Sunday, 27 December 2020

Cikini, dari Ujung ke Ujung

Sunday to do list: Do nothing and chill Jogging, feel the fresh air and capture everything.

Menyusuri Cikini yang kini sudah berbenah rapi.

Salah satu kawasan yang direvitalisasi menjadi tempat Kegiatan Strategis Daerah dan akan digunakan sebagai koridor kegiatan seni budaya.

Cikini semakin cantik dengan tetap mempertahankan bangunan-bangunan bersejarahnya.

Mari memotret...


Workroom: Coffee Shop dengan konsep ruang kerja

Saturday, 26 December 2020

Terima Kasih



2020 akan segera berlalu. Terasa begitu singkat. Januari, Februari, pandemi, dan tiba-tiba saja sudah Desember. Penghujung tahun. Sejatinya hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan dan tahun-tahun pun juga begitu. Berlalu dengan cepat, tanpa kita sadari. Hanya kumpulan angka-angka yang luruh satu-satu. Seperti halnya hakikat manusia itu sendiri.

2020 mungkin terasa berat karena pandemi ini. Sesuatu yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ada banyak rencana yang tertunda, bahkan batal. Ruang gerak pun terbatas. Perhitungan meleset, jumlah kasus belum juga turun, vaksin pun belum paten. Di penghujung tahun, kita harus terima kenyataan, pandemi belum berlalu. Kita masih harus berusaha keras.

Sunday, 13 December 2020

Start-Up dan Cerita-Cerita Lainnya

Sudah sejak lama Santi dan Yanti nggak ngomongin drakor lagi. Sejak Scarlet Heart yang bikin baper berkepanjangan gegara hampir semua tokohnya terbunuh itu. Perang saudara yang berkepanjangan memang bikin sedih. Nyesek dan lelah nontonnya. Nggak mau lagi ah nonton yang tragis-tragis kayak gitu. Trus abis itu sok-sok nggak mau nonton drakor lagi. Tapi tetep aja, ujung-ujungnya kangen juga. Beehhhh...

 

 

Trus sekarang ada Start-Up. Gegara Yanti ngomongin terus nih drakor, hihihi, jadinya nonton juga. Biasanya ada Mbak Ade Anita juga, tapi kayaknya Mbak Ade lagi sibuk nge-canva. Trus biasanya juga ada Diah Cmut, tapi kayaknya lagi sibuk ngedit buku. Gapapa kok Mut, baru dapet episode satu saat penayangan uda selesai, jadi nontonnya lebih tenang. Meskipun spoiler everywhereee. Aku juga biasa gitu kok, nonton drakor saat uda nggak jadi trending lagi.  Dan tidak semua drakor harus kutonton. Menyesuaikan sikon aja. Ada yang nyerah saat baru nonton episode satu. Ada yang lanjut sampai ending.

Sunday, 6 December 2020

A Man Called Ove

 

[Review] A Man Called Ove: Novel atau Film?   

 

Sebelumnya, kuberi tahu dulu ya. Ove mungkin bukan tipe lelaki menyenangkan. Untuk kebanyakan orang, ia sangatlah menyebalkan.

Tapi jika kau tertarik untuk mengenal karakternya, kau akan menemukan sisi menyenangkannya.

Iya, kau bisa memilih mengenalnya lewat novel atau film. Bebas.. atau malah mau mencoba dua-duanya? Silahkan..

Novel A Man Called Ove ditulis oleh Fredrik Backman, seorang Jurnalis dan Blogger Swedia pada tahun 2012 dengan judul asli En Man Som Heter Ove. Kemudian pada tahun 2013 dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Novel versi bahasa inggrisnya mampu meraih New York Times Best Seller List sesudah 18 bulan diterbitkan. Adaptasi filmya dirilis pada Desember 2015, yang ditulis dan disutradarai oleh Hannes Holm. Pemilihan Rolf Lassgard yang memerankan tokoh Ove sangat pas, mirip sekali dengan ilustrasi sampul novelnya. Bahar Pars yang keturunan Iran juga pas sekali memerankan tokoh Parvaneh.


Monday, 30 November 2020

Bahagia dengan Hidup Minimalis

Saya pernah membeli satu set parutan serbaguna. Awalnya saya pikir akan berguna untuk macam-macam. Bisa untuk parutan wortel, labu, keju dan lain-lain. Yang penting beli saja dulu, mumpung ada dan murah. Pada kenyataannya, saya jarang menggunakannya. Ketika beberes rumah, saya baru menyadari sudah memiliki sebuah parutan, oleh-oleh dari saudara. Bertahun Kemudian, saya belanja dan melihat parutan keju lucu dengan warna kesukaan. Saya pun tertarik membelinya. Payah, saya lupa sudah memiliki satu set parutan plus oleh-oleh dari saudara itu. Jadilah parutan saya numpuk. (Masaknya? Boro-boro!)

Pernah juga suatu hari saya beberes lemari dan menemukan ada beberapa baju dan jilbab yang bahkan belum pernah dipakai. Dan saya sudah membeli yang baru lagi. Akibatnya lemari overload. Ini juga pernah terjadi pada buku-buku. Pada saat ada bookfair, kadang saya kalap membeli banyak buku. Padahal masih ada buku-buku yang belum dibaca, bahkan masih ada yang tersegel rapi. Ini benar-benar payah. Jika saya tidak mengubah hal-hal ini, akan terjadi penumpukan barang berlebihan dan berefek pemborosan.


Suatu hari, saya juga beberes email. Membersihkan berkas-berkas supaya memori tidak kepenuhan. Dan saya pun sadar, ternyata ada banyaaak sekali pesan-pesan yang belum sempat terbaca. Pusing dengan banyaknya pesan itu (kebanyakan dari media sosial dan situs belanja online), saya pun membuat email baru agar lebih nyaman di mata dan pikiran. Agar tak tercampur aduk dengan pekerjaan. Ini juga terjadi pada flashdisk. Ketika saya merapikan berkas-berkas kantor, ternyata isi flasdisk saya begitu membingungkan saking banyaknya data. Selanjutnya, saya membeli flasdisk baru untuk menyelamatkan kepala saya dari kepuyengan. Jadilah saya punya lebih dari sepuluh flashdisk (ini ternyata tak mengurangi puyeng). Tambah puyeng lagi ketika harus menghapus foto-foto di ponsel karena memori yang sudah kritis. Dan ternyata butuh waktu yang tidak sebentar hanya untuk membersihkan isi ponsel. (Saya lebih memilih membersihkan rumput di kebun belakang rumah)

Dari situ, saya berpikir bahwa segala sesuatu yang berlebihan justru akan membebani. Konsep hidup sederhana yang selalu dipegang selama ini bisa ambyar, jika ‘godaan-godaan’ itu tak ditangani dengan bijak.

Saya pun bertekad untuk meminimalkan segalanya. I have to do minimalist, things and thinks!

Monday, 16 November 2020

Menjelajah Neverland Bersama Tinker Bell

 



Watch all the flowers, dance with the wind

Listen to snow flakes, whisper your name

Feel all the wonder lifting your dreams

You can fly

 

Fly to who you are

Climb upon your star

When you believe you’ll find your wings

Fly to your heart

 

Touch every rainbow, painting the sky

Look at the magic, glide through your life

A sprinkle of pixie dust circles the night

You can fly*)

 

Sebenarnya, Tinker Bell adalah karakter pendukung yang muncul pertama kali dalam novel anak Peter Pan yang ditulis oleh J.M. Barrie pada tahun 1904. Walt Disney mengadaptasinya menjadi film animasi di Tahun 1953. Sebagai salah satu animated classic series, Peter Pan berkali-kali dibuat ulang. Dan Tinker Bell pun berkembang menjadi karakter yang berdiri sendiri, lepas dari bayang-bayang Peter Pan.

(Mungkin Disney ingin Tinker Bell move on dari Peter Pan yang selalu sibuk bermain dengan Wendy…)

Berbeda dengan karakter asli yang ditampilkan tanpa dialog dan hanya mengandalkan body languange, Tinker Bell versi Disney digambarkan berdialog karena sebagian besar berlatar di Neverland dan interaksinya dengan sesama fairies.

So far, sudah ada enam seri film Tinker Bell yang dirilis Disney dengan animasi digital 3D modelling, sehingga kualitas gambarnya tak perlu diragukan lagi. Disney sebagai perintis, memang masih juaranya film animasi.

Siap-siap ya, kita akan bertualang ke Neverland bersama Tinker Bell… 

(tabur-tabur pixie dust dulu)

Sunday, 8 November 2020

Simple Roasted Potatoes

Suatu malam, seorang puteri dari kerajaan antah berantah bermimpi sedang berada di sebuah penginapan yang sungguh aneh. Penginapan itu bertingkat-tingkat tinggi dengan banyak sekali kaca-kaca tembus pandang yang melingkupinya. Lebih aneh lagi, tangga-tangga yang menghubungkan setiap tingkatan bisa berjalan sendiri. Sang puteri merasa seperti terlempar ke sebuah masa yang sungguh berbeda. Di sana, ia disuguhi banyak makanan yang beraneka ragam. 

Begitu terbangun, sang puteri langsung berlari ke dapur kerajaan. Sejak kecil baginda raja sudah mengajarinya untuk mandiri. Jika ingin apa-apa ya sebisa mungkin diusahakan sendiri. Pagi itu, ia ingin membuat makanan seperti yang ada dalam mimpinya. Makanan sederhana, tapi sungguh lezat menggoda.

Thursday, 29 October 2020

Kekuatan Lintasan Pikiran

Berawal dari obrolan di loker, dua hari yang lalu jelang pulang kantor.

Ditanyain sama Dian, “Hayo, inget ga setahun pas yang lalu kita ngapain?”

Sambil mikir, aku nanya balik, “Mmm, apa ya?”

Lalu Dian nunjukin baju batiknya. Dian bilang, paginya, baju batiknya seakan-akan melambai dari lemari, seolah minta dipakai.


Batik bersejarah itu

 

Ah, ya. Masyaallah. Nggak terasa ya uda setahun pas. Makasih Dian, uda ngingetin momen-momen indah yang akan selalu dikenang itu. Semoga Allah selalu beri kita semua kesehatan dan keluasan karunia sehingga terhampar kesempatan lagi dan lagi. Aamiin.

Selamat menghidu harumnya kenangan…
 

Saturday, 24 October 2020

Ibrahim Al Kahlil Street




Menapaki kembali jalan ini, sekeping ingatan tentangmu melintas. 

Malam itu, kita sama-sama menawar Qur'an saku di sebuah toko buku depan Masjidil Haram. Waktu itu, kita saling tersenyum saat harga yang kita tawarkan melalui perantara kalkulator memunculkan angka sama. Dan kita sama-sama tertawa saat penawaran itu ditolak oleh empunya toko. Kita pun tak gentar, masih berusaha rayu-merayu, bujuk-membujuk, tapi ternyata tak membuahkan hasil. Lalu kita sama-sama keluar, menyusuri jalan Ibrahim Al Kahlil untuk mencari toko buku yang lain.

Dalam suasana lalu lalang jamaah, kita bercanda. Kukatakan, itu malam terakhirku di Mekkah karena esoknya rombongan kami akan menuju Madinah. Kau sarankan padaku untuk mencari Qur'an saku serupa di Madinah, karena konon lebih terjangkau. Mungkin karena percetakan Qur'an terbesar ada di sana. Aku menyetujuinya. Dan kau tetap gigih menyusuri jalan demi menemukan toko buku. Aku tahu tak ada toko buku lagi sepanjang jalan di depan, sejauh mata memandang. Aku sudah menjelajah siang sebelumnya. Aku pun menyarankan, sudahi saja petualangan itu. Malam sudah terlalu larut untuk seorang gadis sepertimu berjalan sendirian di antara kerumunan orang-orang tak dikenal. Toh, esoknya kau masih bisa melanjutkan untuk menjelajah kembali. Kau pun mengiyakan. Dan aku lega.

Di persimpangan itu, kita berjabat erat, saling mendoakan dalam kebaikan. Maafkan, aku luput mengenalimu sebagai orang Pakistan, padahal kau tepat mengenaliku sebagai orang Indonesia. Ah ya, aku memang sulit membedakan paras warga Timur Tengah pada umumnya. Sesulit orang Timur Tengah membedakan paras Indonesia dan Malaysia. Hanya bisa tebak-tebak bergembira. 

Kau berbalik jalan ke arah penginapanmu yang terletak tepat di depan pintu utama Masjidil Haram. Aku pun melanjutkan berjalan ke arah penginapanku yang tinggal beberapa meter lagi. Semilir angin merayap dingin, tapi ada secercah hangat yang menyusup pelan-pelan. Berharap, ada waktu untuk kita kembali bersua.

Dear gadis Palestina.. Ah, bahkan aku melupakan namamu. Yang kuingat, bahwa ejaan namamu sungguh sulit kulafalkan dengan lidah Indonesiaku. Kau tahu, sebenarnya malam itu aku masih ingin bertanya lebih banyak. Tentang negerimu. Tentang mimpi-mimpimu. Tentang apa saja. Tapi kita harus berdamai dengan waktu bukan?

Dear gadis Palestina.. Apa kabarmu hari ini? Konon, toleransi telah terpasung di sana. Hak-hak perdamaian telah terabaikan. Sungguh, pilu nian hati ini mendengarnya. 

Dalam diam, ada sejumput harap. Kau dan negerimu akan baik-baik saja. Dalam diam, teriring doa yang sama saat Nabi Yakub memohon keberkahan atas negerimu. 

Ah, entah sampai batas apa konflik itu akan menemukan muaranya. Satu yang pasti, kami tak pernah menepikanmu. Selalu ada doa terapal, karena kita bersaudara. Selalu ada harap terlintas, nanti, suatu hari nanti. Kita bisa berjalan dan tertawa bersama lagi. Mungkin tak di jalan Ibrahim Al Kahlil. Bisa jadi kita sama-sama menyusuri jalan di depan Masjidil Aqsa. Dua jalan yang sama-sama pernah dijejak oleh Nabi Ibrahim pada masanya. Lalu kita bertukar cerita dan terhanyut mengagumi sejarah negerimu yang mulia. Siapa tahu kan?

Monday, 19 October 2020

Klappertaart Huize

Bogor bagi Jakarta itu, bagaikan oasis di tengah padang pasir. Rasanya sangat nyaman menikmati akhir pekan di kota hujan itu. Ya, meskipun sekarang macetnya tidak beda jauh dengan Jakarta, tapi paling tidak suasana adem masih terasa. Di beberapa sudut, masih banyak pepohonan hijau nan rindang. Lumayan lah ya buat 'mendinginkan' mata dan pikiran. Kulinernya? Mmm, tak perlu diragukan lagi. Banyak banget variasinya. Asinan sayur, asinan buah, roti unyil, aneka masakan sunda dan berbagai makanan yang dikemas kekinian, memang menggoda selera. Serasa surga bagi penyuka kuliner.

Salah satu kuliner yang sebisa mungkin tak terlewatkan oleh saya ketika main ke Bogor adalah Klappertaart Huize. Pertama kali mengenal klappertaart tuh sebenarnya bertahun-tahun yang lalu. Saat salah satu teman komunitas BAW (Mbak Marisa Agustina) membuka usaha 'Klappertaariza'. Mbak Risa sering banget posting foto-foto klappertaart yang terlihat yummy dan menggiurkan. Tapi apalah daya, Mbak Risa berdomisili di Makassar, jauh amat mau mencicipinya. Lalu mulai deh, menjelajah ke mana-mana demi menuruti rasa penasaran akan klappertaart ini. Dan hasilnya, nihil! Di daerah saya, tak ada satu pun usaha kuliner yang menjualnya.
 
Awal tinggal di Jakarta, tiap akhir pekan saya dan teman-teman suka menjadwalkan untuk kemana aja. Secara kebetulan, waktu itu kita rame-rame main ke Kebun Raya Bogor dan menjelajah kuliner di sekitarnya. Dan mata saya langsung mengerling gembira begitu menemukan plang 'Klappertaart Huize & Resto'. Tanpa basa-basi lagi, langsung semangat empat lima memasukinya.
 
Dan saya langsung menyukai sejak pertama kali mencicipinya. Kue khas Manado yang merupakan warisan kolonial Belanda ini ternyata sangat lembut dan yummy. Perpaduan tepung terigu, kelapa muda, susu, mentega dan telurnya sangat pas. Manisnya  tidak eneg. Tekstur lembutnya langsung lumer di lidah.
 


Klappertaart huize tersedia dalam berbagai macam varian dan rasa seperti: original, keju, strawberry, blueberry, pandan, talas, chocochip, oreo, tape dan durian. Semuanya enak, tapi favorit saya tetep yang original. Harga bervariasi menyesuaikan ukuran dan rasa. Dan sampai sekarang, saya belum menemukan klappertaart lain yang rasanya sebanding dengan klappertaart huize ini, menurut versi lidah saya.

Sunday, 11 October 2020

[Review] Karena Hidup Hanyalah Sebuah Persinggahan

Membaca buku ini, seolah membayangkan…

Menikmati senja di pinggir pantai, duduk bertiga bersama Mbak Lyta dan Mbak Brina. Menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kalian menyeduh kopi. Aku cukup dengan teh saja. Aku sudah menyerah dengan kopi.

Kita membicarakan tentang apa saja. Tentang senja, tentang pantai. Tentang kisah-kisah pada suatu masa. Tentang harapan-harapan. Tentang hal-hal yang menyenangkan. Juga tentang hal-hal yang kurang menyenangkan.

Kilas balik segala yang telah terjadi. Yang telah membawa kita semua, sampai ke detik ini.

 


Saturday, 3 October 2020

Kasih Tak Sampai


Indah, terasa indah

Bila kita terbuai dalam alunan cinta

Sedapat mungkin terciptakan rasa

Keinginan saling memiliki

Namun bila itu semua

Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta

Tak semudah seperti yang pernah terbayang

Menyatukan perasaan kita

 

Aku mengagumimu. Diam-diam aku berharap kau akan selalu ada untukku, dalam segala suasana. Aku ingin, saat aku membutuhkanmu, kau menyambutku. Ya, aku ingin kita sedekat itu. Berbagi apa saja, sampai ke hal-hal yang remeh. Kala hujan turun di pagi yang gigil, aku ingin kau ceritakan padaku tentang hal-hal sederhana tapi bermakna, hingga suasana hangat tercipta. Kala senja menyapa, aku ingin kau tuturkan padaku tentang kisah-kisah indah, hingga kita menutup hari dengan gembira. Kita bisa saling menertawakan. Kita bisa saling menguatkan. Sesederhana itu.

Aku menyukai karaktermu. Aku menyukai falsafah hidupmu. Bahkan, aku sangat menyukai aromamu. Kau tahu, ketika bersamamu, aku selalu menghidu wangimu perlahan-lahan dengan mata terpejam dan senyum bahagia. Harummu, mampu membawa anganku melayang, menuju suasana penuh kedamaian.

Tetaplah menjadi bintang di langit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini

Agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua

 

Tapi menyukaimu ternyata tak sesederhana itu. Ada hal-hal yang sebenarnya tak ku mengerti. Seperti, mempertaruhkan segala sesuatunya. Kadang aku tak terlalu memedulikan itu. Dan ya, aku tahu ini hanya akan jadi sebatas impian. Impian yang buyar ketika pagi membuka mata. Sebesar apapun aku mengharapkanmu, kau seakan tak teraih. Sepanjang apapun aku memperjuangkanmu, sia-sia menanti di ujung jalannya. Aku mengerti, rasa ini sepertinya tak berbalas.

Friday, 25 September 2020

Memburu Senja di Pantai Marina

Ada kala, saat sudah lelah dengan rutinitas yang mengepung hari-hari, kau butuh menepi sejenak. Agar pikiranmu kembali jernih. Agar jiwamu kembali bersih. Kau bisa menyingkirkan sebentar segala tumpukan kewajiban itu.

Kau bisa melakukan apapun yang kau sukai. Menikmati senja di pinggir pantai misalnya.


Mmm, jangan, jangan kau bandingkan dengan senja di pantai pulau-pulau yang masih alami itu. Pasti tidak akan lebih unggul. Hanya saja, suasana senja di manapun, asal dinikmati dengan rileks, damai akan hadir menenteramkan jiwa.


Jakarta punya Marina. Yang sekarang sudah berbenah dengan cantik. Tak kalah pesonanya dengan pantai di kota-kota besar lain. Sebagai warga, kita dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas publik yang makin lengkap. Kawasan Ancol makin asri dan berseri. Sebagai penikmat, jangan alpa dari kewajiban menjaga kebersihannya.

Thursday, 17 September 2020

Pandemi Mengoyak Nurani

Sungguh, pandemi ini telah mengoyak hati banyak orang.

Andai kita berada di posisi mereka. Yang telah kehilangan keluarga dan sahabat tanpa diduga. Yang harus menjalani isolasi sepi dibayangi resah gelisah tiap detiknya. Yang harus dikucilkan seakan-akan setiap inci gerakan tubuhnya mampu menyemburkan virus jahat nan kejam. Yang mau tak mau harus berdiri di garis paling depan tanpa punya pilihan mundur ke belakang, mempertaruhkan hidup.

Pandemi ini nyata. Dan ada banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya. Mungkin kita tak percaya, karena hanya melihat dari kejauhan. Ada yang harus menjalani swab sampai empat belas kali baru dinyatakan negatif. Padahal teori awalnya, hanya butuh waktu dua minggu untuk kembali ‘bersih’. Bisa kau bayangkan, satu setengah bulan kesehatan fisik dan mentalmu terganggu karena kekhawatiran berlebihan? Ada yang terinfeksi lagi, untuk kedua kalinya, setelah tiga bulan dinyatakan sembuh. Padahal secara teori, seharusnya antibodi sudah terbentuk. Mungkinkah virus sudah bermutasi? Lalu apa kabar dengan vaksin, jika antibodi tak ada? Dan rentetan pertanyaan lainnya yang menuntut jawaban pasti. Sayangnya, belum ada yang pasti.

Andai kita sedikit saja mampu berempati dan menahan ego diri. Kadang, kita tak sadar..

Perilaku kita yang tak disiplin telah melukai sahabat-sahabat kita yang berjuang di garda terdepan.

Padahal, mereka adalah tumpuan kita dalam berjuang melawan pandemi ini.

Mari kita bantu mereka sepenuh hati, dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jangan lengah dan bosan; memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Himbauan itu ada di mana-mana, terpampang dengan jelas. Kita hanya harus menjalankannya dengan tertib. Bukan malah abai, cuek dan jemawa merasa diri aman. Tapi tak sadar justru menciptakan klaster penyebaran baru.

Sesederhana itu meringankan tugas mereka.

Supaya, tak ada lagi perjuangan yang sia-sia.

Supaya, kurva itu pelan-pelan melandai.

Dan hari-hari kita kembali damai.


Update kasus per 16 September 2020

Monday, 14 September 2020

Menemukan Surga Literasi di Perpusnas

Cinta kan membawamu kembali di sini …

Sepenggal lagu itu tampaknya pas mewakili kondisiku belakangan ini.

Terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, bisa membuatmu jenuh dan kehilangan passion pada hal-hal yang kau sukai. Awalnya aku tak terlalu percaya dengan kalimat itu. Setelah mengalaminya sendiri, baru lah kepala ini mengangguk-angguk seraya mulut bergumam, “Oooh, hmmm …”

Pernah jadi pasukan pendamba weekend? Cek tiap Jumat sore, apakah senyummu lebar? Jika iya, kau termasuk! Yang nulis ini, pastilah salah satunya. Weekend berarti me-time. Kau bebas melakukan apa saja sesukamu. Bisa kabur sejenak dari rutinitas memang menyenangkan.

Me-time-ku dulu seringnya ngemall. Iya, tipikal pekerja ibu kota banget. Katanya sih, ngemall bisa ngurangi stres. Tapi menurutku, stres itu hanya berputar-putar saja, saat stres yang sama akan kau dapati ketika melongok isi rekeningmu ambyar akibat kebiasaan ngemall.

Pernah suatu kali nganterin temen ngemall. Lihat sendal jepit harganya sejuta sungguh bikin melongo. Lihat tas selempang harganya lima juta bikin mengkeret. Lihat gaun seharga sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan juta beneran bikin shock. Iya, tinggal nambah seribu perak genap sudah seratus juta. Manusia bodoh mana yang rela membelinya? Bukankah itu barang tak bernilai investasi dan cepat usang? Iya sih, seorang Kate Middleton, wedding dress-nya harganya miliaran. But she’s a prince’s wife, who will be the future queen of UK.

Ah, harga barang branded yang kadang tak masuk akal itu pernah membuatku sangat marah. Iya, aku marah pada dunia karena tak mampu membelinya ketidaklogisan harga dan nilai guna barangnya. Aku bayangkan, uang segitu bisa buat makan bertahun-tahun. Kalau di kampung, sudah bisa membeli sepetak sawah. Bahkan, kau bisa umroh empat kali! It’s greater value

Kemarahan tak beralasan itu lama-lama membuatku bosan ngemall dengan sendirinya, tanpa paksaan, sadar diri …😀

Dan aku mulai melirik rak buku kembali. Merapikan dan membersihkannya dari debu. Mempertanyakan kembali passion-ku yang dulu katanya ‘I love reading so much’.

Akhir-akhir ini, aku sering bertanya dalam hati, ke mana perginya energi yang dulu dalam dua hari saja mampu menamatkan bacaan setebal 600-an halaman? Aku merasa energi itu sudah terjun bebas, saat baru membaca dua halaman saja langsung terkantuk-kantuk.

Aku lupa tepatnya kapan mulai senang membaca. Yang kuingat, saat masih berseragam putih merah, pernah ditunjuk ibu guru untuk mengikuti lomba menulis tentang lingkungan mewakili sekolah. Sepertinya berawal dari situ, aku mulai banyak membaca buku. And I took pleasure in it.

Setiap ada kesempatan, aku usahakan untuk membaca, apa saja. Persewaan buku rajin disambangi. Perpustakaan daerah pun menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi, paling tidak sebulan sekali. Kala itu sering membayangkan, jika perpustakaan daerah saja koleksi bukunya sangat wow, apalagi perpustakaan nasional. 

 
Pintu masuk Perpusnas 

 
Dan, saat tinggal di Jakarta, mengunjungi Perpusnas adalah salah satu wishlist.

Wishlist yang banyak terdistraksi oleh keasyikan ngemall. Dan gadget. Juga medsos.

Sampai aku merasa kekuatan cinta menarikku kembali.

Sunday, 6 September 2020

Karakter-Karakter Mengagumkan

Dia, seorang guru besar, pimpinan fakultas di universitas ternama. Sehari-hari, dia menggunakan kereta untuk pulang pergi ke kampusnya. Dia memilih untuk tak mempunyai kendaraan roda empat, padahal sangat mampu membelinya. Alasannya begitu menakjubkan, hanya tak ingin menambah macet ibu kota. Dia memilih untuk menjadi sederhana.

Dia, seorang direktur rumah sakit ternama. Karena rumahnya jauh, dia memutuskan indekos di kawasan sekitar kantornya. Sehari-hari, dia berjalan kaki ke kantornya. Penampilannya bersahaja, tak neko-neko. Jika mau, dia bisa saja tinggal di apartemen mahal dan bergaya mewah. Tapi dia memilih untuk menjadi sederhana.

Menyaksikan itu, muka ini tertunduk malu ...

Ada orang-orang yang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Ada orang-orang yang bertahan dengan prinsipnya. Di tengah ingar-bingar kehidupan yang digempur paham hedonisme dan konsumerisme, memilih menjadi sederhana itu tak mudah. Ada kalanya lingkungan memengaruhi pikiran dan menuntut macam-macam. Hanya orang-orang dengan pendirian teguh, mampu berjalan melawan arus.

Merenungkan kisah pada suatu masa ...

Tentang manusia paling mulia yang bergelar Al Amin, yang kesehariannya sangatlah bersahaja. Tak pernah berlebih-lebihan. Suatu hari dalam hidupnya, beliau pernah mengikatkan bebatuan pada perutnya demi menahan lapar. Beliau adalah pemimpin negara, tapi rela menjahit sendiri bajunya yang robek. Beliau menggunakan hartanya untuk kepentingan dakwah.

Kesahajaannya pun meneladani dan menginspirasi sahabat-sahabatnya ...

Adalah sahabat yang paling beliau cintai. Lelaki santun dan lembut hati yang bergelar Ash-Shiddiq itu, harus berjualan dulu di pasar untuk memenuhi permintaan istrinya yang hanya ingin makan manisan. Ia gemar membelanjakan hartanya untuk memerdekakan budak-budak teraniaya. Bukan untuk kepentingan pribadinya. Hanya untuk mengharap ridho-Nya.

Adapun sahabat beliau yang bergelar Al Faruq, pernah tawaf mengelilingi Ka’bah dengan menggunakan kain yang terdapat dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan benang merah. Lelaki tangguh dan pemberani itu setiap hari menanyakan kepada jamaahnya, apakah ada yang membutuhkan sesuatu dan berkeliling pasar untuk memastikan keadaan ekonomi rakyatnya.

Lalu, sahabatnya yang mendapat julukan Dzunnurain, seringnya makan hanya dengan cuka dan minyak, tapi gemar memberikan makanan lezat kepada rakyatnya. Ia kaya raya, tetapi mengikhlaskan seluruh hartanya untuk dibelanjakan di jalan jihad.

Dan, sahabatnya yang dijuluki Abu At-Turab, dalam keadaan dingin memakai selendang lusuh yang sudah usang. Ia lebih menyukai pakaian sederhana dengan harga murah dan makan makanan kasar. Ia pernah punya tikar yang digunakan untuk tidur di malam hari, lalu di siang harinya digunakan untuk tempat makan. Ia lebih memilih menyedekahkan dirham kepada fakir miskin daripada menyimpannya.

Para khulafaurrasyidin itu memang juara dalam mencontoh kezuhudan dan kedermawanan sang manusia terbaik. Mereka mempunyai harta, kekuasaan dan wewenang. Tapi lebih memilih menggunakan seperlunya, tanpa dilebih-lebihkan. Mereka memiliki prinsip yang tak tergoyahkan. Dan itu tak mengurangi harkat dan martabatnya, justru derajatnya ditinggikan dan dimuliakan oleh-Nya.

Dalam keseharian, ada keadaan yang akhirnya mengharuskan kita untuk memilih. Pilihan-pilihan itu kadang berbenturan dengan kemampuan. Seharusnya kita bisa menakar diri, saat memutuskan perlu tidaknya memiliki sesuatu. Jika merasa tak mampu ya buat apa dipaksakan? Bukankah hanya akan membenani pundak ke depannya? Pun jika kita sebenarnya mampu, tapi tak terlalu membutuhkan, ya tidak ada salahnya menahan diri. Kita bisa mengalokasikannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Menuruti keinginan duniawi itu tak akan ada habisnya. Diperbudak keinginan, laksana minum air laut yang justru tak tuntaskan dahaga. Merasa cukup dengan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah adalah jalan membuka pintu ketenteraman. Kekurangan yang ada pada diri tak menjadi persoalan saat kita mampu bersyukur di segala kondisi.

Memilih menjadi sederhana dan apa adanya adalah salah satu bentuk qanaah yang membawa kepada pengasahan kepekaan sosial, yang tumbuhkan kebahagiaan hakiki.

Bahwa tak ada yang abadi, semua fana, semua hanya titipan. Dan, bukankah kita harus mempertanggungjawabkan semua hal di hadapan Sang Maha Segala, suatu saat nanti?

 

 

 

Saturday, 29 August 2020

Ragusa, Es Krim Rasa Sejarah

 
When I'm stressed, I eat ice cream, chocolate or sweets. 
Do you know why? 
Because, 'stressed' spelled backward is 'desserts' 
(Anonym)
 

Es krim selalu mengingatkan kenangan masa kecil saya. Saat masih berseragam putih merah, saya dan teman-teman sangat menggemari jajanan es krim yang dibungkus roti tawar. Kami selalu antri berebutan mengerumuni abang penjualnya saat pulang sekolah. Bisa kamu bayangkan kan, siang-siang saat matahari sedang terik-teriknya, pulang sekolah ketika sedang lapar-laparnya. Menikmati roti tawar yang lembut berpadu dengan manis-dinginnya es krim, mmm, nikmat nian.

Kini, ada kalanya saya ingin melepaskan lelah setelah seharian bekerja dengan bersantai sejenak sambil menikmati es krim. Iya, sepertinya es krim memang kesukaan semua orang. Dari anak-anak sampai orang dewasa, rasanya susah untuk menolak kelezatan es krim.

Es krim di zaman sekarang sangat bervariasi dan bisa ditemukan di mana-mana. Tapi saya justru merasa, nilai spesialnya menjadi berkurang.

Sampai saya menemukan es krim yang unik. Ragusa Es Italia.

Terletak di kawasan Gambir, tepatnya di belakang Masjid Istiqlal, toko es krim ini selalu terlihat ramai. Ada yang menggilitik saya, kenapa ya namanya Ragusa Es Italia? Apakah pendirinya orang Italia?

Yup, that's right. Menurut ceritanya, Ragusa didirikan oleh dua bersaudara asal Italia bernama Luigi Ragusa dan Vinzenzo Ragusa. Ragusa juga merupakan nama sebuah kota dan provinsi di Pulau Sisilia, Italia Selatan. Awalnya, pada tahun 1930-an, dua bersaudara Ragusa pergi ke Batavia untuk belajar menjahit. Tapi malah banting stir menjadi pembuat es krim. Alasannya sederhana, karena ingin memanfaatkan susu segar yang banyak mereka terima dari kenalannya, seorang wanita Eropa pemilik peternakan sapi.

You see, kadang hal-hal yang kita tekuni malah bukan sesuatu yang kita pelajari pada awalnya. Bisa jadi, kita mahir di satu bidang yang tak kita bayangkan sebelumnya.

Okay, lanjut ke es krim.

Ragusa Es Italia ini berbeda dengan bermacam es krim yang beredar di pasaran. Teksturnya lembut dan ringan, karena menggunakan bahan susu sapi segar, tanpa butter milk. Manisnya tak begitu pekat, pas di lidah. Dan kelebihannya lagi, tak menggunakan bahan pengawet. Jadi, always fresh everyday. Harganya pun cukup terjangkau (antara Rp15.000 - Rp35.000).

Pilihan menu cukup variatif dengan tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Kesukaan saya adalah spaghetti ice cream karena keunikan tampilan dan variasi topping-nya.


Spaghetti Ice Cream

Untuk regular flavored, ada pilihan rasa mocca, vanilla, chocolate dan strawberry

Untuk premium flavored, ada pilihan durian Medan, nougat dan mint raisin.
 
Untuk mix flavored, ada pilihan coupe de maison dan special mix.

Untuk fancy flavored, ada pilihan chocolate sundae, tutti frutti, cassata sicilliana, banana split dan spaghetti ice cream.


Cassata Sicilliana


Menikmati es krim Ragusa bisa dengan berbagai cara. Boleh dinikmati di tempat, take away atau sambil bersantai di sepanjang sungai di depannya yang kini  telah ada fasilitas city walk lengkap dengan kursi-kursinya.

Saya sendiri suka menikmati di tokonya langsung. Duduk di kursi-kursi rotan zaman dulu, mengamati interior toko yang masih belum berubah sejak berdirinya. Kemudian fokus mencicipi es krim pelan-pelan, sampai lumer di mulut, sambil membayangkan keriangan masa kanak-kanak dulu ketika berebut antri es krim dan puas menikmatinya di siang yang terik kala itu.

Dan tahu-tahu, es krimnya habis tak tersisa..

Tapi kenangan akan tersisa, lekat selalu, dan tetap semanis es krim.

Bagi yang penasaran mencicipi es krim yang telah ada sejak Indonesia belum merdeka ini, bisa langsung cus ke Jl. Veteran I No. 10, Gambir, Jakarta Pusat. Buka setiap hari lho...

Dan selamat menjelajah cita rasa sejarah.


Awalnya Ragusa bersaudara menjual es krim di Pasar Gambir (Jakarta Fair) di tahun 1932
  
 
 
Cafe tetap Ragusa Es Italia yang berdiri sejak tahun 1947






Saturday, 22 August 2020

Senyum Dalam Sebungkus Jeruk

Pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota, aku melihat adanya ketergesa-gesaan dalam semua aktivitas. Semua orang terlihat sibuk. Di jalan raya, halte, terminal, stasiun, bandara dan gedung-gedung perkantoran. Semua orang berjalan dengan sigap dan gesit, seakan-akan urusan mereka harus dibereskan secepat mungkin. Tak bisa menunggu nanti-nanti. Sejenak terlintas dalam benakku, jika aku ditakdirkan singgah lama untuk mencari penghidupan di sini, apakah ritmeku berjalan akan seperti mereka?

Hari pertama bekerja di kawasan pusat Jakarta, aku merasa de javu. Kakiku berjalan sangat cepat. Aku merasa diburu waktu. Perjalanan ke kantor menggunakan bus umum dengan jarak kurang lebih 25 KM itu ternyata sangat melelahkan. Waktu tempuh yang seharusnya bisa dilalui dalam 30 menit, tapi ternyata bisa molor menjadi 1,5 jam. Itu sangat di luar ekspektasi. Banyak sekali waktu terbuang percuma di jalan. Sementara tuntutan kantor tidak boleh datang terlambat.

Jadilah aktivitas sehari-hari bagaikan lingkaran kebosanan yang tak berujung. Bangun tidur sebelum subuh. Beberes segala sesuatunya walau dengan mata masih terkantuk-kantuk. Saat adzan subuh berkumandang, hanya tinggal sholat saja, kemudian siap berangkat. Berbaur dengan jalanan ibu kota di awal hari yang masih gelap pun, ternyata tak semulus yang dibayangkan. Semrawut dan macet di mana-mana. Di situlah kesabaran diuji. Pun begitu pulang kantor, tak jauh berbeda dengan suasana pagi. Berdesak-desakan dalam bus umum yang berbaur dengan berbagai macam aroma, tak bisa dielakkan. Bayangan sudah melepaskan lelah di rumah sebelum magrib, sepertinya hanya menjadi wacana semata. Nyatanya saat tiba di rumah, bahkan anggota keluarga yang lain sudah beranjak tidur. Keesokan harinya, ritme itu akan berulang lagi dan lagi. Saat itu aku baru percaya, stres sangat riskan melanda para pencari nafkah di Jakarta.

Terkadang, rasa penat dan bosan begitu kuat mencengkeram. Keluhan demi keluhan berhamburan. Sampai hal-hal yang terjadi di sekitar tak diperhatikan lagi. Fokus lebih ke egosentris. Bodo amat lah dengan hal-hal lain di dunia luar sana. Orang-orang itu juga tak peduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya. Jadilah konsep individualis tertanam kuat. Toleransi terpasung. Siapa yang kuat dengan ritme ini, ia bertahan. Yang tidak mampu menyesuaikan diri, ya terpaksa menyerah. Seakan-akan kota ini bak rimba raya. Sisi kemanusiaan sedikit demi sedikit tergerus.

Sampai sebuah ‘tamparan’ mendarat…


Setiap pagi, begitu turun dari bus, aku masih harus berjalan kaki kurang lebih 500meter untuk sampai kantor. Melalui trotoar kampus fakultas kedokteran ternama, ada banyak pedagang asongan menggelar lapak dagangannya. Salah satunya seorang bapak paruh baya yang berjualan buah jeruk dalam keranjang kecil. Yang kalau tidak salah ingat, sejak pertama aku mulai kerja, bapak penjual jeruk itu sudah berjualan di sana. Tiap turun dari bus, pemandangan bapak penjual jeruk itulah yang menjadi penglihatan pertamaku. Pun ketika pulang kantor, saat menunggu bus, pemandangan bapak penjual jeruk itu juga yang tersaji. Dan kalau diperhatikan jeruk dagangannya tidak berkurang banyak, dari awal pagi sampai menjelang petang. Hampir selalu begitu, selama berbulan-bulan. Dari situ, aku mulai terketuk dan menyelipkan sedikit niat untuk membeli jeruknya kapan-kapan. 

Sunday, 2 August 2020

Film-Film Studio Ghibli (Bagian 2)

Hai-hai, jumpa lagi. Kita lanjutin yuk ngobrolin film-film Studio Ghibli. Dalam postingan sebelumnya, saya sudah mengulas pendek 12 film Studio Ghibli. Gimana, apakah kalian sudah nonton semua? Film terakhir yang diulas adalah My Neighbors the Yamadas yang diproduksi tahun 1995. Sekarang mari kita ulas film selanjutnya, yang kebetulan diproduksi setelah milenium baru, periode 2000-an.. Let’s check it out:

 

13.       Spirited Away (2001)

Film yang mendapat banyak penghargaan ini ditulis dan disutradarai oleh Hayao Miyazaki. Menceritakan tentang gadis 10 tahun bernama Chihiro dan orang tuanya yang pindah ke rumah barunya, tapi melalui jalan yang salah dan akhirnya membawa mereka terjebak di dunia Kami (dunia roh). Orang tuanya berubah menjadi babi setelah makan di sebuah restoran kosong tapi berlimpah makanan.

Saturday, 1 August 2020

Film-Film Studio Ghibli (Bagian 1)


Kalau ditanya, apakah saya suka nonton film? Suka banget! Kecuali film horor tapi ya (kayaknya hidup saya sudah cukup 'horor'). Salah satu jenis film yang saya sukai adalah animasi Jepang. Kalo ditanya yang paling favorit, pastinya film-film produksi Studio Ghibli. Saya lupa film pertama yang saya tonton apa. Yang saya ingat, saya langsung jatuh cinta dengan visualisasi, karakter tokoh dan pesan-pesan moralnya. Lalu saya pun niat banget nonton semua filmnya. Indikator saya memfavoritkan film itu adalah, saya tonton, saya suka, saya simpan, untuk kemudian ditonton ulang kapan-kapan. Dan ini terjadi pada film-film Studio Ghibli. Bahkan, instrumental soundtrack-nya pun tak bosan-bosan saya dengarkan.

Studio Ghibli didirikan pada 15 Juni 1985 oleh Hayao Miyazaki dan Isao Takahata yang bertindak sebagai sutradara, serta Toshio Suzuki sebagai produsernya. Sejarah nama Ghibli, diserap dari kata ‘Qibli’ yang secara etimologis berasal dari kata ‘Qibla’ (Libia-Arab), yang berarti angin gurun yang panas. Harapannya, Studio Ghibli bisa meniupkan angin segar dalam industri film animasi. Dan benar adanya, Studio Ghibli mencatat sejarah manis, film-filmnya sangat disukai dan banyak mendapatkan penghargaan. Bahkan di Jepang sana, sampai dibangun museumnya lho di tahun 2001. (mupeeeng ke sanaaa :D)