Thursday, 22 June 2017

The Holy Qur'an Exhibition

Lautan ilmu yang tak pernah kering. Tiap tetesnya berikan makna: Al Qur’an. 

Menyaksikan sejarah Al Qur'an yang begitu hebat, seolah-olah menampar diri. 

Aku tertunduk, malu dan merutuki diri. 

Bakti apa yang telah kupersembahkan untuk membuktikan cinta Quran, jika untuk membacanya saja, masih harus meluangkan waktu, bukan menyediakan waktu khusus untuknya?

 



Prophet Muhammad SAW Exhibition

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

(QS Al Ahzab: 21)

 
 
 
 
 
 
Menyelami sejarah kehidupan Rasulullah Saw

Asmaul Husna Exhibition

Adalah nama-namaNya yang indah 

Yang menggambarkan keagungan Zat Yang Maha Segala 

Yang Maha Pengasih, Yang Maha Pemurah 

Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat 

Yang padaNya, kita sandarkan semua doa dan pengharapan

 

Pintu masuk ekshibisi

 

Madinah Al Munawwarah

Rasulullah sangat mencintai Madinah. Beliau pernah berdoa kepada Allah, “Ya Allah, anugerahkan dalam diri kami rasa cinta terhadap Madinah seperti kecintaan kami terhadap Mekkah, atau lebih dari itu.”

Dari Anas, Rasulullah bersabda, “Ya Allah, jadikan bagi Madinah dua kali lipat apa yang telah Engkau jadikan pada Mekkah dari keberkahan.”


Masjid Al-Jum'ah, masjid yang digunakan Rasululah untuk sholat jumat pertama kalinya

Masjid-Masjid di Sekitar Nabawi

Nabawi begitu sejuk, membuat betah berlama-lama di dalamnya. Kaki seolah enggan beranjak dari dalamnya. Tapi, rasanya akan lebih menyenangkan, jika masjid di sekitarannya pun turut dijelajah. Tiga masjid terdekat yang melingkupi masjid Nabawi, adalah bukti sejarah yang akan turut menguatkan keyakinan akan hebatnya sejarah islam itu sendiri.

 

Pagi yang syahdu, Masjid Nabawi, Masjid Al-Ghamamah dan Masjid Abu Bakar dalam pandangan

Al Masjid an-Nabawi

Aku jatuh hati. Bahkan sebelum bertemu dengannya. Al Masjid An-Nabawi. 

Seketika hatiku terpaut saat pertama kali memandangnya.

Lagi, aku terbungkam oleh kebahagiaan yang tak tergambarkan oleh kata-kata.






 

  
 


 

Antara Mecca - Medina


 
   

Perjalanan antara Mekkah dan Madinah ini. Padang pasir terjal, tandus dan berbatu membersamai. Terbayang bagaimana sulitnya medan yang dilewati Rasulallah SAW saat harus berhijrah. Duhai, betapa kerasnya ujian demi ujian yang harus dilalui. Padang pasir terjal, tandus dan berbatu ini, mengingatkanku akan padang mahsyar. Padang yang akan kita lalui kelak. Seketika hati tertampar, bekal apa yang sudah kita siapkan untuk melewati kerasnya pengadilan di sana, saat kita tak punya bala bantuan selain amalan kita masing-masing. Saat kita tak lagi saling peduli dengan yang lain karena ketakutan yang luar biasa akan dosa-dosa. Duhai, semoga kita dijauhkan dari kelalaian untuk selalu memperbaiki diri. Aamiin







Makkah Al Mukarramah


Menjejakkan kaki di Makkah Al Mukarramah, adalah menggenapkan harapan demi harapan.


Ibrahim Al Kahlil Street, tanah haram yang dipijak pertama

 

Jarang menemukan pohon di sekitar Masjidil Haram
 
 

Rumah Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw. Di rumah ini Rasulullah lahir.
Kini, menjadi perpustakaan.



Kota Makkah, rumput memerlukan perawatan mahal
 
 
 
Kota Makkah yang selalu terlihat sepi di siang hari karena suhunya
 
 

Toko-toko di Makkah yang harus tutup saat sholat jumat



Tower Zamzam dilihat dari terminal kota Makkah



Jabal Tsur, gunung di mana Nabi Muhammad bersama Abu Bakar menyembunyikan diri dari kejaran kaum Quraisy

 

Jabal Rahmah, gunung di mana Adam dan Hawa kembali bertemu setelah ratusan tahun terpisah



Mina, semoga Allah mudahkan jalan kita untuk berhaji. Aamiin


Monday, 19 June 2017

Al Masjid Al Haram



Speechless…

Aku tak mampu berkata-kata. Aku terbungkam oleh bahagia yang nyata. Tak ada yang ingin kulakukan kecuali sujud syukur.

Inilah… inilah tempat yang selalu dicita-citakan, tempat yang tak henti diperjuangkan untuk dikunjungi. Tempat yang paling dirindukan oleh hati terdalam.

Siapalah saya, Allah mampukan menginjakkan kaki di tanah haram, rumah-Nya. Jika bukan karena rahmat dan kasih-Nya, rasanya hal itu hanya sebatas angan yang tak tergapai.

Haru, sedu, sedan. Semua rasa bercampur menjadi satu, yang tak mudah diterjemahkan, saat mata memandang Baitullah dengan segala keindahan dan kedamaian yang melingkupinya. Seakan-akan, hati menginginkan waktu terhenti saja di detik itu. Yang kemudian tak henti-henti berharap, agar nanti ada kesempatan lagi dan lagi.

Semua terasa indah. Hal-hal yang telah berlalu seolah tak berarti. Bahkan hal-hal yang menyenangkan dan menyedihkan sekalipun. Segala yang fana, yang dalam memperjuangkannya harus jatuh bangun. Semuanya itu terasa sangat ringan jika pada akhirnya, anugerah yang hebat ini adalah hadiahnya.

Alhamdulillah



 



 



 

 



 

 

Popular Posts