Sunday, 6 February 2022

Review Lintang

Review Novel Anak: Lintang - Karya Lia Herliana

 

Blurb Novel Lintang:

Pindah rumah! Bagi Lintang, itu artinya kerja keras berkali-kali lipat. Sebagai seorang tunanetra, ia harus berjuang mengenali lingkungan barunya. Lintang juga berharap mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Namun, muncul Bondan, anak laki-laki yang selalu berulah. Membuat Lintang tak habis pikir, dirinya salah apa sih? Sampai suatu hari, terjadi sesuatu pada Bondan. Lintang bimbang, haruskah ia membantu anak menyebalkan itu?


Rasanya, sudah lama sekali saya bisa menyelesaikan membaca buku dalam waktu sekali duduk. Beberapa tahun belakangan ini hampir tidak bisa. Maka saya begitu bahagia ketika berhasil menyelesaikan membaca novel Lintang ini hanya dalam waktu kurang lebih setengah jam saja, sekali duduk. Ya iyalah, novel anak kan halamannya tipis dengan ukuran huruf yang lumayan besar, hehehe… tetapi sebenarnya karena novelnya memang asyik sih.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga telah meyelesaikan membaca buku Save the Cat! Writes A Novel. Dan rasanya cuap-cuap kali ini, saya pengin menggunakan metodenya. Hehehe, maksa banget ya. Jadi agak-agak dewasa nih model review-nya. Hmm, kadang novel anak kan yang check out ke keranjang belanja adalah orang tuanya ya. Orang tua adalah dewan pertimbangan agung. Tetapi percayalah, meskipun mencoba menggunakan metode Save the Cat, saya berusaha untuk tidak spoiler kok. Tinjauan beat sheet-nya sekilas aja, hehehe. Peace ya Mbak Lia (belum juga kelasnya dimulai ya).

Pertama, tentang genre. Menurut genre Save the Cat, sepertinya Lintang cenderung masuk ke genre Rites of Passage. Tema besar genre ini adalah, masalah yang ada semata-mata disebabkan hanya karena sang tokoh hidup. Ya, kita semua tumbuh dan menghadapi segala rintangan. Bagaimana kita menghadapinya, itu menjadi intinya. Nah, Lintang, tokoh utama dalam novel ini, juga memiliki masalah karena hidup yang ia jalani. Ia tak bisa menghindari takdirnya sebagai seorang anak tunanetra. (Ini beneran, selama membaca, rasanya saya tak berhenti menempatkan posisi sebagai Lintang yang memiliki keterbatasan mobilitas, membayangkan harus meraba-raba hal-hal di sekitarnya).


Kedua, tentang tokoh. Menurut genre Rites of Passage, seorang tokoh setidaknya disematkan tiga hal: masalah hidup, cara yang salah untuk mengatasi masalah dan penerimaan terhadap kenyataan yang sulit. Mengenai masalah hidup, jelas. Lintang seorang anak sembilan tahun yang tunanetra. Itu saja sudah menjadi masalah besar. Ketika keluarganya memutuskan untuk pindah rumah, kegelisahan Lintang dimulai. Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah nanti ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, menjadi semacam ketakutannya. Selanjutnya tentang cara yang salah untuk mengatasi masalah. Ketika sudah mulai membaur dengan teman-teman di lingkungan barunya, ternyata itu menimbulkan masalah lain, yang kemudian disikapi oleh Lintang dengan cara yang kurang tepat. Apakah itu caranya? Silakan dibaca bukunya. Lalu tentang penerimaan terhadap kenyataan yang sulit. Ini menjadi tema sekaligus pesan moral yang menjadi roh dalam novel ini. Bahwa setelah Lintang menyadari kekeliruannya, ia mulai bangkit dan berbenah. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa di balik kekurangannya, ada kelebihan yang ia miliki. Pada akhirnya ia bangga menjadi diri sendiri, bahwa ada keindahan-keindahan dalam perbedaan.

Dan voila, penulis dengan cermat membawa tiga hal yang harus disematkan ke dalam tokoh Lintang itu ke dalam lima belas beet sheet ala Save the Cat dengan rapi. Dimulai dengan babak pertama atau pembukaan, yang terdiri dari persiapan dan pernyataan tema diceritakan dengan efektif. Kemudian melaju ke babak kedua yang terdiri dari katalis, debat sampai kepada kegelapan jiwa, juga diceritakan dengan apik, tentu dengan tetap menjaga kekhasan anak-anak. Bahkan penulis juga menyertakan tokoh cerita B yang berfungsi membantu sang tokoh utama menyelesaikan masalahnya. Dalam hal ini adalah Rio -kakak Lintang- dan hampir semua teman barunya, kecuali Bondan tentunya. Kemudian babak ketiga yang terdiri atas klimaks dan gambaran penutup juga diceritakan dengan porsi yang pas. (Jadi mari kita main tebak-tebakan, apakah Mbak Lia pernah membaca buku Save the Cat, sampai novelnya serapi ini sesuai metodenya?)


Ah, tentunya ini semua karena jam terbang (tujuh puluhan buku anak! Jangan mendebatkan itu, Santi! Hehehe, baiklah). Dalam buku-buku sebelumnya, biasanya Mbak Lia yang menulis cerita, sementara ilustrasi dikerjakan oleh orang lain. Dalam novel anak Lintang ini, ilustrasi di dalamnya dikerjakan sendiri oleh Mbak Lia. Ckckck, multi talenta ya. Dan untuk design sampulnya yang cantik, ternyata dikerjakan oleh putrinya (Ouwh, what a sweet collaboration between mother and daughter. It’s really awesome!).

Jadi, apa yang sebenarnya dilakukan Lintang untuk mengubah Bondan, si anak menyebalkan itu? Apakah usahanya berhasil? Simak pula keseruan Lintang dengan teman-teman barunya. Percayalah, membaca novel anak semacam ini adalah salah satu cara untuk bergembira.

Jadi, kalau Lintang ini dikasih bintang, saya berani memberinya empat bintang dengan gembira (dari standar Goodreads lima bintang). Dengan kata lain, It’s high recommendation novel for children.

 

Judul Buku          : Lintang

Penulis                : Lia Herliana

Penerbit              : CV. Maharani Buana Pustaka

ISBN                   : 978-623-5552-59-0

  
 


Related Articles

2 comments:

  1. Wah, jadi penasaran. Kok aku terlewat ya, beli novel ini ikut kelas mbak Lia ya. Kangen ikutan kelas Mbak Lia.

    ReplyDelete