Review Riding Freedom - Pam Muñoz Ryan

Baiklah, saya telah menemukan kembali buku Pam Muñoz Ryan. Jadi, Riding Freedom adalah buku ketiga yang saya baca setelah Esperanza Rising dan Becoming Naomi León. Lalu bagaimana ekspektasi saya? Ah, sepertinya saya akan mem-favorit-kan buku-buku Pam Muñoz Ryan.

Review Riding Freedom

Berbeda dari dua buku sebelumnya yang saya baca, tokoh dalam novel Riding Freedom ini terinspirasi oleh sosok nyata yang melegenda dari abad ke-18. Adalah Charley Darkey Parkhurst, yang sering disebut sebagai “Charley Bermata Satu” atau “Charley Berkuda Enam”. Ia merupakan salah satu pengemudi kereta pos Amerika terbaik pada masanya. Ia juga menjadi perempuan pertama yang memberikan suara pada pemilihan presiden di California.

Dalam novel diceritakan bahwa Charley terlahir sebagai Charlotte Darkey Parkhurst, tumbuh di sebuah panti asuhan khusus anak laki-laki di New Hampshire. Di bawah pengawasan Tuan Millsark yang diskriminatif dan Mrs. Boyle, pekerja dapur yang galak, membuat Charlotte tumbuh dengan berbagai macam pertanyaan. Ia berteman baik dengan Vern, seorang penjaga kandang kuda, serta Hay, anak laki-laki yang dua tahun lebih muda di panti asuhan itu.

Charlotte sudah mahir menunggang kuda sejak kecil. Ia juga rajin membantu Vern untuk membersihkan kandang dan memelihara kuda. Salah satu kuda yang membawanya menang dalam kompetisi berkuda bernama Freedom. Sejak menang dalam kompetisi berkuda itu, Charlotte menerima lebih banyak tekanan. Ketika satu per satu anak laki-laki di panti asuhan itu diadopsi, Charlotte semakin mempertanyaan eksistensinya. Apalagi sejak Hay berkata bahwa ia akan diadopsi, semakin membulatkan tekadnya untuk melarikan diri. Ia tidak bisa menerima jika harus tumbuh di panti dengan menerima perlakuan tidak adil. Maka ia membuat kesepakatan dengan Hay, untuk mereka tetap saling berkirim surat dan manjaga harapan agar kelak bisa memiliki properti pribadi. Vern yang pernah kabur pun memahami dan membantu pelarian Charlotte.

Review Riding Freedom

Charlotte berhasil melarikan diri pada usia 12 tahun ke Rhode Island dan menyamar sebagai anak laki-laki bernama Charley. Ia bertemu dengan Ebeneezer, pemilik kandang kuda dan mulai bekerja untuknya sebagai penjaga kandang kuda. Ebeneezer sebenarnya mulai mencurigai Charley karena pernah bertemu dengan Tuan Millshark yang sedang mencari anak perempuan panti asuhan yang kabur.  Tetapi alih-alih menghakimi, Abeneezer memberi kesempatan kepada Charley untuk belajar mengemudikan kereta kuda dan menganggapnya seperti anak sendiri. Charley tumbuh mendewasa menjadi pengemudi kereta pos yang terampil.

Ketika terjadi Demam Emas di California, James dan Frank, teman dekat Charley, mengajaknya pindah untuk mencari keberuntungan. Dengan harapan bisa memiliki properti pribadi, Charley menyetujui gagasan itu. Walaupun mengkhawatirkan identitas Charley, akhirnya Ebeneezer merelakan Charley pergi dengan bujukan bahwa Charley akan berusaha memiliki tanah sendiri sehingga nantinya Ebeneezer dapat menyusul ke California dan melanjutkan usahanya.

Tak lama sesudah sampai di California, Charley kehilangan penglihatan satu matanya karena ditendang kuda. Dokter yang mengoperasi Charley menjadi tahu mengenai penyamarannya, tetapi memahami keadaan dan merahasiakannya. Kehilangan penglihatan satu mata tidak membuat Charley menyerah. Ia tetap berlatih mengemudikan kereta kuda. Keterampilannya makin terlatih secara teknik dan intuisi. Charley menjadi pengemudi kereta pos terbaik. 

Review Riding Freedom
Salah satu ilustrasi novel Riding Freedom

Charley telah tertempa oleh harapan dan keadaan yang berat, yang menjadikannya tumbuh tahan banting dengan daya lenting yang menakjubkan. Ia berhasil membeli properti pribadi dan membawa Hay dan Ebeneezer berkunjung ke California.

Meskipun sebagian besar mimpinya telah teraih, masih ada mimpi yang lebih besar yang ingin ia perjuangkan, yang sedari kecil ia pertanyakan. Adalah tentang kesempatan bekerja dalam bidang yang lebih luas bagi perempuan dan hak memberikan suara dalam pemilihan umum. Meski dalam penyamaran, Charley berhasil membuktikan diri bahwa perempuan mampu bekerja dalam bidang yang setara dengan laki-laki. Ia juga tercatat memberikan hak suara dalam pemilihan presiden di California.

Lalu gagasan-gagasan mengenai kesetaraan perempuan mulai bertumbuh dan berkembang pada abad ke-19, termasuk kesetaraan pendidikan.

Review Riding Freedom

Ah, membaca Riding Freedom ini, saya merasa turut jungkir balik mengikuti perjalanan Charley meraih kebebasan dan memperjuangkan mimpi-mimpinya. 

Dan novel Riding Freedom tidak terlalu tebal, jadi keseruannya bisa dinikmati dalam sekali duduk. 

Jadi, setelah ini, apakah saya akan berburu buku-buku Pam Muñoz Ryan lagi? Sepertinya iya!


Judul Buku : Riding Freedom
Penulis : Pam Muñoz Ryan
Ilustrasi         : Brian Selznick
Penerbit         : Scholastic Inc.


You Might Also Like

No comments