Review Film-Film Majid Majidi


Review Film-Film Majid Majidi

Jika kamu menonton film untuk hiburan, maka film-film karya sutradara Majid Majidi ini bukan untukmu. Namun jika kamu mau melihat dunia dari sisi yang berbeda dengan ujung perenungan yang dalam, maka film-film ini cocok untukmu. Jangan berharap akhir cerita yang bahagia, hampir seluruh film memiliki akhir menggantung, untuk kita persepsikan sendiri mengenai berbagai nilai dan makna yang disampaikan. Rata-rata film Majid Majidi mengisahkan tokoh anak-anak yang termarjinalkan. Latar kearifan lokal sangat kental digambarkan, sesuatu yang tidak bisa ditandingi oleh film-film Hollywood. Review singkat ini akan saya sampaikan sesuai urutan tahun rilis.

1. The Father (1996)

Review Film The Father (Pedar)


Menceritakan tentang Mehrollah, anak laki-laki yatim yang bekerja di kota untuk menghidupi keluarganya. Ketika sedang libur dan mengunjungi keluarganya, ia diberitahu temannya bahwa ibunya telah menikah kembali dengan seorang polisi dan pindah rumah beserta tiga adik perempuannya. Mehrollah tidak bisa menerima situasi itu. Ia marah dan diliputi kebencian, kemudian menculik adik bungsunya. Ibunya mencoba mendamaikan terutama ketika Mehrollah jatuh sakit. Namun, Mehrollah malah mencuri pistol ayah tirinya dan kabur ke kota. Ayah tirinya emosi lalu menyusul ke kota, dan berniat membawa pulang Mehrollah bagaimana pun caranya. Nahas, dalam perjalanan pulang, motor yang mereka naiki rusak dan terjebak di padang pasir. Dalam cuaca yang ekstrim, mereka terus berdebat dan bermusuhan. Namun, siapa sangka alam yang ganas mulai membuka mediasi antara keduanya. Apakah mereka berdua berdamai dan kembali pulang?

2. Children of Heaven (1997)

Review Film Children of Heaven

Ini adalah salah satu film favorit saya. Bercerita tentang Ali, anak laki-laki sembilan tahun yang mengambilkan sepatu milik Zahra, adik perempuannya, di tukang sol sepatu setelah diperbaiki. Ketika mampir membeli kentang di pasar, Ali meletakkan bungkusan sepatu tersebut sembarangan. Tanpa sadar, seorang petugas kebersihan mengambil sepatu dalam bungkusan plastik tersebut karena dikira sampah. Ali panik dan mencari ke seluruh penjuru pasar, tetapi gagal menemukannya. Keluarga Ali tinggal di lingkungan miskin dan mengalami kesulitan keuangan. Ia membuat kesepakatan dengan Zahra untuk bergantian menggunakan sepatu Ali ketika sekolah, Zahra memakai pada pagi hari, lalu Ali pada siang hari, dengan risiko dan tantangan yang harus mereka tanggung dan sembunyikan. Mereka harus berlari cepat untuk bertukar sepatu tersebut pada persimpangan jalan masing-masing sekolah yang telah disepakati. Suatu hari, Zahra mengenali sepatunya dipakai oleh teman sekelasnya. Bersama Ali, Zahra mengikuti teman sekelasnya tersebut sampai ke rumahnya dan mendapati bahwa mereka lebih miskin dari keluarga Ali. Pada titik ini, Ali dan Zahra berpikir tentang empati, simpati, dan keikhlasan. Bertukar sepatu setiap hari dengan berlari kencang bukan hal yang mudah. Zahra harus memakai sepatu yang kebesaran, sementara Ali sering terlambat masuk sekolah. Ali bertekad harus mendapatkan sepatu baru untuk Zahra. Salah satu usahanya adalah mengikuti kompetisi lari, yang salah satu hadiahnya adalah sepatu. Dapatkah Ali memenangkan kompetisi lari dan membawa pulang sepatu untuk Zahra?

3. The Color of Paradise (1999)

Review Film The Color of Paradise

Berkisah tentang Mohammad, seorang anak laki-laki buta yang bersekolah di sekolah khusus anak buta di Tehran. Hashem, ayahnya dengan berat hati membawanya pulang untuk liburan musim panas. Sejujurnya, sang ayah merasa malu dan terbebani atas kebutaan Mohammad. Di kampungnya di sebuah lereng pegunungan, Mohammad adalah kebahagiaan bagi dua saudara perempuan dan neneknya. Kemampuan membaca braile melampaui anak-anak normal lainnya di sekolah pedesaan. Keinginan Hashem untuk menikah lagi, memaksanya menitipkan Mohammad pada tukang kayu yang juga buta, dengan dalih Mohammad perlu belajar mandiri untuk masa depannya. Mohammad sedih bukan kepalang ketika mendapati bahwa ayahnya sebenarnya mengusirnya. Ia kerap melamun dalam sunyi, mempertanyakan mengapa Tuhan membuatnya buta. Nenek sangat sedih ketika harus berpisah dengan cucu laki-lakinya, sampai menanggung sakit dan meninggal, yang berakibat rencana menikah Hashem gagal. Ketika Hashem memutuskan untuk membawa kembali Mohammad, mereka terpeleset dari jembatan dan terseret arus sungai dalam hutan. Apakah mereka berdua selamat?

4. Baran (2001)

Review Film Baran

Berlatar musim dingin di Tehran, film ini menceritakan tentang Lateef, remaja laki-laki yang bekerja di konstruksi bangunan sebagai pembuat teh dan menyiapkan makanan bagi pekerja. Beberapa pekerja adalah pengungsi dari Afghanistan, tidak memiliki kartu identitas dan dipekerjakan secara ilegal. Salah satunya pekerja tersebut adalah Najaf, yang suatu hari terjatuh, kakinya patah dan harus dirawat di rumah sakit. Esoknya, ia digantikan oleh putranya, Rahmat, yang masih berusia 14 tahun. Tetapi karena masih terlalu muda dan membuat kesalahan, maka tugas Rahmat ditukar dengan Lateef. Lateef tidak terima, lalu mengancam dan terus mengganggu Rahmat. Perilakunya mulai melunak dan protektif ketika mendapati bahwa sebenarnya Rahmat adalah seorang anak perempuan. Ia pun jatuh hati dan mulai diam-diam membantu Baran, nama asli Rahmat, termasuk ketika keluarga Baran kesulitan keuangan. Ketika Baran dan keluarganya harus kembali ke Afghanistan, apakah tradisi dua negara yang berbeda memberi kesempatan untuk sekadar menyapa dan mengucapkan selamat tinggal atau sampai berjumpa kembali?

5. The Willow Tree (2005)

Review Film The Willow Tree

Ini merupakah film yang paling filosofis di antara film Majid Majidi lainnya. Dan karena minim dialog, setiap adegan harus diperhatikan detilnya untuk menangkap maknanya. Tentang perbedaan persepsi keindahan dan ketenangan di dunia nyata yang terlihat dan dunia orang buta yang gelap. Ketika kondisinya buta, Youseef merasa tidak ada keburukan, segalanya terlindungi. Bahkan bisa dibilang, hidupnya nyaris sempurna. Ketika keajaiban melihat didapatnya, segalanya mulai berubah. Dunia visual yang ditemuinya terlalu menarik dan sulit dipahami. Perlahan-lahan dunia warna-warni menjauhkannya dari dialog dengan Tuhan. Ketika seseorang tak lagi bisa mendengarkan suara batinnya yang berisi pesan positif, ketika itu ia menjadi egois dan perlahan menghancurkan. Rasa syukur atas surga kecil masa lalunya pun semakin memudar. Film ini serasa menampar, bahwa berserah diri pada Tuhan itu tidak mudah prosesnya. Dari transformasi fisik dan emosional, spiritual adalah bagian yang paling sulit. Saya baru tahu belakangan kalau ternyata film ini terinspirasi oleh Mathnawi, salah satu karya filsuf Rumi. Ah ya pantas saja begitu filosofis. Lalu saya bertanya retoris ke diri sendiri, “Memangnya kamu pernah selesai membaca buku Rumi?”

6. The Song of Sparrows (2008)


Review Film The Song of Sparrows

Bercerita tentang Karim, yang bekerja di peternakan burung unta di luar kota Tehran. Suatu hari ada burung unta yang lepas, akibatnya Karim dipecat. Padahal ia sedang membutuhkan banyak uang untuk membeli alat bantu dengar buat putrinya, Haniyeh. Ia pergi ke kota, secara tak sengaja ada yang membonceng motornya dan memberi tip. Lalu ia mulai mencoba menjadi pengemudi ojek. Setiap hari ia menemukan banyak barang bekas yang dibawa pulang. Barang bekas menumpuk, Karim mulai melupakan alat bantu dengar, dan mulai berubah menjadi rakus. Ia mengalami patah tulang ketika tertimpa tumpukan barang bekas yang ia kumpulkan. Dari situ, ia mulai kontemplasi mengenai keluarga kecilnya, yang meski hidup sederhana tetapi bahagia. Anak lelaki yang mencoba membantu memelihara ikan juga menyadarkannya. Momen ketika putranya kehilangan ikan yang telah dirawat sepenuh hati, harus rela dilepaskan ke sungai, makin membuatnya sadar bahwa sifat rakus tak seharusnya dipelihara. Lalu, bagaimana dengan alat bantu dengar yang menjadi isu awal film?


7. Muhammad: The Messenger of God (2015)

Review Film Muhammad : The Messenger of God



Film ini menceritakan tentang era pra-Islam di Mekkah dan kisah masa kecil Nabi Muhammad. Pada pembukaan film ditegaskan bahwa isi film mencakup fakta sejarah dan kesan pribadi bebas sutradara atas Nabi Muhammad. Meskipun film ini menuai banyak protes dan boikot, usaha Majid Majidi patut diapresiasi karena tujuan awalnya membuat film ini adalah untuk menangkis islamophobia di negara-negara Barat, terutama ketika kasus penggambaran kartun Nabi Muhammad di Swedia menjadi tajuk berita utama dan mencoreng dunia Muslim. Film ini menggambarkan kepribadian Nabi Muhammad sebagai manusia mulia yang penuh kasih. Majid Majidi juga menegaskan sebelum pembuatan film ini telah berkonsultasi dengan ulama baik sunni maupun syiah untuk dengar pendapat dan penyamaan persepsi. Pun, sosok Muhammad tidak ditampilkan pada bagian wajah. Dari dialog dan adegan yang ditampilkan, terlihat bahwa Majid Majidi sangat berhati-hati menggarap film ini. Sambil menonton film ini, saya mencocok-cocokkan dengan sirah nabi yang pernah saya baca. Lalu saya pun bertanya, seberapa jauh yang pernah saya pelajari tentang Nabi Muhammad?


8. Beyond the Clouds (2017)

Review Film Beyond the Clouds

Berlatar di India, film ini mengisahkan tentang kakak beradik sebatang kara. Mereka kerap berselisih pendapat, dan hidup sesuai keinginan masing-masing. Aamir, remaja laki-laki pengedar narkoba. Suatu hari, Aamir digerebek polisi dan berhasil melarikan diri. Ia bersembunyi di sebuah binatu tempat kerja kakaknya, Taara, lewat bantuan rekan kerja kakaknya yang lebih tua bernama Akshi. Bagi Akshi, bantuan itu berarti hutang budi bagi Taara. Ketika Akshi bermaksud melecehkan dan menyerang, Taara membela diri dengan memukul kepala Akshi yang berakhir sekarat di rumah sakit. Taara akan menerima hukuman penjara seumur hidup, kecuali Akhsi pulih dan mengakui kejahatannya. Taara dan Aamiir menemukan harapan dalam situasi serba putus asa melalui relasi dengan anak-anak lainnya. Film ini fokus menyoroti dilema penjara perempuan, yang hak-haknya terabaikan, serta kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan. Pada akhirnya, apakah usaha Taara dan Aamiir cukup mampu untuk mengubah keadaan?


9. Sun Children (2020)

Review Film Sun Children

Film ini menceritakan tentang Ali, seorang anak laki-laki pra-remaja yang ibunya dirawat di rumah sakit jiwa. Ali memiliki tiga teman dekat: Reza, Mamad, dan Abolfazl (seorang pengungsi Afghanistan). Ali berasal dari keluarga miskin, sejak kecil sudah bekerja membantu keluarga. Ali dan ketiga temannya bekerja pada Heshem, bos para preman. Suatu hari, Hashem menawarkan pekerjaan misi khusus: mencari harta karun. Bayangan tentang harta karun membuat keempat sahabat itu semangat. Dalam pikiran polos mereka, harta karun yang didapatkan nantinya bisa digunakan untuk membeli hal-hal yang mereka mau. Letak harta karun ada di sebuah terowongan bawah tanah sebuah sekolah. Jadi mereka berempat harus mendaftar sebagai siswa di sekolah tersebut. Sepanjang perburuan harta karun itu, satu per satu dari berbagai masalah sosial terkuak, termasuk fenomena mempekerjakan anak di bawah umur. Ali mengalami rintangan-rintangan termasuk ditinggalkan oleh temannya satu per satu dengan alasan masing-masing. Keadaan terasa semakin sulit ketika segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri. Namum, mimpi dan harapan hidup yang lebih baik membawa Ali untuk terus menggali dan menggali harta karun sampai akhir, walaupun bosnya sudah ditangkap polisi. Ali tetap tidak menyerah dalam usahanya. Ia memelihara asa demi asa, tak peduli apa yang ada di ujungnya. Dapatkan Ali mendapatkan harta karun tersebut?

Seperti yang sudah saya sampaikan di awal tulisan, tidak ada akhir yang bahagia pada rata-rata film Majid Majidi. Jadi, apakah kamu masih berkeras untuk menontonnya?

You Might Also Like

No comments