Minggu, 31 Juli 2011

Kisah Sederhana


Kisah-kisah yang sederhana.. saat terakumulasi dan berlalu, 
akan menjadi sebentuk kenangan yang berharga, tak tergerus oleh zaman.

Ramadhan akan kembali menyapa. Entah kenapa, kesedihan itu selalu bergelayut, mengoyak kembali pertahanan hati yang selalu berusaha dikokohkan setegar karang. Beberapa Ramadhan menyisakan berbagai peristiwa yang berhasil menempaku menjadi pribadi yang harus bisa bertumpu pada kaki sendiri. Masih tergambar dengan jelas, slide demi slide itu.. yang mungkin takkan pernah kulupakan seumur hidupku. Saat harus melepasmu pergi. Ya.. baru saat itulah aku merasa kehilangan yang sebenar-benar kehilangan. Tak terhitung berapa kali air mata ini tercurah, sampai aku pernah berada pada tahap dimana aku tak bisa merasakan kesedihan lagi, tak bisa menangis lagi. Mungkin karena terlalu sering atau itulah puncak kesabaranku benar-benar diuji olehNya. Ya Allah, terima kasihku padaMu.. karena peristiwa itulah, aku menjadi dewasa, melihat segala sesuatu dengan nurani. Dan aku berharap, setiap ramadhan selanjutnyapun, akan memberiku makna dan hikmah dalam menapaki kehidupanku kemudian.
Hari pertama ramadhan saat itu, saat dimana seharusnya aku mulai mengukir mimpi-mimpi selepas menanggalkan seragam putih abu-abu, aku melihatmu semakin lemah. Rasanya hatiku miris harus melihatmu semenderita itu. Tapi tidak! Tidak ada kata menderita dalam hidupmu. Kau selalu terlihat tegar. Kau tak pernah menunjukkan kesedihanmu di hadapanku. Kau tak pernah memperdengarkan keluhanmu di depanku. Padahal, kau tahu.. aku ingin sekali mendengarmu mengeluh, sekedar berbagi rasa. Kau selalu membuatku iri, dengan segala kesederhanaan dan ketegaran yang yang kau miliki.
         Masih ingatkah engkau dengan masa kecilku? Siapa yang selalu membelaku saat ku temui ketidakadilan? Siapa yang rela mengantar dan menungguiku sampai jam sekolah taman kanak-kanak itu berakhir? Hmm, bodoh sekali ya aku harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tentu saja tidak ada yang lain, itu kau! Setiap saat aku selalu mengintip lewat jendela, takut kalau kau meninggalkanku sendiri. Sungguh, aku benar-benar tidak berani pulang sendiri. Ah, aku tahu kau harus bekerja.. makanya aku tidak protes ketika taman kanak-kanak itu harus ku cicipi hanya selama seminggu saja. Aku sangat manja ya waktu itu! Aku juga mengerti, kaulah yang mengajarkan kemandirian pada awal-awal kehidupanku.. saat kau memasukkan aku ke sekolah dasar yang paling dekat, agar aku bisa berjalan kaki sendiri melewati jalan setapak yang kau tunjukkan itu. Aku sangat mengerti.
Apakah kau juga masih ingat saat aku merengek-rengek ingin mengikutimu sampai ke sawah, lalu kau memboncengkan aku di sepeda bututmu?  Di sawah itu, banyak hal-hal baru kutemui. Aku melihat bagaimana cara orang menanam padi, menyiangi rumput, memberi pupuk sampai tiba saatnya masa panen. Saat itu aku memamerkan cincin emas yang kau belikan pada teman-temanmu. Aku puas saat melihat mereka terkagum-kagum dengan cahayanya yang berkilauan di bawah sinar mentari pagi. Aku melihat katak, ular dan binatang-binatang sawah lainnya berkejaran kesana-kemari di pematang sawah sampai ke sungai kecil di samping sawah. Dan kau tahu.. aku paling kapok saat kakiku digigit semut-semut merah saat bermain di gundukan tahan di pinggir sawahmu itu. Kakiku jadi bengkak, gatal dan kemerahan..
Tapi ternyata aku tidak benar-benar kapok, apalagi saat ku tahu kalau sawah tak lagi ditanami padi, tapi diselingi dengan tanaman lain agar tanah tetap subur. saat itu, kau menanam kacang hijau. Aku masih ingat bagaimana kau mengajarkan aku memasukkan biji-biji kacang hijau pada tanah yang sebelumnya sudah kau lubangi dengan tongkat-tongkat runcing. Aku memasukkannya dengan sangat hati-hati dan menutupnya dengan tanah rapat-rapat supaya tidak dicuri tikus sawah. Tapi, kau bilang justru itu akan membuat biji tidak tumbuh-tumbuh. Maka aku buka kembali gundukan-gundukan itu, aku perlakukan sebagaimana semestinya seperti katamu. Saat-saat menunggu kacang hijau itu tumbuh adalah saat-saat yang mendebarkan, karena aku merasa begitu ‘penting’ telah ikut menanamnya. Duh, betapa gembiranya saat panen itu tiba. Berkarung-karung kacang hijau berhasil dipanen. Setiap hari aku makan bubur kacang hijau, tapi kau tahu aku tak pernah bosan. Bahkan sampai sekarang.. aku masih menyukainya. Karena setiap makan bubur kacang hijau, hal pertama yang ku ingat adalah episode itu. sepertinya, itu akan menjadi makanan favoritku sepanjang masa.
Hmm, apakah kau juga masih ingat dengan gubuk kayu beratap daun kelapa kering yang kau buat untukku di belakang rumah? Itu adalah tempat favorit untuk belajar kelompok dan bermain apa saja dengan teman-temanku. Dan tanpa sepengetahuanmu, aku sering nakal.. aku suka terjun dari atasnya untuk mendarat di atas tumpukan jerami yang empuk! Tidak heran, rokku banyak yang robek karenanya..
Begitu banyak hal di masa lampau ingin kuuraikan semua, tapi sepertinya itu tidak akan cukup. Semua hal mengenaimu adalah tentang kesederhanaan. Diam-diam aku berharap, kelak, orang yang mendampingiku mengarungi bahtera kehidupan, aku inginkan yang sepertimu, jujur, sederhana dan bertanggung jawab! Kau pasti akan merestuinya kan? Meskipun, maaf.. kau tak akan pernah melihat saat-saat itu. Tapi aku yakin, kau selalu menginginkan yang terbaik bagiku, seperti yang pernah kau ungkapkan padaku di saat-saat terakhirmu. Kau bilang padaku bahwa aku harus bahagia. Ya, aku bahagia.. karena kau telah mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berharga padaku. Kau memberikanku contoh yang nyata untuk menjadi tegar dan mandiri. Setegar engkau saat itu.
Kau tak pernah mengeluh sedikitpun meski ragamu semakin rapuh. Beban yang seharusnya kau bagi itu kau rasakan sendiri. Kau selalu berkilah.. kau hanya menceritakan padaku tentang hikayat masa lalumu, ketika kau mulai dengan sepetak tanah yang kau usahakan sendiri. Kau begitu berbinar saat menceritakan itu, seolah ingin agar aku tidak terlalu memikirkan kondisimu. Tidakkah kau tahu bahwa aku tahu semua, lebih dari yang kau ceritakan. Maaf, kalau aku menyembunyikannya. Vonis untukmu itu terlalu menyakitkan untukku. Tapi, aku sudah mempersiapkannya, bahkan untuk kemungkinan terburuk sekalipun. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Karena aku sudah berjanji sejak saat pertama mendengarnya, aku akan turuti semua maumu, tak akan mengecewakanmu apalagi membantahmu seperti yang pernah kulakukan sebelumnya. Aku sangat menyesal untuk hal-hal diluar batas kesanggupanku. Sekali lagi, mohon maafkan aku.
Ramadhan yang kulalui selama tiga minggu di rumah sakit itu cukup membuka mataku tentang semua hal. Aku bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak. Dan kau tetap tidak mengeluh.. sampai pada saat kau benar-benar menginginkan untuk pulang. Aku tahu.. entah, aku seperti memiliki firasat yang kuat kalau kau memang benar-benar akan pulang yang sebenar-benar pulang. Dan.. semua itu memang sudah tergaris, takdir tidak bisa dielak. Tapi aku puas sudah berusaha memberi yang terbaik untukmu, menuntunmu melafalkan kalimat syahadat dan tahlil dan kau berhasil menirukannya. Semoga itu memudahkanmu menuju jalanNya..
Kau tahu, aku sangat terluka ketika harus berlebaran tanpamu. Sungguh sulit harus berdiri sendiri tanpamu. Empat puluh hari sesudah itu.. aku tidak bisa mengendalikan perasaan sedih, air mata ini seakan tidak pernah mau berhenti berlinang. Tapi, sekali lagi.. aku tak mau berlarut-larut, aku harus menjadi tegar dan kuat sepertimu. Aku harus membuatmu bangga dengan kemandirianku. Aku berharap, kau juga bahagia di sana.. tak merasakan sakit lagi. Kau tahu, aku telah mengabadikanmu dalam prasasti sejarahku. Itu adalah bukti hormatku padamu. Terima kasih untuk kasih sayang yang telah kau beri untukku, di sepanjang kehidupanku.
Ramadhan.. kau telah memberiku pelajaran hidup yang berharga. Aku ingin setiap ramadhan yang hadir akan selalu memberi berkah, makna dan hidayah.. pasti! Syahrul Mubarak.. Syahrul Maghfirah.. Syahrul Shaum wa Syahrul Qur’an.. Ramadhan Kariim.. ‘Alaina wa’alaikum.. Al’afu minkum....

--- Fath.. your daughter miss you so much.. ---


Read More

Sabtu, 23 Juli 2011

Persembahan Kupu-Kupu, Sebuah Metamorfosa



Lega.. itu yang terasa ketika akhirnya antologi ini terbit juga! Seharusnya ini menjadi antologi pertama, tapi ternyata proses penerbitan sebuah buku itu tidak semudah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Persembahan kupu-kupu ini adalah sebuah metamorfosa bagi saya. Naskah dalam buku ini adalah naskah-naskah pilihan dari sebuah lomba menulis yang diadakan oleh Akhi Dirman Al Amin, dan itu adalah lomba yang pertama kali saya ikuti di dunia maya. Sungguh, perasaan saya bahagia tiada terkira waktu itu, mengingat saya masih awam dengan dunia lomba tulis-menulis (kelak tiba sebuah masa dimana saya kapok mengikuti lomba-lomba lagi, hehe.. )
Berawal dari keisengan saya bikin coretan di pesbuk dan selalu saya kasih judul ‘flash fiction bla bla bla”. Nah, kebetulan ada salah satu teman saya yang setia mengikutinya. Sampai suatu hari ada lomba ini, dia yang kasih infonya (makasih ya Kikiku sayaaang). Jadi, saya iseng aja ngikutinnya. Ada hal konyol (menurut saya) pas mau ngirim naskah ini. Ketentuan lombanya kan naskah harus terdiri dari 300 kata (pas, ga kurang ga lebih!). waktu itu (sumpah), saya ga tau kalo ada fasilitas Tool, Word Count di Microsoft Word, hadeeeh.. udik banget deh! Dan apa yang saya lakukan sodara-sodara? Iya.. saya ngitung satu-satu.. per kata pake pensil! (haduuuh, malu.. nutupin muka!). Praktis, nulis sama ngitungnya lebih lamaan ngitungnya!
Dan.. selama proses penjurian juga terjadi hal-hal yang konyooool banget. Tiap hari di wall’nya sang juri tuh rameee banget (ramenya udah kayak pilihan lurah, tapi ini ngedukung naskahnya sendiri-sendiri, hehe..) Ada yang salah alamat imel, ada yang kirim naskah tapi ada passwordnya (yang ini bikin ketawa.. jelas jurinya males dan langsung masukin folder delete!), ada yang memohon-mohon supaya naskahnya diloloskan (termasuk saya) dengan iming-iming tertentu (tapi ini hanya sebagai bahan becandaan kok, buat ngilangin ketegangan saat nunggu pengumuman!) Gimana ga tegang coba, penjuriannya tuh dibagi dalam 3 tahap (karena ternyata pesertanya membludak sekitar 500an orang). Syukurlah, waktu itu lolos masuk di tahap pertama, jadi deg-degannya tidak diperpanjang. Trus yang lebih konyol lagi nih, pengumuman lombanya selalu jam 24:00 WIB (bisa aja nih jurinya bikin kita begadang mulu!). Ada lagi yang paling bikin senewen waktu itu, lagi tegang-tegangnya nunggu pengumuman, eh teryata harus diundur berkali-kali, salah satunya adalah karena sang juri sedang terjebak banjir, hehe.. (ya beginilah serunya lomba di pesbuk, tergantung sikon, hehe..). Dan ada satu hal lagi yang ga bisa saya lupain waktu itu, ada seorang penulis yang sudah punya nama gitu, tapi naskahnya tidak lolos. Ujung-ujungnya jadi berantem dengan jurinya. Ah, tapi sudahlah.. seiring berjalannya waktu, mereka berdamai kembali. Kadang segala sesuatu itu memang tidak berjalan mulus, tapi biasanya disitulah letakl hikmahnya. Semoga!
Tidak berhenti sampai disitu, ternyata prosesnya masih puanjaaang.. memakan waktu selama hampir 9bulanan untuk sampai bener-bener ‘lairan’. Awalnya naskah ini mau diterbitin sama salah satu penerbit berinisial HP gitu.. tapi karena tiba-tiba tidak ada kabar, terpaksa deh musti ditarik kembali, padahal itu penerbit yang udah dari awal sponsorin lomba. Kemudian dialihkan ke penerbit lain. Dan ini juga memakan waktu lama, selalu dan selalu tertunda. Salah satu alasannya, karena ternyata masih banyak yang belum ngumpulin biodata (memang susah ya, karena tidak semuanya selalu on ngikuti perkembangannya, bahkan ada yang sampai lupa ). Setelah sekian lama berdebar-debar, harap-harap cemas.. akhirnya terbit juga, meskipun (ternyata) tidak di dua penerbit sebelumnya. Ini yang dinamakan kejutan dari sang juri. Seperti isi bukunya juga yang penuh dengan kejutan.
Flash fiction atau fiksi mini.. belakangan memang sedang menjadi tren. Flash fiction merupakan karya fiksi yang lebih singkat dari cerpen, biasanya jumlah kata dibatasi dan endingnya selalu mengejutkan (sulit ditebak). Tapi justru karena keterbatasan kata itulah, kita dituntut untuk membuat rangkaian kata yang efektif dan mengena. Salah satu triknya adalah dengan mengurangi deskripsi karakter maupun setting yang terlalu berbelit-belit. Ini sangat bertolak belakang dari novel. Seorang Ernest Hemingway pernah membuat flash fiction yang hanya terdiri dari 6 kata, “Dijual: sepatu bayi, belum pernah dipakai.” (silahkan berasumsi sendiri apa maksud dari cerita yang hanya terdiri dari satu kalimat itu). Terdengar aneh? Memang! Tapi ini nyata (ups, maksudnya nyata di dunia fiksi!). Prinsip flash fiction adalah kilat, sehingga rangkaian ceritanya tidak utuh. Terlepas dari kelemahan dan banjir protes terhadap keberadaannya, ternyata flash fiction yang sering juga disebut sebagai CerMin atau cerita mini ini, digemari banyak kalangan (terbukti dengan banyaknya lomba yang mengangkat tema ini) dan turut memperkaya khasanah literasi indonesia. Ini adalah alternatif bagi yang tidak suka membaca novel, yang dirasa lama, buang-buang waktu dan membosankan. Hehe.. say sorry to novel for a while.
Akhirnya, buku ini menjadi antologi yang kesekian bagi penulis-penulis yang sudah beken. Dan menjadi kebanggaan bagi pemula yang belum pernah menerbitkan buku sama sekali (saya ngetik sambil tunjuk jari). Jujur, ini adalah metamorfosa.. setelah ini saya ketagihan mengikuti lomba-lomba. Tapi yang namanya lomba, pasti ada menang ada kalah. Ada kalanya juga rasa jemu melanda. Ketika itu baru terpikir, kenapa tidak mencoba menerbitkan sendiri? Bukankah pahit getirnya berjuang itu akan terasa manis kalau kita sudah sampai pada tujuan? Ah, semoga Allah meridhoi setiap proses perjalanan ini.. Amin Ya Rabb!
Read More

Super Duper Weekend


Sebenere pengin menggunakan weekend ini untuk refreshing, sekedar melepas penat ke daerah pegunungan yang udaranya masih segeeer gitu.. mmm, betapa nyamannya. Tapi ada hal lain yang lebih ‘mulia’ untuk ditunaikan dua hari ini...

  1. Sabtu, 16 Juli 2011 di Grand Palace Hotel, Yogyakarta
Acara Workshop First Novel and Funny Story Komunitas Penulis Bacaan Anak bekerja sama dengan penerbit Tiga Serangkai Pustaka Utama.

     Adalah sebuah anugerah bisa mengikuti acara ini, berhubung belum lama tergabung dalam grup ini. Pagi-pagi bener, dibela-belain naik bus sampai ke Stasiun Balapan, Solo untuk kemudian berlanjut berkereta ria ke Jogja. Awalnya sih niat naek pramek, tapi karena bus yang dinaiki lemot minta ampun, jadi ketinggalan deh! Terpaksa naik Madiun Jaya (padahal beneran, lagi ngidam pengin naek pramek!) Tapi, ya sudahlah! Yang penting bisa sampai Jogja dan jangan sampai ketinggalan materi workshop. Sampai di Stasiun Tugu, Yogya dilanjutkan naek taksi sampai ke lokasi. Hadeeeh, sempat kena ‘palak’ pak sopir taksi, ga ngeliatin argo yang (mungkin sengaja) dimatikan di tengah perjalanan. Dasar muka polooos.. :(

     Setelah beramah tamah (coffee n tea break) dengan peserta yang ternyata banyak berasal dari luar daerah seperti Jakarta, Bandung, Sidoarjo dan  Purwakarta (padahal sebelume ngerasa paling menderita karena musti berangkat subuh-subuh, ternyata ada yang berangkat jam 12 malam, bahkan semalam penuh di kereta) dilanjutkan materi workshop yang disampaikan oleh pak Bambang Trim dan dimoderatori mbak Windri dari Tiga Serangkai. 

     Kita diberi pemahaman tentang First Novel and Funny Story. Apakah itu First Novel? First Novel merupakan cerita fiksi untuk anak-anak dengan  tingkat paling mudah untuk dibaca dan dipahami, dengan range umur sekitar 6 – 8 tahun. Hal-hal yang belum pernah ditulis orang lain, itulah peluang kita. Stimulus ide dengan banyak bergaul dengan anak dan memahami dunianya. Contoh-contoh cerita bisa berupa kisah petualangan, kisah ajaib, fantasi, hal-hal yang dilakukan, tentang orang maupun tempat.  Intinya cerita-cerita itu bisa mengidentifikasi anak, menempatkan anak pada tokoh cerita. 

     Saya jadi ingat dengan Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi), si gadis cilik di jendela yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal, padahal ia hanya seorang gadis cilik polos yang rasa ingin tahunya besar. Akhirnya ia dimasukkan ke Tomoe Gakuen, sebuah sekolah yang menerapkan sistem pengajaran yang lain dengan sekolah-sekolah yang ada. Kepala sekolahnya, Mr. Sosaku Kobayasi, menggunakan metode pendidikan dengan pemahaman bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Mr. Kobayasi berusaha menemukan ‘watak baik’ setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas. Dia juga sangat menghargai sesuatu yang alamiah dan ingin agar karakter anak-anak berkembang sealamiah mungkin. Sehingga bagaimanapun kelakuan murid-muridnya yang ‘tidak biasa’ waktu itu selalu berhasil ia hadapi dengan pendekatan halus cara anak-anak. Anak-anak bisa mengidentifikasi dirinya dengan melihat dan merasakan sekelilingnya, bahkan dari kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Ternyata itu lebih efektif untuk membuat anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi dan berhasil menemukan bakat dalam dirinya. Mr. Kobayasi menjadi tokoh pendidikan anak yang sangat dihormati di Departemen Pendidikan Jepang. Dan buku Totto-chanpun resmi menjadi materi pengajaran dengan persetujuan Kementerian Pendidikan Jepang, karena disana banyak dipaparkan metode-metode pengidentifikasian diri yang sebelumnya banyak diprotes warga karena tidak biasa itu. Meskipun sekolah ini tidak bertahan lama (hanya sekitar 8 tahun) karena terbakar akibat serangan bom pada tahun 1945, tapi ia mampu mencetak lulusan-lulusan yang akhirnya menjadi orang-orang yang luar biasa, yang sebelumnya tidak yakin dengan mereka sendiri. Karena mereka mampu mengidentifikasi diri merekalah, maka efektivitas pembelajaran itu dikatakan berhasil.

     Begitupun dengan pengidentifikasian anak lewat bacaan. Tentu tidak mudah untuk membuat cerita yang bisa mengidentifikasi kepribadian seorang anak, menempatkan posisi anak-anak pada tokoh cerita, sehingga karakter itu bisa tertanam kuat di benaknya. Kita dituntut untuk menyelipkan rasa dan pesan budi pekerti pada setiap cerita yang akan kita buat. Berawal dari keprihatinan terhadap tontonan anak di televisi yang kebanyakan tidak mendidik (dan banyak pengaruh dari luar) serta rendahnya minat baca di kalangan anak-anak, first novel diharapkan bisa menjadi semacam alternatif belajar yang menyenangkan dan menstimulus kepekaan berfikir anak. Hmmm, berharap setelah ini bisa turut serta juga.. membuat sebuah bacaan yang berguna buat anak-anak, mempersiapkan generasi muda dengan bacaan-bacaan yang tidak ‘menyesatkan’. Semoga suatu saat nanti indeks minat baca di negara kita bisa (paling tidak) menyamai negara Jepang. Dan akan dimulai dari siapa lagi, kalau bukan dari anak-anak?
     * Makasih buat Fachmy, Norma, Diah dan Ayu untuk hari yang menyenangkan ini. Juga buat temen-temen baru yang sudah hebat-hebat.. Saya malu sekali sebenarnya sama kalian. Semoga ilmu dan virus kalian ‘menjangkiti’ kita semua.. Mbak Nia, Mbak Nita, Mbak Tria Ayu (yang sudah punya bejibun buku anak), Mbak Melly, Mbak SaptoRini (yang dibela-belain dengan ‘penerbangan’ pertamanya) dan lain-lain (Mbak-Mbak dan Mas-Mas yang kelupaan namanya, hehehe.. Maaaaf)



  1. Minggu, 17 Juli 2011 di Pratama Mulia Hall, Surakarta
Acara Idealogy, How to boom your idea into a book!
 
     Ini merupakan hajatan FLP SoloRaya. Acara yang serupa, kemungkinan akan selalu diadakan setiap beberapa bulan sekali untuk terus menambah pengetahuan anggota maupun luar anggota yang bisa turut serta juga. Sebenarnya dilema juga, mengingat seminggu sebelumnya sudah buat rencana refreshing bareng temen-temen kuliah. Tapi apa daya, kayaknya sayang juga kalau melewatkan kesempatan ini. Semoga menginspirasi! 

     Sebagai pemulaaaa banget (PreAmatir.. huhuhu, Amatiran aja belum!), kadang masalah ide menjadi sangat krusial (haiyah.. bahasanya serius banget). Tapi iya.. kadang kalau mau mulai nulis tuh tiba-tiba nggak tahu musti nulis apa. persoalannya selalu ‘mandeg’ di ide. Seperti yang disms-in sang mentor, bahwa ide adalah Panglima. Semua awal karya dan proses kreatif penulisan adalah ide. Ide yang baik di tangan penulis yang buruk tetap akan terlihat bagus. Ide yang buruk di tangan penulis yang baik tetap akan terlihat tidak bagus. Idelah yang menentukan sebuah karya!
Nah, masalahnya bagaimana kalau kita kehabisan ide? (ini yang selalu menjadi alasan klasik saya, hehehe..) Ternyata, ide itu tidak perlu dicari. Dalam keseharian kita, ada banyak hal yang dapat menstimulus ide, yang semuanya itu bisa menjadi pemantik kita kalau kita peka. Apa sajakah itu, simak nih :
  1. Wilayah otak yang cemerlang (pembaca akan cenderung mencari bacaan yang dapat membuat kemampuan otaknya bagus, kecerdasan yang semakin berkembang, dll.)
  2. Wilayah hati yang tenang (buku-buku dengan isi yang berkaitan dengan motivasi, tazkiyatun nafs, pencerahan, dll.)
  3. Wilayah perut yang kenyang (buku-buku yang dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup, seperti: buku-buku tentang bisnis, cara membangun usaha, dll.)
  4. Wilayah ‘seks’.
  5. Wilayah lingkungan (tentang green society, eco green, dll.)
Dari kelima wilayah tersebut, point no.1-3 yang lebih diprioritaskan. Intinya, kita hanya membutuhkan alatnya, yaitu Indera dan Akal Pikiran.

Setelah itu ada beberapa tahapan dalam menulis, yaitu :
  1. Prewriting (berpikir dan merencanakan)
  2. Drafting (tulis dan gambarkan)
  3. Revising (jadikan tulisan lebih baik)
  4. Editing (perbaiki kesalahan tulisan)
  5. Publishing (publikasikan dan sebarkan tulisan)
Setelah mendapat ide dan tahu tahapannya, kita musti tahu dong, kira-kira jenis buku apa saja yang akan tetap dibaca orang sampai bumi ini berhenti berputar? Ada nih :
  1. Buku yang menjadikan kaya dan makmur.
  2. Buku yang menjadikan sehat dan bahagia.
  3. Buku yang menjadikan cerdas dan terampil.
  4. Buku yang menjadikan saleh dan tenang.
  5. Buku yang menjadikan ‘gaul’ (mengikuti tren dan gaya hidup).
  6. Buku yang membuat terhibur (gembira dan senang).
Jadi, ide itu bukan sebuah pencarian, tapi PENEMUAN! Ia mengalir selaras dengan ketekunan dan keyakinan.
Nah, yang tidak kalah menarik nih, ternyata aktivitas-aktivitas ringan yang kita lakukanpun, dapat menstimulus timbulnya ide, seperti Membaca (tidak harus buku, tapi bisa apa saja yang kita lihat, dengar dan rasakan bahkan membaca diri sendiri), Tukar Pikiran (Brain Storming), Silaturahim, Berjalan (Traveling), Bermain, bermusik dan berbagi (kadang celotehan orang dapat menjadi buah ide yang segar).
Jadi, sudah siapkah kamu ‘menggoyang’ dunia dengan idemu? Selamat menemukan ide dalam dirimu! :)
Read More

Minggu, 10 Juli 2011

Antology 'Long Distance Friendship'



Long Distance Friendship


Penulis: Abrar Rifai, Fiani Gee, dkk.
Kategori: True Stories
ISBN: 978-602-225-014-2
Terbit: Juli 2011
Tebal: 374 halaman
Harga: Rp. 67.700,00




Deskripsi penulis :


                                                  Buku ini ditulis oleh 102 penulis yang kebanyakan, aktif mengikuti lomba-lomba di jejaring sosial bernama facebook. Tema yang umum mengenai pertemanan, mampu merangkum penulis-penulis dari banyak jenjang dan usia. Beberapa penulis telah tergabung dalam satu komunitas penulis. Namun ada pula penulis yang belum terlibat dalam komunitas kepenulisan. Selain itu, di antara teman-teman penulis yang sudah menulis buku sendiri, antologi cerpen, artikel dan puisi, tidak menghalangi penulis lain yang menyebut dirinya baru belajar menulis. Sehingga inilah buku antologi pertama mereka. Semoga dengan terbitnya buku ini. Mampu memicu dan memacu semangat penulis-penulis yang juga merasa baru belajar untuk tetap menuliskan apa yang mereka ingin tuliskan dengan tetap bersemangat.


Deskripsi :


                                                Buku yang berkisah tentang kisah nyata persahabatan di dunia maya. Persahabatan yang terasa nyata, walau tak pernah bersua secara wujud dalam kenyataan. Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa pertemanan di internet melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, Multiply dan lainnya, hanyalah pertemanan semu yang tak pernah akan menjadi nyata dalam kehidupan. Buku ini menjawab ketidakyakinan tersebut. Betapa para penulis dalam buku ini menceritakan tentang keakraban mereka dengan teman-teman mayanya. Berbagai kemanfaatan mereka dapat dari teman-teman yang hanya bisa mereka lihat di layar komputer, silaturahim lewat status, tweet atau ngobrol di ruang chat. Baik melalui chat FB, YM, Gtalk dan lain sebagainya. Saling mengirim hadiah, menasehati satu sama lain, memadu kasih, bahkan ada yang sampai mengubah keyakinan beragamanya. Setiap alur menjadi bukti pertemanan mereka. Setiap tulisan telah mengungkapkan bahwa satu nama, telah menempati satu hati nun jauh di luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Membuat setiap cerita menjadi luar biasa. Simak saja..


Seikat Puisi dalam buku ini :

Bilakah keindahan rasa ini akan sampai.
Sedangkan jarak memisah raga
Namun kebutaan cinta pada jauhnya kita
Menampik setiap ragu tuk terus menyayangmu
Sejauh jiwaku memandang
Maka kutemukan nyaman di ruang ini
Meski belum sanggup kucapai ruang dekapmu
Namun peduliku pada ranah cinta kita
Menyisa asa untuk terus melukis do’a di dinding langit
Sepucuk pinta bagi sebuah jumpa
Hingga dapat kucurah kata meski diam
Dan mampu kuraih jabatmu
Dan kutemukan dunia lain di wujud senyummu
Kepada manusia.. yang terus kucinta..
Sahabatku fillah..
Keajaiban rasa ini.. memenjaraku bersama senandung do’aku..
Duhai kau.. kecantikan hati yang membelengguku
Izinkan kusanding kesederhanaanmu.. dengan kebiasaanku.. yang sangat biasa..

Menjadi temanmu, adalah indah.

Read More

Minggu, 03 Juli 2011

Belajar dari Rajawali


Tahukah kamu, kalau burung Rajawali adalah burung yang bisa terbang paling tinggi? Burung Rajawali juga merupakan burung yang kuat dan tangguh. Dan ada satu kelebihan lagi, ternyata burung Rajawali itu juga merupakan burung yang paling panjang usianya? Seekor burung Rajawali bahkan bisa mencapai umur hingga 70 tahun. Tapi, untuk mencapai kisaran umur tersebut, seekor Rajawali dihadapkan pada sebuah pilihan. Apakah ia ingin hidup sampai 70 tahun atau hanya sampai usia 40 tahun saja? Untuk dapat mencapai umur 70 tahun itu, burung Rajawali harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Transformasi tubuh rajawali tersebut dimulai ketika ia berumur 40 tahun. Pada saat itu rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu ataukah harus melewati sisa hidupnya yang tidak menyakitkan tapi singkat menuju kematian. Pada umur 40 tahun, bentuk paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya sehingga ia akan kesulitan untuk makan. Cakar-cakarnya pun sudah tidak tajam lagi. Selain itu, bulu pada sayapnya juga sudah sangat tebal sehingga ia akan kesulitan untuk terbang tinggi.
Bila seekor rajawali memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan tersebut, ia harus terbang mencari pegunungan yang tinggi dan membangun sarang di puncak gunung tersebut. Kemudian ia akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya lepas. Setelah beberapa lama, paruh barunya akan muncul. Dan dengan menggunakan paruh barunya tersebut, ia akan mencabut kukunya satu per satu dan menunggu hingga tumbuh kuku baru yang lebih tajam. Dan ketika kuku-kuku itu telah tumbuh kembali, ia akan mencabut bulu-bulu sayapnya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Dan bila semua proses itu telah terlewati, rajawali baru akan dapat terbang kembali dan menjalani kehidupan normalnya, terbang kesana kemari menghiasi indahnya dunia. Dan tahukah kamu, transformasi yang menyakitkan itu harus dilewati oleh sang rajawali selama kurang lebih setengah tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk merasakan sebuah ‘penderitaan fisik’.


Sebagai manusia, seharusnya kita bisa belajar dari proses transformasi rajawali ini. Ketika kita sedang menghadapi sebuah masalah, terkadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah. Bahkan, pilihan-pilihan tersebut kadang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Seperti itulah Allah ‘membentuk’ kita, kadang kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, sakit, penuh dengan derita dan air mata. Semua itu adalah caraNya untuk mendewasakan kita, memaknai kehidupan dengan segala persoalannya. Nikmati saja, anggaplah sebuah anugerah kebahagiaan ketika kita sedang dihadapkan pada persoalan-persoalan yang tidak mudah, karena disitulah kita belajar mencari solusinya. Berbagai ujian akan menghasilkan ketekunan. Hidup adalah tentang sebuah proses yang takkan pernah berhenti.
Hidup memang selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Tentang benar atau salah, ya atau tidak, positif atau negatif, pro atau kontra, destruktif atau konstruktif.. semuanya ada di tangan kita. Kita memang bebas menentukan pilihan, tapi tidak untuk konsekwensinya. Konsekwensi adalah resiko dari sebuah pilihan.
Sebagai contoh, ketika kita masih kecil, kita dihadapkan pada sebuah pilihan tentang mainan. Taruh saja, ada pilihan mainan boneka dan mobil-mobilan. Kita sebagai makhluk cewek pastinya tidak akan memilih mobil-mobilan, kecuali kalau kita mau dianggap sebagai cewek tomboy. Sebaliknya, sebagai makhluk cowok, tidak mungkin ia akan memilih boneka, kalau ia tidak mau dianggap sebagai cowok yang kolokan, manja dan tidak gentle.. itu hanya sebagai contoh kecil saja, bahwa pilihan-pilihan kita akan menghadirkan konsekwensi dibelakangnya. Pilihan bukan tentang apa yang kita inginkan, tapi tentang apa yang harus kita jalani. Pilihan adalah tentang tantangan dan kesempatan.  Dengan selalu belajar untuk membuat pilihan-pilihan ‘kecil’ itu, kita akan belajar pula untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih ‘besar’ untuk fase kehidupan kita selanjutnya.
“KETIKA KAU SUDAH MEMILIH MAKA KONSISTENLAH. KARENA DISITULAH KUNCI KESUKSESAN BERMULA. BILA KAU MUDAH MENYERAH DAN SURUT LANGKAH, MAKA JANGAN PERNAH BERMIMPI UNTUK MENJADI JUARA.” (VoA ISLAM).
Hmm, bahkan ketika kita baru membuka mata di pagi haripun, kita sudah dihadapkan pada sebuah pilihan : “Every morning, you have two choices. Continue your sleep with dreaming or wake up and chase your dream?”
So, which one you will choice.. is up to you!
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena