saat orang lain masih tidur, ia sudah tiba di pasar untuk mendapatkan ikan terbaik. Sepanjang hidupnya didedikasikan untuk membuat sushi terbaik dan terlezat.

Begitu juga dengan Hiroki Fujita, pedagang tuna di pasar ikan Tsukiji. Ia terbiasa bangun pukul 02.00 dini hari dan bersiap-siap berangkat kerja. Sudah menjadi kebiasaannya tiba di lapak pasarnya ketika hari masih gelap. Alasannya, untuk memilih dan mendapatkan ikan tuna terbaik seawal mungkin yang bisa ia berikan pada para pelanggannya.

Bangsa Jepang dikenal memiliki etos kerja yang tinggi. Mereka berkomitmen menghargai akar budaya dan secara konsisten melestarikannya. Nilai-nilai yang menjadi filosofi hidup diajarkan turun-temurun. Meskipun Jepang adalah salah satu negara maju dengan banyak inovasi, nilai-nilai tradisionalnya masih terjaga dengan baik.

Salah satu nilai yang masih dipegang teguh adalah Ikigai. Secara harfiah, Ikigai berasal dari kata “Iki” yang berarti hidup dan “gai” yang berarti alasan. Dalam bahasa Jepang, Ikigai digunakan pada berbagai konteks, dan dapat diterapkan pada hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, selain target-target dan prestasi-prestasi besar. Ikigai digunakan dalam konsep demokratis, disisipkan dalam perayaan akan keberagaman hidup. Ikigai memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup yang lebih bersemangat.

Prinsip Ikigai terdiri dari empat inti nilai, sebagai berikut:

1. What you love? (Apa yang kamu sukai?)

2. What you are good at? (Apa yang bisa kamu lakukan dengan baik?)

3. What the world needs? (Apa yang dunia butuhkan darimu?)

4. What you can be paid for? (Apakah kemampuanmu layak mendapat bayaran?)

 

Diagram Ikigai
Diagram Ikigai. Source: www.japan.go.jp

Keempat prinsip tersebut berhubungan erat dengan nilai-nilai paling sentimental dan hal-hal kecil yang memberi kesenangan pada diri seseorang. Singkatnya, bukankah hidup akan lebih menyenangkan jika kita bisa memberikan manfaat pada dunia dengan sesuatu yang tentu saja kita senangi?

Ikigai ditopang oleh lima pilar penting, yaitu:

Pilar 1: Awali dengan hal yang Kecil

Pilar 2: Bebaskan dirimu

Pilar 3: Keselarasan dan kesinambungan

Pilar 4: Kegembiraan dari hal-hal kecil

Pilar 5: Hadir di tempat dan waktu sekarang

Pilar-pilar ini tidak saling berdiri sendiri atau sempurna, dan tidak memiliki urutan khusus atau hierarki. Mereka saling menegakkan dan memungkinkan Ikigai berkembang.

Contoh konkrit yang menggambarkan lima pilar Ikigai yang saling menopang ini adalah tradisi upacara minum teh di Jepang.

Dalam upacara minum teh, sang master secara hati-hati mempersiapkan ornamen-ornamen di ruangan, memberi perhatian terbesar pada detail-detail seperti jenis bunga untuk dijadikan dekorasi di dinding (mulai dengan hal kecil). Semangat kerendahan hati adalah ciri khas sang master pada tamunya, walaupun mereka memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam upacara (membebaskan diri). Kebanyakan peralatan yang digunakan dalam upacara minum teh ini berusia puluhan tahum, bahkan ratusan tahun, dan dipilih supaya mereka saling melengkapi untuk meninggalkan kesan yang tak terlupakan (keselarasan dan kesinambungan). Meski persiapan yang begitu teliti, target terpenting dari sebuah upacara minum teh adalah untuk merasa rileks, untuk mengambil kesenangan dari detail-detail kecil indrawi di dalam ruang teh (kesenangan hari hal-hal kecil), dan untuk berada dalam kondisi kesadaran ketika kita meresapi inti semesta dari ruang teh itu ke dalam pikiran kita (menghadirkan diri di tempat dan waktu sekarang).

Selain tradisi upacara minum teh, Ikigai juga bisa ditemukan pada festival Hanami, ketika orang Jepang menikmati mekarnya bunga Sakura dalam tiap musim semi. Hanami begitu dinikmati, karena Jepang sangat berkomitmen (kodawari) dalam memandang hal-hal yang sementara sebagai sesuatu yang serius.

Aktivitas lainnya yang menggambarkan Ikigai adalah pembangunan ulang kuil Ise setiap dua puluh tahun sekali dengan kayu tertentu yang sudah ditentukan ukuran, fungsi, jenis dan usia pohonnya. Pembangunan itu melibatkan rancangan, teknik dan pengalaman dari generasi ke generasi berikutnya. Kabuki, Sumo, Comicet, Manga, dan kerajinan tangan Jepang dengan segala detail suka dukanya, juga merupakan implementasi Ikigai yang terus berkesinambungan sampai sekarang.

 

Dengan memahami dan menerapkan konsep Ikigai, berharap kita lebih menghargai hidup dan hal-hal yang terjadi di dalamnya. Bahwa kita bisa mengatasi masalah-masalah dalam hidup, mencoba hal-hal baru dengan langkah-langkah kecil, melihat hubungan penting antar keselarasan dan kesinambungan, bersikap lebih toleran terhadap orang lain dan sanggup menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil.

Dari semua hal itu, rahasia terbesar Ikigai adalah menerima diri, apa pun ciri-ciri unik yang mungkin kita miliki sejak lahir. Tidak ada cara optimum untuk mendapatkan Ikigai, setiap diri harus mencari di tengah rimba individualitasnya yang unik.

Saatnya kamu juga membaca buku ini, dan temukan Ikigaimu sendiri!

 

Judul Buku          : The Book of Ikigai

Penulis                : Ken Mogi, Ph.D.

Penerbit              : Noura

ISBN                   : 978-602-385-415-8

Terbit                  : April 2022 (Cetakan ke-8)

 

Baca juga: Belajar dari Jepang

 

 

Related Articles

No comments:

Post a Comment