Thursday, 30 July 2020

Kapan Pandemi Berlalu?


When someone in your circle or neighborhood is infected, that's when you believe the virus exists.

Di masa lalu, mana tahu kita akan sampai ke sebuah masa seperti saat ini. Masa ketika segala sesuatunya serba berjarak. Ruang gerak terbatas. Hal-hal yang sangat biasa kita lakukan, kini menjadi sesuatu yang 'luar biasa'. Beberapa hal, malah terkadang terasa seperti di luar jangkauan. Kita tak pernah menyangka bahwa pandemi ini benar-benar nyata adanya.

Dulu, kita bebas saja travelling ke mana suka. Sekadar ngemall, nonton bioskop, nongkrong sembari ngopi di resto favorit, piknik rame-rame, berkomunitas. Kini? Jangankan hal-hal yang sifatnya bepergian keluar rumah seperti itu. Sekadar untuk ngobrol bareng teman saja, harus benar-benar berjarak. Makan siang bersama teman kantor, yang dulu bisa dilakukan sambil bergosip ria (ups), sekarang harus dilakukan dengan menatap tembok (pengalaman pribadi). Tak ada lagi bebas bercengkerama. Semua sebisa mungkin dilakukan dengan menjaga jarak. Bahkan untuk sholat pun, kita harus mengatur shaf sedemikian rupa supaya tak bersinggungan. Sedih? Pasti! Lalu tebersit pertanyaan-pertanyaan. Kapan semua ini berlalu? Kapan hidup kita kembali normal? Kapan rencana-rencana kita yang tertunda akan terwujud? Dan segala macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran.

Monday, 13 July 2020

[Review] Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa


Setiap kita akan berada pada berbagai fase kehidupan. Pada setiap fase tersebut, kita selalu dihadapkan pada berbagai macam pilihan dan pertanyaan. Pertanyaan seperti; kita mau jadi apa di masa depan, terkadang menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan. Buku ini mencoba membantu menjawab berbagai pertanyaan menggelisahkan tersebut.

Mengapa kita gagal terus? Mengapa kita tidak diterima di sekolah favorit dan universitas negeri? Mengapa jurusan yang kita pilih ternyata tak seperti yang dibayangkan? Bagaimana bisa kita terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai passion? Dan segala rentetan pertanyaan yang pada akhirnya menimbulkan kegundahan dalam diri. Sementara di luar sana, kita melihat orang-orang begitu yakin dengan langkahnya. Ada yang diterima di sekolah favorit lalu tembus Perguruan Tinggi sesuai jurusan yang diidam-idamkan, lalu kuliahnya berjalan lancar. Sesudah lulus, rasanya mereka mudah saja mendapat pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan. Semua terlihat begitu mengalir. Dan kita pun meratapi diri.

Padahal hidup bukan sebatas peringkat, prestasi atau sederet angka membanggakan di saldo rekening. Kita terlalu terpaku oleh standar sukses yang dibuat oleh society dan media. Media kadang melenakan, hal-hal yang kita lihat selalu indah. Lalu kita membandingkan diri dengan orang lain. Dan melupakan perjuangan-perjuangan yang selama ini kita usahakan. Kita merasa gagal oleh pikiran-pikiran kita sendiri. Kita merasa tak pernah menjadi apa-apa. Pada akhirnya kita berpikir bahwa kita tidak akan pernah bisa menjadi luar biasa seperti orang-orang di luar sana.

Sunday, 12 July 2020

Home is ...


A new normal adaptation. Jadi, sedikit demi sedikit aktivitas di luar rumah mulai dijalankan lagi. Atas nama kesehatan fisik dan mental, boleh lah ya sekadar jogging, menghirup udara segar sambil memburu si endorphin. (Tetap dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan jaga jarak). Pagi ini melewati bilangan Menteng, Jakarta Pusat yang sejuk dan adem karena banyak pohon-pohonnya. Joggingnya sih uda niat banget. Tapi, berhubung yang dilewati adalah kawasan  paling elit, jadi mata nggak pernah lepas mengamati satu per satu penampakan rumah di situ. Dan kesimpulannya, rumahnya bagus nan mewah semua. Arsitekturnya beragam, rata-rata berpagar tinggi dan dijaga security 24 Jam. Dalam hati hanya mampu berucap, "Bahkan dalam mimpi pun tak berani mengkhayalkan mempunyai rumah-rumah seperti itu. Sangat-sangat di luar jangkauan." Dan acara jogging itu pun sedikit terdistraksi dengan hitung-menghitung aset orang yang bahkan tak pernah dikenal, ups. Bagaimana perjuangan mereka sampai mendapatkan hunian yang wow tersebut. Apakah mereka pernah jatuh-bangun dalam usaha-usahanya? Ah tapi tetap saja, angka rupiah yang terbayang-bayang super fantastis itu masih tak masuk di akal yang minimalis ini. Trust me, in my simple thought, home is one (not-too-big) building has little garden with a low fence and variety of flowers and vegetables. That's my dream home. Jadi, melihat pemandangan hunian mewah seperti itu, rasanya seperti di 'awang-awang'.

Popular Posts