Sabtu, 28 Juli 2012

Abege.. Oh Abege


Bulan Ramadhan merupakan momentum yang baik untuk introspeksi diri dari segala macam perbuatan kita yang telah berlalu. Beribadah di bulan ini, nikmatnya tiada terkira. Puasa menjadikan kita peka. Konon, dengan perut yang kosong, nurani kita lebih terasah untuk memahami sesama. Jadwal kegiatan mulai dari makan sahur sampai waktu berbuka kemudian dilanjutkan sholat tarawih berjamaah membuat kita terlatih untuk senantiasa disiplin, menghargai waktu. Dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, diharapkan dapat selalu menguji dan meningkatkan kadar ketakwaan kita kepada Allah. Penempaan diri yang kontinu menuju perbaikan kualitas pribadi, itu intinya.

Sholat Tarawih berjamaah di masjid sangat dianjurkan daripada sholat sendirian dirumah. Disamping, memang pahalanya berlipat-lipat, Allah juga menjanjikan hikmah plus-plus bagi kita yang bisa menjaga tarawihnya, mulai dari hari pertama sampai hari tarakhir Ramadhan. Bisa mengikuti sholat tarawih berjamaah merupakan kebahagiaan. Pernah suatu kali, saya sedang dalam perjalanan ketika waktu tarawih tiba. Melihat pemandangan di luar, orang-orang berduyun-duyun ke masjid untuk sholat tarawih berjamaah, membuat saya iri. Betapa saya telah melewatkan satu malam Ramadhan tanpa tarawih. Hati saya seperti tercabik-cabik. Ramadhan, puasa dan tarawih sudah merupakan satu paket, tidak bisa dipisahkan. Jika ada satu yang tidak tertunaikan, terasa ada yang kurang.

Ada beberapa hal yang mengusik saya sehubungan dengan sholat  tarawih berjamaah di masjid balakangan ini. Suatu hal yang membuat saya mengelus dada, prihatin, karena terjadi di lingkungan saya. Pertama, tentang shaf sholat. Rapatnya shaf merupakan salah satu syarat sahnya sholat, itu seringkali diingat-ingatkan, bahkan ketika sang imam akan memulai memimpin sholat. tapi rupanya hal ini tidak begitu diperhatikan, malah terkesan diacuhkan. Untuk shaf barisan laki-laki mungkin tidak ada masalah, karena berada di depan. Yang menjadi sumber keprihatinan adalah shaf barisan kaum perempuan di belakang, yang terpisah dari shaf barisan laki-laki. Ini biasa terjadi ketika jamaah membludak sampai ke emperan masjid. Suatu hari saya ketinggalan satu rekaat sholat Isya, maka saya buru-buru lari dan mencari shaf barisan sholat, yang awalnya saya pikir akan mendapatkan shaf paling belakang, karena saya memang terlambat. Eh, tak tahunya, shaf baris kedua dari belakang hanya diisi beberapa orang saja, masih banyak kosongnya, sementara shaf barisan paling belakang justru penuh. Duhai.. ada apa dengan kalian, kenapa hati kalian tidak tergerak sedikitpun untuk mengisi shaf yang masih kosong, yang jelas-jelas ada di hadapan mata! Itu jerit saya dalam hati. Dan tahukah, kebanyakan dari mereka adalah abege, yang seharusnya ilmunya masih segar dibandingkan dengan orang tua jaman dulu yang mungkin tidak pernah diajarkan tentang sholat. seharusnya mereka bisa memberi contoh, untuk bisa menjadi generasi yang lebih baik karena lebih terdidik. Seharusnya.. seharusnya.. ah, lagi-lagi itu jeritan hati saya. Kalau tidak salah ingat, dulu pas SD, saya pernah mendapat pelajaran agama tentang pahala-pahala orang yang sholat berjamaah (tolong dicolek kalau ingatan saya salah). Bahwa pahala orang yang menjadi makmum itu dihitung berdasarkan jauh dekatnya dengan sang imam. Semakin dekat dengan imam, maka pahalanya akan semakin banyak dan semakin jauh akan semakin berkurang. Maka, adalah lebih baik jika kita berlomba-lomba untuk mendapatkan shaf barisan terdepan. Akhirnya, saya yang datang terlambat itupun langsung nyelonong ke shaf barisan kedua dari belakang, melewati orang-orang yang sedang sholat rekaat pertama itu, biarlah. Pernah, saya mencoba menegur jamaah di belakang saya untuk maju ke depan mengisi shaf yang masih kosong, tapi hanya ditanggapi dingin dan tak sedikitpun bergeming. Jadi malu sendiri. Saya membayangkan pasti setan-setan pada tertawa puas di shaf kosong tersebut.

Yang kedua, tentang abege-abege jaman sekarang yang tampil salah kaprah. Mungkin mereka ingin dinilai, “ini lho aku dengan segala kekinianku, aku lebih modern!” Bayangkan saja, mereka membawa serta handphone (hp) ketika sholat tarawih. Tidak menjadi masalah kalau hp tersebut dimatikan sementara waktu ketika sholat, mungkin sesudah sholat, mereka ada kegiatan lain di masjid seperti tadarusan, jadi tanggung kalau bolak-balik ke rumah. Untuk kasus ini, sah-sah aja membawa hp di kantong baju, misalnya. Tapi ini.. oh kang emjiiii, mereka sibuk ngotak-ngatik hp begitu sholat isya selesai, instant tanpa dzikir atau minimal do’alah. Ada yang sekedar sms’an, pesbukan dan (yang paling parah) pakai headset mendengarkan musik! Boro-boro mendengarkan khotib memberikan khotbah, yang hanya sekitar tujuh menit itu. Dan otak-atik itu masih berlanjut ketika sholat tarawih sudah mulai. Baru ketika Al-Fathikah rekaat pertama selesai dibaca, mereka buru-buru berdiri ikut sholat. Mereka lupa rukun-rukun sholat! Apakah mereka pikir, dengan begitu mereka terlihat keren, modern dan pintar gitu kali ya. Plis deh, seorang presiden yang punya jadwal super padat aja, kayaknya nggak mungkin juga akan berlaku seperti ini. Sementara mereka, hanyalah sekumpulan abege usia sekolah yang tugas utamanya belajar, bukan mengurus perusahaan atau negara! Oh, abege.. selabil itukah kalian, segalau itukah kalian dengan masalah-masalah (yang biasanya kalian ciptakan sendiri)? Kalau hanya sekedar gaya-gayaan, kan ada waktunya toh. Sehari ada 24 jam, dan tarawih paling lama, kurang dari satu jam. Ada baiknya, waktu sholat tarawih di masjid kita maksimalkan untuk berdo’a, mengingat Allah. Bukankah dengan berlaku sok-sok’an seperti itu, berarti tidak serius dalam menjalankan ibadah. Kok saya jadi mikir bahwa Allah dipermainkan ya, Naudzubillah! Mereka tidak sadar telah ‘menduakan’Nya dengan seonggok hp, Naudzubillah.. Naudzubillah!

Sekarang ini, hp kan bukan merupakan barang mewah lagi. Beda keadaannya dengan sepuluhan tahun yang lalu, mungkin dari sepuluh orang, hanya dua orang yang memiliki hp, dan itu mungkin bisa menunjukkan status sosial atau prestise seseorang. Tapi sekarang? Coba lihat, Pengamen di jalanpun banyak yang sudah nenteng hp (tipe mahal lagi). Fasilitas-fasilitas, kemudahan-kemudahan yang bisa kita nikmati karena kecanggihan tekhnologi ini seharusnya menjadikan kita pribadi yang lebih cerdas. Jadi, pintar-pintarlah menempatkan diri, tahu waktu dan lokasi. Membawa hp pada waktu sholat dan menggunakannya dengan seenaknya sendiri adalah tindakan yang tidak bijak. Disamping mengganggu kekhusyukan jamaah lain, ini juga kelakuan yang terlihat sangat norak! Hargailah jamaah lain, mereka juga butuh ketenangan dalam beribadah, paling tidak dalam hati mereka tidak sibuk menerka-nerka yang akhirnya timbul prasangka mengenai kelakuan kalian.  Di luar waktu sholat tarawih, silahkan kalian menggunakan hp sepuas-puasnya.

Ramadhan akan lebih bermakna jika kita menggunakan setiap celah waktunya untuk senantiasa memperbaiki diri, mempercantik akhlak dan mengasah nurani kita. Kita tidak akan pernah tahu kapan Ramadhan terakhir kita. Banyak orang memperbanyak do’a untuk diberi kesempatan berjumpa dengan Ramadhan berikutnya. Ramadhan akan selalu dirindukan oleh manusia-manusia yang haus ibadah. Tidak menjadi berkah jika setiap Ramadhan, tidak sedikitpun kualitas pribadi kita bertambah. Itu hanya sia-sia saja dan kita akan menjadi manusia yang merugi.  Jika kita bisa menjadi lebih dan lebih baik lagi, itulah berkah dan hidayah  untuk kita, InsyaAllah! Agama dan negara butuh manusia-manusia pilihan yang santun dan bisa menempatkan dirinya. Hei kalian.. generasi muda, tonggak harapan bangsa, mari memaknai Ramadhan dengan lebih bijak.. Dan jadilah manusia-manusia pilihan itu! ^_^


Read More

Minggu, 22 Juli 2012

Pempek Ny. Kamto, Pempek Favorit



Kalau ditanya, apa makanan favoritmu? Jawabanku banyak, hehe.. tapi yang tidak pernah terlewatkan adalah pempek. Entah kenapa aku begitu menyukai makanan khas Palembang itu. Saking doyannya, pernah suatu kali, aku bela-belain jemput sahabatku yang baru pulang backpacker dari Palembang, ke stasiun yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Kenapa? Ya karena ada udang di balik pempek, eh ada maunya. Tidak lain tidak bukan ya nodong oleh-oleh pempeknya itu. Bahkan sahabatku itupun nyelutuk, “Udah, kamu nyari suami orang Palembang aja biar hobimu makan pempek bisa terpuaskan!” Waks, gedubrak! Abaikan.. :D

Berburu pempek di daerahku memang susah, apalagi mencari yang cita rasanya sama atau minimal miriplah dengan daerah asalnya. Jarang ada orang yang berjualan pempek. Kalaupun ada, satu dua warung, tapi rasanya nggak banget deh. Perbandingan antara daging ikan dan tepungnya paling hanya sekitar 10 : 90. Jadi bisa dibayangkan rasanya sangat dominan tepungnya. Apalagi yang hanya jualan dengan gerobak dorong. Suatu kali, aku menemukannya di pinggir jalan. Dan terjadilah sebuah percakapan antara aku dan mas penjual pempek itu.

“Pempeknya satu berapa, mas?”
“Seribu.”
“Waks, serius mas? (Dalam hati kaget, murah pake banget! Curiga!) mmm, yang kulit ada nggak mas?”
“Nggak ada, cuma kapal selam doang.”
“Yauda, bungkus lima deh mas!” (Dalam hati tambah kaget lagi, itu kapal selam pas dipotong-potong, nyembul isi telornya yang cuma sak uprit). Ya sudahlah, tanggung.. masak nggak jadi beli. Biarin aja buat obat pengin.
“Ngomong-ngomong, mas asli Palembang ya?”
“Bukan mbak, asli sini.. deket tuh rumahnya.”
“oooo..” (Pantes, logatnya juga medhok banget. Tambah curiga :D)

Sesampainya di rumah, langsung menikmati pempek ‘jadi-jadian’ itu dan taraaaa.. puih, rasanya lebih mirip Jadah (makanan khas jawa yang terbuat dari tepung ketan dicampur kelapa). Udah gitu, teksturnya sangat keras dan rasanya hambar, tidak ada aroma ikannya sama sekali. Uuggh, kecewa aku kecewa. Sejak saat itu, kapok jajan pempek dorong.

Sampai suatu hari, aku dapet rekomendasi dari seorang temen kalau di Solo ada resto pempek yang rasanya dapat dipertanggungjawabkan. Langsung deh diburu.. Namanya ‘Pempek Ny. Kamto’  Asli 10 Ulu Palembang. Restonya nggak begitu besar, hanya sebuah ruko. Cukup mungil tapi bersih.  Dan ada sertifikat halal dari MUI juga lho, jadi bagi kamu yang muslim tidak perlu khawatir kalau mau mampir makan. Begitu masuk resto yang interiornya didominasi warna merah dan coklat ini, kita bisa langsung memilih menu yang disediakan. Tentunya dengan sambutan ramah mbak-mbak dan mas-mas yang selalu tersenyum. Ini adalah nilai plus dalam usaha bidang perdagangan.

Menu-menu yang disediakan antara lain pempek Kapal Selam, Kulit, Lenjer, Bulat, Lenggang, Keriting, Tahu, dan Tekwan. Pempek dibuat dari daging ikan, tepung, telor ayam, air matang dan garam. Ikan yang biasa digunakan adalah ikan belida dan ikan tengiri. Harganya cukup bersahabat, hanya berkisar antara Rp. 6.000an sampai Rp. 10.000an. Pempek disajikan dengan irisan timun yang dipotong dadu dan saus hitam kecoklatan yang disebut cuka. Cuka dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi, cabe rawit tumbuk, bawang putih dan garam. Bagi yang tidak suka pedas, jangan khawatir! Karena bumbu di sini dibedakan menjadi manis dan pedas, dan ditempatkan dalam botol yang berbeda. Bagi yang kurang puas kalau hanya makan pempek saja, bisa ditambah ‘extra toping’ yang berisi bihun dan mi kuning. Untuk extra toping, kita hanya terkena tambahan Rp. 1.000 saja. Nah cukup murah kan? Untuk minumannya, disediakan teh hangat, teh botol, air mineral dan air dalam kemasan lainnya.


Pempek Kapal Selam Extra Toping


Pempek Kulit Extra Toping




Bumbu Pempek
 
Oiya, jangan lupa ya kalau di ‘Pempek Ny.Kamto’ juga memberlakukan pajak 10% untuk yang dimakan di tempat. Tapi, itu semua impas kok dengan pelayanan, kebersihan dan yang paling penting adalah jaminan rasanya. Kalau aku pribadi, paling suka dengan pempek kulitnya, karena tengirinya begitu terasa. Untuk yang lainnya, rasanya juga tidak mengecewakan. Benar-benar cita rasa khas Palembang, tidak kurang, tidak lebih. Kalau kata pak Bondan sih, maknyus! Kadang aku berfikir, ingin sekali-kali membungkus pempek dan menikmatinya dibawah Jembatan Sungai Bengawan Solo. Jadi pura-puranya, kita menikmati pempek di Jembatan Ampera sambil menikmati keindahan Sungai Musi, hehe.. abaikan!

 
Foto lokasi tampak depan (diambil dari web cityguide kapanlagi.com)
Lokasi ‘Pempek Ny. Kamto’ ini cukup strategis lho, berada di tengah kota. Hanya sekitar 500 meter sebelah timur mall terbesar di Solo, Solo Paragon. Tidak terlalu jauh dari Stasiun Balapan. Tepatnya di Jalan Yosodipuro No. 100 Solo. Mau tahu lokasinya lebih detail? Bisa dicek di Streetdirectory ya! Baru-baru ini, Pempek Ny. Kamto juga buka cabang di dalam mall Solo Paragon. Sebelum membuka cabang di Solo, Pempek Ny. Kamto telah berjaya lebih dulu di Yogyakarta, tepatnya berlokasi di sebelah Mall Ramai, Malioboro. Dan kini, perkembangannya sudah merambah sampai ke Semarang. Rasa pempeknya, sama-sama mantap dan nendang (bolaaa kaliii) di lidah. So, bagi kamu-kamu penyuka pempek, boleh deh sekali-kali dibuktikan. Dijamin nggak bakalan kecewa deh!

Untuk lokasi yang di Solo, biar lebih jelas, silahkan cek peta streetdirectory di bawah ini :
 
Sstt.. petanya bisa digeser-geser lho! Selamat berburu pempek! ^_^


“Pempek Ny. Kamto”
Asli 10 Ulu Palembang
Jl.Yosodipuro No. 100
Telp. 0271-727446
Solo


Read More

Antologi Sebagai Batu Loncatan, Why Not?


“Antologi Sebagai Batu Loncatan, Why Not?”

Sebagai seorang writer atau writer wanna be, tentu akan sangat membahagiakan jika kita melihat buku hasil karya kita mejeng di toko buku, apalagi dengan nama kita sendiri tertera di bawah judul karya tersebut. Bukan dengan embel-embel dkk. Tapi untuk seorang penulis pemula, rasanya itu masih sulit. Disamping belum begitu banyak mengenal link-link penerbit, dibutuhkan ‘nafas panjang’ untuk membuat sebuah karya utuh berjudul buku solo.

Sebagai sarana untuk mengasah pena, banyak alternatif yang bisa dipilih, salah satunya dengan menulis buku secara keroyokan atau antologi, yang kemarin-kemarin booming di media sosial. Sebenarnya, apa sih antologi itu? Menurut KBBI, antologi merupakan kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Kalau jaman dahulu, kita mengenal antologi puisi atau cerpen dari seorang atau beberapa orang sastrawan. Dalam perkembangannya, kisah-kisah true storypun bisa dibukukan dalam bentuk antologi. Dipelopori oleh duo Jack Canfield dan Mark Victor Hansen yang sukses dengan seri Chicken Soup for the soulnya. Akhirnya banyak yang mengikuti tren itu, beramai-ramai membuat buku dengan konsep yang serupa. Sebut saja a cup of coffee, a cup of tea, a sweet candy dan lain-lain.

Banyak yang memandang sebelah mata fenomena menulis keroyokan ini. Ada yang berpendapat, seseorang baru akan disebut penulis jika sudah menghasilkan karya utuh berupa buku sendiri. Ada pula yang menganggap bahwa menulis keroyokan itu sangat tidak keren, tidak membanggakan. Karena nama kita hanya tampak di naskah bagian dalam, bukan di cover depan sebuah buku. Apalagi kalau buku tersebut hanya diterbitkan secara indie. Tambah sangat tidak keren, karena hanya dijual online. Sah-sah aja ya orang mau berpendapat bagaimana.

Kalau pendapat saya pribadi sih, nggak ada salahnya kalo kita mencoba peruntungan dari antologi sebagai langkah awal dalam meniti jagad kepenulisan. Beberapa orang memilih media sebagai acuan apakah tulisannya sudah ‘layak konsumsi’ atau belum. Ada juga yang mengikuti berbagai kompetisi menulis baik di dunia nyata maupun dunia maya. Ini hanya, tentang sebuah proses. Intinya tetap menulis kan? Just sharing, antologi pertama saya hanya dijual online dan saya harus membeli sendiri buku tersebut serta tidak mendapat royalti, karena hasil penjualan buku tersebut seluruhnya untuk disumbangkan kepada para korban bencana. Apakah saya kecewa? Tidak! Justru ada kepuasan tersendiri ketika memegang buku tersebut. Yah, namanya juga first antology, sensasinya pasti bedalah jika dibandingkan dengan yang sudah pernah memiliki karya sebelumnya. Ternyata, menulis tidak sekedar untuk materi. Ada nilai yang lebih berharga, dan itu letaknya di hati. Paling tidak, tulisan-tulisan yang terkumpul bisa menjadi semacam prasasti untuk hidup kita kelak, warisan bagi anak cucu. Silahkan dihitung, kira-kira umur dan tulisan kita akan lebih panjang mana? ^_^


Bagi saya, mengikuti antologi-antologi semacam itu berarti menambah pengetahuan.  Coba cek, ternyata nilai positifnya banyak kok! Pertama, sebagai tolok ukur tulisan kita. Apakah tulisan kita sudah memenuhi selera penyelenggara event yang bermacam-macam itu. Kalau tulisan kita lolos, ada kemungkinan bahwa tulisan kita termasuk asyik (menurut versi mereka). Semakin banyak yang lolos, kita semakin terlatih (jika temanya beda-beda). Kedua, khusus untuk true story, bisa untuk mengabadikan cerita atau kisah dengan orang-orang di sekitar kita. Tentu, ini bernilai ‘sejarah’. Bukti autentik yang berupa buku akan lebih mudah disimpan. Bandingkan dengan tulisan kita yang dimuat di media, rada ribet kan kalau mau mengarsipkan? Ini bukan berarti mendiskreditkan media lho! Menulislah untuk media, itu sangat-sangat dianjurkan! Jika dimuat, itu sangat keren! Eh ada lho, yang hanya menulis untuk media. Contohnya, pak dosen saya. Tulisannya sering nongol di media, tapi beliau tak pernah berfikir untuk bikin buku. Kepuasannya memang di media saja. Ini tergantung kemantapan pribadi masing-masing ya.

Ketiga, menebar jaring silaturahim. Kalau sudah satu buku, biasanya sesama kontributor menjadi akrab dan saling tukar pengalaman masing-masing. Keempat, biasanya kita juga jadi kenal dengan sang penyusun, dan sudah pastilah dia yang berurusan dengan penerbit. Dari situ, kita bisa belajar mengenai link-link penerbit yang dia punya. Siapa tahu, ketika kita sudah siap dengan naskah utuh sendiri, link-link penerbit tersebut bisa berguna untuk kita yang masih awam. ^_*

So.. antologi itu tidak seburuk seperti yang dipersepsikan bukan? Sah-sah aja kok hukumnya, asaaal.. jangan keterusan. Ada saatnya kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Segeralah bertobat jika kita sudah mengantongi banyak antologi! Saatnya bersolo karir, hehe.. (ada yang tertampar? :D) Kita boleh bermimpi, karena mimpi itu bisa menjadi semacam cambuk untuk terus memotivasi diri. Tapi mimpinya yang wajar-wajar aja ya. Nggak usah muluk-muluk. Misalnya, kita menginginkan menjadi seperti Kartini yang namanya harum sepanjang sejarah, Merry Riana yang sukses dengan kebebasan finansialnya, Dee yang buku-bukunya selalu best seller dan menempati rak eksklusif di tiap toko buku atau Tere Liye yang buku-bukunya juga best seller, selalu cetak ulang dan beberapa difilmkan. Kita, mereka berbeda. Intinya, tidak usahlah kita membandingkan kesuksesan siapa saja, tidak akan ada habisnya. Be our selves aja, karena diri kita tuh unik. Kita punya jalan dan pencapaian masing-masing. Syukur-syukur kalau bisa melebihi mereka, dengan kerja keras, segala sesuatu mungkin saja terjadi kan? Lagian, latar belakang tiap orang itu kan juga beda-beda. Seseorang yang lahir dari keluarga penulis misalnya, tentu pencapaiannya akan berbeda dengan seseorang yang terlahir dari keluarga yang buta huruf. Kalau bisa melebihi atau minimal menyamai, baru itu disebut luar biasa! Dan yang paling penting adalah menjaga niat untuk tetap konsisten di jalan ini. Itu kuncinya. Tonjok saja mood yang setiap saat bisa berubah dan mempengaruhi kenyamanan kita.

Menulis untuk media, lomba atau antologi, semuanya baik untuk terus melatih keluwesan jari kita. Sebagai bekal untuk menyiapkan amunisi, guna ditembakkan ke sasaran utama kita : Debut solo. Dibutuhkan kedisiplinan yang tinggi (malu, nunjuk muka ndiri :D) serta semangat dan motivasi diri yang selalu terjaga. Karena ketika kita mulai menulis solo, kita harus terjun total mencurahkan segenap hati dan pikiran, tidak bisa setengah-setengah. Ingat, ketika karya kita dilempar ke pasaran, kita harus siap dengan segala kritik yang mungkin akan kita terima sebagai konsekuensinya. Banyak orang-orang pintar di luar sana. So, biarkan saja orang lain dengan pendapatnya masing-masing. Tetap semangat nulis, berawal dari apapun itu. Dari antologi, merambah ke buku solo, itu harapannya. Dan, Bukankah perjalanan seribu mil juga harus dimulai dari satu langkah?

Curcol ini lebih untuk menyemangati diri sendiri :D

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Be a Writer Indonesia

© 2011 dreamyhollic-bookahollic, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena