Jumat, 27 April 2012

Yang Kedua, Ketika Cinta Terbelenggu


Mmm, kali ini aku nggak mau yang formil-formil amat ah cuap-cuapnya.. :D
Yang nyantai-nyantai aja...

Jadi, pas hari buku sedunia kemarin (23 April).. pas banget dapat kiriman buku dari mbak Riawani Elyta. Iyaa.. kali ini aku dapet gratisan (horaaaay, jangan pada ngiri yaa ;p) Makasih, makasih, makasiiiiiih

Meraba covernya.. wuiiih, bikin mupeng! Tiap ke tokbuk, selaluuuu terpesona dengan cover-cover buku terbitan gagas dan lini-lininya. Bahan covernya itu lho, lain dari yang lain.. enaaak aja buat diraba-raba :D

Membuka halaman pertama.. Cling, tambah terpesona lagi. Kenapa? ada dua cap di situ : “BUKU INI TIDAK DIJUAL” dan “PERSEMBAHAN PENERBIT”. Wuiiih, berasa jadi orang penting nih, uda dapet gretongan, bukti terbit lagi! (lebay’nya saiyah.. yowis ben). Oooh, jadi kayak gitu tho kalau kita dapet bukti terbit dari penerbit (dalam hati merapal do’a.. suatu saat nanti, aku juga harus bisa mendapatkan bukti terbit kayak gitu, Aamiin Ya Rabb).

Eh, uda jadi kebiasaan sebelum mulai membaca pasti ‘menyapu bersih’ dulu cover bagian depan dan belakangnya, dan taraaaaa.. glek! Di bagian dalam cover belakang itu.. yang pake jilbab oren.. MasyaAllah cuantiknyaaaa.. (hal ini sangat-sangat mengganggu ketika membaca isi novel selanjutnya. Gimana nggak ngganggu coba, bentar-bentar ngelirik itu, bentar-bentar ngelirik itu.. ngelirik kok cuma bentar, halah..) Sssstt, coba kalau si RR baca novel ini dan liat foto itu yak.. waaaaaaa (yakin dia bakal nyesel lair belakangan and never met her before, wkwkwk). #Plak.. dilempar sendal jepit sama Mbak Lyta :p

Yang Kedua, begitulah judul novel ini. Isinya sangat jauh dari ekspektasiku sebelumnya. Aku membayangkan dari dua kata ‘yang kedua’ itu saja sudah berasumsi yang macam-macam, misalnya aja tentang (maaf) selingkuh (jadi inget lagunya Astrid -yang kedua- kan juga nggak jauh-jauh dari itu). Tapi ternyata, di sepanjang novel ini tak kutemukan satu katapun yang mengacu ke hal itu. Dan.. meskipun novel ini bergenre romance, tapi adegen demi adegan ditampilkan dengan begitu halus dan sopan. Sepertinya mbak Lyta memang sudah komit dengan batasan-batasan fiksi yang baik menurut definisinya sendiri (aku juga setuju banget! :D).

Tak ada bahtera yang akan selamat tiba di tujuan jika sang nakhodanya sendiri tak memikirkan keselamatan penumpangnya, bahkan terus-terusan melubangi sendiri bahteranya.” (Hal : 210)

Adalah Vienna, seorang pemalu yang punya hobi menyanyi di kamar mandi. Suara emas -bakat alami yang dimilikinya- tak membuatnya menjadi orang yang penuh dengan rasa percaya diri. Ia justru enggan tampil di depan publik. Sampai suatu ketika, ia mengikuti sebuah festival menyanyi dan hanya Haris –suaminya- yang mendukungnya. Alasan mengikuti festival itu sebenarnya hanyalah karena hadiah dari sponsor yang terbilang wah, mengingat kehidupan Vienna dan haris yang terbilang pas-pasan. Tak disangka, Vienna berhasil menjadi juara dua.

Festival berskala daerah itu mengantarkan Vienna pada festival berskala Asia. Ia dan Dave –yang menjadi juara pertama- berhasil memenangkan festival tersebut dan mendapat kontrak rekaman duet. Dalam waktu yang tidak begitu lama, mereka menjadi begitu terkenal dan dipuja.

Seiring popularitas yang terus menanjak, gelimang materipun memanjakannya. Tapi Vienna tak sepenuhnya menikmati itu. Hasil jerih payahnya selalu tak cukup untuk memenuhi ambisi bisnis Haris. Haris begitu egois, tak pernah diitampakkan kasih sayangnya sebagai seorang suami. setiap saat, hanya bisnis yang memenuhi nalurinya.

ketika Vienna berada di titik kritis kegelisahan akan rumah tangganya, ada Dave yang selalu berusaha care, bahkan sejak awal mereka menjadi teman duet. “Dia seorang istri. Selamanya akan tetap bertahan untuk setia. Kalaupun ada secelah rasa yang ia miliki untukmu, yakinlah, ia pasti akan berusaha melenyapkannya dengan cara apapun.” (Hal : 146). Begitulah, Vienna selalu berusaha menjaga rumah tangganya. Dan Davepun mengerti, ia tak serta merta jujur kalau Vienna telah menempati salah satu ruang di hatinya. Semuanya mengalir begitu saja.. Karena rasa tidak pernah salah, tergantung di mana menempatkannya.

Mmm, pada penasaran dengan kelanjutannya? Bagaimana ending dari kisah ini? Apa yang terjadi dengan rumah tangga Vienna dan Haris? Alasan apakah yang sebenarnya melatarbelakangi Haris sehingga ia begitu ‘leluasa’ menekan istrinya itu? Apakah semuanya akan baik-baik saja ketika Vienna memutuskan untuk meninggalkan popularitas yang dimilikinya dan kembali memulai semuanya dari awal? Adakah kesempatan bagi Dave untuk berbagi perasaan? Kira-kira, ada kisah apa yang kemudian menghentak kesadaran Dave untuk memperjuangkan perasaannya? Dan.. ketika dia sudah hampir berhasil, ada sebuah kenyataan pahit yang harus ditelannya. Sanggupkah ia menerima hal itu? kasih tahu nggak yaaa.. Baca ndiri aja deeh :p

Seperti biasa, Mbak Lyta selalu menyuguhkan kalimat-kalimat cerdas dalam novel-novelnya. Berbeda dengan ‘Tarapuccino’ dan ‘Persona Non Grata’ yang konfliknya menghentak-hentak dan beraroma suspence, ‘Yang Kedua’ ini sealiran dengan ‘Hati memilih’ yang konfliknya lebih halus dan beraroma romantis. Penjiwaan atas pergulatan batin tokohnya dapet banget, sehingga kisahnya mengalir begitu lembut. Salut deh buat Mbak Lyta yang makin serba bisa aja nih! Suspence oke banget, Romance juga tak kalah oke! Dan, di novel ini akan kamu temukan quote-quote manis dan inspiratif lho! Kita juga bisa belajar tentang kearifan hidup dari sebuah kesederhanaan lewat kisah Paman Goh Kee. Benar-benar membuat terharu! “Biarlah kata cinta hanya jadi milik mereka yang terus mencari, aku cukup menjalani apa yang sudah kumiliki. Bagiku, cinta tak lebih sekadar ucapan di bibir selama kau tak mampu memperjuangkan apapun. (Hal : 234)

Cinta adalah sebuah penerimaan yang tulus. Cinta takkan pernah menjadi beban. Karena kebahagiaan terbesar adalah ketika kita diberi kesempatan untuk membahagiakan orang yang kita cintai.. :)

Yuuuuk, yang ke toko buku.. jangan lewatkan novel ini yaaa... ^_*


Judul        : Yang Kedua
Pengarang  : Riawani Elyta
ISBN         : 6022200407
Tebal         : vi + 250 Halaman; 13 x 19 cm
Penerbit     : Bukune


Read More

Kuis Berhadiah Buku :)

KUIS BERHADIAH BUKU A SWEET CANDY FOR TEENS UNTUK LIMA ORANG PEMENANG

Yuuuk... siapa mau buku keren ini? Gampang banget caranya. Kamu jalan-jalan saja ke toko buku dan cari buku ini. kalau gak ketemu, tanya sama pramuniaganya. Trus, kamu foto-foto deh sama buku ini. Fotonya yang caem ya, kasih semyum manis.

Posting fotomu bersama buku ini ke facebookmu. Lalu, tag sebanyak mungkin teman. Kasih tulisan di foto itu, "Aku dan Sweet Candy di Toko Buku.... (sebutkan nama toko bukunya dan di daerah mana).

Penilaian berdasarkan LIKE terbanyak. Ongkir gratis, hanya untuk alamat Indonesia.

Deadline tanggal 1 Juni 2012. Masih ada waktu sebulan lebih buat jalan-jalan ke toko buku dan berfoto bersama buku ini. Yuk, yuk, yuk......

Foto ditag ke FB Afin Yulia dan Santi Artanti. Lomba dimulai hari Senin, tanggal 23 April 2012.


Read More

Senin, 23 April 2012

Ping, Suara Hati yang Terabaikan




Bayangkanlah, jika hutan kita terus dibabat oleh tangan-tangan yang hanya mengedepankan kepentingan ekonomi semata! Bisa dipastikan, anak cucu kita kelak tidak akan menikmati udara sesegar  sebelumya. Hutan, sebagai paru-paru dunia mengalami ‘pengeroposan’ setiap harinya. Ini sudah bisa kita rasakan dampaknya, udara terasa lebih panas dan cuaca menjadi semakin tidak menentu. Upaya penyelamatan lingkungan dan perlindungan hewan-hewan langka menjadi isu terpenting. Kampanye-kampenye yang banyak digalakkan kadang hanya ‘menyentuh’ orang-orang yang berkepentingan saja. Sementara orang-orang ‘awam’ hanya menganggap hal-hal seperti itu sebagai angin lalu.

Novel kolaborasi antara Mbak Riawani Elyta dan Shabrina WS ini mencoba menawarkan alternatif solusi untuk menggugah hati masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan agar ekosistem yang ada didalamnya tetap seimbang. Duet yang menarik karena mereka tetap berada pada pakem masing-masing, mbak Lyta di bagian fiksi dan mbak Brina di bagian fabel.

Dikisahkan, Ping adalah seekor orang utan yang hidup bahagia bersama ibunya di sebuah negeri indah bernama hutan. Tapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika ibunya sedang mengajarinya membuat sarang, tiba-tiba tembakan dari manusia-manusia egois itu menumbangkannya, mencerabut kebersamaan mereka. Ping kehilangan, Ping Berduka. 

Dalam kesedihannya, ia bertemu dengan Jong dan ibunya. Kehadiran mereka sedikit-sedikit menghapus luka Ping. Ping menganggap ibu Jong sebagai ibunya juga. Ibu Jongpun menyayangi mereka tanpa membeda-bedakan. Ia mengajari Ping dan Jong membuat sarang, bagaimana membedakan daun yang baik, bunga apa yang bisa dimakan, tanaman apa yang harus dihindari, menguliti kayu, menangkap rayap, makan tanah dan mencari sarang lebah. Semua itu menjadi petualangan yang menyenangkan.

Tapi, lagi-lagi kebahagiaan itu harus terenggut oleh tangan-tangan manusia serakah yang hanya mementingkan keuntungan ekonomi semata. suatu hari Ibunya ditemukan tak bergerak karena makan pisang beracun, sementara Jong tak ketahuan ada dimana. Dan Ping sendiri tertangkap oleh jaring dan dibawa keluar hutan. Ketika aksi manusia-manusia serakah itu diketahui pihak berwajib, Ping berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke lokasi konservasi orang utan di kawasan Samboja, Kaltim. Di sana ia banyak memberontak. Sampai akhirnya ia bertemu dengan molly, seorang gadis penyayang binatang. Akankah Molly bisa merubah tabiat Ping yang sudah diganti namanya menjadi Karro? Ada visi dan misi apakah Molly dan teman-temannya mengunjungi lembaga konservasi itu? Siapa pula Archie? Kenapa dia harus cemburu dengan Nick, teman bule Molly yang empunya ide kunjungan itu? Pada baca sendiri aja deeeh :p

Bravo! Sepertinya novel ini memang layak untuk dinobatkan menjadi Juara satu lomba ’30 Hari 30 Buku’ Bentang Belia (saat itu ikut dag dig dug duer liat pengumumannya yang super menegangkan via youtube). Dengan visi, misi dan segmentasi yang jelas, novel ini diharapkan bisa mendobrak paradigma novel-novel remaja yang melulu berisi tentang cinta-cintaan. Tema yang unik disajikan dengan perspektif yang berbeda. Bahasa yang enak dan mengalir membuat novel ini terasa ringan tapi tetap cerdas. Bab demi bab yang ditampilkan bergantian antara sudut pandang Ping dan Molly membuat novel ini kaya dan tidak membosankan. Sudut pandang orang pertama membuat kita lebih bisa menyelami nurani seekor orang utan, memahami isi hatinya yang kadang diabaikan oleh manusia-manusia, kita semua! (saya merasakan aura ‘Black Beauty’ di sini.. Karya sastra yang mendunia itu :D).

Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa dunia maya bisa menumbuhkan persahabatan yang inspiratif. Kedua penulisnya yang belum pernah bertemu berhasil kompak menyajikan karya yang waw dan menggugah. Saya mulai ‘mengenal’ mereka sejak marak lomba-lomba di fb pertengahan tahun 2010. Dan nama mereka selalu nongol sebagai pemenang (mereka lagiii... mereka lagiii, begitu komentar saya waktu itu :D) Jadi, rasanya sudah tidak kaget kalau mereka keluar sebagai pemenang di Bentang Belia kemarin, karena jam terbang mereka yang sudah cukup tinggi sebagai ‘hantu’ lomba.. ;p

Akhirnya, hanya bisa berharap.. agar karya-karya berkualitas semacam ini mampu ‘merasuk’ ke dalam sanubari pembaca. Akan dimulai dari mana kalau tidak dari diri sendiri, kesadaran untuk peduli dengan lingkungan dan habitatnya? Agar kita bisa terus menatap keindahan kehijauan diluar sana, menghirup udara yang bersih tak tercemar dan memastikan bahwa satwa-satwa liar itupun terpenuhi haknya untuk hidup di ‘dunia’nya sendiri tanpa dikotori keegoisan manusia. Semoga semua itu bisa dimulai dari membaca buku ini.. ~_~




 
Judul          : Ping, A Message From Borneo
Penulis                  : Riawani Elyta & Shabrina WS
ISBN           : 9786029397178
Penerbit      : Bentang Belia
Terbit                   : Maret 2012

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena