Review Mi Instan: Mitos, Fakta, dan Potensi

Review Mi Instan: Mitos, Fakta, dan Potensi

Kupas Tuntas Mi Instan

Siapa yang suka makan mi instan? Hmm, sepertinya hampir semua orang menyukainya. Mi instan begitu enak, praktis dan murah. Mi instan laksana ‘penyelamat’ kelaparan dalam segala suasana. Meskipun beberapa orang berkomitmen mengurangi konsumsinya, tetap saja godaan untuk makan mi instan begitu kuat merobohkan pertahanan, hehehe (sambil nunjuk muka sendiri). Apalagi jika godaan itu berasal dari dapur sebelah, beuuh, aroma mi instan buatan tetangga memang selalu lebih ‘nendang’. Apalagi jika hujan deras udara dingin, nikmatnya makan mi instan kuah pedas serasa tak ada tandingannya.

Namun, benarkah mi instan tak boleh dikonsumsi terlalu sering? Temukan jawaban lengkapnya dalam buku yang ditulis oleh seorang pemerhati pangan dan gizi ini, yang sekaligus bertindak sebagai penyusun peraturan perundangan pangan di Indonesia. Penulis juga pernah memimpin Codex Alimentarius Comission (CAC), sebuah lembaga standarisasi internasional mi instan. Jadi kiprahnya di dunia pangan tak perlu diragukan lagi.

Buku ini disajikan dalam bentuk tanya jawab, jadi to the point, langsung pada pokoknya. Mulai dari sejarah mi, produksi mi, konsumsi mi instan, nilai gizi, MSG, styrofoam, akrilamida, sampai kaitannya dengan risiko kesehatan.

Sejarah Mi Instan

Mi pertama kali dibuat dan dikembangkan di Tiongkok. Tak hanya lezat, mi juga memiliki arti simbolis, bentuknya yang panjang dan tak terputus-putus menganalogikan kehidupan yang awet. Mi kemudian diperkenalkan Marcopolo pada bangsawan Italia, lalu menyebar ke Perancis dan seluruh Eropa.

Banyak sekali variasi mi, tiap negara punya khasnya masing-masing. Italia khas dengan spaghettinya. Di Indonesia dikenal mi kuning/mi telor (terbuat dari terigu, air, dan telur), bihun (dari tepung beras), soon (dari pati kacang hijau). Di Korea ada naengmyon (dari terigu dan pati kentang) dan tangmyon (dari tepung ubi). Di Vietnam ada ban pho (dari tepung beras dan air), bun (sejenis bihun), dan sen yai (serupa kwetiau, tapi ukurannya lebih kecil). Di Jepang terkenal dengan udon, soba, dan ramen (beberapa terbuat dari gandum jenis buckwheat).

Mi instan, yang awalnya disebut instan ramen, ditemukan oleh Momofuku Ando pada tahun 1958. Kala itu di Jepang terjadi kekurangan pangan akibat Perang Dunia II. Ando berpikir tentang makanan yang mengenyangkan dan memiliki daya simpan lama. Mi instan awalnya adalah mi segar yang diproses lagi menjadi mi basah yang kadar airnya terus dikurangi hingga kering.


Review Mi Instan: Mitos, Fakta, dan Potensi
The Momofuku Ando Instant Ramen Museum. Sumber: https://www.cupnoodles-museum.jp/en/

Menurut World Instant Noodles Association, ada lima prinsip pengembangan mi instan:

1. Enak dan bergizi

2. Praktis

3. Aman dan higienis

4. Memiliki daya simpan lama

5. Harga terjangkau oleh masyarakat

Mi instan yang diproduksi di Indonesia sudah mengikuti lima prinsip tersebut, dan harus dinyatakan halal oleh LPPOM MUI.

Produksi Mi Instan

Mi mentah yang telah dibuat kemudian dimasukkan ke dalam konveyor khusus pembuat mi keriting, yang melakukan gerak bergelombang dengan kecepatan berbeda. Mi yang dihasilkan diangkut oleh konveyor secara perlahan melalui terowongan (tunel) yang penuh dengan uap panas selama 80-90 detik. Setelah keluar, mi baru setengah matang. Mi lalu dikeringkan dengan kipas penguapan, kemudian dipotong dengan mesin sepanjang 12 cm. Mi lalu masuk proses penggorengan dalam minyak nabati panas dengan suhu bertahap dari 140 – 160 °C (deep frying). Proses pemanasan dalam minyak mampu menguapkan kadar air dan mengakibatkan mi berstruktur keropos.

Mi Instan dan Nilai Gizi

Tidak ada satu pun makanan di dunia yang secara tunggal mampu memenuhi seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Hanya ASI yang mampu melakukannya untuk bayi di bawah enam bulan.

Ditinjau dari kalori, mi instan memiliki sekitar 460 kkal/100 gr. Sebungkus mi instan memiliki berat 60 gr, jadi kalorinya 276 kkal. Kebutuhan kalori untuk orang dewasa dengan berat 55 kg adalah sekitar 2.000 kalori. Jadi sekitar 1/10 kalori per hari. Menurut penulis buku ini, mengonsumsi empat bungkus mi instan per minggu masih dianggap aman dan tidak membahayakan kesehatan. (Yang suka mengonsumsi mi instan tepuk tangan).

Kalau menurut salah satu jurnal yang mengkritisi penghitungan kalori yang pernah saya baca, sebenarnya hitung-menghitung kalori ini kadang bisa ‘menyesatkan’. Menurut jurnal tersebut, kalori yang masuk dengan jumlah yang sama pada orang yang berbeda, besarnya kalori yang dikeluarkan bisa jadi berbeda, tergantung dari berat badan, asupan gizi lainnya, gaya hidup, dan sebagainya. Jadi penghitungan kalori ini tidaklah mutlak.


Review Mi Instan: Mitos, Fakta, dan Potensi


Memang, mengonsumsi suatu makanan dengan takaran berlebihan tidak dianjurkan. Untuk konsumsi mi instan juga begitu, tergantung kebutuhan dan tujuan, tentu masing-masing orang akan berbeda. Jika dirasa mi instan kurang nilai gizinya, kita dapat menambahkan kandungan gizinya dengan telur dan sayuran. Mi instan paling tepat dikonsumsi sebagai pengganti nasi, jadi masih diperlukan bahan makanan lain dalam menu sehari-hari. Untuk mencapai nilai gizi dan menu seimbang, makanan yang dikonsumsi harus beraneka ragam.

Jadi, berapa jumlah minimal mi instan yang kamu konsumsi dalam periode tertentu? 

Untuk penjelasan lainnya tentang kaitan mi instan dengan MSG, pembungkusnya yang dari bahan styrofoam, dan risiko kesehatan lainnya, silakan untuk membaca buku ini. Tentu akan lebih berimbang jika kita menambah referensi bacaan lainnya yang terkait.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi konsumen dan pelaku usaha khususnya di bidang per-mi-an, untuk lebih aware mengenai kualitas produk.


Judul Buku : Mi Instan: Mitos, Fakta, dan Potensi

Penulis         : F.G. Winarno

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama (2016)

ISBN         : 978-602-03-3398-4




You Might Also Like

No comments