Museum Perumusan Naskah Proklamasi


Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jl. Imam Bonjol No. 1 Menteng Jakarta Pusat

 

Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 Menteng Jakarta Pusat. Bangunan ini memiiki sejarah panjang terkait pemanfaatannya.

Gedung Munasprok dibangun pada tahun 1920-an dengan bergaya arsitektur Eropa. Pada tahun 1931, gedung ini dikelola oleh PT Asuransi Jiwasraya. Ketika Perang Pasifik, gedung ini digunakan oleh British Consul General. Ketika pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat.

Setelah kemerdekaan Indonesia, rumah ini tetap menjadi kediaman Tadashi Maeda sampai Jepang menyerah pada Perang Dunia II. Kemudian gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Setelah masa perang berakhir, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris sampai 1981.

Pada 28 Desember 1981, gedung ini diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan pada tahun 1982 digunakan sebagai perkantoran Perpustakaan Nasional (sebelum kemudian dibangun Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba Raya).

Pada 26 Maret 1987, pengelolaan gedung diserahkan kepada Direktorat Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang kemudian ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.


Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Ruang penandatanganan naskah proklamasi


Gedung Munasprok terdiri dari 2 lantai, dan dibagi ke dalam 4 ruang. Ruang pertama adalah ruang tamu yang digunakan sebagai kantor oleh Tadashi Maeda. Ruang kedua merupakan ruang rapat yang berisi meja yang digunakan Soekarno membuat konsep pertama naskah proklamasi yang ditulis tangan. Ruang ketiga adalah ruang penandatanganan naskah proklamasi, yakni ruangan yang terdapat sebuah piano di bawah tangga. Ruang keempat adalah ruang pameran benda-benda dan kepustakaan yang berkaitan dengan proklamasi.

Barang-barang seperti furnitur atau mebel yang ada di dalam gedung Munasprok sekarang adalah replika, karena pada tahun 1945, isi rumah tersebut banyak yang dijarah termasuk bukti sejarahnya. Namun, letak barang-barang tersebut tetap dipertahankan.


Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Replika naskah proklamasi tulisan tangan Bung Karno


Kilas Balik Perumusan dan Pembacaan Naskah Proklamasi

Pada tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subardjo diterima oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda di kediamannya sekitar pukul 22.00 WIB. Sepulang dari Rengasdengkok, mereka menjelaskan kepada Maeda tentang akan diadakannya pertemuan untuk persiapan menjelang kemerdekaan Indonesia.

Maeda memberitahukan pesan “Gunsaken” (Pemerintah Militer Jepang), kemudian mengantarkan bertemu dengan Jenderal Nishimura, yang menjelaskan bahwa pihak Jepang tidak dapat membantu. Pihak Jepang telah membuat kesepakatan dengan Sekutu untuk mempertahankan Status Quo di Indonesia.

Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Subardjo kembali ke rumah Maeda pukul 02.30 WIB. Mereka menjelaskan kepada Maeda akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sekarang juga. Maeda tidak campur tangan dan mengudurkan diri ke kamarnya di lantai atas.

Menjelang dini hari jam 03.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Subardjo duduk mengitari meja makan dan mempersiapkan konsep naskah proklamasi.


Proklamasi Kemerdekaan RI
Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI di Jl, Pegangsaan Timur No. 56

Setelah teks diberi judul “Proklamasi” dialog pertama yang dihasilkan dari kesepakatan tiga tokoh Nasional itu adalah “Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Kemudian kalimat kedua ditambah oleh Bung Hatta, berupa pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan. Konsep naskah proklamasi selesai dengan beberapa coretan sebagai tanda pertukaran pendapat dalam merumuskannya. Sesudah itu, naskah dibawa ke serambi muka untuk dibacakan di hadapan para tokoh yang telah menunggu.

Awalnya terjadi perdebatan tentang siapa yang menandatangi naskah proklamasi. Soekarni maju dengan suara lantang, “Bukan kita semua yang hadir di sini, harus menandatangani naskah, cukup dua orang saja menandatanginya atas nama rakyat Indonesia, yaitu Soekarno Hatta.” Usul itu diterima semua hadirin.

Setelah disetujui, naskah diketik di ruang bawah dekat dapur oleh Sayuti Melik, dengan ditemani oleh B.M. Diah. Sayuti Melik melakukan perubahan tiga kata, yaitu kata “tempoh” menjadi “tempo”, kata “wakil-wakil Bangsa Indonesia” menjadi “Atas Nama Bangsa Indonesia”, serta penulisan hari, bulan, dan tahun.

Selesai diketik, naskah proklamasi ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano di ruangan bawah tangga.


Proklamasi Kemerdekaan RI
Pengibaran Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya

 

Naskah Poklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kemudian dibacakan Bung Karno dengan didampingi Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 WIB di kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (sekarang menjadi Tugu Proklamasi).

Peristiwa bersejarah itu terselenggara dengan sederhana tetapi penuh khidmat, dan berlangsung selama sekitar satu jam. Namun, peristiwa itu membawa perubahan luar biasa dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan titik awal Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Pada masa awal kemerdekaan, Bangsa Indonesia berjuang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan menata bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya.


Negara Kesatuan Republik Indonesia
Pembagian wilayah NKRI awal dalam 8 Provinsi

 

Kini, 78 tahun sudah Indonesia merdeka. Mungkin kita sudah terbebas dari penjajahan kolonial, tetapi ada penjajahan-penjajahan lain dalam dunia modern yang perlu kita waspadai dan sikapi dengan bijak, seperti penjajahan ideologi, ekonomi, sosial budaya, serta ilmu pegetahuan dan teknologi.

Sebagai generasi penerus, sudah selayaknya kita meng-upgrade diri dengan terus belajar dan berbenah, untuk Indonesia yang lebih dan lebih baik lagi.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Terus melaju untuk Indonesia maju.



You Might Also Like

No comments