Saturday, 24 October 2020

Ibrahim Al Kahlil Street




Menapaki kembali jalan ini, sekeping ingatan tentangmu melintas. 

Malam itu, kita sama-sama menawar Qur'an saku di sebuah toko buku depan Masjidil Haram. Waktu itu, kita saling tersenyum saat harga yang kita tawarkan melalui perantara kalkulator memunculkan angka sama. Dan kita sama-sama tertawa saat penawaran itu ditolak oleh empunya toko. Kita pun tak gentar, masih berusaha rayu-merayu, bujuk-membujuk, tapi ternyata tak membuahkan hasil. Lalu kita sama-sama keluar, menyusuri jalan Ibrahim Al Kahlil untuk mencari toko buku yang lain.

Dalam suasana lalu lalang jamaah, kita bercanda. Kukatakan, itu malam terakhirku di Mekkah karena esoknya rombongan kami akan menuju Madinah. Kau sarankan padaku untuk mencari Qur'an saku serupa di Madinah, karena konon lebih terjangkau. Mungkin karena percetakan Qur'an terbesar ada di sana. Aku menyetujuinya. Dan kau tetap gigih menyusuri jalan demi menemukan toko buku. Aku tahu tak ada toko buku lagi sepanjang jalan di depan, sejauh mata memandang. Aku sudah menjelajah siang sebelumnya. Aku pun menyarankan, sudahi saja petualangan itu. Malam sudah terlalu larut untuk seorang gadis sepertimu berjalan sendirian di antara kerumunan orang-orang tak dikenal. Toh, esoknya kau masih bisa melanjutkan untuk menjelajah kembali. Kau pun mengiyakan. Dan aku lega.

Di persimpangan itu, kita berjabat erat, saling mendoakan dalam kebaikan. Maafkan, aku luput mengenalimu sebagai orang Pakistan, padahal kau tepat mengenaliku sebagai orang Indonesia. Ah ya, aku memang sulit membedakan paras warga Timur Tengah pada umumnya. Sesulit orang Timur Tengah membedakan paras Indonesia dan Malaysia. Hanya bisa tebak-tebak bergembira. 

Kau berbalik jalan ke arah penginapanmu yang terletak tepat di depan pintu utama Masjidil Haram. Aku pun melanjutkan berjalan ke arah penginapanku yang tinggal beberapa meter lagi. Semilir angin merayap dingin, tapi ada secercah hangat yang menyusup pelan-pelan. Berharap, ada waktu untuk kita kembali bersua.

Dear gadis Palestina.. Ah, bahkan aku melupakan namamu. Yang kuingat, bahwa ejaan namamu sungguh sulit kulafalkan dengan lidah Indonesiaku. Kau tahu, sebenarnya malam itu aku masih ingin bertanya lebih banyak. Tentang negerimu. Tentang mimpi-mimpimu. Tentang apa saja. Tapi kita harus berdamai dengan waktu bukan?

Dear gadis Palestina.. Apa kabarmu hari ini? Konon, toleransi telah terpasung di sana. Hak-hak perdamaian telah terabaikan. Sungguh, pilu nian hati ini mendengarnya. 

Dalam diam, ada sejumput harap. Kau dan negerimu akan baik-baik saja. Dalam diam, teriring doa yang sama saat Nabi Yakub memohon keberkahan atas negerimu. 

Ah, entah sampai batas apa konflik itu akan menemukan muaranya. Satu yang pasti, kami tak pernah menepikanmu. Selalu ada doa terapal, karena kita bersaudara. Selalu ada harap terlintas, nanti, suatu hari nanti. Kita bisa berjalan dan tertawa bersama lagi. Mungkin tak di jalan Ibrahim Al Kahlil. Bisa jadi kita sama-sama menyusuri jalan di depan Masjidil Aqsa. Dua jalan yang sama-sama pernah dijejak oleh Nabi Ibrahim pada masanya. Lalu kita bertukar cerita dan terhanyut mengagumi sejarah negerimu yang mulia. Siapa tahu kan?

Monday, 19 October 2020

Klappertaart Huize

Bogor bagi Jakarta itu, bagaikan oasis di tengah padang pasir. Rasanya sangat nyaman menikmati akhir pekan di kota hujan itu. Ya, meskipun sekarang macetnya tidak beda jauh dengan Jakarta, tapi paling tidak suasana adem masih terasa. Di beberapa sudut, masih banyak pepohonan hijau nan rindang. Lumayan lah ya buat 'mendinginkan' mata dan pikiran. Kulinernya? Mmm, tak perlu diragukan lagi. Banyak banget variasinya. Asinan sayur, asinan buah, roti unyil, aneka masakan sunda dan berbagai makanan yang dikemas kekinian, memang menggoda selera. Serasa surga bagi penyuka kuliner.

Salah satu kuliner yang sebisa mungkin tak terlewatkan oleh saya ketika main ke Bogor adalah Klappertaart Huize. Pertama kali mengenal klappertaart tuh sebenarnya bertahun-tahun yang lalu. Saat salah satu teman komunitas BAW (Mbak Marisa Agustina) membuka usaha 'Klappertaariza'. Mbak Risa sering banget posting foto-foto klappertaart yang terlihat yummy dan menggiurkan. Tapi apalah daya, Mbak Risa berdomisili di Makassar, jauh amat mau mencicipinya. Lalu mulai deh, menjelajah ke mana-mana demi menuruti rasa penasaran akan klappertaart ini. Dan hasilnya, nihil! Di daerah saya, tak ada satu pun usaha kuliner yang menjualnya.
 
Awal tinggal di Jakarta, tiap akhir pekan saya dan teman-teman suka menjadwalkan untuk kemana aja. Secara kebetulan, waktu itu kita rame-rame main ke Kebun Raya Bogor dan menjelajah kuliner di sekitarnya. Dan mata saya langsung mengerling gembira begitu menemukan plang 'Klappertaart Huize & Resto'. Tanpa basa-basi lagi, langsung semangat empat lima memasukinya.
 
Dan saya langsung menyukai sejak pertama kali mencicipinya. Kue khas Manado yang merupakan warisan kolonial Belanda ini ternyata sangat lembut dan yummy. Perpaduan tepung terigu, kelapa muda, susu, mentega dan telurnya sangat pas. Manisnya  tidak eneg. Tekstur lembutnya langsung lumer di lidah.
 


Klappertaart huize tersedia dalam berbagai macam varian dan rasa seperti: original, keju, strawberry, blueberry, pandan, talas, chocochip, oreo, tape dan durian. Semuanya enak, tapi favorit saya tetep yang original. Harga bervariasi menyesuaikan ukuran dan rasa. Dan sampai sekarang, saya belum menemukan klappertaart lain yang rasanya sebanding dengan klappertaart huize ini, menurut versi lidah saya.

Sunday, 11 October 2020

[Review] Karena Hidup Hanyalah Sebuah Persinggahan

Membaca buku ini, seolah membayangkan…

Menikmati senja di pinggir pantai, duduk bertiga bersama Mbak Lyta dan Mbak Brina. Menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kalian menyeduh kopi. Aku cukup dengan teh saja. Aku sudah menyerah dengan kopi.

Kita membicarakan tentang apa saja. Tentang senja, tentang pantai. Tentang kisah-kisah pada suatu masa. Tentang harapan-harapan. Tentang hal-hal yang menyenangkan. Juga tentang hal-hal yang kurang menyenangkan.

Kilas balik segala yang telah terjadi. Yang telah membawa kita semua, sampai ke detik ini.

 


Saturday, 3 October 2020

Kasih Tak Sampai


Indah, terasa indah

Bila kita terbuai dalam alunan cinta

Sedapat mungkin terciptakan rasa

Keinginan saling memiliki

Namun bila itu semua

Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta

Tak semudah seperti yang pernah terbayang

Menyatukan perasaan kita

 

Aku mengagumimu. Diam-diam aku berharap kau akan selalu ada untukku, dalam segala suasana. Aku ingin, saat aku membutuhkanmu, kau menyambutku. Ya, aku ingin kita sedekat itu. Berbagi apa saja, sampai ke hal-hal yang remeh. Kala hujan turun di pagi yang gigil, aku ingin kau ceritakan padaku tentang hal-hal sederhana tapi bermakna, hingga suasana hangat tercipta. Kala senja menyapa, aku ingin kau tuturkan padaku tentang kisah-kisah indah, hingga kita menutup hari dengan gembira. Kita bisa saling menertawakan. Kita bisa saling menguatkan. Sesederhana itu.

Aku menyukai karaktermu. Aku menyukai falsafah hidupmu. Bahkan, aku sangat menyukai aromamu. Kau tahu, ketika bersamamu, aku selalu menghidu wangimu perlahan-lahan dengan mata terpejam dan senyum bahagia. Harummu, mampu membawa anganku melayang, menuju suasana penuh kedamaian.

Tetaplah menjadi bintang di langit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini

Agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua

 

Tapi menyukaimu ternyata tak sesederhana itu. Ada hal-hal yang sebenarnya tak ku mengerti. Seperti, mempertaruhkan segala sesuatunya. Kadang aku tak terlalu memedulikan itu. Dan ya, aku tahu ini hanya akan jadi sebatas impian. Impian yang buyar ketika pagi membuka mata. Sebesar apapun aku mengharapkanmu, kau seakan tak teraih. Sepanjang apapun aku memperjuangkanmu, sia-sia menanti di ujung jalannya. Aku mengerti, rasa ini sepertinya tak berbalas.

Friday, 25 September 2020

Memburu Senja di Pantai Marina

Ada kala, saat sudah lelah dengan rutinitas yang mengepung hari-hari, kau butuh menepi sejenak. Agar pikiranmu kembali jernih. Agar jiwamu kembali bersih. Kau bisa menyingkirkan sebentar segala tumpukan kewajiban itu.

Kau bisa melakukan apapun yang kau sukai. Menikmati senja di pinggir pantai misalnya.


Mmm, jangan, jangan kau bandingkan dengan senja di pantai pulau-pulau yang masih alami itu. Pasti tidak akan lebih unggul. Hanya saja, suasana senja di manapun, asal dinikmati dengan rileks, damai akan hadir menenteramkan jiwa.


Jakarta punya Marina. Yang sekarang sudah berbenah dengan cantik. Tak kalah pesonanya dengan pantai di kota-kota besar lain. Sebagai warga, kita dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas publik yang makin lengkap. Kawasan Ancol makin asri dan berseri. Sebagai penikmat, jangan alpa dari kewajiban menjaga kebersihannya.

Thursday, 17 September 2020

Pandemi Mengoyak Nurani

Sungguh, pandemi ini telah mengoyak hati banyak orang.

Andai kita berada di posisi mereka. Yang telah kehilangan keluarga dan sahabat tanpa diduga. Yang harus menjalani isolasi sepi dibayangi resah gelisah tiap detiknya. Yang harus dikucilkan seakan-akan setiap inci gerakan tubuhnya mampu menyemburkan virus jahat nan kejam. Yang mau tak mau harus berdiri di garis paling depan tanpa punya pilihan mundur ke belakang, mempertaruhkan hidup.

Pandemi ini nyata. Dan ada banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya. Mungkin kita tak percaya, karena hanya melihat dari kejauhan. Ada yang harus menjalani swab sampai empat belas kali baru dinyatakan negatif. Padahal teori awalnya, hanya butuh waktu dua minggu untuk kembali ‘bersih’. Bisa kau bayangkan, satu setengah bulan kesehatan fisik dan mentalmu terganggu karena kekhawatiran berlebihan? Ada yang terinfeksi lagi, untuk kedua kalinya, setelah tiga bulan dinyatakan sembuh. Padahal secara teori, seharusnya antibodi sudah terbentuk. Mungkinkah virus sudah bermutasi? Lalu apa kabar dengan vaksin, jika antibodi tak ada? Dan rentetan pertanyaan lainnya yang menuntut jawaban pasti. Sayangnya, belum ada yang pasti.

Andai kita sedikit saja mampu berempati dan menahan ego diri. Kadang, kita tak sadar..

Perilaku kita yang tak disiplin telah melukai sahabat-sahabat kita yang berjuang di garda terdepan.

Padahal, mereka adalah tumpuan kita dalam berjuang melawan pandemi ini.

Mari kita bantu mereka sepenuh hati, dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jangan lengah dan bosan; memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Himbauan itu ada di mana-mana, terpampang dengan jelas. Kita hanya harus menjalankannya dengan tertib. Bukan malah abai, cuek dan jemawa merasa diri aman. Tapi tak sadar justru menciptakan klaster penyebaran baru.

Sesederhana itu meringankan tugas mereka.

Supaya, tak ada lagi perjuangan yang sia-sia.

Supaya, kurva itu pelan-pelan melandai.

Dan hari-hari kita kembali damai.


Update kasus per 16 September 2020

Monday, 14 September 2020

Menemukan Surga Literasi di Perpusnas

Cinta kan membawamu kembali di sini …

Sepenggal lagu itu tampaknya pas mewakili kondisiku belakangan ini.

Terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, bisa membuatmu jenuh dan kehilangan passion pada hal-hal yang kau sukai. Awalnya aku tak terlalu percaya dengan kalimat itu. Setelah mengalaminya sendiri, baru lah kepala ini mengangguk-angguk seraya mulut bergumam, “Oooh, hmmm …”

Pernah jadi pasukan pendamba weekend? Cek tiap Jumat sore, apakah senyummu lebar? Jika iya, kau termasuk! Yang nulis ini, pastilah salah satunya. Weekend berarti me-time. Kau bebas melakukan apa saja sesukamu. Bisa kabur sejenak dari rutinitas memang menyenangkan.

Me-time-ku dulu seringnya ngemall. Iya, tipikal pekerja ibu kota banget. Katanya sih, ngemall bisa ngurangi stres. Tapi menurutku, stres itu hanya berputar-putar saja, saat stres yang sama akan kau dapati ketika melongok isi rekeningmu ambyar akibat kebiasaan ngemall.

Pernah suatu kali nganterin temen ngemall. Lihat sendal jepit harganya sejuta sungguh bikin melongo. Lihat tas selempang harganya lima juta bikin mengkeret. Lihat gaun seharga sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan juta beneran bikin shock. Iya, tinggal nambah seribu perak genap sudah seratus juta. Manusia bodoh mana yang rela membelinya? Bukankah itu barang tak bernilai investasi dan cepat usang? Iya sih, seorang Kate Middleton, wedding dress-nya harganya miliaran. But she’s a prince’s wife, who will be the future queen of UK.

Ah, harga barang branded yang kadang tak masuk akal itu pernah membuatku sangat marah. Iya, aku marah pada dunia karena tak mampu membelinya ketidaklogisan harga dan nilai guna barangnya. Aku bayangkan, uang segitu bisa buat makan bertahun-tahun. Kalau di kampung, sudah bisa membeli sepetak sawah. Bahkan, kau bisa umroh empat kali! It’s greater value

Kemarahan tak beralasan itu lama-lama membuatku bosan ngemall dengan sendirinya, tanpa paksaan, sadar diri …😀

Dan aku mulai melirik rak buku kembali. Merapikan dan membersihkannya dari debu. Mempertanyakan kembali passion-ku yang dulu katanya ‘I love reading so much’.

Akhir-akhir ini, aku sering bertanya dalam hati, ke mana perginya energi yang dulu dalam dua hari saja mampu menamatkan bacaan setebal 600-an halaman? Aku merasa energi itu sudah terjun bebas, saat baru membaca dua halaman saja langsung terkantuk-kantuk.

Aku lupa tepatnya kapan mulai senang membaca. Yang kuingat, saat masih berseragam putih merah, pernah ditunjuk ibu guru untuk mengikuti lomba menulis tentang lingkungan mewakili sekolah. Sepertinya berawal dari situ, aku mulai banyak membaca buku. And I took pleasure in it.

Setiap ada kesempatan, aku usahakan untuk membaca, apa saja. Persewaan buku rajin disambangi. Perpustakaan daerah pun menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi, paling tidak sebulan sekali. Kala itu sering membayangkan, jika perpustakaan daerah saja koleksi bukunya sangat wow, apalagi perpustakaan nasional. 

 
Pintu masuk Perpusnas 

 
Dan, saat tinggal di Jakarta, mengunjungi Perpusnas adalah salah satu wishlist.

Wishlist yang banyak terdistraksi oleh keasyikan ngemall. Dan gadget. Juga medsos.

Sampai aku merasa kekuatan cinta menarikku kembali.

Sunday, 6 September 2020

Karakter-Karakter Mengagumkan

Dia, seorang guru besar, pimpinan fakultas di universitas ternama. Sehari-hari, dia menggunakan kereta untuk pulang pergi ke kampusnya. Dia memilih untuk tak mempunyai kendaraan roda empat, padahal sangat mampu membelinya. Alasannya begitu menakjubkan, hanya tak ingin menambah macet ibu kota. Dia memilih untuk menjadi sederhana.

Dia, seorang direktur rumah sakit ternama. Karena rumahnya jauh, dia memutuskan indekos di kawasan sekitar kantornya. Sehari-hari, dia berjalan kaki ke kantornya. Penampilannya bersahaja, tak neko-neko. Jika mau, dia bisa saja tinggal di apartemen mahal dan bergaya mewah. Tapi dia memilih untuk menjadi sederhana.

Menyaksikan itu, muka ini tertunduk malu ...

Ada orang-orang yang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Ada orang-orang yang bertahan dengan prinsipnya. Di tengah ingar-bingar kehidupan yang digempur paham hedonisme dan konsumerisme, memilih menjadi sederhana itu tak mudah. Ada kalanya lingkungan memengaruhi pikiran dan menuntut macam-macam. Hanya orang-orang dengan pendirian teguh, mampu berjalan melawan arus.

Merenungkan kisah pada suatu masa ...

Tentang manusia paling mulia yang bergelar Al Amin, yang kesehariannya sangatlah bersahaja. Tak pernah berlebih-lebihan. Suatu hari dalam hidupnya, beliau pernah mengikatkan bebatuan pada perutnya demi menahan lapar. Beliau adalah pemimpin negara, tapi rela menjahit sendiri bajunya yang robek. Beliau menggunakan hartanya untuk kepentingan dakwah.

Kesahajaannya pun meneladani dan menginspirasi sahabat-sahabatnya ...

Adalah sahabat yang paling beliau cintai. Lelaki santun dan lembut hati yang bergelar Ash-Shiddiq itu, harus berjualan dulu di pasar untuk memenuhi permintaan istrinya yang hanya ingin makan manisan. Ia gemar membelanjakan hartanya untuk memerdekakan budak-budak teraniaya. Bukan untuk kepentingan pribadinya. Hanya untuk mengharap ridho-Nya.

Adapun sahabat beliau yang bergelar Al Faruq, pernah tawaf mengelilingi Ka’bah dengan menggunakan kain yang terdapat dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan benang merah. Lelaki tangguh dan pemberani itu setiap hari menanyakan kepada jamaahnya, apakah ada yang membutuhkan sesuatu dan berkeliling pasar untuk memastikan keadaan ekonomi rakyatnya.

Lalu, sahabatnya yang mendapat julukan Dzunnurain, seringnya makan hanya dengan cuka dan minyak, tapi gemar memberikan makanan lezat kepada rakyatnya. Ia kaya raya, tetapi mengikhlaskan seluruh hartanya untuk dibelanjakan di jalan jihad.

Dan, sahabatnya yang dijuluki Abu At-Turab, dalam keadaan dingin memakai selendang lusuh yang sudah usang. Ia lebih menyukai pakaian sederhana dengan harga murah dan makan makanan kasar. Ia pernah punya tikar yang digunakan untuk tidur di malam hari, lalu di siang harinya digunakan untuk tempat makan. Ia lebih memilih menyedekahkan dirham kepada fakir miskin daripada menyimpannya.

Para khulafaurrasyidin itu memang juara dalam mencontoh kezuhudan dan kedermawanan sang manusia terbaik. Mereka mempunyai harta, kekuasaan dan wewenang. Tapi lebih memilih menggunakan seperlunya, tanpa dilebih-lebihkan. Mereka memiliki prinsip yang tak tergoyahkan. Dan itu tak mengurangi harkat dan martabatnya, justru derajatnya ditinggikan dan dimuliakan oleh-Nya.

Dalam keseharian, ada keadaan yang akhirnya mengharuskan kita untuk memilih. Pilihan-pilihan itu kadang berbenturan dengan kemampuan. Seharusnya kita bisa menakar diri, saat memutuskan perlu tidaknya memiliki sesuatu. Jika merasa tak mampu ya buat apa dipaksakan? Bukankah hanya akan membenani pundak ke depannya? Pun jika kita sebenarnya mampu, tapi tak terlalu membutuhkan, ya tidak ada salahnya menahan diri. Kita bisa mengalokasikannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Menuruti keinginan duniawi itu tak akan ada habisnya. Diperbudak keinginan, laksana minum air laut yang justru tak tuntaskan dahaga. Merasa cukup dengan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah adalah jalan membuka pintu ketenteraman. Kekurangan yang ada pada diri tak menjadi persoalan saat kita mampu bersyukur di segala kondisi.

Memilih menjadi sederhana dan apa adanya adalah salah satu bentuk qanaah yang membawa kepada pengasahan kepekaan sosial, yang tumbuhkan kebahagiaan hakiki.

Bahwa tak ada yang abadi, semua fana, semua hanya titipan. Dan, bukankah kita harus mempertanggungjawabkan semua hal di hadapan Sang Maha Segala, suatu saat nanti?

 

 

 

Saturday, 29 August 2020

Ragusa, Es Krim Rasa Sejarah

 
When I'm stressed, I eat ice cream, chocolate or sweets. 
Do you know why? 
Because, 'stressed' spelled backward is 'desserts' 
(Anonym)
 

Es krim selalu mengingatkan kenangan masa kecil saya. Saat masih berseragam putih merah, saya dan teman-teman sangat menggemari jajanan es krim yang dibungkus roti tawar. Kami selalu antri berebutan mengerumuni abang penjualnya saat pulang sekolah. Bisa kamu bayangkan kan, siang-siang saat matahari sedang terik-teriknya, pulang sekolah ketika sedang lapar-laparnya. Menikmati roti tawar yang lembut berpadu dengan manis-dinginnya es krim, mmm, nikmat nian.

Kini, ada kalanya saya ingin melepaskan lelah setelah seharian bekerja dengan bersantai sejenak sambil menikmati es krim. Iya, sepertinya es krim memang kesukaan semua orang. Dari anak-anak sampai orang dewasa, rasanya susah untuk menolak kelezatan es krim.

Es krim di zaman sekarang sangat bervariasi dan bisa ditemukan di mana-mana. Tapi saya justru merasa, nilai spesialnya menjadi berkurang.

Sampai saya menemukan es krim yang unik. Ragusa Es Italia.

Terletak di kawasan Gambir, tepatnya di belakang Masjid Istiqlal, toko es krim ini selalu terlihat ramai. Ada yang menggilitik saya, kenapa ya namanya Ragusa Es Italia? Apakah pendirinya orang Italia?

Yup, that's right. Menurut ceritanya, Ragusa didirikan oleh dua bersaudara asal Italia bernama Luigi Ragusa dan Vinzenzo Ragusa. Ragusa juga merupakan nama sebuah kota dan provinsi di Pulau Sisilia, Italia Selatan. Awalnya, pada tahun 1930-an, dua bersaudara Ragusa pergi ke Batavia untuk belajar menjahit. Tapi malah banting stir menjadi pembuat es krim. Alasannya sederhana, karena ingin memanfaatkan susu segar yang banyak mereka terima dari kenalannya, seorang wanita Eropa pemilik peternakan sapi.

You see, kadang hal-hal yang kita tekuni malah bukan sesuatu yang kita pelajari pada awalnya. Bisa jadi, kita mahir di satu bidang yang tak kita bayangkan sebelumnya.

Okay, lanjut ke es krim.

Ragusa Es Italia ini berbeda dengan bermacam es krim yang beredar di pasaran. Teksturnya lembut dan ringan, karena menggunakan bahan susu sapi segar, tanpa butter milk. Manisnya tak begitu pekat, pas di lidah. Dan kelebihannya lagi, tak menggunakan bahan pengawet. Jadi, always fresh everyday. Harganya pun cukup terjangkau (antara Rp15.000 - Rp35.000).

Pilihan menu cukup variatif dengan tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Kesukaan saya adalah spaghetti ice cream karena keunikan tampilan dan variasi topping-nya.


Spaghetti Ice Cream

Untuk regular flavored, ada pilihan rasa mocca, vanilla, chocolate dan strawberry

Untuk premium flavored, ada pilihan durian Medan, nougat dan mint raisin.
 
Untuk mix flavored, ada pilihan coupe de maison dan special mix.

Untuk fancy flavored, ada pilihan chocolate sundae, tutti frutti, cassata sicilliana, banana split dan spaghetti ice cream.


Cassata Sicilliana


Menikmati es krim Ragusa bisa dengan berbagai cara. Boleh dinikmati di tempat, take away atau sambil bersantai di sepanjang sungai di depannya yang kini  telah ada fasilitas city walk lengkap dengan kursi-kursinya.

Saya sendiri suka menikmati di tokonya langsung. Duduk di kursi-kursi rotan zaman dulu, mengamati interior toko yang masih belum berubah sejak berdirinya. Kemudian fokus mencicipi es krim pelan-pelan, sampai lumer di mulut, sambil membayangkan keriangan masa kanak-kanak dulu ketika berebut antri es krim dan puas menikmatinya di siang yang terik kala itu.

Dan tahu-tahu, es krimnya habis tak tersisa..

Tapi kenangan akan tersisa, lekat selalu, dan tetap semanis es krim.

Bagi yang penasaran mencicipi es krim yang telah ada sejak Indonesia belum merdeka ini, bisa langsung cus ke Jl. Veteran I No. 10, Gambir, Jakarta Pusat. Buka setiap hari lho...

Dan selamat menjelajah cita rasa sejarah.


Awalnya Ragusa bersaudara menjual es krim di Pasar Gambir (Jakarta Fair) di tahun 1932
  
 
 
Cafe tetap Ragusa Es Italia yang berdiri sejak tahun 1947






Saturday, 22 August 2020

Senyum Dalam Sebungkus Jeruk

Pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota, aku melihat adanya ketergesa-gesaan dalam semua aktivitas. Semua orang terlihat sibuk. Di jalan raya, halte, terminal, stasiun, bandara dan gedung-gedung perkantoran. Semua orang berjalan dengan sigap dan gesit, seakan-akan urusan mereka harus dibereskan secepat mungkin. Tak bisa menunggu nanti-nanti. Sejenak terlintas dalam benakku, jika aku ditakdirkan singgah lama untuk mencari penghidupan di sini, apakah ritmeku berjalan akan seperti mereka?

Hari pertama bekerja di kawasan pusat Jakarta, aku merasa de javu. Kakiku berjalan sangat cepat. Aku merasa diburu waktu. Perjalanan ke kantor menggunakan bus umum dengan jarak kurang lebih 25 KM itu ternyata sangat melelahkan. Waktu tempuh yang seharusnya bisa dilalui dalam 30 menit, tapi ternyata bisa molor menjadi 1,5 jam. Itu sangat di luar ekspektasi. Banyak sekali waktu terbuang percuma di jalan. Sementara tuntutan kantor tidak boleh datang terlambat.

Jadilah aktivitas sehari-hari bagaikan lingkaran kebosanan yang tak berujung. Bangun tidur sebelum subuh. Beberes segala sesuatunya walau dengan mata masih terkantuk-kantuk. Saat adzan subuh berkumandang, hanya tinggal sholat saja, kemudian siap berangkat. Berbaur dengan jalanan ibu kota di awal hari yang masih gelap pun, ternyata tak semulus yang dibayangkan. Semrawut dan macet di mana-mana. Di situlah kesabaran diuji. Pun begitu pulang kantor, tak jauh berbeda dengan suasana pagi. Berdesak-desakan dalam bus umum yang berbaur dengan berbagai macam aroma, tak bisa dielakkan. Bayangan sudah melepaskan lelah di rumah sebelum magrib, sepertinya hanya menjadi wacana semata. Nyatanya saat tiba di rumah, bahkan anggota keluarga yang lain sudah beranjak tidur. Keesokan harinya, ritme itu akan berulang lagi dan lagi. Saat itu aku baru percaya, stres sangat riskan melanda para pencari nafkah di Jakarta.

Terkadang, rasa penat dan bosan begitu kuat mencengkeram. Keluhan demi keluhan berhamburan. Sampai hal-hal yang terjadi di sekitar tak diperhatikan lagi. Fokus lebih ke egosentris. Bodo amat lah dengan hal-hal lain di dunia luar sana. Orang-orang itu juga tak peduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya. Jadilah konsep individualis tertanam kuat. Toleransi terpasung. Siapa yang kuat dengan ritme ini, ia bertahan. Yang tidak mampu menyesuaikan diri, ya terpaksa menyerah. Seakan-akan kota ini bak rimba raya. Sisi kemanusiaan sedikit demi sedikit tergerus.

Sampai sebuah ‘tamparan’ mendarat…


Setiap pagi, begitu turun dari bus, aku masih harus berjalan kaki kurang lebih 500meter untuk sampai kantor. Melalui trotoar kampus fakultas kedokteran ternama, ada banyak pedagang asongan menggelar lapak dagangannya. Salah satunya seorang bapak paruh baya yang berjualan buah jeruk dalam keranjang kecil. Yang kalau tidak salah ingat, sejak pertama aku mulai kerja, bapak penjual jeruk itu sudah berjualan di sana. Tiap turun dari bus, pemandangan bapak penjual jeruk itulah yang menjadi penglihatan pertamaku. Pun ketika pulang kantor, saat menunggu bus, pemandangan bapak penjual jeruk itu juga yang tersaji. Dan kalau diperhatikan jeruk dagangannya tidak berkurang banyak, dari awal pagi sampai menjelang petang. Hampir selalu begitu, selama berbulan-bulan. Dari situ, aku mulai terketuk dan menyelipkan sedikit niat untuk membeli jeruknya kapan-kapan. 

Sunday, 2 August 2020

Film-Film Studio Ghibli (Bagian 2)

Hai-hai, jumpa lagi. Kita lanjutin yuk ngobrolin film-film Studio Ghibli. Dalam postingan sebelumnya, saya sudah mengulas pendek 12 film Studio Ghibli. Gimana, apakah kalian sudah nonton semua? Film terakhir yang diulas adalah My Neighbors the Yamadas yang diproduksi tahun 1995. Sekarang mari kita ulas film selanjutnya, yang kebetulan diproduksi setelah milenium baru, periode 2000-an.. Let’s check it out:

 

13.       Spirited Away (2001)

Film yang mendapat banyak penghargaan ini ditulis dan disutradarai oleh Hayao Miyazaki. Menceritakan tentang gadis 10 tahun bernama Chihiro dan orang tuanya yang pindah ke rumah barunya, tapi melalui jalan yang salah dan akhirnya membawa mereka terjebak di dunia Kami (dunia roh). Orang tuanya berubah menjadi babi setelah makan di sebuah restoran kosong tapi berlimpah makanan.

Saturday, 1 August 2020

Film-Film Studio Ghibli (Bagian 1)


Kalau ditanya, apakah saya suka nonton film? Suka banget! Kecuali film horor tapi ya (kayaknya hidup saya sudah cukup 'horor'). Salah satu jenis film yang saya sukai adalah animasi Jepang. Kalo ditanya yang paling favorit, pastinya film-film produksi Studio Ghibli. Saya lupa film pertama yang saya tonton apa. Yang saya ingat, saya langsung jatuh cinta dengan visualisasi, karakter tokoh dan pesan-pesan moralnya. Lalu saya pun niat banget nonton semua filmnya. Indikator saya memfavoritkan film itu adalah, saya tonton, saya suka, saya simpan, untuk kemudian ditonton ulang kapan-kapan. Dan ini terjadi pada film-film Studio Ghibli. Bahkan, instrumental soundtrack-nya pun tak bosan-bosan saya dengarkan.

Studio Ghibli didirikan pada 15 Juni 1985 oleh Hayao Miyazaki dan Isao Takahata yang bertindak sebagai sutradara, serta Toshio Suzuki sebagai produsernya. Sejarah nama Ghibli, diserap dari kata ‘Qibli’ yang secara etimologis berasal dari kata ‘Qibla’ (Libia-Arab), yang berarti angin gurun yang panas. Harapannya, Studio Ghibli bisa meniupkan angin segar dalam industri film animasi. Dan benar adanya, Studio Ghibli mencatat sejarah manis, film-filmnya sangat disukai dan banyak mendapatkan penghargaan. Bahkan di Jepang sana, sampai dibangun museumnya lho di tahun 2001. (mupeeeng ke sanaaa :D)

Thursday, 30 July 2020

Kapan Pandemi Berlalu?


When someone in your circle or neighborhood is infected, that's when you believe the virus exists.

Di masa lalu, mana tahu kita akan sampai ke sebuah masa seperti saat ini. Masa ketika segala sesuatunya serba berjarak. Ruang gerak terbatas. Hal-hal yang sangat biasa kita lakukan, kini menjadi sesuatu yang 'luar biasa'. Beberapa hal, malah terkadang terasa seperti di luar jangkauan. Kita tak pernah menyangka bahwa pandemi ini benar-benar nyata adanya.

Dulu, kita bebas saja travelling ke mana suka. Sekadar ngemall, nonton bioskop, nongkrong sembari ngopi di resto favorit, piknik rame-rame, berkomunitas. Kini? Jangankan hal-hal yang sifatnya bepergian keluar rumah seperti itu. Sekadar untuk ngobrol bareng teman saja, harus benar-benar berjarak. Makan siang bersama teman kantor, yang dulu bisa dilakukan sambil bergosip ria (ups), sekarang harus dilakukan dengan menatap tembok (pengalaman pribadi). Tak ada lagi bebas bercengkerama. Semua sebisa mungkin dilakukan dengan menjaga jarak. Bahkan untuk sholat pun, kita harus mengatur shaf sedemikian rupa supaya tak bersinggungan. Sedih? Pasti! Lalu tebersit pertanyaan-pertanyaan. Kapan semua ini berlalu? Kapan hidup kita kembali normal? Kapan rencana-rencana kita yang tertunda akan terwujud? Dan segala macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran.

Monday, 13 July 2020

[Review] Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa


Setiap kita akan berada pada berbagai fase kehidupan. Pada setiap fase tersebut, kita selalu dihadapkan pada berbagai macam pilihan dan pertanyaan. Pertanyaan seperti; kita mau jadi apa di masa depan, terkadang menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan. Buku ini mencoba membantu menjawab berbagai pertanyaan menggelisahkan tersebut.

Mengapa kita gagal terus? Mengapa kita tidak diterima di sekolah favorit dan universitas negeri? Mengapa jurusan yang kita pilih ternyata tak seperti yang dibayangkan? Bagaimana bisa kita terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai passion? Dan segala rentetan pertanyaan yang pada akhirnya menimbulkan kegundahan dalam diri. Sementara di luar sana, kita melihat orang-orang begitu yakin dengan langkahnya. Ada yang diterima di sekolah favorit lalu tembus Perguruan Tinggi sesuai jurusan yang diidam-idamkan, lalu kuliahnya berjalan lancar. Sesudah lulus, rasanya mereka mudah saja mendapat pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan. Semua terlihat begitu mengalir. Dan kita pun meratapi diri.

Padahal hidup bukan sebatas peringkat, prestasi atau sederet angka membanggakan di saldo rekening. Kita terlalu terpaku oleh standar sukses yang dibuat oleh society dan media. Media kadang melenakan, hal-hal yang kita lihat selalu indah. Lalu kita membandingkan diri dengan orang lain. Dan melupakan perjuangan-perjuangan yang selama ini kita usahakan. Kita merasa gagal oleh pikiran-pikiran kita sendiri. Kita merasa tak pernah menjadi apa-apa. Pada akhirnya kita berpikir bahwa kita tidak akan pernah bisa menjadi luar biasa seperti orang-orang di luar sana.

Sunday, 12 July 2020

Home is ...


A new normal adaptation. Jadi, sedikit demi sedikit aktivitas di luar rumah mulai dijalankan lagi. Atas nama kesehatan fisik dan mental, boleh lah ya sekadar jogging, menghirup udara segar sambil memburu si endorphin. (Tetap dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan jaga jarak). Pagi ini melewati bilangan Menteng, Jakarta Pusat yang sejuk dan adem karena banyak pohon-pohonnya. Joggingnya sih uda niat banget. Tapi, berhubung yang dilewati adalah kawasan  paling elit, jadi mata nggak pernah lepas mengamati satu per satu penampakan rumah di situ. Dan kesimpulannya, rumahnya bagus nan mewah semua. Arsitekturnya beragam, rata-rata berpagar tinggi dan dijaga security 24 Jam. Dalam hati hanya mampu berucap, "Bahkan dalam mimpi pun tak berani mengkhayalkan mempunyai rumah-rumah seperti itu. Sangat-sangat di luar jangkauan." Dan acara jogging itu pun sedikit terdistraksi dengan hitung-menghitung aset orang yang bahkan tak pernah dikenal, ups. Bagaimana perjuangan mereka sampai mendapatkan hunian yang wow tersebut. Apakah mereka pernah jatuh-bangun dalam usaha-usahanya? Ah tapi tetap saja, angka rupiah yang terbayang-bayang super fantastis itu masih tak masuk di akal yang minimalis ini. Trust me, in my simple thought, home is one (not-too-big) building has little garden with a low fence and variety of flowers and vegetables. That's my dream home. Jadi, melihat pemandangan hunian mewah seperti itu, rasanya seperti di 'awang-awang'.

Tuesday, 9 June 2020

Apakah Netizen Selalu Benar?


Siapa yang tak punya akun medsos? Mmm, sepertinya 8 dari 10 orang punya ya. Di era digital ini, medsos sudah sangat beragam dan menjadi semacam 'rutinitas' untuk saling berinteraksi di dalamnya. Sehari tak bermedsos, serasa sebulan tak keluar-keluar rumah, katanya. Beruntunglah pandemi Covid-19 ini terjadi saat dunia teknologi informasi sudah sedemikian majunya. Jadi kita tak merasa stres-stres amat. Selalu ada hikmah dan keringanan kan di tengah kesulitan? Medsos menjadi hiburan yang cukup menyenangkan di masa 'jaga jarak' ini. Pernah tergelitik dengan berbagai macam komentar netizen di medsos? Kadang lucu, sekali waktu membuat tertawa. Di lain waktu membuat geleng-geleng gemas pengin getok karena komentar-komentarnya yang pedas. Netizen seakan-akan selalu benar, suka sekali ngeyel dan gemar nyinyir. Apalagi kalau sudah ketemu sekutunya. Susah sekali dibendung dan dikendalikan. Tahu-tahu kolom komentar sudah ribuan (ini kolom komentarnya seleb sih 😜). Kenapa ya netizen bisa begitu? Apakah waktu luang begitu melimpah sehingga mereka hanya terpaku di dunia maya saja? Bisakah kita sebagai netizen, sedikit saja menyelipkan kesantunan di antara jari-jari yang betah berlompatan di atas keyboard itu?

Monday, 25 May 2020

Assalam Museum Project


Ada yang sedikit berbeda. Kulihat-lihat, kucari-cari, tapi tak kutemukan juga. Di manakah ekshibisi-ekshibisi yang pernah kusaksikan sekitar dua tahunan sebelumnya? Ekshibisi-ekshibisi yang selalu ingin kusaksikan lagi dan lagi. Ketika mendapatkan kesempatan menginjakkan kaki lagi di tanah haram, beberapa keinginan sudah terasa bertalu-talu. Mengunjungi kembali hal-hal yang bersifat histori, rasanya seperti mendapatkan pencerahan bertubi-tubi. Dan inilah yang kutemukan, Assalam Museum Project. Di penghujung tahun lalu, proyek itu masih belum selesai. Masih banyak renovasi di sana-sini. Dalam hati sangat berharap, diam-diam lirih berucap, "It will be a great museum. Maybe Asmaul Husna Exhibition, The Holy Quran Exhibition, Prophet Muhammad SAW Exhibition, etc will merge into one big project. Oh Allah, please give me a chance to visit haramain again and again to see Your Miracles. When it's complete one day, allow us to visit it, to feel how great the history is and to instill love in our hearts. Aamiin."


Sunday, 26 April 2020

Capernaum: Fiction, Documentary, or Based on True Story?




Photo credit: Wikipedia Capernaum

Apa jadinya jika seorang anak menuntut orang tuanya karena dilahirkan? Apa yang menyebabkan seorang anak sampai harus melakukan hal menyedihkan tersebut? Premis itulah yang coba dirangkai oleh sang sutradara, Nadine Labaki, hingga menghasilkan sebuah kisah menyentuh, yang diharapkan menghadirkan empati bagi penontonnya. 

Berlatar di kawasan kumuh di Beirut, Libanon, sosok Zain mungkin mewakili ribuan bahkan jutaan anak di luar sana yang masih berjuang dalam kemiskinan dan keterabaian. Tidak, saya tidak akan bercerita mengenai alur dan isi cerita film ini. Rasanya, akan lebih baik jika kalian menonton dan menyimpulkannya sendiri.

Sunday, 19 April 2020

Covid-19: A Blessing in Disguise


Akhir tahun 2019, dunia dikejutkan oleh sejumlah kasus pneumonia dengan gejala demam, batuk, kelelahan dan kesulitan bernapas yang pertama kali terjadi di Wuhan, China. Dalam waktu singkat, kasus tersebut menyebar dengan cepat. Patogen penyakitnya diidentifikasi sebagai virus corona baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menamakan virus tersebut sebagai 2019-nCov. Sementara Komite Internasional Taksonomi Virus (ICTV) menyebutnya sebagai SARS-Cov-2. Dan oleh WHO, pneumonia yang disebabkan oleh virus itu dinamakan Corona Virus Disease (Covid-19).

Jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 jauh melampaui SARS-Cov pada tahun 2003 dan MERS-Cov pada tahun 2012. Penyebaran virus corona diduga melalui udara (airborne) dan kontak dengan pembawa patogen baik secara langung maupun tidak langsung. Masa inkubasi virusnya sendiri rata-rata diperkirakan selama 14 hari. Dalam waktu sebulan, Covid-19 sudah menjadi wabah di Wuhan. Dan dalam waktu kurang dari tiga bulan, virus telah menyebar ke 123 negara serta menginfeksi ratusan ribu jiwa. Pada 11 Maret 2020, WHO secara resmi menyatakan Covid-19 sebagai pandemi.

Popular Posts